
...💞 Happy reading 💞...
Tiba di rumah sakit, Aslan gegas membawa Kirana di bantu oleh para perawat yang dengan sigap datang membawa brankar dan peralatan medis yang di butuhkan. Aslan membaringkan tubuh Kirana dengan perlahan, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sangat besar.
"Tolong rawat dia, jangan sampai di kenapa-kenapa," ujar pria itu dengan wajah memohon. Dokter yang langsung datang menangani pun mengangguk.
"Kami akan berusaha yang terbaik." lalu mereka pun memasuki ruangan ICU untuk segera menangani Kirana yang terluka.
Olivia sedari tadi berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah,ia sedang mencoba untuk menghubungi nomor Shaka hendak memberitahukan kondisi Kirana, namun sampai saat ini tak ada Jawaban dari pria itu.
"Bagaimana? apa pak Shaka sudah menjawab?" tanya Aslan begitu tiba di samping Olivia.
Wanita berambut pendek itu menggeleng dengan lesu. "Telepon nya hanya berdering tapi tidak di angkat sama sekali."
Rahang Aslan mengeras seketika. "Apa dia tidak tahu sekarang istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja? Ck, aku tak habis fikir dengan pria sepertinya!" ungkapnya dengan penuh kekesalan.
Olivia hanya membuang nafas kasar, ia pun tak paham dengan sikap Shaka sekarang ini pria itu seolah bersikap acuh tak acuh terhadap Kirana, padahal yang ia tahu kedua pasangan ini selalu terlihat harmonis dan romantis.
"Bagaimana pun keluarga Rajendra harus tahu keadaan menantu mereka, aku akan kesana dan memberitahukannya sendiri," ucap Aslan membuat keputusan.
"Tunggu!" sekonyong-konyong Olivia menghadang.
"Kau pasti tahu bagaimana hubungan Kirana dengan anggota keluarga saat ini kan? kita tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk. Biar aku hubungi Liam dulu, dia adalah orang kepercayaan Shaka." Olivia menganggukkan kepala meminta pemahaman Aslan untuk masalah ini, akhirnya lelaki itu pun hanya mengangguk membiarkan Olivia dengan usulannya.
Setengah jam kemudian, orang yang di panggil Olivia pun tiba. Liam datang dengan tergopoh-gopoh, sama seperti kedua orang di depannya pria itu pun menunjukkan rona kegelisahannya yang sama.
"Di mana nona muda? apa dia baik- baik saja? sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Liam dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tenangkan dirimu dulu Liam," pinta Olivia.
"Saat ini Kirana sedang di rawat oleh dokter. Untuk kejadiannya sangat lah panjang, kami akan menceritakan nya setelah Kirana siuman nanti."
"Syukurlah jika begitu," lirih Liam sedikit lega mendengar penuturan Olivia.
__ADS_1
Aslan berjalan satu langkah, tak ada petir tak ada hujan tiba-tiba lelaki itu menarik kerah baju Liam yang membuat Liam terhentak dan mereka berhadapan dengan memasang wajah permusuhan.
"Apa-apaan ini pak Aslan, lepaskan saya!!" berang Liam.
"Sebelum itu aku ingin bertanya,di mana tuan mu hah? apa dia sedang menikmati pesta dengan wanita bernama Teresa itu sementara istri nya di si i sedang sekarat?!"
"Lepaskan saya dulu!" Liam yang ikut merasa emosi melepaskan cengkraman tangan Aslan dengan kasar.
"Kita bisa membicarakan ini baik-baik tuan Aslan," pungkas Liam agak sedikit lebih tenang, situasi mulai terasa sengit sementara Olivia kini maju satu langkah menghadang kedua pria itu.
"Hentikan! bagaimana bisa kalian bertengkar seperti ini di rumah sakit?!"
Aslan menarik diri ia menghembuskan nafas panjang, "baiklah. maafkan aku, aku terbawa emosi."
Liam mengangguk meski kekesalan masih terlihat di matanya. "Tidak apa-apa ... "
"Mengenai pak Shaka, beliau saat ini tidak ada di pesta, saya juga tidak tahu kemana dia pergi, saya sedang menjaga keamanan pesta ketika nona Olivia menelpon dan mengabarkan kondisi nona muda."
Sementara itu di tempat lain, di pintu lift yang baru saja terbuka, nampak seorang wanita bergaun sekksi tengah menarik seorang pria yang sedang mabbuk.
"Ck, ck ternyata semudah itu untuk bidw menaklukkan mu, tuan Arshaka Ian Rajendra." Teresa tersenyum miring, ternyata ramuan obat perangssang yang di berikan Matilda sangat lah mujarab. Tinggal mencampurkan nya sedikit pada minuman dan memberikannya kepada Shaka pria itu sudah langsung teller haus akan belaian.
"Pannnas! pannas!" Shaka terus meracau tak jelas ia merasakan ada sesuatu yang akan meledddak dalam dirinya.
"Kau! kau pasti sudah mencampurkan sesuatu dalam minuman ku kan?!" geram nya pada Teresa saat ini.
Sementara wanita itu justru tertawa senang. "Sudahlah kamu tidak akan bisa pergi sebelum mendapatkan belaian dariku. Aahhh, Arshaka malam ini akan sangat indah ... " bisik Teresa dengan begitu sensuall nya mencoba meruntuhkan tembok pertahanan Shaka.
Shaka sudah sangat pannas dingin di tempatnya, mempertahankan kewarasannya di tengah akal licik wanita itu, rasanya ia tak sanggup apalagi ketika Teresa dengan begitu liarr nya mempertontonkan lekuk tubuhnya yang sekksi, meliuk-liuk dengan begitu errotis.
"Kau tidak akan bisa menghindari ini tuan Shaka ... ayo jadikan aku sepenuhnya milik mu," goda wanita itu dengan mengambil jemari Shaka untuk menyusuri lekuk tubuhnya.
"Brengsekk!" Shaka mengumpat, lift pun terbuka setelah menaiki lantai atas, dimana kini mereka berada di sebuah kamar. Teresa langsung menarik lengan Shaka untuk membawanya ke ranjang yang sudah di sediakan, lalu mendorong tubuh pria itu hingga terlentang di atas kasur.
__ADS_1
Shaka menggeleng kuat ia berusaha keras untuk mengambil kembali kesadaran nya, beberapa kali ponsel di dalam sakunya bergetar namun Shaka sama sekali tak bisa mengangkat nya.
Mendadak saja tubuh Teresa yang kini sudah telanjjang kini sudah berada di atasnya, Shaka melebarkan mata. Wanita itu dengan begitu aggresif mencoba untuk menggerayanginya.
"Brengsekk! lepaskan aku!"
"Kau tidak akan bisa menghindari godaan ini Shaka, tidak akan bisa!" Teresa tertawa.
"Ayo menyerah lah jangan berfikir lagi,kita bercinnta hingga pagi!"
"Tidak!" Shaka menggeleng, meski hassratnya sudah di ujung tanduk di tambah efek kuat obat aborsi yang di berikan wanita itu namun Shaka masih berusaha keras tak terperdaya dengan semua ini.
Hingga tiba-tiba saja ketika ia memejamkan mata, di benaknya terlintas sosok wajah cantik dengan air mata membasahi pipinya.
"Kirana!" Shaka membuka matanya lebar-lebar kemudian pria itu berusaha bangkit.
Teresa kaget ia yang sedang membuka kancing baju Shaka tiba-tiba terjerembab ke lantai.
"A- apa yang kau lakukan Shaka?"
"Wanita ullar!" Shaka mengumpat dengan amarahnya yang lebih besar dari pada efek obat perangssang di dalam tubuhnya saat ini.
"Tunggu Shaka jangan pergi!" Teresa dengan cepat bangkit menghadang Shaka.
"Kau tidak bisa pergi sebelum kita bercinnta!"
"Menyingkir dari hadapan ku!"
"Tidak bisa kau harus tetap di sana, ingat obat perangssang itu tidak bisa di hilangkan sebelum kau menyentuh ku!"
"Wanita tidak tahu malu!"
Plak! satu tamparan telak menghantam pipi wanita itu hingga dia terjerembab kembali ke lantai.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatkan mu! kau mencari masalah dengan orang yang salah!!"
To be continued ...