Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 45


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


"Tuan Shaka! tuan Shaka!" suara cempreng itu memenuhi gendang telinga pria yang sedang mencangkul tanah sawah saat ini.


Pemuda cungkring dengan pakaian lusuh itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Shaka yang tengah menatapnya dengan pandangan heran.


"Ada apa daeng, kenapa kau terlihat tergesa-gesa sekali?" tanya Shaka pada pemuda yang sangat akrab dengan nya itu.


Daeng menyeringai, lalu bergeming sejenak mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, "Begini tuan Shaka, pak Akbar memanggil anda untuk ke balai desa sekarang, beliau memiliki cara agar anda bisa kembali ke tempat tinggal anda."


"Benarkah?" Shaka seketika melepas genggaman cangkul di tangannya. "baiklah aku akan segera ke sana."


Wajah daeng berubah muram. "Apa itu berarti tuan Shaka akan segera pergi dari desa ini?"


Daeng jelas sedih, satu bulan penuh ini dia mengenal Shaka sebagai pribadi yang sangat baik, berkat Shaka warga menjadi lebih inovatif dan maju, karna ajaran Shaka semua warga di sini jadi memiliki pengetahuan baru dalam pekerjaan mereka. Dan daeng selama ini sudah menganggap Shaka yang keren sebagai panutan nya.


Laki-laki dengan ikat kepala itu mengerti dengan kegundahan hati daeng, Shaka berdiri sambil membersihkan lumpur di tangannya.


"Ingatlah ini daeng, apapun yang sudah ku ajarkan padamu harus bisa kau pergunakan dengan baik," petuah Shaka sambil menepuk pundak pemuda itu.


Daeng mengangguk paham.


"Saya pasti akan rindu dengan tuan Shaka dan nona Kirana."


Shaka mengulum senyum tipis sambil mengangguk juga. "Baiklah, ayo kita pergi ke balai desa."


Di balai desa sudah ramai orang-orang yang datang Kirana tersenyum sumringah begitu ia melihat Shaka tiba dan menghampiri nya.


"Nak Shaka, akhirnya kau datang."


"Iya kepala desa."


Pak Akbar tersenyum, lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru arah sebelum akhirnya berbicara kembali.


"Jadi begini nak Shaka kami sudah memiliki solusi untuk kamu bisa kembali bersama isteri mu."

__ADS_1


...---------Oo-------...


Fiona tertawa lepas lalu menenggak kembali anggur dalam gelas kaca yang berada di tangannya, semua itu di saksikan dengan geram oleh Arkan dan Matilda.


"Kau jangan lupakan tentang bagian kami Fiona!" ujar Matilda menyulut emosi nya.


"Benar ka, jangan mentang-mentang kamu sudah berkuasa kau bisa seenaknya! ingat berkat kami kau bisa ada di jabatan ini!" Arkan pun mengeluarkan uneg-unegnya.


"Ck, kalian berisik sekali!" Fiona yang tengah menikmati pestanya merasa sangat terganggu, menurutnya dua orang yang ada di hadapannya ini adalah lalat-lalat yang selalu mengusik kehidupan nya.


"Fiona jangan kurang ajar kau!!" Matilda kali ini benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Sementara Fiona menanggapi kemarahan bibinya itu dengan santai, wanita yang semula duduk dengan menaikan kakinya di atas meja lantas berdiri. Ia berjalan dengan angkuhnya seraya melipat tangan mendekat ke arah Matilda.


"Apa saham 40% itu tidak cukup untuk kalian?"


"Tidak!" Matilda menjawab sambil matanya mengarah pada wajah Fiona dengan menyorot tajam.


"Kau pikir apa? hanya dengan saham segitu mampu untuk membayar kerja keras kami? ingat karena rencana cerdik siapa kau bisa ada di posisi ini?!"


"Aku selalu ingat bibi, mungkin karna rencana mu Shaka bisa tersingkirkan, tapi dengan usaha ku sendiri lah aku bisa sampai di titik ini."


Matilda dan Arkan meremat telapak tangan dengan geram, mereka menatap sinis seolah di penuhi dendam namun Fiona sama sekali tak merasa terusik.


"Awas saja Fiona,di antara kami kau lah yang paling biaddab karna rela mengorbankan adikmu sendiri demi ambisi mu! ingat jika kelak Shaka bisa saja kembali, kami tidak akan membantu mu!" ancam Matilda dengan serius.


Fiona mencebik. "Adikku itu sudah matti bibi,dia tidak mungkin turun lagi dari surga untuk membalas dendam pada ku. Lagipula Shaka sangat menghormati ku, tidak mungkin dia bisa menaruh dendam pada kakak kesayangannya!" Fiona tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu, sementara Arkan dan Matilda semakin menaruh kemarahan untuknya.


****


"Ini adalah pak Agus, nak Shaka. Beliau lah yang akan mengantarmu hingga ke ibu kota."


Pak Akbar mengenalkan Shaka pada seorang pria berusia setengah abad yang masih terlihat gagah, Shaka memberi salam terlebih dahulu lalu pak Agus mengangguk dengan senyum ramah.


"Di desa kami jarang bahkan hampir tidak ada orang yang keluar jauh dari desa ini,namun pak Agus memiliki pekerjaan di kota yang membuatnya sering berpergian dan tahu rute perjalanan menuju ke ibukota, dengannya kamu bisa kembali ke tempat tinggal mu dengan selamat bersama isteri mu."

__ADS_1


"Terimakasih pak Akbar telah menemukan solusi untuk masalah kami," ucap Shaka dengan senyum menghias wajahnya, Kirana pula sudah bersiap-siap dengan membawa beberapa potong baju yang di berikan nenek Minah di dalam koper.


Kirana menyingkap air mata di sudut pipinya, satu bulan penuh ia berada di desa ini tak rela rasanya untuk meninggalkan orang-orang desa yang sangat baik padanya.


Shaka mengusap pundaknya lembut, beralih membelai pipinya yang basah. Sebaik apapun perpisahan tapi tetap menyakitkan.


"Jaga dirimu baik-baik ya."


"Terimakasih nek, terimakasih sudah menerima ku memberi ku tempat tinggal dan pelajaran berharga selama di sini."


Kirana mengangguk dengan terharu ia memeluk sekali lagi wanita yang sudah berusia senja itu, merasa ia sudah menganggap nenek Mina sebagai sosok ibunya sendiri.


Shaka menarik lengan Kirana mengenggamnya erat, mereka pun mengangguk sampai akhir nya berjalan menuju mobil.


Tak lupa Shaka terakhir kali menatap daeng, pemuda yang selalu siap sedia membantunya di sini mengingatkan pada Liam,sosok asisten nya yang setia.


Mereka pun menaiki mobil milik pak Agus yang akan membawa kedua nya kembali ke mansion. Setelah ini Shaka bertekad pada siapa pun orang yang telah berani bermain-main dengannya, Shaka tidak akan mengampuni orang itu meskipun jika dalang di balik semua ini adalah anggota keluarganya sendiri.


Mobil pun melaju meninggalkan jalanan desa, Shaka menoleh ke arah Kirana yang terus tertunduk dengan menahan isaknya.


Melihat itu membuat hati Shaka ikut merasa sakit dengan halus ia menarik dagu Kirana agar mereka bertatapan.


"Jangan bersedih,jika kau merindukan nenek Mina dan warga desa lain yang telah kau anggap seperti keluarga mu sendiri, kita bisa kembali ke desa ini."


"Benarkah?" rona Kirana berubah berseri-seri.


"Tentu saja." jawab Shaka lugas. "Lagipula penduduk desa ini telah baik pada kita, mana mungkin aku tidak membalas budi untuk semua kebaikan mereka."


Kirana tersenyum sumringah, "jadi kita bisa kembali lagi kesini."


"Ya, istri ku. Dengan keadaan yang lebih baik kita nanti bisa membantu para warga yang membutuhkan dan membangun desa ini lebih makmur."


Shaka tahu hati istrinya begitu lembut dan penuh kasih. Itu adalah salah satu hal yang sangat ia sukai pada sosok wanita cantik ini.


"Terimakasih." Kirana memeluk sang suami dengan begitu erat, Shaka terkekeh sekilas lalu membalas pelukan Kirana dengan sama eratnya.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2