Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 65


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Suasana begitu mencekam saat ini, orang-orang hanya bisa ternganga dengan semua perkataan yang terlontar dari mulut Fiona, wanita yang selama ini mereka kenal merupakan wanita yang baik, anggun dan pintar namun kali ini Fiona terlihat seperti seorang anak yang tengah mengeluarkan uneg-unegnya selama ini pada keluarganya.


"Alm. papa, bunda juga nenek, semuanya selalu memihak kepada Shaka! tidak ada yang pernah mengerti perasaan ku!" jerit wanita itu dengan mata memerah nyalang.


Renata menggeleng cepat, sudah tak terhitung berapa kali ia mengatakan tidak atas apa yang telah di ucapkan putrinya, ia sungguh menyayangi kedua anaknya tanpa ada yang di beda-beda kan, ia rasa selama ini sudah berlaku adil antara putra dan putrinya, tapi ternyata ia salah besar, Renata tak tahu seberapa lama sang putri memendam semua perasaannya ini.


"Kau salah paham Fiona, bunda menyayangi mu, memahami mu, begitupun dengan alm. papa mu maupun Oma, mereka semua menyayangi mu tanpa membeda-bedakan mu dengan Shaka," tutur Renata berusaha memberi pengertian pada sang putri yang mungkin saat ini otak dan hatinya tidak bisa dia kendalikan sendiri.


"Sudahlah Bun! aku tidak mau lagi mendengar kan penjelasan kalian, huh sebaiknya kita siapkan saja upacara kremasi untuk jasad adikku tercinta ini," ujar Fiona dengan senyum miring tercetak di wajah cantik yang selalu terlihat anggun itu namun ternyata menyimpan sebuah racun yang mematikan.


"Tidak!!!" Kirana sontak berteriak kencang, menolak mentah-mentah ide itu. "Mas Shaka masih hidup, suami ku belum meninggal!"


"Bodoh!" Matilda menyahut, kini menatap Kirana dengan remeh. "Wanita seperti mu, sudah di campakkan masih saja berusaha keras untuk terlihat di sini ya. Sebaiknya kau pergi, ini bukan lagi urusan mu!"


Kirana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia berdiri dan memasang badan untuk melindungi Shaka yang masih dalam kondisi sekkarat. "Tidak akan ku biarkan kalian membawa suami ku!"


"Ck, ck kau pikir serangga seperti mu tidak bisa kami singkirkan?" Matilda tertawa, lalu ia melirik ke arah puteranya. Mengerti akan kode dari ibunya Arkan mengangguk lalu tak lama kemudian terdengar suara grasak-grusuk yang begitu ramai.


Rupanya seluruh wilayah aula mansion sudah terkepung oleh para anak buah Arkan, mereka datang bergerombol bagaikan pasukan semut yang menggerubungi gula.


"Tahan setiap pergerakan! jangan biarkan seorang pun bisa keluar dari sini!" titah Arkan yang langsung di angguki oleh puluhan anak buahnya itu.


"Sekarang kamilah yang berkuasa di sini," sahut Matilda dengan suara dingin penuh intimidasi, ia berjalan memutari Renata yang tengah memapah tubuh sekkarat Shaka, sementara Renata sendiri menatap adik iparnya itu dengan sengitnya.


"Dasar pengkhianat! aku tidak menyangka selama ini aku hidup bersama para ibblis seperti kalian!"


Plak! semua orang terperanjat ketika Matilda dengan ringannya melayangkan tangan ke pipi Renata.


"Tutup mulut mu! sekarang akulah ratunya di sini dan kalian adalah para tahanan!" wanita bertubuh gempal itu tertawa.


"Berpuluh-puluh tahun lalu aku bermimpi untuk merebut semua kejayaan keluarga Rajendra, hahaha!"


Para antek-antek Matilda ikut tertawa. Apalagi Fiona, ia yang sudah seratus persen teracuni oleh hasutan Matilda selama ini bahkan tak terlihat sedih ketika ibunya di tampar di depan matanya sendiri.


"Sadarlah Fiona! kau hanya di manfaatkan oleh mereka!" teriak Renata berusaha menyadarkan sang putri, meski rasanya percuma karena sepertinya Matilda sudah menutup rapat-rapat telinga dan mata sang putri.


"Jangan dengarkan dia, fokus lah pada tujuan mu, untuk menggantikan posisi Shaka!" bisik Matilda kepada Fiona, yang di angguki oleh wanita itu.


"Aku mengerti bibi." Fiona memasang wajah datar, mata dan hatinya benar-benar sudah membeku oleh rasa iri dengki dan haus kekuasaan.


Arkan sendiri diam-diam sudah mempunyai rencana licik di otak kottornya, tujuannya hanya satu selama ini ia ingin sekali memiliki Kirana dan inilah saatnya. Arkan maju berbisik kepada sang ibu.


"Mommy, kau sudah berjanji kan setelah semua ini aku bisa melakukan apapun pada Kirana."


Matilda melirik sinis. "Tidak bisakah kau sedikit bersabar? kita harus mendapatkan tanda tangan Renata dan si tua Bangka Helen dulu untuk mendapatkan semua kekuasaan keluarga Rajendra, kenapa di otak mu hanya tahu wanita saja hah?!"


"Ayolah mom, aku kan sudah mengepung tempat ini, mereka tidak akan kabur. Aku ingin sekali membuat Kirana si wanita sombong itu sebuah pelajaran," ujar Arkan lagi dengan berapi-api.


"Ck, baiklah kau bawa saja dia dan pergi di sini, percuma kau ada di sini!" ucap Matilda kemudian, merasa gemas dengan sikap kekanak-kanakan sang putra.


Mendengar persetujuan dari ibunya, Arkan melayangkan kepalan tangannya bersorak, ia kemudian berbalik dengan menyeringai ke arah Kirana, membuat wanita yang tengah melindungi tubuh suaminya itu bergidik seketika.

__ADS_1


"Sekarang kau milikku, Kirana," gumam Arkan dengan mata yang seakan menatap penuh naffsu. Kemudian pria itu dengan langkah lebar dan pasti hendak menghampiri Kirana namun seorang pria tiba-tiba berdiri di hadapannya berusaha mencegah.


"Kau mau apa hah?!" Aslan menatap tajam. "Jika kau lupa aku masih ada di sini!"


"Arggh! dasar pengganggu, kenapa kau tidak keluar saja dari sini!" Arkan berdecak kesal. "Pengawal, cepat bereskan dia!"


Tak berselang lama para bodyguard Arkan maju dan mulai menyerang ke arah Aslan.


"Siall!" Aslan berdecak, ia tak memiliki kesiapan apapun hingga akhirnya ia berusaha melawan dengan tangan kosong.


Bugh! bugh! terdengar pukulan dan tendangan yang begitu keras membuat siapapun meringis melihatnya. Tak ada yang bisa membantu Aslan ketika pria itu di keroyok oleh anak buah Arkan, tempat ini begitu mengerikan sudah seperti tempat eksekusi matti.


"Kemarilah sayang, aku datang Kirana." Arkan terkekeh, matanya yang sudah sayu menatap Kirana begitu intens.


Renata bangkit begitu juga dengan Olivia mereka berdua berusaha mencegah Arkan untuk tidak menyentuh Kirana namun karena bukan lawan yang seimbang Arkan dengan mudah menyingkirkan kedua wanita itu.


"Jangan gilla Arkan, dia adalah saudara ipar mu!" lolongan begitu menyayat berasal dari Renata, ia merasa sangat sedih dan frustasi melihat satu persatu anggota keluarga nya berubah mengerikan seperti ini.


"Mas Arkan ku mohon mas jangan! jangan apa-apa kan Kirana!" Olivia berusaha menahan Arkan dia bahkan rela bersujud agar Arkan bisa berhenti namun justru pria itu malah menendangnya hingga jatuh tersungkur.


"Mas, ku mohon--" teriak Olivia untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya ia pingsan, karna kehabisan energi.


"Tidak Arkan! jangan sentuh Kirana!" Aslan berteriak, ia yang sudah tak berdaya karena mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari para anak buah Arkan berusaha untuk mencegah pria itu meski akhirnya hanya sia-sia.


"Haha lihatlah semua kehancuran ini Renata!" Matilda berteriak penuh kemenangan. "Jika kau ingin semua ini berakhir, cepat tanda tangan di surat ini!" titah nya penuh penekan setelah sebelumnya berhasil mendapatkan cap jempol Helen dengan paksa di atas surat wasiat semua warisan keluarga Rajendra yang akan berpindah alih atas namanya.


"Tidak! aku tidak mau!" Renata berusaha memberontak, sementara bisa mereka lihat Arkan yang semakin mendekati Kirana dan memojokkan nya.


Wanita itu berteriak minta tolong, meski banyak orang di sana tidak ada yang bisa membantu nya sama sekali. Ia menatap kecewa ke arah Fiona, satu-satunya orang yang terlihat menikmati semua pemandangan ini seakan adalah sebuah pertunjukan sirkus.


Atensi semua orang terkejut begitu suara amunisi yang baru saja di lepaskan lalu terdengar nya lolongan kesakitan dari Arkan yang memecah keributan itu.


"ARRGGHH!!!" Arkan menjerit sekuat yang ia bisa, matanya melotot dengan pupil bergetar tak kalah melihat darrah mengalir deras dari tangannya yang kini berlubang karena sebuah peluru berhasil menembus nya.


"Jika kalian pikir akan menang semudah itu, maka kalian salah besar!"


Semua orang terkejut, seketika mengalihkan perhatian mereka dari suara bariton yang berhasil membuat para musuh pannas dingin di tempat.


"Shaka!" Para mulut-mulut itu melebar ternganga ketika melihat sosok pria yang bahkan lima menit lalu masih terbujur kaku kini justru berdiri dengan gagahnya sambil membawa pistol di tangannya.


Brakk! tak lama kemudian suara pintu depan yang di paksa di dobrak dari luar terdengar keras membuat mereka yang ada di dalam sana menoleh secara bersamaan dengan wajah-wajah kaget dan panik.


"Maaf, saya sedikit terlambat tuan muda." di ambang pintu, terlihat sosok Liam dengan gagahnya berdiri di ikuti oleh banyaknya bodyguard dengan persenjataan lengkap.


"Cepat! ambil alih tempat ini!" titah Liam kepada para bodyguard yang sudah di latih nya itu.


"Baik!!" ucap mereka serentak dan kompak lalu mulai berduyun-duyun masuk ke dalam, mengalahkan para bodyguard dari Arkan dengan begitu mudahnya.


"Siall! kenapa malah jadi seperti ini?!" Matilda menggeram kesal dan juga panik.


"Kenapa? kau panik sekarang bibi Matilda?" Shaka mendekat dengan aura intimidasi yang begitu mendominasi membuat atmosfer di sekitar terasa begitu mencecik.


"Kau pikir aku tidak tahu semua rencana licik mu ini?!" Shaka berdecih lalu ia berhenti sejenak untuk membantu Kirana yang sempat terjatuh, pandangan Shaka berubah teduh ketika menatap mata sang istri.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa kan?"


Kirana yang masih tak percaya juga terpanah karena melihat Shaka yang akhirnya bangun, hanya bisa mengangguk masih mencerna semua kejadian ini di kepalanya.


"Amankan istri ku, ibuku, Oma, Olivia dan pak Aslan juga orang-orang yang tidak bersalah di sini, Cepat!"perintah Shaka dengan suara meninggi.


"Baik tuan muda!" sahut Liam lalu mulai mengevakuasi Kirana, Olivia dan juga Aslan yang akhirnya bisa di selamatkan dari kepungan anak buah Arkan meski dalam kondisi terluka parah untuk ke tempat yang lebih aman.


Namun Kirana yang hendak di papah tiba-tiba berhenti justru menarik lengan Shaka, mata wanita itu berkaca-kaca, Shaka sangat tahu arti tatapan penuh kekhawatiran itu.


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja," ucap Shaka demi menenangkan hati sang istri.


Kirana akhirnya menurut setelah melihat wajah Shaka yang begitu teduh meyakinkan nya, ia pun akhirnya bersedia untuk di evakuasi ke tempat yang lebih aman.


...--------Oo--------...


"Arshaka! brengsekk kau!!" Matilda berteriak penuh emosi, setelah semua rencana yang ia susun ternyata berakhir gagal total.


"Harusnya kau matti! kau matti saat ini juga!" jeritnya lagi dengan sebal, lalu wajah nya dengan cepat berubah pucat pasi ketika melihat kondisi tangan putranya yang mengenaskan.


"Putraku sayang, kau tidak apa-apa kan nak?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran, membuat Matilda menangis melihat keadaan putranya.


"Arggh, sakit mom! tangan ku rasanya akan hancur!"


"Kapparat kau Shaka!" emosi Matilda kembali menggebu-gebu setelah mendengar lolongan kesakitan dari putera nya.


"Aku akan membunuhmu saat ini juga!" wanita itu mengambil asal sebuah pistol dari saku salah satu anak buah putranya dan langsung di arahkan kepada Shaka namun pria itu hanya bergeming justeru senyum miring yang Matilda dapatkan dari ekspresi Shaka saat ini.


"Mebunnuh ku? kita lihat dulu siapa yang ada di sini?!" tukas Shaka lalu kemudian menyingkir lantas muncul lah sesosok pria yang duduk di kursi dengan keadaan kedua kaki dan tangannya yang di ikat.


"Papah!" Matilda berteriak histeris, begitu mendapati suaminya Wijaya yang di ikat di kursi itu dengan keadaan babak belur.


Matilda menatap nyalang ke arah Shaka. "Bajjingan, di adalah paman mu sendiri? kau apakan suami ku hah?!"


"Seharusnya kau pikir kata-kata seperti itu sebelum berniat meracuniku!" pungkas Shaka dengan wajah kini mulai di penuhi emosi.


Shaka kemudian menggeleng perlahan dengan perasaan berkecamuk, sedih. "Aku tidak menyangka, keluarga yang semula ku kira akan utuh ternyata bisa hancur hanya karena harta dan kekuasaan." Di dalam hatinya ia sangat menyayangkan kejadian ini, bagaimana arwah almarhum ayahnya bersedih melihat semua ini di atas sana.


"Sekarang, kejjahatan kalian sudah berakhir. Aku sudah mencabut hak-hak juga warisan atas nama keluarga Wijaya dari keluarga besar Rajendra, dan kalian sekarang tidak memiliki apa-apa lagi selain baju yang melekat di tubuh kalian!"


"Tidak! ini tidak mungkin, seharusnya aku yang mengatakan itu kepada keluarga Wisnu! aku sudah menunggu selama ini untuk hari ini!" tiba-tiba Matilda berbicara rancu dan mulai mengamuk seperti orang kehilangan kewarasannya, ia tidak terima dengan semua rencana nya yang semula ia kira akan berjalan sukses kini hancur begitu saja.


"Liam, cepat bawa wanita itu dan putranya dari sini, jebloskan mereka langsung ke penjara!"


Liam mengangguk patuh atas perintah Shaka, ia kemudian meminta anak buahnya untuk membawa Matilda mengamuk, juga Arkan yang tak bisa melakukan perlawanan apapun karena tangannya yang terluka parah.


Sementara itu, Teresa ternyata bersembunyi di balik tangga, ia menggeram penuh amarah. "Bangsattt kenapa malah jadi begini?" Teresa tidak mengerti dengan keadaan yang tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang seharusnya, tapi apapun itu dia harus bisa kabur dari sini, ia tidak mau berakhir di penjara.


Dengan diam-diam dan mengendap-endap Teresa berusaha kabur dari tempat ini namun naas sebuah moncong pistol tiba-tiba sudah berada di atas kepala.


"Kau pikir, kau bisa kabur semudah itu?"


Deg! Teresa bergetar hebat seketika itu juga, saat ia menoleh perlahan terlihat Shaka yang melihatnya begitu bengis.

__ADS_1


"Sudah ku katakan kan aku akan memberikan pelajaran terlebih dahulu padamu, wanita ullar!" ujar Shaka dengan suara dingin penuh ancaman.


To be continued ....


__ADS_2