Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 35


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Brakk! Renata terkesiap kaget saat gelas kaca di tangannya jatuh begitu saja di lantai, tangannya gemetar dengan nafas memburu juga jantungnya yang seakan sedang di ajak maraton.


"A- ada apa ini? kenapa firasat ku jadi tak enak begini?" monolognya dengan mengurut dada yang terasa sesak.


"Bunda ada apa?!" sekonyong-konyong kemudian Kirana datang dengan rona terkejut di wajahnya.


"Ada apa bun? kenapa ada pecahan kaca?"


"Tadi bunda tidak sengaja menjatuhkan gelas nak, perasaan bunda jadi tak karuan begini," keluh Renata pada sang menantu.


"Ya sudah bunda duduk dulu, biar Kirana membersihkan pecahan gelas ini." pungkas Kirana lalu menuntun ibu mertua nya ke sofa ruang tamu, kemudian ia ijin pamit sebentar untuk membersihkan pecahan beling dari gelas yang hancur di atas lantai.


Beberapa saat setelahnya, Kirana kembali dengan membawa segelas air dan di berikannya kepada sang ibu mertua agar lebih tenang.


"Bunda sudah tidak apa-apa?" tanya Kirana dengan mengurut pelan punggung ibu mertua nya.


Renata mengangguk, mengibaskan tangannya ke wajah sekilas. "Tapi tetap saja bunda merasa khawatir, ada apa ya? apa akan terjadi sesuatu yang buruk? bunda sangat cemas," lirih perempuan berusia 56 tahun itu lagi dengan raut wajah yang semakin redup di rundung kecemasan.


"Jangan terlalu di pikirkan bun, mungkin saja bunda lagi capek, yang penting bunda banyak istirahat ya dan jangan terlalu lelah."


Renata mengangguk lagi merasa sedikit tenang dengan perkataan sang menantu. "Semoga saja ini hanya karena bunda sedang kelelahan."


Sementara itu di lain tempat, di ujung paling terdalam jurang, mobil hitam metalik yang membawa Shaka serta supirnya itu dalam posisi terbalik setelah menghantam pembatas jalan dengan sangat kerasnya, asap keluar dari kap mobil yang sudah rusak parah. Sang supir masih berada di dalam sementara Shaka terlempar lima ratus meter jauhnya dari tempat mobil terjungkal di antara pepohonan dan semak belukar, di bawahnya terdapat sungai dengan aliran deras.


Satu kendaraan roda empat berhenti tepat di tepi jurang, tiga orang pria berbadan besar keluar mereka dengan hati-hati melongok untuk memastikan mobil yang menjadi sasaran mereka benar-benar hancur di dalam jurang sana.


"Sepertinya semua penumpangnya sudah tewass." seru salah satu dari mereka.


"Kita tidak bisa memastikan sebelum melihat lebih lanjut ke bawah. Ayo!" mereka dengan peralatan keamanan berhati-hati untuk menelusuri ke bawah jurang, mendekati mobil C-Class hitam yang kini memang sudah dalam keadaan buruk.

__ADS_1


"Sepertinya mobil ini akan segera meledak. Siram bensinnya cepat!" instruksi salah satu dari mereka lalu di angguki oleh yang lain.


Tiga pria berpenampilan seperti preman itu mulai melancarkan tugas yang di berikan sang bos pada mereka, dua orang bertugas menyebar bensin yang mereka bawa lalu di siramkan nya ke seluruh mobil lalu setelah itu mereka menjauh dan satu dari mereka mulai mengambil pemantik api dan menyalakan nya lalu melemparkannya ke arah mobil yang ringsek.


"Menjauh semuanya!" titah itu terdengar keras, lalu api mulai menyambar ke seluruh badan mobil dan ... Bom! mobil C-Class hitam itu meledak seketika.


"Tugas kita sudah selesai! ayo kita pergi dari sini!" tiga pria itu kemudian merangkak kembali ke atas setelah memastikan mobil yang terperangkap di dalam jurang sudah benar-benar hancur di lahap si jago merah.


...---------Oo-------...


"Ini foto Shaka waktu masih bayi, lucu bukan?" Renata tersenyum menunjukkan pada Kirana album foto masa pertumbuhan Shaka.


Kirana tersenyum hangat. "Iya, mas Shaka bule banget di sini, matanya lentik dan indah."


Renata mengangguk setuju dengan anggapan itu. "Kau benar, mas Wisnu pun selalu memuji putra nya persis seperti yang kau katakan tadi, dia selalu membanggakan jika Shaka terlalu mirip dengan nya dari pada aku."


Renata mengusap lembut lembar foto yang sebagainnya telah usang namun tetap terjaga dan terawat. Ia merindukan suaminya, itu tentu saja mengingat selama ini ia yang selalu tegar demi anak-anak nya tapi ada sewaktu-waktu ia menangis betapa ingin menikmati masa-masa tua bersama sang suami, namun takdir berkata lain.


Renata mengangguk sambil jemarinya mengusap ujung matanya yang berembun. "Karena ini hari peringatan meninggal nya almarhum, jadi bunda lebih sensitif tentang ini, bunda tentu selalu merindukan nya, setiap saat."


Kirana membuang nafas pelan, lalu tersenyum sendu merasa sangat terharu juga salut dengan ketegaran ibu mertua nya selama ini. Di tinggalkan oleh orang terkasih bukanlah hal yang mudah meski sudah bertahun-tahun raganya sudah di kubur kan namun kenangannya akan selalu tetap di hati menjadi kerinduan yang kadang tak sampai hanya doa yang mampu menjadi perantara di kala rindu itu membekuk hati.


Langit serwarna merah saga di luar sana, orang-orang di mansion tengah bersiap-siap untuk mengadakan tahlilan, peringatan akan kematian Wisnu putra Najendra, bersama anak-anak yatim dan kaum duafa.


Semua anggota keluarga sudah siap dengan pakaian hitam mereka, demi menghormati almarhum di peristirahatan terakhir nya nanti. Renata dan Helen tengah menyusun bunga- bunga untuk di makam almarhum.


Kirana ikut membantu apa saja yang bisa ia lakukan, meski belum sempat mengenal bagaimana pak Wisnu saat beliau masih hidup namun Kirana yakin beliau adalah panutan yang sangat baik terbukti dengan banyaknya orang-orang yang tengah berkumpul di halaman saat ini demi untuk mendoakan beliau.


"Di mana Shaka? kenapa belum pulang juga? apa dia lupa jika hari ini adalah peringatan kematian ayahnya?" Renata nampak cemas di tempatnya, hari sudah mulai gelap namun putranya itu belum juga kembali, sementara ia ingin sang putra lah yang memimpin untuk upacara peringatan hari kemattian almarhum.


"Mungkin saja masih di jalan, sabarlah dulu menantu." sahut Helen.

__ADS_1


"Tapi bu, sejak siang tadi firasat ku selalu tak tenang. Apa akan terjadi sesuatu yang buruk?"


"Husst! setiap memperingati hari meninggalnya Wisnu kamu selalu begitu, selalu berfikir yang tidak-tidak." Helen menggelengkan kepala.


Renata menghela nafas berat. Tetap saja ia tak tenang sebelum melihat putranya ada di depan matanya saat ini.


Mendengar perdebatan nenek dan ibu mertuanya, Kirana juga jadi mulai di landa kekhawatiran namun ia masih bisa menahan nya. Dalam hati ia berdoa agar Tuhan selalu menjaga suami nya dan membawanya pulang dengan selamat.


Di saat para anggota keluarga tengah menanti kehadiran Shaka, justru yang datang adalah Liam, pria itu menghampiri dengan setelan hitam seperti yang lain, dengan rona wajah cemas Renata tergopoh-gopoh menghampiri asisten setia putranya itu.


"Liam, kenapa kau sendiri? di mana Shaka?"


Raut wajah pria itu mendadak pucat pias. "Justeru itu yang ingin saya tanyakan nyonya besar. Saya datang terburu-buru kesini untuk memastikan tuan muda ada di sini."


"Apa?!" terkejut lah semua orang mendengar penuturan pria itu.


"Bukankah Shaka pergi ke kantor bersama mu?"


Liam menggeleng cepat. "Tuan muda pergi dengan mobil lain bersama seorang supir. Beliau bahkan tidak pernah sampai di kantor dan tidak menghadiri meeting hari ini, saya pikir tuan muda pulang kembali ke mansion mengingat hari ini adalah peringatan kemattian tuan besar."


"Arshaka!" tiba-tiba saja Renata berteriak histeris. "Telah terjadi sesuatu pada putra ku, cepat cari putra ku Liam!" firasat seorang ibu tidak pernah meleset, inilah yang ia khawatir kan.


Semua menjadi panik, atmosfer di sekitar berubah tegang. Di saat semua orang tengah berupaya mencari keberadaan Shaka, justeru sebaliknya saat ini Matilda dan Fiona yang berdiri sengaja menepi malah diam-diam tersenyum penuh arti.


"Rencana kita berhasil."


"Ini juga berkat ide bibi."


Keduanya berbisik-bisik dengan menyeringai lebar. Pun demikian dengan Arkan, ia mengkode ke arah ibunya juga kakak sepupu nya yang melempar senyum ke arahnya. Rencana mereka untuk menyingkirkan Shaka sukses besar.


"Setelah ini apa yang menjadi milik mu akan berpindah pada ku, Arshaka, termasuk istri mu." gumam Arkan sambil menatap dengan tatapan buass ke arah Kirana.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2