
...💞 Happy reading 💞...
"Senang berbisnis dengan anda pak Arshaka, saya semakin yakin untuk menanam saham di perusahaan anda juga setelah ini," ujar Aslan seraya terkekeh pelan.
"Jika begitu saya jadi senang mendengarnya," balas Shaka dengan senyum manisnya, kedua laki-laki tampan itu berjabat tangan lalu memberikan salam perpisahan ala jantan, seolah mereka sudah saling dekat seperti teman karib.
"Nona Rajendra, saya ijin pamit." kemudian Aslan beralih kepada Kirana, menangkup kan kedua tangan di depan dada, seperti yang di lakukan wanita itu sebelumnya. Hingga Kirana menyadarinya dan tersenyum canggung.
"Oh ya masakan anda sangat enak Mrs. Rajendra, patut di acungi jempol," ujar Aslan lagi begitu humorisnya.
Kirana tersenyum lebar. "Terimakasih atas pujiannya pak Aslan, saya senang anda menikmati masakan buatan saya."
"Oh ya, datanglah kemari lagi jika waktu mu senggang pak Aslan, pintu rumah ini terbuka lebar untuk mu," imbuh Shaka kemudian.
Aslan mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih atas keramahtamahan nya, kalau begitu saya pergi."
Kirana dan Shaka kompak mengangguk sampai akhirnya Aslan di iringi oleh orang-orang nya pergi meninggalkan mansion.
"Aslan mavendra, entah kenapa baru kenal beberapa hari ini, aku seperti sudah sangat akrab dengan nya."
"Mungkin itu karena pembawaannya yang supel dan menyenangkan mas, dia bisa menjadi rekan sekaligus sahabat untuk mu."
Shaka menoleh pada Kirana. "Kamu benar."
Kirana tersenyum, "ayo kita masuk."
Shaka mengangguk lalu menarik lengan Kirana hingga wanita itu mengikuti langkahnya dengan terus tersenyum, hari-hari bahagia semoga selalu datang menghampiri mereka.
...--------Oo--------...
Aslan mavendra, namanya sudah terkenal di antara para pembisnis terkenal, lelaki muda berusia 35 tahun namun mampu menjadi pemimpin di perusahaan besar Adidaya crop, yang di ambil dari nama kakeknya Adidaya mavendra. Kakeknya memercayakan sepenuhnya tanggung jawab perusahaan kepada Aslan, hingga lelaki itu tumbuh menjadi sosok yang ambisius dan pejuang keras.
Namun akhir-akhir ini seperti ada yang mengusik ketenangan seorang Aslan. Pria itu teringat tentang adiknya yang hilang dua puluh tahun lalu dan kini setelah sekian lama berusaha melupakan kenangan pahit tentang adiknya, justeru malah ingatan itu bangkit kembali setelah kunjungan nya ke mansion Rajendra.
Di kediaman mavendra, Aslan baru keluar kamar setelah begitu lama mendekam dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya. Ia ingin merilekskan pikiran dan tubuh nya sejenak.
__ADS_1
Di dapur, dia mengambil air dingin di dalam kulkas lalu menenggak nya hingga setengah, rasa dahaga yang semula menghimpit, rasanya sudah terpuaskan.
"Aslan ... " suara seorang wanita tua memanggil, terdengar familiar di telinga lelaki itu. Sontak Aslan menutup lemari es dan melihat siapa yang tiba-tiba datang ke apartemennya.
"Nenek ... " wajah Aslan seketika berubah sumringah, ia berlari kecil menghampiri wanita kesayangannya itu, Aslan yang tinggi sedikit membungkuk untuk memeluk sang nenek, wanita pengganti sosok ibunya selama ini.
"Nenek membawakan makan malam untuk mu, pasti kamu belum makan kan?"
Aslan menarik senyum simpul. "Aku bisa memesan nek."
Wajah wanita berusia senja itu berubah redup, detik selanjutnya lengkingan suara Aslan terdengar mengaduh saat sang nenek menarik telinganya begitu keras.
"Aw, aw ... sakit nek."
"Kebiasaan kamu ini selalu membeli masakan siap saji,gak baik buat kesehatan mu tau."
"Ampun nek, lepasin dong."
Melihat cucu kesayangannya itu semakin meringis kesakitan, Parwita mavendra pun melepaskan tarikannya dari telinga sang cucu.
"Ini nenek bawakan makanan sehat, pokonya kurangi makan makanan cepat saji atau perlu segera lah cari isteri agar bisa memasarkan mu." Imel Parwita panjang lebar. Jika sudah seperti ini Aslan hanya mengangguk mendengar kan, tak berani membantah jika tidak bisa terjadi perdebatan panjang di antara mereka.
"Kamu tuh, ngebantah terus kalau di omong, sama karyawan dan bawahan mu saja kamu bisa sangar seperti singa."
Aslan tertawa mendengar ucapan neneknya.
"Ayo, sekarang makan," ajak neneknya kemudian setelah merapikan bekal yang di bawa ke atas meja makan.
Melihat berbagai hidangan itu Aslan menjadi teringat kembali masakan buatan Kirana yang mengingatkan nya tentang almarhum ibunya.
"Nenek tau, tadi siang aku berkunjung ke rumah salah satu rekan bisnis ku .... " Aslan pun hendak menyampaikan pengalamannya itu kepada sang nenek.
"Oh ya? lalu?" Parwita mendengar cerita Aslan sambil menyendok kan nasi dan lauk ke piring.
"Istrinya menyambut kami dengan berbagai hidangan rumah, rasanya mengingatkan ku pada masakan almarhum mama dan juga tiba-tiba aku teringat akan Chiara," tutur Aslan sambil menerawang kembali momen itu.
__ADS_1
Tak! tiba-tiba saja neneknya membanting sendok ke atas meja membuat Aslan terkejut membuyarkan lamunannya.
"Kenapa nek?" tanya Aslan yang bingung.
"Aslan ... " Parwita menoleh dengan wajah datar. "Jangan sebut nama gadis itu di telinga nenek."
"Sudahlah, kamu makan saja." Aslan mengernyit saat sang nenek buru-buru merapikan peralatan dan hendak berlalu.
"Tapi dia adikku nek!" kata Aslan sambil sedikit berteriak membuat langkah Parwita yang hendak pergi jadi berhenti.
"Kenapa sikap kalian jadi berubah terhadapnya?"
Parwita berbalik dengan tatapan menyorot tajam. "Aslan, 20 tahun sudah berlalu, adik mu itu sudah matti! Dia sudah matti!" Parwita menekan kata-kata terakhir. "Jadi sebaiknya kau jangan membicarakannya lagi!" lalu wanita yang sudah berumur namun masih terlihat segar bugar itu berlalu pergi, meninggalkan Aslan dengan kebingungan.
...--------Oo--------...
Malam hari di kediaman Rajendra. Kirana sedang mengaduk teh di dalam cangkir dengan senyum hangat yang timbul di wajahnya.
"Kata bunda, kakak ipar sangat menyukai teh hijau, aku ingin memberikan ini padanya agar suasana hatinya senang." Teringat Kirana dengan sikap Fiona yang akhir-akhir terlihat gelisah, wanita itu selalu bolak-balik dari apartemennya ke mansion, seperti ada yang sedang ia urusi. Membuat Kirana ingin sekali melakukan sesuatu yang setidaknya bisa melegakan hati kakak dari suaminya itu.
Kirana berjalan ringan sambil membawa nampan kecil yang di atasnya teh hijau yang sudah ia buat menuju kamar yang di tempati Fiona di mansion ini.
Sampai di sana Kirana hendak mengetuk, namun dengan cepat ia menyadari jika ternyata pintunya tidak terkunci dan sedikit terbuka.
Kirana masih mempertahankan senyumnya lantas hendak mendorong kenop pintu jika saja ia tak sengaja mendengar kata-kata yang membuat ia menahan gerakannya.
"Pokoknya lakukan dengan cepat, Jangan sampai gagal kali ini!"
Suara Fiona terlihat sangat frustasi, di bekuk penasaran Kirana menajamkan pendengarannya, ia sedikit mengintip dari pintu yang terbuka terlihat Fiona sedang melakukan siaran telepon dengan seseorang di ponsel dan agaknya itu sangat lah penting.
Kirana hendak berlalu, tak ingin mengganggu tapi lagi, kata-kata yang keluar dari mulut Fiona sungguh sangat membuatnya syok.
"Ya,aku ingin Shaka matti malam ini! jangan sampai ada kesalahan, atau semua rencana kita akan terbongkar dan jika itu sampai terjadi aku akan menyeret kalian juga!"
Apa? karena terlalu syok dengan apa yang ia dengar,Kirana hampir saja menjatuhkan nampan di tangannya jika saja ia tidak menahannya dengan cepat. Wanita itu menutup mulutnya tidak seakan tak percaya.
__ADS_1
"K- kak Fiona, a- apakah dia dalang di balik ini semua?"
To be continued ....