Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP Bab 71 | Mencari Chiara 01


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Aslan masih terlelap dalam selimut tebal yang menutupi tubuh kekarnya yang polos, dengkuran halus terdengar dari nafasnya yang naik turun secara teratur. Sampai tiba-tiba saja suara dering telepon yang berada di samping nakas mengakibatkan pria berusia 34 tahun itu terusik.


Aslan perlahan membuka mata, ia merengsek kesal membuka bedcover yang menutup kepalanya, pria berwajah tampan bak dewa Yunani itu mencebik kesal, merasakan tidur lelapnya sangat terganggu dengan bunyi notifikasi dari benda smartphone tersebut.


"Astaga, siapa sih yang ganggu pagi-pagi buta begini?!" Aslan menggerutu namun tetap saja akhirnya ia bangun dan mengangkat telepon. melihat nama yang tertera di layar ponselnya Aslan dengan segera membuka mata lebar-lebar rasa kantuknya hilang seketika, ia dengan cepat menekan ikon hijau di layar.


"Halo ... "


Barus saja ia mengucapkan itu, suara lembut namun tegas dari seorang wanita di seberang sana segera menginterupsi dengan intonasi agak tinggi.


"Aslan! jangan bilang kamu baru bangun ya? aku udah nungguin tau, liat ini jam berapa? kamu lupa ya? atau kamu sengaja buat lupa?!" cerocosan bernada marah itu terdengar memekakkan telinga, Aslan sampai menjauhkan ponselnya dari telinga saking kerasnya suara wanita itu di sebrang sana.


Aslan kemudian melihat jam yang tertera di atas layar ponselnya. Astaga, bagaimana ia bisa seceroboh ini?


"Aslan! dengar gak sih aku ngomong?!" suara wanita di telepon itu kembali terdengar menyadarkan Aslan dari lamunannya semula.


"Iyah gue denger. Bentar gue siap-siap dulu," kata Aslan kemudian lalu segera mematikan sambungan telepon tak peduli dengan kata-kata bernada cerewet yang akan di lontarkan perempuan itu berikutnya. Ia pun segera bangun dari kasurnya yang empuk untuk kemudian pergi ke walk in closed, bersiap-siap. Jangan sampai wanita itu memarahinya lagi karena ia terlambat.


Cuaca pagi ini terlihat cerah, jalanan kota begitu indah di hari pekan ini, begitu menyenangkan melihat jalanan yang selalu nampak bising dan macet kini terlihat senggang dan teratur, pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan yang daunnya melambai pelan tertiup angin menambah sejuk pagi hari ini.


Vania berdecak kesal, perempuan itu tengah menunggu seorang pria yang sampai kini belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia sudah menunggu di kursi panjang tempat umum menunggu hingga kini sampai dua jam, namun sosok yang ingin ia lihat belum juga datang.


"Ish, Aslan ngeselin banget. Awas aja muncul di depan gue, bakal gue marahin abis- abisan!" sebal wanita itu sambil menggerutu panjang, melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat sangat gondok.


"Siapa yang bakal lo marahin abis-abisan?"


Mendadak saja Vania merasakan dingin menjalar dengan cepat di pipinya, membuat gadis itu menoleh mendapati pria yang sejak tadi ia nanti-nanti kini muncul di hadapannya, lelaki itu sengaja menempelkan minuman kaleng yang masih dingin membuat Vania berjengit.


"Aslan! ngagetin aja deh?!" Vania cemberut. Entah kenapa malah terlihat lucu di mata Aslan hingga pria itu terkekeh geli.


"Tuh kan malah ketawa? aku nungguin kamu loh dari tadi? aku udah nungguin kamu di sini dari dua jam lalu tau gak? dua jam!" ujar Vania menggebu-gebu sengaja menekankan kata terakhirnya karena sangat kesal dengan pria yang lebih tinggi darinya ini.


Namun justeru Aslan kembali tertawa membuat kedua alis Vania mengkerut.


"Lo lucu kalo lagi marah gini? bikin gemes," ucap pria itu membuat pipi Vania memerah seketika.


"Ish Aslan apaan sih? serius dikit napa!"


"Iya gue udah serius kok. Maaf tadi ada urusan dikit jadi telat kesini nya," ucap pria itu memberi alasan padahal sebenarnya ia lupa karena tadi malam bergadang untuk menyelesaikan proposal atas perintah kakeknya jadi lupa dengan janjinya bersama Vania.


"Oh gitu." Vania manggut-manggut paham. "Jadi kan kita ke panti asuhan nya?"


Setelah kejadian di taman rumah sakit, yang mana Vania sudah berjanji untuk menemani Aslan mencari adiknya yang hilang membuat pria itu akhirnya menumbuhkan kembali kepercayaan jika adiknya Chiara masih hidup dan harus segera di temukan, bagaimanapun caranya karena Vania telah mempercayai nya membuat Aslan seolah di berikan harapan untuk bertemu kembali dengan adiknya yang selama ini ia rindukan.

__ADS_1


Aslan mengangguk setelah sebelumnya tercenung sejenak. "Jadi. Lo mau nemenin gue kan?"


Vania sedikit tersentak. Ia baru menyadari Aslan mengganti panggilan mereka yang semula selalu aku- kamu, menjadi lo- gue seolah ingin ia menyadari jika di antara mereka hanya sebatas teman dan tidak lebih. Entah kenapa itu membuat Vania lesu untuk sesaat namun setelahnya ia segera mengangguk. Tidak, Vania tidak boleh terlihat lemas di hadapan Aslan, tidak apa-apa untuk sekarang, Vania selalu merasa nyaman jika di samping Aslan.


"Jadi dong. Aku kan udah janji sama kamu," ucap Vania dengan cengiran khas nya. Vania yang ceria dan optimis seperti yang selalu Aslan kenal.


"Ini." Aslan memberikan minuman kaleng dingin di tangannya yang tadi ia pakai untuk mengagetkan gadis itu kepadanya.


"Ih pagi-pagi kok aku di kasih minuman dingin kaya gini?" Vania memprotes.


"Kalo gak mau ya udah." Aslan hendak menarik tangannya kembali dengan cepat-cepat Vania menahannya.


"Eh gak! aku mau kok!" Vania segera menyambar minuman kaleng itu membuat Aslan tersenyum geli lantas mengacak pelan rambut gadis itu.


"Ayo," ajak Aslan setelah nya menggamit tangan Vania agar mereka bergandengan tangan, membuat gadis itu membeku untuk sesaat terkejut dengan tindakan Aslan tersebut sementara kini hatinya tak usah di tanyakan lagi, seolah tengah berdisko karena saat ini ia sangat senang dengan perlakuan kecil namun manis dari pria itu.


...---------Oo-------...


Di sinilah sekarang Aslan dan Vania berdiri, di depan sebuah gerbang bertembok kokoh dengan banner yang terpampang jelas yang tertempel di dinding pagar bertuliskan 'PANTI ASUHAN PONDOK MELATI"


Aslan termenung dengan air muka yang tidak bisa di mengerti oleh Vania saat menatap nya. Jelas Aslan merasa Dejavu dengan panti asuhan ini, karena di tempat inilah ia bersama Chiara pernah di titipkan setelah ibunya meninggal sebelum akhirnya ia di bawah pergi oleh kakek dan neneknya sementara saat itu Chiara hilang karena kecerobohannya sendiri.


Vania merasa genggaman tangan Aslan semakin mengerat dan terasa panas. Vania kembali menatap wajah tampan itu, meski tidak merasakannya langsung tapi Vania mengerti kesedihan di hati pria itu bagaimana ia harus kembali mengingat masa-masa kelam di waktu kecilnya, yang seharusnya Aslan di umur segitu menikmati menjadi kanak-kanak namun sudah harus di paksa dewasa oleh takdir yang kejam.


"Yakin." Aslan mengangguk mantap kemudian ia menolehkan pandangannya ke arah Vania. "Gue harus dapat kabar baik tentang Chiara hari ini juga."


Setelah mengumpulkan keberanian dan kepercayaan dirinya Aslan yang di temani Vania pun masuk ke dalam panti asuhan.


Aslan dan Chiara pernah tinggal di panti asuhan ini selama beberapa Minggu, meski bertahun-tahun sudah berlalu namun otak Aslan masih mengingat jelas setiap sudut bangunan panti asuhan ini.


"Di mana kita harus ketemu pengurus pantinya, Lan?" tanya Vania yang kebingungan, gadis itu celingak-celinguk menyapu pandangannya ke seluruh penjuru panti tak lama kemudian, segerombolan anak-anak kecil datang berduyun-duyun dari pintu yang berjarak tak jauh dari mereka.


Anak-anak yang berkisar usia rata-rata 5 sampai 10 tahun itu dengan semangat bersorak gembira seolah kedatangan keduanya adalah yang di nanti-nanti oleh mereka.


"Hore akhirnya ada tamu di sini setelah sekian lama!" sorak bocah laki-laki yang berperawakan tinggi dan lebih dewasa di antara yang lainnya.


Kemudian seorang bocah perempuan muncul dengan cengiran yang mengingatkan Aslan dengan cengiran khas Vania, membuat pria itu seketika menoleh pada gadis di sampingnya.


"Om ganteng dan kakak cantik kesini mau memberikan kami makanan dan mainan kan?" tanya bocah perempuan itu dengan mata berbinar polos membuat Vania terenyuh saat melihatnya lantas mengusap pipi chubby bocah itu.


"Eh, kalian jangan di ganggu tamu-tamunya," seruan bernada sendu dari seorang wanita yang muncul dari pintu anak-anak kecil keluar tadi membuat mereka yang ada di sana menoleh seketika.


"Bunda!" bocah-bocah itu menyahut serempak lalu berputar arah menuju ke perempuan setengah baya tersebut.


Aslan dan perempuan setengah baya itu saling berkontak mata. Ada rindu yang tiba-tiba terselip di lubuk hati pria itu.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya wanita bermata sendu itu.


Aslan menelan Saliva kasar membuat jakunnya naik-turun perlahan karena ia berusaha menelan sesak yang kini menghimpit dadanya.


"Ini aku ... Aslan, anak panti asuhan yang sempat terlupakan."


...--------Oo--------...


Perempuan berusia hampir seperempat abad itu tak bisa menyembunyikan air matanya, ia sejak tadi tergugu di samping Aslan yang kini menatapnya sendu.


"Sudah bunda, jangan menangis lagi," kata Aslan pelan, dengan penuh pengertian.


"Bagaimana bunda tidak menangis nak? bunda pikir bunda tidak akan pernah melihat mu lagi setelah kamu di bawah pergi oleh kakek dan nenek mu?"


"Aku tahu perasaan bunda. Terimakasih sudah sempat menjadi ibu yang pengertian untuk ku dsn Chiara, meski tidak lama bagi kami untuk merasakan kasih sayang mu yang tulus tapi kami sangat berterimakasih untuk waktu yang kami habiskan di panti asuhan ini."


Sari-- nama pengurus panti asuhan pondok melati itu mengangguk-angguk. "Bunda selalu terbuka bagi siapa saja anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Termasuk kamu dan Chiara."


Aslan tersenyum dulu sekali saat ia harus kehilangan ibu untuk selamanya, Sari hadir bagaikan malaikat tanpa sayap untuk nya dan Chiara, wanita yang selama beberapa bulan ia dan Chiara panggil dengan sebutan 'bunda' yang memberikan kehangatan juga rasa aman untuk dia dan adiknya waktu itu di saat-saat masa terpuruk ketika Aslan dan Chiara harus kehilangan ibu mereka kala itu, Sari yang merasa kasihan dengan kehidupan Aslan kecil bersama adiknya setelah wafatnya ibu mereka akhirnya memutuskan untuk memboyong Aslan dan Chiara tinggal di panti asuhan milik keluarganya.


Sari dan Rasti-- ibu Aslan dan Chiara, dulu adalah sahabat. Tapi semenjak Rasti menikah dan mempunyai anak mereka semakin jarang untuk komunikasi sementara Sari sendiri yang di nyatakan mandul di ceraikan oleh suaminya dan memutuskan untuk menjadi pengurus panti asuhan milik keluarganya. Menjadi 'bunda' untuk anak-anak terlantar ataupun sebatang kara yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya. Sari sangat terpukul dengan kemattian Rasti saat itu dan menyadari jika Rasti meninggalkan kedua anaknya di kontrakan mereka yang kecil sampai akhirnya tak berpikir panjang lagi Sari membawa kedua anak sahabat nya itu untuk tinggal bersamanya.


"Aku tahu bunda memang berhati malaikat. Terimakasih sudah berjasa dalam hidup ku dan Chiara," ujar Aslan pelan, sementara Vania yang duduk di samping pria itu menatap Aslan dengan sorot teduh seolah ikut merasakan apa yang pria itu rasakan saat ini.


"Tapi sekarang, aku hendak meminta bantuan mu bunda."


"Tentang apa nak?" Sari menatap Aslan menunggu apa yang akan di katakan Aslan berikutnya.


"Ini tentang Chiara bunda. Apa bunda tahu Chiara hilang tepat di hari aku di ambil oleh kakek dan nenek ku. Jika bunda sudah mengetahuinya mungkin bunda tahu di mana Chiara saat itu?"


"Apa maksud mu nak? bunda bahkan baru mengetahui jika ternyata Chiara menghilang selama ini," ucap Sari dengan ekspresi terkejut.


Aslan menatap dengan sorot dingin, perubahan raut wajah pria itu membuat Sari seketika menegang di tempatnya.


"Bunda tidak usah berbohong. Aku tahu bunda mengetahui sesuatu tentang hilangnya Chiara."


"Apa maksud perkataan mu nak?" Sari masih berkilah.


"Bunda ... kau pernah bertemu dengan kakek ku sebelum Chiara menghilang kan? aku sudah mengetahui semua dari orang suruhan ku, bunda tidak bisa berbohong lagi,"


"Aku tahu bunda memang sangat baik tapi terkadang hati manusia itu cepat berubah," Aslan berujar dengan nada ketus. "Katakan padaku bunda, engkau di suap berapa oleh kakek hingga merahasiakan tentang Chiara selama ini dari ku?"


Sari tampak tercekat di tempatnya. Ia menghela nafas panjang, memang sudah saatnya semua terbongkar. Ia tidak bisa menyembunyikan rahasia ini lagi.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2