
...💞 Happy reading 💞...
Di bawah langit yang nampak mendung malam ini, Kirana berjalan lunglai menyusuri jalanan panjang yang entah akan membawakannya kemana. Semua terlalu mengagetkan untuknya, Shaka telah benar-benar pergi meninggalkan dirinya sendiri di tengah kebingungan yang terjadi saat ini.
Di belakangnya tepat Aslan berada tak jauh, seakan memang sengaja mengekori langkah Kirana. Lelaki itu sendiri bingung dengan sikap keluarga Rajendra terutama Shaka sendiri yang tiba-tiba berubah pada Kirana. Mereka kompak menganggap Kirana seolah seperti penjahhat. Wanita malang, Aslan turut prihatin dengan apa yang menimpa Kirana saat ini.
"Kenapa kau masih di sini, tuan Aslan?" Kirana memberhentikan langkahnya dengan tiba-tiba membuat Aslan terkejut.
"Aku tidak mungkin membiarkan seorang wanita yang tengah mengandung berjalan sendirian di tengah malam."
Mendapat jawaban seperti itu seketika itu juga Kirana teringat akan bayi di dalam perut nya, air matanya menetes lagi, lantas mengusap perutnya dengan sayang.
"Tidak apa-apa, aku tidak perlulah di temani, anda bisa pergi sekarang." pungkas Kirana, tak ingin merepotkan.
Aslan membuang nafas ke udara malam yang mulai terasa dingin.
"Maaf sebelumnya bukan maksud ku ikut campur dalam masalah kalian. Tapi kenapa kau tidak kembali saja ke mansion suami mu?"
Angin berhembus kencang, tepat saat itu juga Kirana berbalik. "Bagaimana bisa aku kembali, sementara suami ku saja tidak menginginkan ku?" Kirana berteriak, seakan-akan kini ia tengah mengeluarkan emosi dan sejak tadi ia pendam.
Untuk beberapa saat Aslan merasa terkesima, hatinya ikut merasa berdenyut sakit tak kala melihat Kirana yang tergugu hingga terduduk di atas Jalanan beraspal.
"Itu berarti kau adalah seorang pecundang!" seru Aslan membuat Kirana sontak mengangkat wajah menatapnya.
"Alih-alih kau kembali dan menghadapi masalah yang terjadi, kau justeru lari darinya. Kau seperti ini sama saja seperti pengecut. Bukankah suaminya mu juga berhak tau atas kehamilan mu?"
Aslan menghela nafas lagi, lalu melangkah mendekati Kirana, ia pegang lembut kedua bahu wanita itu untuk menuntun nya berdiri.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian, tapi yang jelas kau tidak boleh kabur seperti ini dari masalah mu. Kau harus menghadapi nya."
"Tapi ... bagaimana dengan ibu mertua ku? beliau bahkan tak sudi melihat ku lagi." Kirana mengusap kasar air matanya yang seolah tak ingin pergi.
"Kita bisa pikirkan itu, tapi yang jelas kamu harus kembali. Tanyakan pada mereka apa yang membuat mereka hingga membenci mu dan minta alasan kepada suami atas sikapnya yang tiba-tiba berubah padamu."
"Kau tidak boleh kabur, kirana. Aku tahu kau bukan wanita seperti itu," ujar Aslan kali ini penuh ketegasan menatap langsung dua bola mata Kirana, hingga membuat wanita itu seperti mendapat kan kekuatannya kembali.
"Baiklah, tuan Aslan. Tolong antarkan aku kembali ke mansion."
Aslan tersenyum, optimis. "Dengan senang hati."
...---------Oo-------...
Di kamarnya, Shaka di bantu sang kakak juga ibunya, berbaring di atas ranjang setelah dengan perjuangan membersihkan tubuhnya yang penuh luka-luka.
Renata duduk di samping ranjang, lalu wanita itu kembali menangis persis seperti pertama kali mendapat kabar akan kecelakaan yang menimpa putranya itu.
"Kemalangan apa yang berusaha mendekati mu nak, kenapa kamu terus mengalami kejadian yang mengerikan seperti ini," lirih Renata seraya mengusap kening Shaka dengan sayang, ada ketakutan yang tak mau pergi dari hatinya.
"Sudahlah Bun, aku juga sudah tidak apa-apa." elak Shaka yang merasa ibunya berlebihan.
"Apanya yang tidak apa-apa? kau tahu bunda bahkan hampir matti saat itu juga ketika melihat tubuh mu yang penuh luka ini."
"Tapi aku sudah baik-baik saja bun."
"Nak, seorang ibu akan tetap merasa khawatir untuk anaknya meski mereka mengatakan baik-baik saja."
"Baiklah, bunda jangan menangis lagi, oke ... " Shaka mengusap air mata ibunya, Renata mengambil telapak tangan Shaka menempelkan nya ke pipi sambil mengusap rambut sang putra. Sebesar dan sedewasa apapun Shaka, namun bagi Renata, Shaka tetaplah anak-anak di matanya.
Fiona memutar bola mata, malas melihat drama di depannya ini, lalu ekspresinya berubah dengan cepat ketika mendekati Shaka.
__ADS_1
"Yang di katakan bunda memang benar adikku. Kamu baru saja kembali setelah sekian lama menghilang lalu mengalami musibah lagi. Itu sungguh membuat kami sangat khawatir adikku." Fiona memainkan peran sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya dengan begitu baik. Ia bahkan berhasil mendapatkan simpati Shaka hingga apapun yang di katakan nya akan selalu di angguki oleh adiknya itu.
"Kakak mu memang benar, nak." Renata mendadak saja berubah berapi-api matanya berkilat tajam. "Ini semua gara-gara gadis itu. Semenjak kedatangan nya keluarga kita menjadi berantakan!"
Renata melotot senang. Kini tanpa harus di beri pemantik, api kebencian yang berkobar pada ibunya untuk Kirana semakin membesar. Rencananya sukses besar.
"Sudahlah Bun, aku tak ingin membicarakan apapun lagi," ucap Shaka nampak malas. Mendapati tanggapan Shaka yang seperti itu membuat Fiona semakin yakin ia akan bisa menendang Kirana jauh dari sini.
"Baik lah, kamu istirahat ya sayang, jangan pikirkan apapun kakak mu dan bunda selalu ada di sini untuk mu."
Shaka hanya mengangguk sebagai respon, Renata memastikan sekali lagi keadaan Shaka, hendak menaikan bed cover untuk menyelimuti anaknya namun perhatiannya mendadak teralihkan, ketika ia melihat seseorang berdiri di ambang pintu kamar.
Di sana, berdiri Kirana yang dengan berani menatap ke arah mereka, Renata yang naik pitam langsung berdiri dari duduknya.
"Kau? lancang sekali kau datang kesini setelah sudah ku usir dengan terang-terangan."
Kirana tak memperdulikan amarah ibunya mertuanya itu, tatapannya justeru beralih kepada Shaka yang hanya diam saja di tempat, nampak acuh tak acuh. Mereka sempat melakukan kontak mata sesaat sebelum Shaka memutuskannya lebih dulu.
Hati Kirana begitu sakit, dadanya terasa sangat sesak. Namun ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Fiona menekuk lengan di depan dada, seolah sudah siap untuk menonton pertunjukan gratis yang sebentar lagi akan di mulai.
Semuanya terasa hening, sampai Aslan yang sejak tadi bersembunyi mulai menampakkan wujudnya di belakang Kirana seolah ia adalah algojo untuk melindungi wanita itu.
Sontak raut semuanya menjadi kaget, terutama Shaka yang tak mengira akan ada Aslan di sini.
"Berani sekali! setelah menghancurkan putraku, kau di sini bersama seorang pria!"
"Nyonya Renata ... " terdengar suara teduh Aksa memanggil ibu Shaka. "Dengan segala hormat, bukan maksud ku untuk menyela mu. Tapi bisakah anda lebih tenang sedikit? menantu anda datang kesini dengan baik-baik tolong sambut dia bukan dengan cacian tapi dengan kasih sayang selayaknya seorang ibu. Setahu saya istri dari almarhum tuan Wisnu terkenal dengan kelembutan hatinya, bukan kasar seperti ini."
Semua yang ada di ruangan itu terdiam terutama Renata seakan sadar dengan perilaku nya yang berlebihan, namun kelicikan Fiona dengan cepat menahan hati nurani Renata untuk bicara.
Renata menerima dengan telak perkataan penuh hasutan dari putrinya itu dan langsung menyerang Kirana kembali.
"Diam kau anak muda, kau sama sekali tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di keluarga kami jadi sebaiknya kau pergi atau ? .... "
"Apa kau berada di sini untuk melindungi gadis itu." tuding Renata yang sudah terperdaya dengan hasutan Fiona. "Katakan saja padaku Kirana, pria itu adalah selingkuhan mu bukan, jelas kau berkhianat pada putra ku!"
"Bun ... " Kirana berseru lirih tak menyangka dengan tudingan kejji yang di layangkan dari wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. "Tega sekali kau menuduh ku seperti itu, tak pernah sekali pun dalam pikiran ku untuk menyelingkuhi putra mu."
"Sudahlah jangan bertele-tele, lebih baik kau keluar dari sini!" usir Renata dengan teganya.
"Tidak! aku tidak bisa pergi dari sini!" Kirana justeru semakin memajukan langkahnya, ia mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku ingin mendengar kan penjelasan dari mulut suami ku sendiri, aku tidak akan pergi sebelum mendapatkannya."
Lalu tatapan Kirana terkunci pada wajah Shaka, dengan pandangan nanar.
"Mas, apa alasannya hingga kau berubah sikap seperti ini padaku, apa salah ku?"
"Kenapa kamu hanya diam saja, saat aku jelas-jelas di fitnah di sini?"
"Alah, banyak sekali omongan mu, kau sengaja menunjukkan wajah menyedihkan seperti ini untuk mendapatkan simpati Shaka?" Fiona menyahut, turut ikut memperkeruh suasana.
"Cukup!" tiba-tiba Shaka berteriak begitu kencang, hingga membuat mereka terkesiap mendengar nya.
"Apa kalian tidak lelah berdebat seperti ini hah?!"
Semuanya diam. Hanya Kirana yang berani membuka suara.
__ADS_1
"Jika saja kau mau menjawab nya, perdebatan ini tidak akan semakin besar, mas."
"Mamah!" Fiona berteriak kaget ketikan melihat ibunya hampir terhuyung ke belakang jika saja tidak di tahan olehnya.
"Mamah, kenapa mah?" Fiona menepuk pelan pipi Renata yang hampir setengah pingsan.
"Shaka bawa keluar wanita itu dari sini atau kondisi mamah akan semakin buruk." pinta Fiona dengan arah matanya menunjuk ke arah Kirana, mendadak semuanya menjadi tak terkendali.
Shaka lantas berdiri, menghampiri Kirana mengarah kan tatapan dinginnya.
"Pergi Kirana, kau tidak dengar apa yang kak Fiona katakan? karena mu kondisi bunda jadi buruk kembali."
"Mas?" Kirana menggeleng dengan mata berembun. "Tega sekali kau padaku."
"Pergilah Kirana, aku masih meminta mu dengan baik-baik."
"Tidak aku tidak bisa pergi!" Kirana kekeuh sebelum mendapat jawaban atas segala pertanyaannya.
"Jawab dulu pertanyaan ku mas!" ujarnya meminta penjelasan, tak mau kalah Kirana balas menatap Shaka dengan tajam.
Tak ingin Kirana semakin terpojokkan, Aslan berinisiatif maju, menenangkan gadis itu.
"Kirana, kita pergi saja dari sini!"
Darrah Shaka seketika mendidih ketika melihat Aslan yang merangkul kedua pundak Kirana.
"Dengarkan perkataan suami mu, biar keadaan jadi tenang dulu." pinta Aslan kembali.
Namun Kirana tetap tidak beranjak sama sekali.
"Aku tidak akan pergi sebelum suami ku sendiri yang membawa ku ke depan pintu."
Shaka yang sudah terkadung tersulut emosi juga cemburu melihat kedekatan Aslan dan Kirana. Lelaki itu dengan sekali tarikan mencengkeram lengan Kirana.
"Baik jika itu yang kau mau!"
Shaka menyeret Kirana pergi keluar dari sana, Aslan yang khawatir ikut menyusul, sampai akhirnya begitu mereka tiba di depan pintu utama Shaka menghempaskan lengan Kirana dengan cepat.
"Pergilah dari sini, aku tak ingin melihat mu!" ucap Shaka menggelegar serupa suara petir di telinganya.
Hancur! remuk sudah hati Kirana, seakan serpihannya jatuh menjadi serupa bulir-bulir air yang jatuh dengan cepat membasahi pipinya.
Shaka menatap Kirana dan Aslan secara bergantian dengan tatapan berang nya, ia segera menutup daun pintu, hingga terdengar keras oleh Kirana dan Aslan yang kini sudah berada di luar pintu.
"Mas Shaka ... dia mengusir ku?" Kirana terpekur dengan tatapan kosong. Aslan merasa begitu kasihan pria itu hendak mendekat namun ia urungkan.
Sementara Shaka dengan cepat menaiki anak tangga dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Pria itu melempar vas bunga dengan begitu emosi hingga mengenai kaca lemari di sampingnya, lalu Shaka berteriak dengan begitu frustasi.
Tak lama setelahnya, Shaka mengambil ponsel dari saku dan menelpon seseorang.
"Halo Liam. Segera lah bawa Kirana dan tempat kan dia di vila yang sudah di siapkan!"
"Mansion ini sudah tak baik untuk nya."
****
Apa sebenarnya yang Shaka rencana kan?
To be continued ....
__ADS_1