Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 21 | Kenangan pertama


__ADS_3

💞 Happy reading 💞


Membutuhkan perjalanan cukup memakan waktu, akhirnya pasangan sejoli yang di komandoi oleh Liam sebagai sang asisten siap siaga, tiba di tempat di adakan nya sebuah karnaval budaya yang berlokasi di alun-alun kota yang ramai.


"Wah, ini menakjubkan." Seru Kiran tak henti-hentinya untuk berdecak kagum, baru kali ini ia mendatangi tempat semeriah ini di mana semua tampak menyenangkan untuk di lihat.


"Young lady sepertinya sangat menyukai tempat ramai seperti ini ya? ini pasti akan sangat mengasyikkan." decak kagum Liam."


"Baiklah kita langsung saja masuk ke dalam," ujar Shaka tak ingin berlama-lama diam,ia sengaja menggamit lengan Kiran untuk menuntun nya pergi bersama.


Mendapat perlakuan manis yang tiba-tiba seperti itu Kiran tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia nya, genggaman tangan kekar Shaka begitu erat dan terasa sangat hangat, hingga kehangatan itu menjalari ke dua pipinya yang kini sudah memerah tomat.


Liam menggeleng kan kepala sambil menahan senyum melihat bagaimana tingkah malu-malu meong kedua orang di depannya.


"Ya sudah, saya akan menunggu di sini, tuan muda dan nona Kiran pergi berdua saja."


"Eh kamu tidak ikut juga asisten Liam?" tanya Kiran.


"Tidak nona." jawab Liam. "Saya hanya akan jadi nyamuk saja di sana nanti."


"Kok begitu?" tanya Kiran lagi, Liam mendengkus geli, nyonya mudanya ini benar-benar sangat lugu dan polos.


"Sudahlah, Liam lebih memilih di sini untuk menjaga mobil, kita pergi saja ayok." lekas Shaka menarik lengan Kiran untuk mengikuti langkah, sementara Liam melambaikan tangan seraya menggoda tuan mudanya itu.


"Good luck tuan, semoga anda cepat mengungkapkan perasaan anda yang sebenarnya pada nona Kiran."


...---------Oo-------...


Begitu masuk ke dalam, Kiran menatap penuh binar pada kemeriahan acara karnaval budaya ini, terlihat banyak orang-orang yang memakai kostum tradisional dari berbagai daerah, pertunjukkan musik, wayang, juga patung-patung raksasa yang di arak oleh ratusan orang melewati mereka.


"Kau terlihat kaget sekaligus senang, apa jangan- jangan kau juga tidak pernah datang ke acara seperti ini sebelumnya?"


Kiran berhenti sejenak dalam hype nya, ia kemudian menampilkan senyum yang sama saat Shaka menanyakan pertanyaan yang hampir sama sebelumnya di bioskop.


"Tuan mungkin jika aku menceritakan seluruh kehidupan ku yang sebenarnya anda pasti akan sangat kaget. Faktanya jangankan untuk melihat karnaval budaya seperti ini, bisa ketemu hari esok dengan harapan yang sama pun aku sudah sangat bersyukur tuan."


Hening menyelimuti mereka, Shaka terdiam untuk beberapa saat.


"Apa pertanyaan ku menyakiti mu?"


Kiran sontak menggeleng cepat. "Tentu saja tidak tuan, anda berhak menanyakan apapun pada ku."


Shaka membuang nafas panjang lantas kemudian mendekat, Kiran hampir menahan nafas ketika pria itu mendekat hampir tak ada jarak di antara mereka.


Kemudian laki-laki pemilik wajah tampan itu menggerakkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga sang gadis.


"Jika ada hal yang menyakiti hati mu katakan saja yang sejujurnya, aku tak suka orang yang berbohong apalagi tentang perasaannya yang sebenarnya, jadi bilang saja apa yang kau suka dan kau tak suka bukan karena kau segan atau takut dengan orang lain, tapi karena hatimu yang ingin mengatakan sejujurnya, mengerti?"

__ADS_1


Kiran menengadah saat itulah mata nya langsung bertemu dengan mata sepekat jelaga milik Shaka, dadanya berdegup kencang, ia merasakan gelenyar aneh yang mengalir dalam setiap pembuluh darah nya, hingga Kiran sampai harus membasahi bibir dulu untuk menghilangkan gugup karena di tatap sedalam itu oleh pria di hadapannya ini.


"Sebelumnya tak ada yang pernah menanyakan kepada ku tentang semua yang tuan katakan. Rasanya aku tak pantas untuk menerima semua ini,tapi tuan selalu mengatakan aku pantas untuk mendapat nya, terimakasih ... " netra Kiran berkaca- kaca menahan haru juga bahagia.


Shaka dengan sigap mengusap embun di ujung mata gadis itu. "Jangan menangis, hari ini aku akan membuat mu bahagia."


"Ayo ... " Shaka membawa Kiran mengikuti langkahnya kembali.


Kiran tersenyum bahagia, menatap punggung Shaka juga bagaimana hangatnya rengkuhan pria itu membuat Kiran ingin waktu berjalan lambat.


"Tuan, pantas kah aku menaruh perasaan ini untuk mu? ... "


...--------Oo--------...


Shaka dan Kiran berhenti di sebuah stand penjual makanan.


"Kau ingin ini?"


Kiran mengangguk semangat. "Eumm,"


Akhirnya Shaka membeli dua jajanan ringan yang langsung di sambut baik oleh gadis itu, Shaka mendengus geli melihat tingkah Kiran seperti anak kecil, ia menepuk pelan pucuk kepala gadis itu.


Seorang fotografer jalanan terlihat sedang menawarkan jasanya pada setiap turis yang lewat, melihat itu Shaka menghampiri.


"Kau tunggu di sini dulu," pinta Shaka pada Kiran yang sedang mengunyah makanannya."


"Eh anda ingin menyewa kan nya pak?" tanya fotografer jalanan itu yang terlihat kaget.


"Ya." jawab Shaka singkat.


"Tapi untuk menyewa kamera tidak lah murah pak, atau anda ingin saya memotret sesuatu?"


"Saya ingin menggunakannya sendiri, saya akan membayar berapa pun."


"Sepuluh juta pak?" si fotografer jalanan itu memberikan harga, ia antara yakin tak yakin dengan pria di depannya ini.


"Baiklah, ini." Shaka menyodorkan sesuatu yang ia ambil dari dompet nya.


"Kartu kredit, di sana ada nominal uang lebih dari yang kau sebutkan."


"Ini buat saya? yang benar saja pak!"


"Tentu saja, jika kau tidak percaya ini kartu nama ku."


"D- direktur utama," si pria fotografer jalanan itu terkejut bukan main saat membaca tulisan di kartu nama tersebut.


"Tuan, jika begitu kamera ini milik anda!"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu saja tuan, kartu kredit ini sudah lebih cukup untuk menyambung hidup saya, justru saya yang harus berterima kasih pada anda."


"Baiklah jika begitu."


Selesai bernegosiasi dan mendapatkan kamera nya Shaka berjalan kembali untuk menemui Kiran, namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sang istri tidak ada di tempat semula.


Dunia Shaka mendadak berhenti, jantungnya seakan di remas dengan kuat, kepanikan segera menyergapnya tanpa ampun. Lekas pria itu berlari ke sepanjang jalan sambil meneriaki nama sang istri.


"Kirana! di mana kau!"


Saat dengan kepanikannya ia mencari sosok mungil itu ternyata berada di depan sebuah kedai kopi, ketika itulah Shaka melihatnya pria itu menghela nafas lega.


Saat hendak menghampiri, Shaka mendadak menghentikan jalan ketika di lihatnya gadis itu terlihat sedang berbincang dengan seorang bocah laki-laki yang nampak seperti pengamen jalanan.


Shaka menyimak obrolan mereka dengan tatapan terkesima.


"Kamu sejak kapan ada di sini?" tanya Kiran pada pengamen cilik itu.


"Sejak tadi."


"Sudah berapa banyak yang kamu dapatkan?"


"Baru sedikit ka, orang-orang di sini begitu pelit."


Sontak Kiran tertawa mendengar celotehan bocah itu, Shaka yang mendengarnya dari kejauhan pun ikut terkekeh geli.


"Baiklah,bisa kah kamu menyanyikan satu lagu untuk ku, sebagai imbalannya aku akan memberikan makanan ini untuk mu."


"Wah, benarkah? boleh-boleh ka, lagu apa yang ingin kakak dengar."


"Balon ku ada lima, bagaimana?"


"Kalau itu sih gampang." pengamen cilik itu menjettikan jarinya,Kiran tertawa lagi melihat tingkah lucunya, kemudian dengan memetik senar gitar usang yang di kalung kannya bocah laki-laki itu mulai menyanyikan lagu yang di pinta Kiran dengan iringan tepuk tangan olehnya.


Shaka melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah di mana Kiran terlihat seperti peri dengan sayap yang bernyanyi bersama pengamen cilik ikut mengibur orang-orang di sekitar mereka.


Shaka membidikkan kamera, di arahkan nya pada pemandangan indah di depannya.


"Ini akan menjadi kenangan pertama ku tentang mu," gumam Shaka melihat hasil foto di mana terlihat Kiran dan pengamen cilik itu tengah bernyanyi bersama sambil terus mengulas senyum.


Entah bagaimana tiba-tiba dada Shaka berdebar kencang.


"Perasaan aneh apa ini?"


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2