
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻
Pesta perayaan di kediaman mansion keluarga Najendra di selenggarakan dengan sangat meriah, banyak tamu yang datang berasal dari kalangan penting.
Di tengah pesta yang semarak, sudah ada keluarga besar yang tengah menunggu kedatangan Shaka dan Kiran yang menjadi mega bintang nya malam ini.
"Kenapa? kau gugup?" tanya Shaka saat mendapati tangan Kiran yang begitu dingin di genggamannya.
"Sedikit, tuan." Kiran bercicit. "Sejujurnya aku tak pernah membayangkan akan hadir di pesta semegah ini, aku jadi tidak percaya diri ... "
Shaka terkekeh sekilas, merasa gemas dengan keluguan sang istri. "Tidak apa-apa, rileks saja. Ada aku di samping mu."
"Baik tuan." akhirnya Kiran bisa sedikit merasa lega dan tersenyum setelah Shaka mengatakan hal itu.
Mereka pun memasuki aula pesta, di saat itulah semua pasang mata langsung tertuju pada pasangan suami-istri yang nampak sangat tampan dan cantik.
"Waah, apakah dia isteri tuan muda Arshaka yang akan di perkenalkan? jujur, dia sangat cantik."
"Benar. Tapi kenapa dia selalu menunduk ya?"
"Cih, cantik apanya? dia tampak sangat pendek. Kau lihat? bahkan kakinya saja tidak jenjang sama sekali, bogel."
"Dia tidak pantas berada di samping tuan Shaka, auranya sangat kebanting."
Bisik-bisik mulai terdengar di telinga Kiran bahkan ada yang bilang secara terang-terangan, banyak yang memuji namun tak sedikit juga yang mencibir nya.
Sontak hal tersebut membuat kepercayaan diri yang baru saja Kiran bangun, kini terhempas begitu saja.
"It's okay." bisik Shaka yang peka saat Kiran menunduk malu. "Abaikan omongan mereka, kau terlihat sangat cantik."
Kiran pun mengangkat wajah, menoleh pada Shaka dengan tersenyum lantas mengangguk.
"Menantu ku, sangat cantik." Renata memuji sesaat setelah pengantin yang masih terkesan baru itu datang menghampiri.
"Terimakasih bunda ... " ucap Kiran dengan senyum semakin terkembang manis.
"Oh, tidak hanya itu Renata ... lihat, cucuku juga terlihat sangat tampan." Helen mendekat, sengaja menggoda Shaka dengan mencubit kedua pipinya layaknya anak kecil.
"Oma ... " Shaka berdecak, merasa jengkel sekaligus tak berdaya dengan tingkah neneknya yang memanjankannya seakan dia masih anak-anak.
__ADS_1
Anggota keluarga yang hadir tertawa, terkecuali keluarga kecil Wijaya saat ini, terlebih Arkan dan Matilda yang tampak sinis dari tempat mereka berdiri.
Olivia datang menghampiri, seolah membawa sihir arah semua orang seketika berpindah ke arahnya. Mereka mana mungkin tak tahu tentang hubungan Shaka dengan Olivia di masa lalu. Meski sudah kandas dua tahun lalu dan kini kedua orang yang pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih itu sudah memiliki kehidupan masing-masing, tapi kenangan perjalanan cinta mereka masih lekat di ingatan.
Kiran berdiri tepat di samping Shaka, entah kenapa tiba-tiba menundukkan wajah nya, ia merasa sungkan, bisik-bisik mulai terdengar lagi kini khalayak ramai tengah membicarakan kembali hubungan masa lalu Shaka dan Olivia.
"Beruntun nya nona Oliv, dia sangat cantik pantas di perebutkan oleh dua tuan muda keluarga Najendra, meski akhirnya menjadi isteri tuan Arkan, tapi kita tidak bisa melupakan bagaimana hubungan pannas dia dengan tuan Shaka."
Seseorang berseru begitu jelas di belakang Kiran, seolah ingin ia mendengar nya. Kiran merasa terkucilkan, seperti semua orang ingin ia mendengar perjalanan asmara Shaka dan sang mantan juga mulai membandingkan nya dengan Olivia.
"Shaka, selamat ya untuk pesta perayaan mu ini dan untuk pernikahan kalian berdua," ujar Olivia mengulurkan tangannya sambil menatap bergantian ke arah Kiran dan Shaka.
"Terimakasih," ucap Shaka, meski terdengar datar tapi tetap menyambut jabatan tangan wanita itu.
Keduanya saling bertatapan mata untuk waktu yang cukup lama dan itu di saksikan langsung oleh Kiran. Bagaimana cara mereka menatap, sepertinya masih ada sesuatu di dalam hati mereka yang masih tertinggal.
Terlebih lagi omongan semua orang yang awalnya berbisik tapi kini mulai bicara secara terang-terangan di dekat telinganya, tentang seharusnya Olivia lah yang bersanding dengan Shaka daripada dirinya membuat kepercayaan diri Kiran menurun drastis terjungkal di dasar karang.
Helen yang melihat respon Kiran saat menyaksikan pemandangan keakraban Shaka dan Olivia pun akhirnya peka dan mengambil alih situasi.
"Ekhem, Shaka ... sudah cukup salamannya." Helen menarik tangan Shaka dari genggaman Olivia.
"Ah, ya ... maafkan aku," ucap Olivia kemudian lantas melempar senyum pada Shaka yang di balas juga oleh pria itu, lalu ia melipir lagi ke tempat semula.
"Oh ya, oma lupa ingin memberitahu kan mu sesuatu."
"Apa itu?" tanya Shaka di ajak penasaran oleh ucapan sang nenek.
"Ada kejutan untuk mu ... " imbuh Helen dengan mengerling melirik ke segala arah dengan berkelakar.
"Kejutan? apa?" Shaka semakin di buat penasaran.
Helen tertawa kecil sekilas lalu merentangkan tangannya. "Ini dia kejutan nya!"
"Surprise!" suara seorang wanita berseru. Ketukan langkah high heels membentur lantai marmer terdengar menggema membuat semua atensi teralihkan.
"Apa pestanya sudah di mulai?" seru suara itu lagi lalu siluet tubuh jenjang wanita tampak terlihat lalu semakin jelas saat wanita dengan gaun mahalnya itu menunjukkan batang hidungnya.
"Kak Fiona ... " sahut Shaka merasa terkejut sekaligus bahagia, wanita itu berjalan anggun ke arahnya lalu segera menarik dan memeluk nya dengan erat.
__ADS_1
"Astaga, adik kesayangan ku!" Fiona berujar dengan begitu hiperbola, ia menarik leher Shaka hingga pria itu kesulitan bernafas.
"Kakak sejak kapan ada di sini?" tanya Shaka setelah pelukan terlerai, ia cukup speachless dengan kedatangan tanpa kabar terlebih dahulu dari kakak perempuan satu-satunya yang ia miliki, Fiona Scarlett, anak pertama Wisnu prabu Najendra, wanita setelah bunda dan omanya yang Shaka hormati dan sangat ia sayangi.
"Aku datang sejak kapan? bahkan ini outfit ku dari bandara. Kau tahu begitu sampai dari Switzerland, aku langsung menuju mansion."
Fiona yang sepuluh tahun usianya lebih tua dari Shaka, ia adalah seorang independen woman yang berhasil, sempat menikah namun akhirnya bercerai dengan suaminya yang asli bule, hingga akhirnya ia memutuskan kembali setelah sidang perceraian nya selesai bersama putri nya ke mansion.
"Jadi kakak akan memutuskan untuk tinggal di sini?"
"Yap benar sekali." pungkas Fiona dengan semangat.
"Lalu di mana Amanda, keponakan ku?"
"Dia masih di hotel, Shaka. Begitu tiba aku langsung buru-buru ke sini begitu mendengar kabar kau kembali."
"Kau tidak tahu betapa aku merindukan mu adikku." mata Fiona berkaca- kaca, mengusap rahang kokoh Shaka dengan lembut.
"Baiklah, kita tunda dulu ceritanya," ucap Fiona kemudian, mengusap ekor matanya lalu ia bersalaman dan melepas rindu dengan anggota keluarga yang lain.
"Kak Fiona ... "
"Oh Olivia!" Fiona berseru girang saat Olivia menyapanya.
"Bagaimana kabar mu?"
"Baik kak." jawab Olivia dengan sama antusias. Maklum, karna sebelum ini hubungan mereka sangat akrab dan erat, terlebih ketika ia menjalin hubungan dengan Shaka dulu. Meskipun akhirnya ia dan Shaka tidak berakhir sampai ke pelaminan namun hubungan pertemanan mereka masih terjalin baik.
"Ka, kamu tidak ingin mengenali isteri mu pada Fiona?" tegur Helen, membuat Shaka tersadar.
"Oh ya benar. Kakak mendapat kabar jika kamu sudah menikah, maaf jika bukan karena terhalang visa dulu kakak pasti akan menghadiri pernikahan mu. Sekarang di mana istri mu?" tanya Fiona dengan begitu antusias ingin melihat pendamping sang adik.
"Tak apa kak aku mengerti ... oh ya, perkenalkan ini istri ku." Shaka menunjuk Kiran dan memperkenalkan nya ke hadapan sang kakak.
Mendadak wajah ceria Fiona berubah seketika menjadi masam.
"Ini istri mu?" tanyanya tak percaya, memindai penampilan Kiran dengan tatapan remeh.
To be continued ....
__ADS_1