
💞 Happy reading 💞
Langkah kaki yang di lapisi high heels tujuh senti itu terdengar menggema di lantai marmer, Fiona dengan ekspresi misuh-misuh menghampiri ibu dan neneknya yang tengah mengobrol ringan sambil menonton layar besar yang menampilkan berita entertainment hari ini.
"Oma! bunda!"
"Astaga,kamu mengageti saja Fiona," ucap Renata yang tergagap mendengar teriakan putri pertamanya itu.
Helen juga demikian, ia hampir saja kehilangan keseimbangan saat mengambil cangkir berisi teh yang masih mengepulkan asap nya, wanita berusia senja tersebut menutup mata sambil menaruh kembali cangkir di atas meja.
"Ada apa?" tanya Helen kemudian pada cucu perempuannya itu.
"Kenapa kalian memberikan kalung leluhur pada Kirana? bukankah kata kalian kalung itu sangat berharga hingga tidak sembarang orang dapat memakainya? kenapa kalian jadi pilih kasih begini?!" cerocos Fiona mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ia tahan, kulit putih susu wanita itu jadi kentara sekali memerah karena menahan luapan kekesalan.
"Dengar kan Oma dulu, kenapa kamu jadi marah-marah dan tidak terima seperti ini?" ujar Helen, masih mencoba bersikap tenang menghadapi situasi yang terjadi.
"Tentu saja aku tak terima oma, dulu saat hari pernikahan ku, aku meminta kalung itu sebagai hadiah tapi oma bersikeras tidak bisa memberikannya dengan alasan kalung itu harus tetap di jaga, karena warisan penting untuk keluarga kita. Lalu lihat lah sekarang? dengan mudahnya oma memberikan kalung leluhur itu pada sembarang orang?!"
"Fiona!" kali ini Helen tidak bisa menahan kesabarannya lagi. "Tutup mulut mu! yang kau sebut sebagai sembarang orang itu adalah adik ipar mu, istri dari Shaka!"
"Cih, terserah!" Fiona bersikap tak acuh dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Helen menghela nafas panjang melihat tingkah cucunya tersebut. "Fiona sekarang berapa umur mu? 34 tahun! kamu sudah mempunyai seorang anak tapi kenapa sikapmu masih seperti anak-anak!" tukas Helen tak habis fikir.
"Oma dan juga bundamu itu sudah berfikir sangat panjang dan masak-masak sebelum memberikan kalung tersebut pada Kirana, dan memang dia pantas karena Kirana adalah menantu keluarga ini dan sedangkan kamu, meskipun anggota keluarga ini kamu adalah menantu keluarga lain, coba pahami perbedaan itu."
"Apa yang di katakan oma benar Fiona, kamu adalah menantu keluarga Nichol sedangkan Kirana adalah menantu keluarga Najendra, jelas itu sudah menjadi perbedaannya. Sedangkan dalam wasiat, kalung leluhur keluarga Najendra itu harus di berikan pada menantu keluarga secara turun temurun,bukan pada anggota keluarga."
__ADS_1
Fiona berdecih, ibarat masuk kuping kanan keluar kuping kiri, perkataan ibu dan neneknya hanya berlalu begitu saja tanpa mau ia pahami. Sejak kecil, karakter Fiona sudah di bentuk menjadi seseorang yang ambisius, semua keinginan nya harus tercapai tanpa terkecuali dan ia akan merasa sangat marah jika keinginannya tersebut tak terpenuhi dan malah orang lain yang mendapatkan nya.
"Terserah, aku muak dengan keluarga ini!" sengau Fiona lalu pergi dengan mencak-mencak.
Helen geleng-geleng kepala sambil mengusap dada melihat tingkah wanita itu.
"Kenapa sikap nya tak pernah berubah? ibu fikir setelah berkeluarga dan mempunyai seorang anak, Fiona akan berubah lembut dan pengertian,tapi ini? lihatlah?-- astaga." saking lelahnya Helen sampai kehilangan kata-kata untuk di ucapkan.
"Susah merubah karakter seseorang bu, ini sudah menjadi sifat alamiah Fiona sejak kecil, mungkin karena kita yang selalu memanjakan nya sejak dulu," ujar Renata memberikan pendapatnya.
"Kamu benar,semoga ini tidak menjadi boomerang suatu hari nanti." gumam Helen menerawang jauh.
...---------Oo-------...
Di lain sisi, Shaka dan Kiran kini sudah sampai di gedung bioskop salah satu yang terkenal di kota ini. Mereka masuk setelah Liam dengan sigap menyiapkan segala keperluan dan tiket untuk mereka.
Saat sedang melihat- lihat sambil menunggu Liam yang tengah mengantri membeli popcorn dan minuman,tak sengaja saat itu mata Shaka yang sedang menyapu pesekitaran langsung tertuju pada Kiran.
Mata gadis itu berbinar terang, seolah cahaya ribuan bintang berpindah pada sepasang netra berkilauan itu, untuk seperkian detik Shaka merasa terpanah, ia tak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis itu.
"Wah, inikah yang namanya bioskop? aku tak pernah datang kesini sebelumnya, ini sangat menakjubkan," ucap Kiran tanpa sadar karena begitu antusias.
"Kau senang?" celetuk Shaka setelah sadar telah menatap Kiran begitu dalam.
"Eumm,tentu saja tuan, terimakasih sudah mengajak ku kesini!" ujar Kiran penuh euforia sambil menangkup kan kedua tangannya seperti anak kecil.
"Apa kau sebelumnya tak pernah menonton film di bioskop seperti ini?" tanya Shaka yang sedikit penasaran ingin mengulik lebih jauh kehidupan sehari-hari gadis itu yang sebenarnya.
__ADS_1
Untuk sesaat Kiran terdiam tak langsung menjawab, wajahnya berubah redup dengan senyum getir tertangkap.
"Saya tak pernah bermimpi untuk bisa datang ke tempat seperti ini tuan,bisa ketemu makan untuk hari ini saja adalah berkat untuk saya," jawab Kiran apa adanya tanpa mau menyembunyikan apapun dari Shaka.
Shaka bergeming dengan raut tak terbaca, namun ada denyut sakit di dadanya saat Kiran mengatakan itu. Pasti sang istri telah mengalami begitu banyak kesulitan selama ini.
Cukup lama kedua insani itu terdiam di antara lalu lalang nya orang melintas, hingga akhirnya Liam pun datang membawa keceriaan kembali untuk mereka.
"Tuan, young lady, saya datang!" Liam dengan tampang tanpa dosa menghampiri bersama kacamata badut yang menghiasi wajahnya.
Sontak kehadirannya membuat Shaka tertawa tanpa sengaja. "Pffft! ada apa dengan mu, kenapa kau memakai kacamata konyol seperti itu?"
"Wah, tuan muda tertawa! ini adalah sebuah keajaiban, harus di abadikan ini!" seru Liam tak mau kalah heboh. Dari kejauhan memang ia sudah melihat ekspresi tak enak dari dua orang itu sebelum ia datang, oleh sebabnya ia ingin mencairkan suasana agar tak terjadi canggung di antara mereka.
"Diam! jangan berulah lagi." sungut Shaka tak mau kalah.Ia sudah mewanti-wanti, sikap Liam yang semakin absurd setiap hari harus di waspadai.
Kini giliran Liam yang tertawa. "Kan memang benar, anda tersenyum saja sudah sebuah keajaiban apalagi anda tertawa, bisa-bisa masuk ke dalam Guiness book of record." kelakar nya.
Pftt! sekarang Liam dan Shaka terkejut secara bersamaan ketika melihat giliran Kiran yang tertawa, kedua pria itu membeku untuk beberapa saat mendengar suara tawa Kiran yang khas dan mempesona.
"Wah, saya larat, ternyata tawa dari young lady lebih syahdu dan menarik, bisa masuk tujuh keajaiban dunia ini."
"Tutup mulut mu, Liam!" sergah Shaka yang tersulut.
"Gawat! big boss mode posesif!" ledek Liam lagi tanpa rasa kapok, justru kembali mengundang tawa mereka.
To be continued
__ADS_1