
💞 Happy reading 💞
Shaka dan Kiran akhirnya memasuki auditorium bioskop setelah memilih film apa yang akan mereka tonton, keduanya duduk di kursi yang berdampingan, sementara Liam mengekori dengan kacamata 3D membuatnya terlihat semakin konyol di mata Shaka.
"Dimana algojo ku yang selalu terlihat garang itu?" gumam Shaka geleng-geleng kepala melihat tingkah Liam yang semakin lama semakin random.
"Tuan, kamu mau memakai ini?" tiba-tiba Kiran bercelatuk sambil menyodorkan sesuatu ke hadapan Shaka.
Dahi Shaka berkerut. "Apa itu?"
"Ini kacamata yang di berikan staf bioskop katanya kacamata 3D ini berguna agar kita bisa menonton layar lebih jelas dan kita seakan bisa ikut merasakan apa yang terjadi di film."
"Tidak, tidak kau saja yang memakai." tolak tegas Shaka begitu mengetahui kacamata yang Kiran coba tawarkan sama dengan kacamata yang di pakai Liam.
"Oh baiklah," sahut Kiran yang langsung menurunkan bahu begitu mendengar penolakan Shaka.
Melihat nya pria itu jadi tak tega, hingga akhirnya ia merampas cepat kacamata 3d itu di tangan Kiran.
"Berikan padaku!"
"Anda mau memakainya tuan?" wajah Kiran berubah sumringah.
"Ya!" jawab Shaka singkat, memakai juga barang pemberian Kiran meskipun menurut nya akan sangat konyol terlihat.
Liam yang menyaksikan kejadian itu, terpingkal- pingkal di buatnya, Shaka menengok ke arahnya dengan wajah garang, sontak Liam kicep seketika.
"Peace tuan, becanda ... " ucap Liam sambil mengacungkan dua jarinya ke atas kepala. Shaka melirik sinis, begitu pria itu berbalik Liam kembali menahan tawa.
"Tuan, tuan ... mau sampai kapan lagi anda menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya pada young lady, anda sudah kentara sekali jatuh cinta padanya," gumam Liam dalam hatinya.
...--------Oo--------...
Sementara itu di mansion. Fiona mencak-mencak berjalan ke undakan tangga menuju kamarnya, ia merasa sangat kesal dengan pembelaan yang di berikan ibu dan neneknya untuk Kiran. Ia merasa sudah tidak di spesial kan lagi semenjak kehadiran gadis itu.
"Kak Fiona ..."
Wanita bergaun satin mewah itu mendadak berhenti ketika ia berpapasan dengan Olivia yang memanggilnya.
"Ada apa? kakak terlihat kesal?" tanya Olivia yang memperhatikan gerak-gerik Fiona sejak tadi.
Melirik ke sembarang arah, Fiona sigap menarik tangan Olivia membawanya ke atas.
__ADS_1
"Kenapa kak?" tanya Olivia sekali lagi begitu aneh dengan tingkah kakak ipar nya itu.
"Kau tahu aku merasa sangat kesal!" sergah Fiona mengungkapkan geruneknya yang sejak tadi ia tahan.
"Memangnya kenapa kak? apa ada yang menganggumu?"
Mendengar pertanyaan itu Fiona sontak bercerita panjang lebar ia akhirnya tak tahan untuk tidak berbagi peristiwa atas apa yang terjadi barusan pada Olivia, yang memang ia menjadi tempat nya curhat.
Olivia yang menyimak cerita Fiona pun ikut merasa geram di buatnya.
"Jadi si Kirana yang akhirnya di pilih oma untuk mewariskan kalung leluhur itu?" pungkas Olivia setelah mendapat inti dari semua yang di ceritakan Fiona.
"That's right. Itu sebabnya aku merasa sangat kesal, bunda dan oma seakan sangat mengistimewakan gadis itu, sementara kita pun belum mengenalnya lebih jauh."
"Ya, yang di katakan kakak memang benar, baru setengah bulan gadis itu tinggal bersama kita tapi dia sudah berhasil merebut hati bibi Renata dan oma," sahut Olivia memberikan asumsinya juga seraya mengangguk setuju.
"Ini semua terlihat sangat ganjil, Oliv. Seingat ku Shaka bahkan tak pernah mendekati wanita lain setelah berpisah dengan mu, tapi tiba-tiba saja dia datang kembali bersama seorang wanita yang ia akui sebagai isteri nya."
"Kakak benar, kita tidak tahu seperti apa kepribadian Kirana yang sebenarnya, asal-usul wanita itu sangat misterius. Kita harus menyelidiki ini kak ... "
"Bukan hanya menyelidikinya saja Oliv, tapi kita juga harus memisahkan Shaka dengan gadis itu, kakak mempunyai firasat jika wanita ular itu adalah ancaman untuk keluarga kita." tukas Fiona menatap serius dengan penuh arti.
"Apa rencana mu ka?" tanya Olivia.
...--------Oo--------...
"Masih ada waktu beberapa jam lagi, setelah ini kau mau kemana?" seru Shaka sambil melirik ke arah arjolinya.
"Eh, jadi kita tidak langsung pulang tuan?"
"Apa kau bosan jalan- jalan dengan ku?" tanya Shaka to the point.
"Aaahh, tentu saja tidak." jawab Kiran cepat sambil mengibaskan tangannya.
"Lalu kenapa kau ingin pulang lebih cepat?"
"Aku hanya bertanya tuan, justeru aku lah yang khawatir tuan merasa bosan bersama ku."
"Apa-apaan itu? tentu saja tidak! jika aku bosan ngapain aku mengajak mu keluar!" tukas Shaka sewot sendiri. Bagaimana mungkin ia tidak senang sementara di samping gadis itu, rasanya dada Shaka hampir akan meledak setiap kali melihat senyum ataupun mendengar tawanya.
"Tuan muda, young lady saya kembali!" Liam datang membawa kembali happy virusnya.
__ADS_1
"Cepat sekali kau datang?"
"Tentu saja tuan muda, saya ini selalu siap sedia dan tepat waktu!"
"Ck, baiklah sekarang di mana mobilnya?"
"Mobil sudah siap tuan muda, sekarang kita kemana lagi? bukankah acara ngedate nya belum selesai?"
"Ngedate?" dahi Kiran berkerut mendengar pernyataan Liam.
"Ya tentu saja young lady, apakah anda tidak menyadari jika tuan muda sedang mengajak anda ngedate?"
"Oh apakah keluar bersama ini di sebut ngedate? maaf aku berasal dari desa jadi pengetahuan ku tentang istilah seperti itu sangat minim."
"Hahaha anda sangat lugu dan menggemaskan young lady, benar ngedate itu adalah sepasang kekasih yang keluar dan menghabiskan waktu mereka bersama."
"Liam!' Shaka menatap horor, bibirnya tersungging sinis. "Lugu dan menggemaskan ya?"
"Astaga, pawangnya sangat cemburuan sekali." Liam cecikikan karena sekali lagi berhasil membuat Shaka seperti cacing kepanasan.
"Liam, mundur sepuluh langkah dari sekarang! kau tidak boleh berdekatan pagi dengan Kiran!"
"Kenapa tuan?" tanya Kiran sambil mengerjap heran.
"Dia itu membawa virus kotor nanti kau akan ketularan kekonyolannya." pungkas Shaka.
"Tuan, jahat sekali." sahut Liam akhirnya mengikuti apa yang di perintah Shaka.
"Ck, daripada kau terus bertingkah konyol, carikan tempat yang di adakan pasar malam atau sejenisnya yang meriah."
"Tentu ada tuan muda, apa anda ingin datang kesana bersama young lady?"
"Ya!" jawab Shaka singkat.
"Baiklah jika begitu saya tahu tempat yang bagus, ada sebuah karnaval budaya yang di adakan di sana, pasti akan sangat menyenangkan," ungkap Liam lebih heboh dari pada keduanya.
Liam bertekad akan membantu Shaka untuk menyadari perasaan yang sebenarnya pada gadis yang telah berhasil merebut hati sang tuan kembali.
"Setelah semua kesakitan yang selama ini kau alami, anda harus bahagia tuan muda."
Sebagai seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengabdi, Liam selalu ingin yang terbaik untuk Shaka.
__ADS_1
To be continued ...