Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 37 | Selalu terhubung


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


"Ada mayat!"


Seruan bernada panik itu datang dari seorang gadis yang berdiri di tepi sungai sambil membawa bakul berisi pakaian kotor yang hendak ia cuci, seperti kebiasaan wanita-wanita di kampungnya.


Para warga yang kebetulan lewat mendengar lengkingan suaranya, segera berlari mendekati gadis belia itu.


"Di mana? di mana ada mayat!" seru para warga tak kalah hebohnya.


"Di sana pak!" tunjuk gadis itu pada bebatuan di pinggir kali yang arusnya sangat lah deras. Benar saja saat para warga menengadah terlihat lah oleh mereka, sesosok pria yang terbujur kaku dengan wajah penuh lebam


Karena penasaran juga cemas mereka pun datang berduyun-duyun menghampiri sosok pria asing itu. Malangnya karena arus yang saking derasnya menerjang tubuh pria itu hampir terbawa aliran sungai jika saja para lelaki dari warga yang berkerumun tidak sigap untuk menahannya kembali.


"Astaga, malangnya sepertinya dia mengalami kecelakaan." sahut ibu-ibu yang ada di sana, total lima orang warga asli perkampungan itu mengelilingi tubuh Shaka yang saat ini tak berdaya.


Tak lama satu pemuda berperawakan kurus mendekat, dia memeriksa denyut nadi Shaka lalu menempelkan telinganya di dada pria tersebut.


"Dia masih hidup!" terangnya kemudian. "Denyut nadi dan detak jantungnya masih terdengar jelas. Dia bukan mayat, dia masih hidup!"


Semua syok, bisik-bisik pun mulai terdengar para warga kemudian berdiskusi singkat lalu mengangguk-ngangguk.


"Kalau begitu kita lapor kepala desa. Kasihan jika dia tetap di sini. Jika memang pria ini masih hidup, kita rawat hingga sembuh baru tanya asal-usul nya." tutur salah satu warga berwajah kebapakan memberikan usulan bijak.


"Benar itu, kita bawa saja kalau begitu, biar kepala desa memutuskan selanjutnya."


Mereka pun mengangguk setuju, empat orang pria berjongkok kemudian memapah tubuh Shaka bersama-sama membawanya ke tepi, salah satu pemuda di minta untuk membawa tandu yang kebetulan ada di rumah salah satu warga untuk memudahkan membawa tubuh Shaka ke rumah kepala desa.


Di kediaman Rajendra, semua tengah berduka atas kabar tak menyenangkan yang mereka terima dari tuan muda kesayangan semua penghuni mansion.


Para maid, satpam yang berjaga, tukang kebun bahkan tukang sampah yang mengenal baik Shaka sebagai orang yang humble dan baik merasa begitu kehilangan setelah mendengar kabar duka ini.


Pak Agus dan bik Sukma, adalah dua orang yang telah mengenal Shaka sejak kecil, bahkan bik Sukma yang selalu menyuapi Shaka sedari kecil dengan tangannya, dua orang itu tengah berderai air mata atas berita duka ini.


"Saya masih gak menyangka bik, bilang pada saya jika kabar ini gak bener." pak Agus, yang selalu menjadi tempat Shaka bercerita bahkan pria itu tak segan bilang jika pak Agus adalah sosok pengganti ayahnya yang telah meninggal, kini pak Agus tergugu dalam tangisnya tak bisa menerima kabar yang ia dengar ini.


"Yang sabar pak Agus, saya juga sangat sedih, kenapa harus tuan muda yang mengalami? kenapa orang baik yang selalu di panggil duluan," ucap bik Sukma yang tak kalah terisak dengan tangisnya.


Di kamar luas dengan aksen bergaya belanda kuno, terdapat figura foto Wisnu prabu Rajendra dengan gaya gagahnya tersenyum ke arah kamera, tiba-tiba saja bingkai fotonya terjatuh hingga menimbulkan suara yang mengagetkan anggota keluarga yang tengah berkumpul tengah di rundung kesedihan.


Kirana menghampiri, ia mengambil bingkai foto ayah mertuanya dengan tangan bergetar, air matanya satu persatu jatuh lagi dengan begitu deras nya, lantas ia mendekap bingkai foto itu dengan perasaan yang sangat hancur.

__ADS_1


"Nyonya Renata masih di rundung syok, seperti nya berita yang ia dengar begitu menyakiti nya hingga mempengaruhi kinerja jantung nya secara mendadak." terang dokter yang memeriksa kondisi Renata yang kini terbaring menutup mata di atas pembaringannya.


Helen menghela nafas berat, air mata di mata yang sudah mengeriput itu juga tak henti-hentinya keluar, ia pun amat terpuruk atas situasi yang terjadi saat ini, tapi sebagai seseorang yang lebih tua di keluarga dan yang paling di panuti, ia harus tetap terlihat tegar untuk yang lain.


Setelah dokter pergi, tangis keluarga semakin pecah bersahut-sahutan seolah menjadi harmoni kesedihan yang terdalam. Olivia duduk di samping ranjang sambil mengusap kening Renata dengan tangis nya yang sama deras.


"Ka, kenapa kamu tega meninggalkan kami semua?" batin Olivia dengan begitu sedihnya.


...---------Oo-------...


"Sepertinya dia harus di bawah ke rumah sakit segera." seruan kepala desa, memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.


Para warga saling melempar tatapan dengan raut bingung ada juga yang bersimpatik atas kondisi pria asing yang mereka temukan di tepi sungai tersebut.


"Kami baiknya pak Akbar saja bagaimana nya, kita mah manut saja."


Sahut salah satu warga di angguki oleh yang lain, mereka akhirnya setuju membawa Shaka untuk di rujuk ke rumah sakit yang ada di kota, untuk di periksa lebih lanjut bagaimana kondisinya.


Lima orang pria juga pak Akbar sebagai kepala desa memboyong Shaka dengan menggunakan ambulans milik desa.


Sampai di rumah sakit, Shaka yang masih tak sadarkan diri dengan luka-luka di hampir sekujur tubuhnya, segera di larikan ke ruang perawatan menggunakan brankar.


"Kirana!"


"Kirana!"


Nama itu yang pertama kali di ucapkan Shaka dengan mata yang masih tertutup, paramedis juga warga yang ikut menemani membawa Shaka ke ruang rawat saling menoleh dengan penuh tanda tanya.


"Baiklah, pasien akan di tangani lebih lanjut, kalian boleh tunggu di luar dulu." pesan paramedis lalu di angguki keempat pemuda bersama kepala desa.


"Baik. Tolong selamatkan dia," ucap pak Akbar berpesan.


"Semua tergantung Tuhan, kalian berdoa lah semoga pasien bisa di selamat kan."


Lalu pintu bercat putih itu tertutup rapat, menyisakan ketegangan yang sedikit menyeruak ke udara.


"Tadi bukankah pria itu sempat bergumam sesuatu?"


"Iya saya mendengar pak Akbar. Kalau gak salah dia manggil- manggil nama Kirana."


"Benar. Mungkin saja yang dipanggil adalah istrinya."

__ADS_1


Mereka saling menatap lalu menghela nafas pelan, merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada pria asing itu.


"Tuan ku tidak mungkin meninggal, Liam!" pekik keras terdengar menyayat hati, Kirana ambruk dengan memeluk bingkai foto Shaka.


"Nona muda, saya mohon anda tenang. Semua juga tidak menyangka ini akan terjadi, tapi faktanya sudah terpampang di depan mata, polisi sudah mengkonfirmasi jika mobil tuan muda mengalami kecelakaan hebat dan masuk ke jurang. Ponsel dan dompet tuan juga sudah di temukan di TKP, tolong anda terima kenyataan ini dengan lapang dada ... " ujar Liam dengan suara serak tak kalah terpuruknya.


"Enggak Liam ... enggak Liam," Kirana menggeleng keras.


Liam ikut merasa sakit melihat nona muda nya yang seperti ini, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicinta.


"Liam, bawa aku ke TKP, aku tidak akan pernah percaya jika tidak melihat langsung tubuh tuan di hadapan ku. Tolong! aku ingin mencari keberadaan tuan!"


Melihat sorot mata Kirana yang penuh luka dan memohon, Liam akhirnya menuruti permintaannya. Mereka pun pergi ke tempat lokasi bangkai mobil Shaka di temukan.


Di saat itulah Kirana benar-benar menunjukkan perasaannya. Ia berteriak kencang di antara rimbunnya pohon-pohon di bawah bukit jurang yang curam.


"Mas Shaka! di mana kamu? aku tahu kamu masih hidup!"


Liam ikut merasa terenyuh mendengar teriakan penuh kesedihan itu, ia menggigit bibir menahan air matanya.


Berjam-jam Kirana di sana, ia menangis lalu berteriak lagi memanggil nama sang suami. Meski tindakan nya di bilang sia-sia namun ia masih percaya akan adanya keajaiban.


"Nona, ayo kita kembali." seru Liam, yang tak tega melihat Kirana.


"Tidak, aku ingin di sini bersama suami ku Liam!"


"Ini sudah hampir gelap nona, kita kembali." Liam akhirnya mau tak mau harus memaksa Kirana untuk pulang, gadis itu merasa tak rela ia berontak saat Liam mencoba menuntunnya paksa.


"Tuan di mana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja."


Pesan yang di ucapkan Kirana dalam hatinya ternyata sampai hingga ke hati Shaka yang kini tengah terbaring di rumah sakit dengan selang infus nya.


Deg! jantung pria itu seakan berdetak dua kali lebih cepat, mata terpejam Shaka mulai bergerak.


"Kirana!"


"Kirana!"


Sekali lagi seolah dalam mimpi panjang nya kini ia sedang bersama sang isteri, Shaka bergumam nama wanita itu berulang kali. Bagaimana mungkin ia melupakan belahan jiwa nya. Tidak! mereka akan selalu terhubung meski jarak memisahkan.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2