
...💞 Happy reading 💞...
Langit semakin hitam di malam itu, Shaka keluar dari hotel dengan bersusah payah, karna efek obat yang masih terasa kuat membuat ia seperti cacing kepanasan, Shaka berjalan terhantuk- hantuk melangkah ke jalanan lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.
Tiba di rumah, Shaka terus berjalan tanpa memperdulikan apapun, di otak dan hatinya hanya terisi oleh Kirana, kesedihan wanita itu, air matanya. Shaka tiba-tiba di liputi oleh penyesalan yang merasuk mencabik-cabik hatinya. Tanpa memperdulikan perasaan Kirana ia merencanakan semua ini, ia lupa jika Kirana mungkin akan sangat menderita dengan apa yang di lakukannya saat ini.
"Kirana ... pardon me," lirih Shaka dengan mata memerah dan air mata yang kini mengalir deras mengungkapkan penyesalannya yang terdalam.
Hingga pagi menjelang. Kirana baru bisa membuka mata setelah di tangani oleh tim dokter.
"Kondisinya sudah mulai membaik,"tutur sang dokter, Aslan yang tiba pagi itu akhirnya bisa menghela nafas lega. Ia bahkan melewatkan beberapa jadwal untuk memastikan keadaan Kirana baik-baik.
"Maaf,apa anda suami pasien?"
Di tanyain pertanyaan mendadak seperti itu membuat Aslan tergagap seketika.
"Maaf?" Aslan mengerut dahi memastikan pertanyaan sang dokter.
"Jika anda suami pasien, saya hendak memberitahukan beberapa hal penting mengenai kondisi pasien,"ucap dokter itu lagi. Cukup lama terdiam, akhirnya Aslan pun mengangguk.
Di ruangan dokter saat ini, pria berjas putih dengan name tag di sakunya itu menyodorkan sebuah map putih,gerakan matanya meminta Aslan untuk membuka map itu.
Dengan perasaan gelisah dan was-was, Aslan perlahan membuka map yang di berikan sang dokter, ia membaca dengan teliti setiap huruf yang ada di sana dan semakin berkerut dahi.
"Apa ini maksud nya dok?" Aslan semakin di liputi perasaan cemas. Sepertinya akan ada kabar buruk yang ia dengar.
Sang dokter menghela nafas pelan sambil menaikkan kedua tangannya di atas meja.
"Begini pak, bapak tentu tahu istri bapak saat ini tengah mengandung?"
Aslan mengangguk, mengiyakan.
"Dan bapak juga tahu kondisi ibu hamil itu cenderung lebih sensitif. Setelah memeriksa keadaan pasien, saya menemukan beberapa keanehan dalam janinnya, ia tak berkembang dengan baik sebagai mana mestinya dan sudah di pastikan ini di akibatkan oleh perilaku dan pikiran sang ibu yang dalam kondisi buruk."
Jeda sejenak sang dokter memasang raut wajah semakin serius menatap Aslan dengan lekat. "Saya sarankan sebaiknya pasien lebih di jaga pola pikirnya, dan juga harus banyak mengkonsumsi makanan bergizi dan berprotein. Jangan biarkan calon ibu setres hingga menyebabkan bersedih berlebihan karena itu akan sangat mempengaruhi kondisi janin."
Mendengar penuturan panjang sang dokter, Aslan tercenung pikirannya kini tengah melanglang buana tapi yang pasti ia benar-benar memikirkan kondisi Kirana saat ini.
"Hindari apapun yang bisa membuat pasien stres, jika perlu hibur pasien dan ajak ke tempat-tempat yang bagus agar bisa merilekskan pikiran nya. Kondisi pikiran dan tubuh sehat sangat lah penting untuk pertumbuhan janin dan kebahagiaan calon ibu."
Aslan hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa keluh untuk menjawab.
"Baiklah dok,saya mengerti."
...--------Oo--------...
Keluar dari ruangan dokter, Aslan di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuat nya terpekik heran.
"Kau? di sini?"
"Aslan!!" wanita bergaun Indah itu memekik senang lalu berlari kecil kemudian langsung menerjang tubuh Aslan memeluk pria itu dengan begitu erat.
__ADS_1
"Lepaskan Vania!" Aslan begitu terlihat risih menunjukkan secara terang-terangan jika ia tak suka dengan sikap agresif wanita di depannya ini.
"Kau kenapa sih? aku ini sangat mengkhawatirkan mu." wanita itu terlihat murung kini. Merasa tak di hargai kehadirannya oleh pria yang begitu ia dambakan.
"Jawab pertanyaan ku, kenapa kau bisa ada di sini?!" tanpa memperdulikan perasaan wanita itu, Aslan langsung menerjangnya dengan pertanyaan dan tatapan sengit.
"Kenapa memangnya? kau sebenci itu pada ku hingga sama sekali tak ingin melihat ku di sini?" ujar Vania, misuh- misuh di tempatnya.
"Lupakan," ucap Aslan, "kau membuang waktu ku," pungkasnya kemudian hendak berlalu namun dengan cepat di hadang oleh tangan perempuan itu.
"Baiklah maafkan aku." Tak ingin Aslan marah Vania akhirnya mengalah dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan Aslan.
"Aku kesini setelah nenek memberitahukan ku kenapa kau melewatkan beberapa jadwal penting kita? beliau bilang kau berada di rumah sakit ... lagi?"
Vania wanita berkulit putih dengan rambut coklat bergelombang tersebut memajukan satu langkah ke depan menghadap Aslan.
"Nenek sudah memberitahukan semuanya padaku. Atas apa yang tengah kau lakukan saat ini. Kirana siapa wanita itu?"
"Wanita yang sanggup membuat mu seperti ini hah? ada apa di antara kalian berdua hingga kau begitu rajin berada di rumah sakit, merawatnya dan membiayai semua pengobatan nya?" mendadak saja emosi Vania tidak bisa di kontrol lagi. Terlebih ketika nenek Aslan memberitahukan jika wanita berusia senja itu curiga jika Kirana adalah wanita spesial Aslan. Betapa meradang hatinya kini.
"Jawab Aslan mavendra! kenapa kau hanya diam saja?" mata Vania mulai berkaca-kaca. "Apa dia wanita yang spesial untuk mu?"
Aslan hanya diam ia pun tak paham, bingung kenapa ia bisa melakukan hingga sebesar ini untuk wanita yang adalah isteri rivalnya sendiri.
"Kenapa Aslan? kau rela melakukan ini semua hanya untuk orang asing?"
Orang asing? Tidak, sejak mengenal Kirana dan lebih dekat dengan nya mulai saat itu Aslan tak pernah menganggap dia adalah orang asing.
Keduanya saling bersitatap untuk beberapa saat, bisa Aslan rasakan juga luka di antara kedua mata Vania. Tapi mungkin ini juga bisa menjadi jalan untuk perpisahan mereka yang mana mereka tidak harus saling menyakiti lagi.
"Lalu bagaimana dengan ku Aslan?!" Vania berteriak membuat Aslan seketika menghentikan langkahnya.
"Aku rela datang jauh-jauh kesini, meninggalkan perjamuan ayah ku untuk menemui mu dan kau lebih memilih wanita asing itu di banding aku?"
Aslan mengepalkan tangannya dengan wajah memerah lalu berbalik menatap tajam ke arah Vania.
"Cukup Vania, cukup!"
Wanita itu kaget Aslan yang tiba-tiba membentaknya.
"Ku kira kau sudah mengerti, hubungan kita tidak akan bisa berjalan karena kau adalah putri dari pria yang menjadi musuh ku saat ini. Kita tidak akan pernah bisa bersama, karna ayahmu membenci ku dan begitu pun aku yang membenci ayah mu."
Vania menggeleng tak bisa menerima kenyataan yang baru saja di lontarkan Aslan.
"Tapi ... " Vania hendak membuka suara namun Aslan menahan.
"Cukup! sebaiknya kau kembali saja dan jangan pernah campuri urusan ku ... karena kau tidak punya hak apapun dalam hidup ku!"
Hancur hati Vania, rasanya sebuah ribuan anak panah melesat dengan cepat menancap kuat membuat luka di hatinya. Aslan pergi tanpa memperdulikan perasaan nya, membuat rasa sesak itu kembali menghimpit hati Vania.
***
__ADS_1
Menjelang siang, Olivia baru bisa datang kerumah sakit dengan membawa buah tangan untuk Kirana. Olivia langsung merengkuh pundak Kirana memeluknya dengan erat hingga tak lupa terus mengucap rasa syukur.
"Aku sangat senang kau akhirnya bangun juga Kirana," lirih Olivia sambil mengusap air matanya setelah melepaskan pelukannya.
"Kau tidak tahu betapa khawatir nya aku dan juga pak Aslan saat membawa mu kesini dalam keadaan tidak sadarkan diri."
Dengan mata sayu dan bibir pucat juga selang infus yang masih tertancap di tangannya Kirana masih bisa tersenyum dengan hangat.
"Terimakasih sudah begitu mengkhawatirkan ku. Aku begitu beruntung bisa di pertemukan dengan orang-orang sebaik kalian," ujar Kirana sambil menatap bergantian Aslan dan Olivia.
Olivia menganggukkan kepalanya, ia merasa begitu terenyuh dengan Kenyataan yang harus di terima Kirana, bahkan sampai saat ini pun Shaka tidak hadir untuk menemani di sampingnya.
"Kau begitu kuat Kirana, aku salut pada mu. Jika aku jadi kau aku tidak mungkin sekuat ini," ujar Olivia sambil mengusap pelan pundak wanita itu lalu Kirana membalas dengan tersenyum seraya memeluk punggung tangan Olivia seolah kedua nya tengah menyalurkan kekuatan bersama.
Aslan melihat itu ikut tersenyum namun senyum itu dengan cepat hilang ketika Aslan kembali mengingat kata-kata dokter.
Selang beberapa jam, Aslan dan Olivia keluar dari kamar inap Kirana untuk membiarkan wanita itu istirahat setelah memberikannya obat yang sudah di resepkan dokter.
"Begini aku ingin memberitahukan sesuatu pada mu Olivia," ucap Aslan setelah sebelumnya meminta Olivia duduk untuk bicara empat mata.
"Kenapa? apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Olivia yang mulai was-was.
"Cukup buruk," seru Aslan dengan lirih. Lalu kemudian keluarlah cerita dari Aslan yang mengulang kembali apa yang di beritahukan dokter kepada Olivia.
Wanita itu sangat terkejut hingga menutup mulut. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Olivia merasa sangat sedih memikirkan Kirana saat ini.
"Kirana tak punya siapa-siapa, dia sebatang kara, sungguh malang hidupnya," lirih Olivia dengan perasaan sedih.
"Masih ada kita," sahut Aslan. "Kau dan aku yang menjadi temannya. Kita tidak akan membiarkannya sendiri."
"Lalu apa rencana anda pak Aslan?" Olivia hanya bisa ikut mendukung apapun keputusan Aslan, "Aku sudah menganggap Kirana seperti adikku sendiri aku pasti akan selalu mendukung nya."
Aslan mengangguk. "Itu bagus."
"Kau tahu kan kondisi Kirana terjadi saat ini semua karena perlakuan pak Shaka juga keluarganya. Rencananya aku ingin membawa Kirana jauh dari mereka, itu akan sangat baik untuk kesehatan nya dan juga bayinya."
Olivia mengangguk- angguk, setuju dengan usulan yang baru saja di lontarkan Aslan.
"Itu tidak perlu!" tiba-tiba saja dari arah belakang suara seseorang menyahut.
Olivia dan Aslan secara otomatis berbalik.
"Kirana!" pekik mereka bersamaan, ternyata wanita itu sudah sejak tadi berdiri di ambang pintu dan mendengar obrolan mereka.
"Tapi Kirana ... " Aslan berdiri hendak menjelaskan kepada perempuan itu.
"Tidak perlu pak Aslan." Kirana merentangkan tangannya isyarat Aslan diam.
"Karena aku sendiri yang akan meninggalkan mas Shaka!"
To be continued .....
__ADS_1