
...💞 Happy reading 💞...
Aslan berdiri dari tempatnya duduk, menengok ke arah Kirana yang sejak tadi hanya diam terpekur saja, ia tahu jika perempuan itu sedang mencerna baik-baik semua perkataannya. Lelaki itu tak ingin Kirana merasa tertekan, ia ingin Kirana sendiri yang menyadari ikatan batin di antara mereka.
"Sepertinya kau butuh sendiri untuk merenungkan semua ini. Kakak sudah menjelaskannya semua tanpa ada yg di tutup-tutupi darimu Kirana. Kakak tidak akan memaksamu untuk mempercayai semua ini, tapi kakak berharap kamu mau menerima ikatan kekeluargaan kita ini meski sudah sekian lama kita berpisah kakak tetap menganggap mu adik kecil kakak, kembali lah padaku jika kamu sudah meyakini dan mempercayai semuanya, kapan pun kakak akan selalu siap jika kau datang." Tutur panjang lebar Aslan sambil menghela nafas sejenak.
"Ini, kakak kembalikan apa yang menjadi milik mu." Aslan memberikan kembali sapu tangan Kirana kepada sang empunya.
Kirana tercenung hanya bisa menatap lantai, terlalu banyak kejutan di kepalanya perempuan itu harus bisa mencerna nya dengan baik dan teliti, hati dan pikirannya kini seolah tengah saling bertentangan antara mempercayai atau tidak semua pengakuan dari Aslan. Namun Kirana tak bisa mengelak jika yang di katakan Aslan memang begitu terhubung dengan kehidupan nya selama ini. Apa benar jika memang dia adalah Chiara mavendra yang selama ini hilang?
"Tunggu!" panggil Kirana kepada Aslan yang hendak bersiap melangkahkan kakinya menyebabkan pria itu menahan kembali kakinya dan kini menoleh kepada Kirana.
Menunggu apa yang akan di katakan perempuan itu selanjutnya, membuat Aslan panas dingin, ia tak ingin justru karena terungkap nya hubungan mereka yang sebenarnya malah menjadi Boomerang sendiri untuk hubungan antara dia dan Kirana.
"Jika aku meminta mu untuk melakukan tes DNA, apa kau akan menerimanya?" tanya Kirana mengangkat wajah menatap Aslan dengan mata nanar.
Kirana menanti kejujuran di mata Aslan saat ini, lelaki itu mengesah pelan bibirnya melengkung membentuk senyum meski kedua matanya kini sudah berkaca-kaca. Apa itu artinya Kirana perlahan sudah mempercayai nya?
"Tentu saja. Jika kau memintanya padaku, detik ini juga jika perlu kita bisa langsung ke rumah sakit, untuk melakukannya," ujar Aslan dengan mantap.
"Tidak." Kirana menggeleng pelan. "Tidak sekarang, tapi nanti. Sekarang aku butuh waktu untuk bisa mempercayai semua perkataan mu."
"Baiklah." Aslan manggut-manggut paham, pria itu kemudian mendekat tangannya terjulur untuk mengusap puncak kepala Kirana yang saat ini masih dalam posisi duduk.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai telat makan, jangan begadang dan minum susu kehamilan agar kandungan mu kuat, jika kau butuh sesuatu telepon saja aku. Meski kamu belum bisa menerima ku sebagai kakak mu, kita masih bisa berteman kan?"
Kirana terpana, untuk beberapa detik ia bisa merasakan seperti mendapatkan kasih sayang seorang kakak yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya, kemudian ia tersenyum. "Terimakasih, sampai kita bertemu lagi jaga juga dirimu baik-baik."
Aslan menganggukkan kepala lantas menarik kembali tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana. Tak berselang lama pintu ruangan terbuka, sudah ada Shaka di ambang pintu kini membuat Kirana pun berdiri dan menghampiri nya.
"Sudah selesai bicara nya?" tanya Shaka menatap Kirana lembut lalu beralih kepada Aslan dengan tatapan penuh perhitungan.
Kirana mengangguk. "Sudah. Sekarang bisa kita kembali mas? aku butuh waktu sendiri dulu."
Shaka yang langsung peka pun mengangguk. "Baiklah. ayo ... " ajak pria itu menuntun Kirana untuk keluar dari ruangan.
Vania dengan bergegas cepat berlari menghampiri Aslan yang masih terpaku melihat Kirana yang tengah di tuntun Shaka.
"Aslan ... kamu baik-baik saja?" tanya Vania yang gelisah.
__ADS_1
Mata Aslan yang semula lurus menatap ke depan berubah sayu saat sorotnya merunduk bersitatap dengan kedua mata jernih Vania.
"Tidak. aku tidak baik-baik saja," kata pria itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja tubuh Aslan seperti melemas hingga kepalanya saat ini ia terjatuh di pundak Vania, pria itu memeluk setengah tubuh Vania membuat perempuan tersebut menegang seketika.
"Kenapa?" tanya Vania yang sudah melewatkan rasa terkejutnya.
"Dia belum percaya sama gue, Van. Chiara gak mau balik jadi adik gue," lirih Aslan nampak tercekat. Rasa kecewa memenuhi dadanya karena Kirana yang tidak langsung percaya dengan apa yang sudah ia jelaskan semuanya.
"Jangan bilang begitu," ujar Vania melepaskan pelukan Aslan untuk melihat wajah pria itu lalu tersenyum. "Kirana hanyalah butuh waktu untuk menerima semua fakta ini. Lagipula siapa yang tidak terkejut ketika seorang pria yang selama ini sudah banyak membantunya tiba-tiba datang dan mengaku sebagai kakaknya dan dia adalah adik seorang laki-laki dari keluarga terpandang yang selama ini sedang di cari keberadaan nya? jika aku di posisi Kirana pun pasti sangat kaget, jadi beri dia waktu dulu ya. Jangan berfikiran yang enggak-enggak oke?"
Aslan mengangguk lantas tersenyum, Vania memang sangat bisa menenangkan gundah dalam hatinya dengan kata-katanya yang menyejukkan.
...---------Oo-------...
Di mansion Rajendra. setelah dengan acara makan malam Kirana hanya duduk berdiam diri di pinggir kasur, seolah wanita itu tak memiliki kehidupan pikirannya tengah melanglang buana sangat jauh kini membuat Shaka yang tengah melihat laporan keuangan di meja kerjanya memperhatikan gerak-gerik sang istri sejak tadi. Setelah selesai dengan pekerjaannya Shaka pun berdiri dari meja kerjanya menuju Kirana lantas duduk di samping perempuan itu.
"Ada apa sayang? kau masih memikirkan kejadian tadi siang?" tanya Shaka membuat Kirana yang sedang melamun tersentak kaget.
"Aku bingung mas, haruskah aku mempercayai pengakuan pak Aslan?" gumam Kirana, mengesah dengan berat.
"Kirana, dengar ... " Shaka mengambil kedua pundak isterinya itu untuk kemudian berhadap-hadapan dengannya. "Kamu mungkin sangat bingung saat ini untuk menentukan apakah kamu harus mempercayai ucapan pak Aslan atau tidak. Tapi yang pasti ikuti lah kata hatimu, karna apapun yang berawal dari sini tak pernah bohong," kata Aslan membawa telapak tangan Kirana menyentuh ke dada kirinya.
Kirana menatap sang suami awalnya ia merasa tak yakin namun Shaka tersenyum menenangkan nya. "Jika kau butuh bukti yang kuat, maka lakukanlah tes DNA. Lalu apapun keputusan mu nanti aku akan selalu mendukung mu."
Kirana mengangguk, ikut melengkungkan bibirnya membentuk senyum, merasa ada sebuah harapan baru di dalam hatinya setelah mendengar kata-kata Shaka.
"Baiklah, jalan keluar satu-satunya memang tes DNA. Tapi mas, tolong temani aku ya? jangan biarkan aku sendiri ... "
Shaka tertawa kecil untuk sesaat lalu tersenyum lebar. "Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu sendiri? kau adalah separuh nafas ku belahan jiwa ku, mana bisa aku meninggalkan dunia ku sendiri?"
Perkataan Shaka sontak membuat kedua pipi Kirana memerah seperti buah ceri. "Kamu gombal ya?"
"Mana bisa aku gombal sayang," kata Shaka tertawa. "Sini peluk." lelaki itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Kini giliran Kirana yang tertawa, mulai lagi sifat manja suaminya membuat Kirana kadang merasa heran, pasalnya Shaka ketika di luar selalu terlihat garang namun saat berdua bersama nya pria itu selalu menunjukkan sifat seperti anak kecil. Mau bagaimana pun Kirana sangat mencintai pria ini sekarang, dulu ataupun nanti hanya Shaka yang selalu ada di hatinya. Kirana pun menyambut kedua tangan Shaka memeluk pria itu dengan sangat erat dan perasaan sayang.
...--------Oo--------...
"Awsh!!" Aslan meringis nyeri setiap kali bulatan kain yang di berikan es batu itu menempel di luka memarnya, mata pria itu sesekali terpejam merasakan teramat sakit bukan hanya di lukanya tapi juga di hatinya.
__ADS_1
Vania menghela nafas lesu, seolah ikut merasakan sakit yang Aslan rasakan. "Maaf ya," katanya kemudian lalu mengangkat beberapa helai anak rambut di kening Aslan agar bisa mengobati memar biru di kening pria itu.
Aslan menoleh menatap gadis itu, untuk beberapa saat pria tersebut terpaku, kedua matanya kini menatap lekat Vania yang begitu telaten mengobatinya.
"Kenapa lo selalu baik begini sama gue?" tanya pria itu tak pelak membuat alis Vania berkerut.
"Maksud mu?" tanya gadis itu tak mengerti.
"Gue selalu nolak lo Van, bahkan terang-terangan nyakitin lo dengan kata ataupun tindakan gue selama ini," ujar Aslan dengan lirih. "Tapi kenapa lo selalu baik melulu sama gue, kenapa lo selalu ada di saat gue butuh."
"Karena aku mencintaimu, Lan. Kamu tahu itu kan?"
"Tapi kita gak bisa bersama, Van." telak Aslan membuat Vania tertohok seketika, gadis itu diam menarik tangannya yang sedang mengobati kening Aslan lantas menghela nafas panjang.
"Gak apa-apa, biar kali ini aku yang berjuang Lan."
Dulu Vania sangat ingat ketika mereka masih dalam masa pdkt atau pendekatan, ketika mereka masih mengenyam pendidikan kuliah, Aslan berjuang mati-matian untuk mendapatkan restu ayahnya yang sejak dulu memang sudah secara terang-terangan menabuh genderang perang perang dengan Aslan, ketika itu ayahnya berasalan jika Aslan bukanlah pria baik untuk putrinya. Bagai tertusuk sembilu Vania harus menerima kenyataan jika memang kisah cintanya dengan Aslan tak lah semulus itu. Maka ia akan berjuang meski Aslan sendiri kini masih ragu untuk memperjuangkan kembali hubungan mereka karena terlanjur mendapat kekecewaan yang mendalam atas penolakan orang tuanya.
"Kamu bilang jangan membicarakan hubungan kita dulu kan? kamu bilang sekarang yang terpenting adalah membawa adik mu kembali, kenapa sekarang kamu malah ngungkit- ngungkit soal kita?"
"Gue bukan ngungkit Van. Gue cuma gak mau lo buang-buang waktu sama gue, percuma," kata Aslan begitu telak menusuk relung hati Vania yang terdalam.
Namun Vania masih bisa tersenyum di tengah rasa sakit hatinya. "Gak ada yang sia-sia kalo kita melakukannya dengan hati Lan. Aku kan sudah berjanji pada mu untuk selalu berada di samping mu sampai kamu bisa bertemu adikmu. Aku gak akan menyerah, Lan."
Untuk sejenak kedua anak manusia itu bersitatap, ada rindu dan cinta yang muncul setiap kali detak jantung mereka berbunyi, namun baik Aslan maupun Vania sadar, jika keduanya tidak bisa kembali seperti dulu atau mungkin belum?
"Okelah kalau begitu," kata Aslan untuk mengakhiri pembicaraan. "Gue udah peringatin lo, sekarang bagi gue gak ada yang lebih penting dari pekerjaan dan Chiara, lo sama sekali gak bisa berubah gue seperti dulu Van."
Setelah mengatakan itu Aslan kemudian meninggalkan Vania seorang diri dengan segala pikiran panjangnya.
Seminggu, waktu yang di minta Kirana untuk berfikir. Berkali-kali Kirana mencoba mengelak dan tak percaya namun ia sadar justeru ikatan batin persaudaraan nya dengan Aslan malah semakin nyata terasa dan kuat. Hingga akhirnya setelah banyak pertimbangan, Kirana mengajak temu Aslan kembali bersama Shaka, tentunya.
Suasana cafe tempat mereka bertemu saat ini terlihat lenggang, hanya ada beberapa pelanggan yang jarak meja nya cukup jauh dengan meja yang di tempati Aslan, Kirana dan Shaka saat ini hingga memungkinkan untuk mereka berbicara santai.
Kirana menarik nafas dalam-dalam sebelum membuat keputusan nya, Shaka ada di sampingnya memberikan dukungan untuk perempuan itu sementara Aslan yang duduk di hadapan mereka menunggu dengan sabar apa yang akan di berikan Kirana sebagai keputusannya.
"Untuk membuktikan jika memang kita adalah saudara, dengan orang tua yang sama, aku Lentera Kirana siap untuk melakukan tes DNA, pak Aslan, jika anda setuju kita akan melakukan tes DNA ini agar mengetahui kebenaran nya," tutur Kirana membuat Aslan tersenyum lega. Tentu saja ia menyambut baik keputusan Kirana ini.
To be continued ....
__ADS_1