
...💞 Happy reading 💞...
Di saat suasana tengah mengharu biru, Shaka dan Kirana melepas rindu setelah sekian lama menghilang dan akhirnya kembali lagi pada keluarga tercinta.
Terdengar suara menggema ketukan sepatu high heels dari lantai, seorang wanita melangkah tergesa-gesa detik kemudian sontak berhenti di ambang pintu, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Fiona berdiri dengan kikuk, nafasnya seolah tercekat, dadanya berdebar dengan kencang juga lidahnya yang terasa keluh tak kala melihat ketika ibunya menyingkir dari pandangan nya, lalu terlihat lah jelas Shaka yang kini tersenyum ke arahnya.
"Kaparat! dia benar-benar kembali, bagaimana bisa?"
Bukannya bahagia adiknya telah kembali dalam keadaan hidup dan selamat, Fiona justru di timpa kegelisahan juga berbagai macam pertanyaan membumbung mencari kejelasan. Bagaimana mungkin seseorang yang jelas-jelas matti bisa hidup kembali? Bahkan dia sendiri yang memastikan jika Shaka telah tiada! batinnya tidak mempercayai ini semua.
"Kakak ... " Shaka memanggil dengan intonasi yang sangat lembut. Jika saja ia tahu jika kakak nya lah dalang dari semua bencana yang memompa, entah bagaimana reaski pria itu.
Shaka berjalan cepat menuju Fiona, lalu setelahnya langsung memberikan wanita tersayang nya itu pelukan hangat.
"Aku kembali ka ... adikmu telah kembali!"
Duarr! seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa dada Fiona saat ini,entah kenapa ia merasakan sesak yang tiba-tiba menyusup dadanya.
Fiona hanya diam membiarkan Shaka yang memeluk nya. Namun ketika teringat kembali rasa sakit hatinya juga ketidakadilan yang ia dapatkan karna adiknya ini, perasaan yang semula sesak itu berubah menjadi kemarahan.
"Harusnya kau tak kembali, harusnya kau matti saja!"
Dendam kesumat di dalam dada wanita itu kembali membara.
Tak ingin semua orang curiga dengan apa yang ia rasakan, Fiona dengan cepat bersikap seratus delapan puluh derajat, seolah bahagia dengan kehadiran adiknya ini, Fiona membalas pelukan Shaka seraya terisak menunjukkan keharuan nya.
"Kakak tidak tahu harus berkata apa lagi Shaka ... kakak sangat bahagia kamu bisa pulang dengan selamat seperti ini ... " Fiona melepaskan pelukan mereka berdua, mengelus lembut rahang kokoh Shaka dan kembali memeluk nya sambil terisak.
"Jangan menangis ka," Shaka memegang kedua bahu Fiona, mengusap pipi sang kakak yang basah.
"Aku sudah kembali, seharusnya tak ada air mata," ucapnya menggeleng pelan.
"Ini adalah air mata kebahagiaan Ka, kau tidak mengerti."
Shaka terkekeh melihat wajah kakaknya yang cemberut, lalu kembali memeluk wanita itu sesaat.
"Ayo kita masuk, mansion ini sepi tanpa kehadiran mu ..."
...---------Oo-------...
Seluruh anggota keluarga, Shaka dan Kirana duduk masing-masing di ruang tengah, mereka mendengarkan cerita keduanya selama kehilangan kontak dan pengasingan selama ini.
__ADS_1
"Begitulah, Jadi aku sangat yakin jika kecelakaan ku ini bukanlah kebetulan semata, namun memang sudah ada yang merencanakan nya," Ujar Shaka dengan geram, mengakhiri kisah panjangnya.
Renata menutup mulut, saking ngerinya dengan cerita yang putranya tuturkan. "Tapi bagaimana dengan supir mu, pak muin apakah tak selamat?"
Raut wajah Shaka berubah redup, matanya memerah menahan kaca-kaca. "Sayangnya pak Muin tak selamat dalam kecelakaan itu,. beliau meninggal ... "
Terkejut lah semuanya, mereka turut berbelasungkawa atas kabar duka itu.
"Saya sudah menghubungi yang berwajib dan pihak keluarga, semoga ada kabar selanjutnya dan pak Muin bisa di makamkan dengan layak," terang Liam, menjelaskan.
Di tempat duduknya Fiona sudah panas dingin sendiri, dinginnya AC seolah tidak bisa menyamarkan keringat nya yang kini sedang sangat ketakutan akan kebusukannya yang akan terbongkar.
"Lalu, Kirana kamu sendiri bagaimana bisa menghilang dari mansion nak? kamu tahu seisi rumah gempar saat mendapati mu tidak ada di kamar, sebenarnya kamu kemana dan Kenapa bisa bersama Shaka?"
Hening, Kirana justru hanya diam saat di lemparkan pertanyaan beruntun dari ibu mertuanya tersebut. Suasana ruang tamu ini seketika sunyi senyap, Kirana melirik ke arah Shaka seolah meminta bantuan.
Mengerti akan hal itu, Shaka pun mengambil sikap tegas.
"Jawablah nak, kenapa hanya diam saja?" tanya Renata yang menanti menantunya membuka suara.
"Bun, sudahlah. Kirana masih terlalu syok, dia belum bisa menjawab." sergah Shaka cepat demi menghilangkan kecanggungan yang terjadi ini.
"Yang di katakan Shaka benar," sahut Helen kemudian. "Renata, lebih baik kita jangan terlalu banyak bertanya, kasihan mereka berdua Shaka dan Kirana pasti telah menempuh perjalanan jauh mereka butuh istirahat."
Kirana menghela nafas lega sang Oma ikut memihak kepada mereka, sehingga ia tak harus menjelaskan apa yang sudah menimpa nya. Bukannya Kirana tak mau kejahatan Arkan terbongkar, namun ia percaya pada suaminya yang memiliki rencana lain untuk penjahat itu.
****
Beralih ke kamar yang mereka berdua tempati selama ini, benar bulan setelah Shaka di nyatakan hilang dan Kirana pula sempat ikut menghilang, di kamar ini sudah banyak interiornya yang berubah.
Kirana menerawang pada setiap inci ruangan yang ia rindukan selama ini.
"Telah banyak yang berubah, aku merasa takut saat ini."
"Apa yang kau takutkan?" tanya Shaka menolehkan pandangannya dari luar jendela ke arah Kirana.
"Setelah semua yang kita lalui, aku jadi sadar jika kita hidup di penuhi dengan orang-orang yang bisa saja berubah karena kekuasaan dan harta, mampukah kita hidup di banyaknya intrik dan konspirasi jahhat, tuan?"
"Selama aku di sini, tidak akan ada yang mampu berbuat jahhat pada kita," ujar Shaka menenangkan kegelisahan istrinya.
"Tapi yang ku khawatirkan adalah dirimu," ujar Kirana menunduk menyembunyikan wajahnya yang nampak sedih.
"Tuan, aku ini hanya gadis desa, anak yatim-piatu, aku telah menyaksikan begitu banyak kesedihan dan melalui semua penderitaan selama hidup ini, aku bisa saja melewati semua kesengsaraan itu, tapi jika itu terjadi padamu ... " Kirana menggeleng, menggigit bibirnya kuat-kuat membendung isakan yang tertahan.
__ADS_1
"Aku tak akan sanggup." luruh lah air mata yang sejak tadi ia tahan, kedua bahunya bergetar tergugu dalam tangisnya.
Deg! dada Shaka tiba-tiba berdesir hebat, ia merasakan perasaan yang selama ini belum pernah ia rasakan.
"Apa kau yakin dengan perkataan mu Kirana?"
"Kenapa mas bicara seperti itu?"
"Jika kau yakin, maka aku adalah pria yang paling beruntung di dunia ini."
Grep! Shaka menarik Kirana dalam pelukannya, mengecup berulang kali pucuk kepala wanita itu.
"Aku ini binnatang Kirana, aku telah menyakiti mu sebelumnya, merendahkan mu tapi kau masih mau memaafkan dan menerima ku, bahkan sangat menghawatirkan ku, tidak kau tahu aku merasa sangat beruntung,"
"Untuk kali ini aku percaya adanya keajaiban Tuhan dan itu karena mu, kau telah membuat binnatang ini berubah menjadi manusia lagi, Kirana."
"Jangan berkata seperti itu." Kirana menggeleng. "Kenapa merendah kan dirimu sendiri mas, kamu adalah manusia dan memiliki perasaan selayaknya manusia."
Shaka tersenyum lalu menarik kepala Kirana untuk kemudian mengecup kening gadis itu, cukup lama lalu berpindah ke pipinya sambil berucap,
"Aku mencintaimu Kirana,"
Kirana melebarkan mata, syok atas pengakuan Shaka tersebut.
"A- apa yang mas katakan?"
"Ya Kirana aku mencintaimu."
Kirana tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Maaf, aku baru menyadarinya sekarang, dan aku baru mengatakan nya sekarang."
"Apa kau juga mencintai ku, Kirana?"
Dengan mata semakin berembun karena terharu, Kirana mengangguk.
"Aku juga mencintaimu mas."
Shaka tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, ia kembali mengecup pipi sebelah Kirana sambil terus menggumamkan kata cinta untuk istrinya itu.
"Aku mencintaimu, demi Tuhan, aku mencintaimu Lentera Kirana."
"I love you to," balas Kirana lalu mereka kembali berpelukan di bawah sinar rembulan malam itu.
__ADS_1
To be continued ...