Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 49 | kesamaan


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Kirana sedang memakaikan Shaka jas hitam kerjanya, pria itu terlihat semakin tampan dengan rambutnya yang di rapikan setelah ke salon, bekas luka di wajahnya justeru semakin menambah kharisma yang di miliknya.


"Mas, apa mau di bawakan bekal untuk siang nanti?" tanya Kirana di sela pekerjaannya memasangkan dasi bergaris putih biru di leher Shaka.


"Tidak usah, sayang." Shaka menggeleng pelan. "Namun sebagai gantinya kamu harus menyiapkan hidangan yang lezat untuk makan siang."


"Kenapa? tumben kamu meminta itu?"


"Karena ada calon investor ku yang akan bertandang ke mansion kita."


"Tapi bukankah para pemimpin seperti mu itu seharusnya mengadakan rapat di sebuah hotel mewah atau restoran bintang lima?"


Shaka tersenyum mendengar pertanyaan Kirana tersebut. "Tidak semuanya harus serba mewah, sayang. Kebetulan rekan bisnis ku yang ini agak berbeda, di banding di restoran bintang lima yang menyajikan hidangan mewah dia lebih memilih jika di sambut dengan sederhana, dan dia lebih suka jika di hidangkan masakan rumah,"


"Oleh karena nya kamu harus menyiapkan hidangan yang lezat ya," goda Shaka sambil mencolek hidung mancung Kirana.


Wanita itu tersipu lalu memukul dada suaminya, pelan. "Baiklah, sesuai keinginan mu suami ku."


Shaka semakin melebarkan senyumnya, di rangkulannya pundak sang istri lalu di kecupnya ubun-ubun Kirana cukup lama, lalu melepas kan pelukan.


"Baiklah, aku tunggu siang nanti."


"Siap!" Kirana memberikan gerakan hormat yang lucu, Shaka terkekeh mengusap rambut wanita itu, lembut.


Beberapa saat setelahnya. Kirana mengantar kepergian Shaka hingga di depan pintu utama, ia berikan tas hitam pria itu sambil terus mengumbar senyum manisnya.


"Baiklah, aku pergi dulu," pamit Shaka.


"Hati-hati," ujar Kirana. Shaka mengangguk lalu mendekat memberikan kecupan terakhir kali di kening lalu berbalik menuju ke mobilnya.


Saat itu Shaka berpapasan dengan Fiona yang hendak masuk ke dalam.


"Kakak," panggil Shaka pada wanita berambut ikal blond itu. Namun seolah tak mendengar panggilan nya Fiona tetap berjalan lurus dengan langkah terburu-buru, hal itu membuat Shaka mengernyit heran sampai panggilan ke tiga kali, dan kali ini lebih keras barulah Fiona menoleh ke arahnya.


"Oh, Arshaka." merasa tak enak adiknya terus memanggil, Fiona pun menghampiri.


"Kau keliatan buru-buru sekali ka, padahal aku memanggil- manggil mu sedari tadi."


"Oh, benarkah? maaf aku terlalu fokus hingga tidak mendengarkan."

__ADS_1


Shaka hanya manggut-manggut. "Di mana suami mu dan keponakan ku? kenapa sepagi ini kamu datang sendiri kesini?"


Mulanya ekspresi Fiona nampak gugup untuk sekedar menanggapi pertanyaan Shaka, namun wanita itu lekas menghela nafas panjang dan menjawab dengan intonasi santai.


"Aku ada keperluan sedikit jadi mampir kesini, Arthur kemarin malam harus kembali ke Singapura untuk mengecek kantor cabangnya dan Miranda," Fiona tersenyum saat mengucapkan nama putri semata wayangnya. "Kamu tenang saja, sekarang dia semakin pintar di kelasnya."


"Begitukah." Shaka tersenyum mendengarnya. "Ah, aku jadi merindukan keponakan tersayang ku itu. Kapan-kapan bawalah Miranda kesini, aku dan Kirana ingin mengajaknya jalan-jalan."


Fiona hanya mengangguk nampak malas saat Shaka menyebut wanita yang tak ingin ia dengar namanya itu.


"Dan ya aku lupa, oma bilang selama aku tidak ada kakak lah yang mengurus perusahaan. Atas dedikasi mu aku mengucapkan terimakasih ka."


Fiona tersenyum tipis makin tak minat dengan obrolan ini. "Kalau begitu aku masuk dulu ya."


Shaka mengangguk. Baik kak."


Fiona pun pergi sambil melambaikan tangan sekilas sementara Shaka menelisik ada yang aneh dengan sikap kakak perempuannya itu.


...--------Oo--------...


"Eh, bik letakan acar nya di situ saja," pinta Fiona pada salah satu pelayan yang di tugaskan untuk membantu nya.


"Kenapa nyonya?" tanya pelayan itu.


"Kita tidak boleh membuang-buang makanan, acar ini bisa untuk tamu jika mereka menginginkan nya," ucap Kirana sambil tersenyum, pelayan itu mengangguk-angguk.


"Nyonya sangat lah pengertian, pantas lah tuan Shaka begitu beruntung mendapatkan nyonya sebagai istrinya."


Wajah Kirana memerah tersipu, "Biasa aj lah bik." pembawaan nya yang humble Membuat pelayan di sini tidak lah merasa takut saat berinteraksi dengan nya justru semakin kagum dan hormat pada Kirana.


"Ya udah bibik ke belakang dulu ya non," ijin pelayan itu, Kirana pun mengangguk.


Wanita yang kini memiliki rambut sebahu itu melepaskan celemek motif bunga yang melekat di tubuhnya lalu merapikannya kembali untuk di taruh ke laci, tak lupa Kirana melirik ke arah jarum jam untuk memperkirakan waktu kapan Shaka dan rekan bisnisnya itu sampai kesini.


Hingga akhirnya suara klakson mobil mengagetkan nya, Kirana dengan semangat pergi menghampiri. Di sana sudah terlihat dua pria yang sama-sama gagah berjalan beriringan menaiki undakan tangga teras, tak lupa para ajudan mereka yang mengikuti di belakang.


"Bibik, tolong periksa lagi pasti kan semuanya sudah tersusun rapi," titah Kirana pada maid di sampingnya, maid itu mengangguk melaksanakan perintahnya.


Shaka tersenyum saat mendapati Kirana sudah menanti di ambang pintu, begitu mereka dekat Shaka pun memperkenalkan Kirana pada rekannya.


"Pak Aslan, ini isteri ku Kirana."

__ADS_1


Aslan mengulum senyum hendak menjabat tangan Kirana untuk berkenalan namun Kirana sudah lebih dulu menangkup kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum hangat.


Aslan yang paham menarik kembali tangannya. "Salam kenal."


Kirana mengangguk. "Salam kenal."


Aslan beralih pada Shaka. "isteri mu begitu menjaga kehormatannya, tuan Shaka. Dia adalah contoh istri idaman."


Shaka menarik senyum simpul. "Kau benar sekali pak Aslan, betapa aku sangat beruntung memilikinya."


Lalu mereka pun masuk sambil berbincang-bincang hangat.


"Bagaimana jika kita makan siang dulu sebelum rapat nanti, tuan Aslan?"


"Aaa,itu ide yang bagus tuan Shaka. Tak mungkin kita bisa fokus pada pekerjaan jika belum mengisi perut."


Semuanya kompak tertawa dengan guyonan Aslan, dia adalah pria yang humoris.


"Kirana kamu sudah menyajikan hidangan nya kan?"


"Sudah mas."


"Baiklah, tak perlu berlama-lama, mari pak Aslan."


Mereka pun berjalan beriringan lantas duduk di kursi masing-masing meja makan yang kini sudah penuh dengan aneka hidangan yang nampak begitu menggugah selera.


Bik Sukma melayani Aslan mengambil nasi dan lauk sesuai keinginan pria itu, sementara Kirana sendiri melayani suaminya, terkadang Shaka menggoda dengan meminta Kirana mengambil lauk untuk nya namun akhirnya tidak jadi, membuat Kirana merasa gemas dengan nya, sementara Aslan sendiri geleng-geleng kepala melihat tingkah suami istri itu.


Aslan menyuap sendok pertama nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


"Hhmmm ... "


Dehaman Aslan mengalihkan perhatian Shaka juga Kirana, untuk beberapa saat Aslan terlihat sangat menikmati makanan di mulutnya.


"Bagaimana pak Aslan? masakan buatan istri ku itu selalu lezat."


Mendengar pujian suaminya Kirana mencebik menahan senyum.


"Kau benar pak Shaka. ini masakan terenak yang pernah ku makan. Persis seperti masakan buatan ibuku,"


"Ini terlalu mirip," lirih Aslan mengingat masakan ibunya lalu entah mengapa malah tiba-tiba beralih mengingat adiknya.

__ADS_1


"Kenapa aku malah teringat Chiara?"


To be continued ...


__ADS_2