Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 64


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Olivia berlari panik, tujuannya saat ini adalah untuk mencari Kirana atau ia harus memilih opsi lain yang lebih memungkinkan saat ini, yaitu menemui Aslan dan meminta bantuannya. Satu hal yang pasti, Olivia harus keluar dari sini dengan selamat atau Arkan akan dengan cepat menangkapnya.


Setengah jam berlalu, Olivia berusaha sebisa mungkin untuk menunda acara pertunangan ini barang sejenak, dengan nekat dan ide di kepalanya ia membuat sedikit kerusuhan. Kebakaran yang terjadi akibat sebuah gorden rumah yang terbakar hingga api dengan cepat menyambar ke arah para tamu membuat mereka panik seketika. Rencana Olivia berhasil, ia segera kabur keluar gerbang, tiba di bahu jalan ia segera menghentikan sebuah taksi.


Sementara itu, para anak buah Arkan ternyata sudah berada di belakang untuk mengejarnya, Olivia tertegun lalu meminta supir taksi untuk segera melajukan kendaraannya.


"Pak bisa ngebut sedikit tidak?!" pinta Olivia pada supir taksi, sambil sesekali ia melirik ke arah belakang, dan benar saja para ajudan Arkan ternyata masih tak gentar untuk terus mengejarnya.


"Baik bu," jawab supir taksi menambah laju kendaraannya. "Ngomong-ngomong tujuan ibu hendak kemana?"


Olivia sedikit bingung, di tangannya ia mengenggam ponsel dengan tujuan nama yang sedang ia panggil namun tak kunjung juga di angkat, akhirnya wanita itu mengambil opsi kedua. "Perusahaan mavendra group,pak. Kita kesana sekarang!"


"Oh, baik klo begitu mbak." sahut sang supir, melihat Olivia yang nampak ketakutan dari kaca spion tengah. Lantas mengerti akan situasi, sang supir pun semakin mempercepat laju mobilnya.


Sementara itu, Kirana terus bergeming di antara lalu lalang orang yang kini mulai menuju jalan ketika hujan mulai reda, hanya menyisakan rintik-rintik nya di atas langit, sementara ia masih belum juga beranjak dari sana. Wanita itu baru saja membuka ponsel, melihat begitu banyak panggilan masuk dari Olivia membuat Kirana mengerutkan keningnya, ia tak sadar karena telah memasang silent pada ponselnya hingga tidak menyadari Olivia sudah menelpon nya sebanyak itu.


"Apa yang terjadi?" batinnya bertanya-tanya, Kirana hendak menelpon balik namun sedetik kemudian ia urungkan niat itu, ia justru menghapus nomor Olivia yang tertera di ponselnya. Sepertinya ini keputusan terbaik, ia ingin menghilangkan semua jejak tentang apapun yang bisa saja berkaitan dengan Shaka ataupun keluarga nya.


"Maafkan aku Olivia," lirih Kirana, lagi-lagi dengan air mata menetes. "Bukannya aku membenci mu, namun sepertinya begini akan lebih baik. Terimakasih untuk semua kebaikan mu selama ini," ucapnya seakan sedang mengobrol langsung dengan Olivia saat ini. Sadar ketika tempat menunggunya sudah sepi karena semua orang telah pergi ke tujuan mereka masing-masing akhirnya Kirana pun memutuskan untuk beranjak tinggal satu lagi mode transportasi yang harus ia naiki, hingga akhirnya sampai kerumah peninggalan orang tuanya.


...---------Oo-------...


Akhirnya setelah perjuangan yang sangat melelahkan, Olivia sampai juga di perusahaan Aslan. Setelah ia membayar ongkos supir, Olivia dengan terburu-buru masuk menuju lantai atas, ia tahu sebelumnya dari Aslan sendiri ketika itu ia sempat juga pernah ke sini waktu Kirana dalam keadaan kritis hingga tak sulit baginya menemukan ruangan Aslan. Namun ia sedikit keliru, tak seperti sebelumnya ia dengan mudah masuk ke ruangan Aslan, tapi saat ini Olivia harus menghadapi serangkaian penjagaan ketat untuk menemui Aslan.


"Maaf bu, jika memang ibu temannya pak Aslan ibu harus menunjukkan bukti tentang kebenarannya, atau tidak, kami tidak bisa mengijinkan ibu masuk," ucap staff penjaga resepsionis berkali-kali menjelaskan pada Olivia tentang prosedur yang harus di patuhi.


"Saya mohon, saya harus bertemu dengan pak Aslan, ini sangat penting. Saya tidak punya bukti apapun tapi saya punya nomor beliau." mengingat ia menyimpan nomor Aslan, Olivia gegas menunjukkan nya kepada sang resepsionis namun bukannya kepercayaan yang ia dapatkan justeru staff penjaga itu memandang curiga ke arahnya.


"Ibu bukan dari kalangan orang yang penting, namun berani berbohong kepada kami?!"


"Apa?!" Olivia melongo tak percaya atas tuduhan itu. "Tidak. Saya tidak berbohong sama sekali."


"Sudahlah buk, sudah sangat sering kami menemui modus peniupan seperti ini, pak Aslan bukan orang biasa yang bisa di temui seenaknya dan juga banyak yang ingin bertemu dengan beliau jadi lebih baik ibu pergi saja, sebelum kami memanggil petugas keamanan!"


Olivia membulatkan mata, terkejut. "Apa? tidak! saya kesini ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk pak Aslan! bukan untuk menipu!"


"Berikan alasan itu ketika ibu sudah sampai ke kantor polisi. Cepat, panggil petugas keamanan!" teriak staff resepsionis itu dengan lantang.


"Tidakk!" Olivia berteriak,dua orang datang berusaha menahannya, ia memberontak membuat semua pasang mata menjadikannya sebuah tontonan, sampai tiba-tiba karena Olivia yang terus memberontak minta di lepaskan, ia tak sengaja terhuyung ke belakang jika saja sebuah tangan tidak menahannya sudah di pastikan tubuhnya akan langsung terjatuh ke lantai.


"Ada apa ini?!" suara bariton yang dingin itu sukses membuat semua orang kicep seketika.


"P- pak Aslan!" mereka langsung menunduk hormat.


Seorang wanita bersanggul rapi yang tadi memanggil sekuriti untuk mengusir Olivia pun maju, memberikan penjelasan. "Maaf pak,ada seorang wanita gilla yang membuat keributan, tapi bapak tenang saja kami akan segera membereskan nya!"


"Wanita gilla?!" Aslan mendadak saja menaikan oktaf suaranya membuat semua orang terperanjat, staff resepsionis yang baru saja di bentaknya pun langsung menunduk dengan keringat dingin.


"Lancang sekali menyebut tamu ku sebagai wanita gilla?!"


"Aslan ... " Olivia berujar lirih, mengucap syukur dalam hati pria itu tiba tepat waktu.


"Ya, aku di sini Olivia, bangunlah." seru Aslan lalu membantu wanita itu untuk berdiri. "Kau tenang saja, sekarang. Maaf para bawahan ku telah kurang ajar padamu."


"Cepat minta maaf padanya!" titah Aslan dengan tegas.


Mereka pun langsung merasa menyesal dan meminta maaf kepada Olivia, begitupun dengan staff yang sempat mempermalukannya tadi.


"Tidak apa-apa Aslan! ada sesuatu yang lebih penting yang ingin ku bicarakan padamu!"


Mengerti akan hal itu, Aslan pun meminta para pekerja nya untuk bubar dan memilih tempat lebih aman agar Olivia bisa bercerita.


...--------Oo--------...


Tak lama berselang, setelah mendengar seluruh cerita dari Oliva, mereka segera meluncur untuk menemukan keberadaan Kirana berada. Seolah Dewi Fortuna sedang memihak kepada mereka, hingga tak sulit untuk menemukan jejak wanita itu, beruntung nya Kirana belum sempat menaiki transportasi kereta api untuk pergi ke rumah peninggalan orang tuanya.


"Kalian? ada di sini?!" terkejut Kirana, ia terperangah untuk sejenak melihat kehadiran Aslan dan Olivia yang sudah ada di depannya. Dari mana mereka mengetahui dirinya ada di sini?"


"Dari mana kalian tahu?--"


"Tidak penting menanyakan itu sekarang Kirana!" sahut Olivia memotong pertanyaan yang hendak Kirana lontarkan. "Kau harus ikut kami sekarang! sesuatu yang buruk akan terjadi!"

__ADS_1


"Ada apa? apa yang terjadi sebenarnya?!" tanya Kirana ikut merasa panik.


"Ayo, ikut, akan kami jelaskan di dalam mobil!" pungkas Aslan, di bekuk rasa penasaran Kirana pun mengikuti keduanya, mengabaikan tujuan awalnya untuk pergi sejauh mungkin dari kota ini.


Tiba di dalam mobil, Kirana langsung mencecar banyak pertanyaan. "Apa sedang terjadi sebenarnya? kenapa kalian begitu panik? sesuatu buruk seperti apa yang sebenarnya akan terjadi?!"


Olivia yang duduk di sampingnya menarik nafas pekan sebelum menjelaskan semuanya kepada Kirana. "Dengarkan aku Kirana, nyawa Shaka dalam bahaya!"


Kirana melotot mendengarnya, ekspresinya seketika berubah pias dengan menutup mulut dengan tangan. "M-mas Shaka?"


"Iya Kirana, suami mu dalam bahaya. Ternyata wanita bernama Teresa itu sangat licik dia bersengkokol dengan bibi Matilda untuk mengadakan sebuah acara pertunangan yang sebenarnya adalah kedok belaka untuk rencana mereka melenyapkan Shaka! mereka ingin meracuni Shaka Kirana itu sebab nya kami meminta untuk kesana karena hanya kamu yang dapat menghentikan ini semua!"


"Tapi ... mas Shaka bahkan tidak mau menemui ku sama sekali, dia justeru bahagia aku pergi dengan cara memberikan ku uang melalui perantara Teresa."


Olivia menggeleng cepat, ia berdecak singkat. "Tidak! kau sudah salah paham Kirana, Teresa sendiri lah yang membuat ide itu seakan-akan Shaka senang kau pergi, faktanya banyak mata-matanya yang berkeliaran hingga tak sulit untuk nya mengetahui keberadaan mu. Tolong percaya kepada Shaka, sebenarnya kalian masih saling mencintai!"


Kirana bergeming, matanya berkaca-kaca ia mulai berfikir ulang jika selama ini ternyata ia dan Shaka sudah terjebak dalam permainan licik bibi Matilda dan Teresa dan semua hanya kesalahpahaman belaka.


"Kirana ... " panggil Olivia seraya menggoyangkan pundak perempuan itu karena tak juga menyahuti ucapannya. "Kau baik-baik saja?"


Kirana mengangkat wajahnya yang semula menunduk. "Antarkan aku ke mansion cepat, aku ingin menyelamatkan nyawa suami ku!"


Wajah Olivia berubah sumringah, hatinya merasa begitu lega mendengar jawaban, ia pun mengangguk lalu memeluk Kirana, Aslan di kursi kemudi pun merasa ikut senang melihat keduanya dari kaca spion.


***


Para tamu sudah menunggu kedua mempelai yang hendak melakukan ikatan pertunangan hari ini, semua nampak antusias dan ikut bersuka ria dengan acara hari ini.


Tidak dengan Shaka yang terus memasang wajah terpaksa, agaknya ia menyesali semua kata-kata yang keluar dari mulutnya kepada Olivia. Ia sadar tak memiliki pendirian selama ini hingga akhirnya Kirana memilih pergi meninggalkannya. Kini ia harus terjebak dalam situasi yang sama sekali tak ia inginkan.


Liam di tempat hanya bisa mendampingi sang tuan, memastikan Shaka baik-baik saja, ia tak bids terlalu ikut campur dalam masalah sekarang. Hanya bisw berharap semua memang yang terbaik untuk Shaka.


Acara demi acara di tampilkan sebelum upacara pertunangan di laksanakan nanti, di saat inilah waktu yang tepat untuk Teresa melaksanakan tugas nya. Wanita yang terlihat anggun itu membawa sebuah gelas yang sudah ia ukur dengan sempurna takaran racun di dalamnya untuk membunnuh Shaka salam sekejap. Ia mendekat ke arah Shaka, tak peduli jika pria itu memandang tajam ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan? kenapa kau ada di sini?!" tanya Shaka dengan ketus, nampak sangat menunjukkan ketidaksukaan nya kepada wanita itu.


"Tidak bolehkah aku menemui calon suami ku sendiri?" tanya balik Teresa, dengan kerlingan menggoda.


"Cih, calon suami? jangan mimpi. Ini hanya akan menjadi formalitas, aku bahkan belum menghukum mu atas semua kejahatan mu selama ini!"


"Menjijiikkan!" ummpat Shaka.


Teresa justeru tertawa. "Sudahi marah-marah mu, ini aku bawakan kau sebuah minuman sehat. Minumlah."


"Apa ini? apa kau berusaha meracuni ku?!" tanya Shaka dengan santainya namun bisa terlihat jelas wajah Teresa yang tiba-tiba pucat.


"Hahaha, meracuni mu? bagaimana mungkin sayang, aku meracuni pria yang ku cintai?!"


"Baiklah." Shaka tersenyum miring. Ia lalu mengambil gelas yang sudah berwarna pekat itu dari tangan Teresa dan meminum isinya.


"Tidakk!!" lengkingan suara seorang wanita membuat mereka terkejut. Terlihat Kirana juga Aslan dan Olivia yang tiba-tiba datang namun terlambat sebelum bisa mereka mencegahnya Shaka sudah meminum minuman yang di berikan oleh Teresa hingga tandas.


"Ada apa ini? siapa yang teriak itu?!" Renata dan para anggota keluarga langsung berkumpul karna kaget.


"Siall sepertinya itu suara Kirana?!" Matilda berbisik kepada Fiona dan Arkan, putranya.


"Lalu bagaimana ibu? apa rencana kita akan hancur berantakan lagi?" tanya Arkan yang di angguki juga oleh Fiona.


"Sepertinya kali ini tidak." Matilda menyeringai. "Karena Teresa sudah berhasil dengan tugasnya. Sudah di pastikan Shaka meminum racun itu."


Teresa tersenyum licik. "Kau terlambat Kirana." gumamnya dengan tatapan mengarah pada wanita di depannya, lalu dengan cepat ia memasang wajah memelas.


"Kau ada di sini? dasar tidak tahu diri, bisa-bisanya kau ada di sini setelah mengkhianati Shaka?!" tuding nya hendak memojokkan Kirana.


Namun Kirana tak peduli sama sekali dengan tudingan tak berdasar itu, ia dengan cepat berlari untuk melihat keadaan Shaka. Air matanya berlinang seketika, ia mengusap rahang Shaka dengan sedih. "Harusnya kamu tidak meminum nya, harusnya kamu tidak meminum itu ... " ucapnya dengan menggeleng dan mata terpejam sedih.


"Kau tenang saja Kirana. racun itu tidak akan bereaksi cepat, kau tidak akan punya bukti kuat untuk menunduh ku." batin Teresa tersenyum licik, lalu ia maju ke depan membuat dirinya seolah korban.


"Apa maksud mu? apa kau kira aku hendak meracuni Shaka begitu?" ucap Teresa dengan air mata buaya nya yang mulai menganak sungai. "Tega sekali kau menunduh ku seperti itu?!" ia pun semakin meyakinkan dengan akting sedihnya meminta simpatik pada semua orang. Lalu Matilda dan Fiona datang ikut membela Teresa dan mencemooh Kirana.


Olivia dan Aslan berusaha menjelaskan namun suara mereka sama sekali tak di dengar, sementara itu Arkan sudah melayangkan tatapan membunnuh nya kepada Olivia membuat nyali wanita itu mendadak ciut.


Mendengar semua perdebatan ini Shaka menjadi muak. "Berhenti!" teriak pria itu dengan lantang membuat semua mulut-mulut yang semula ramai berbicara, terdiam seketika.

__ADS_1


"Shaka? apa kau lebih membela wanita ini di banding aku?!" Teresa maju dengan akting sedihnya meminta validasi Shaka juga.


"Mas tolong percaya lah padaku ... " Kirana memohon. "Wanita ini adalah wanita yang sangat jahhat! dia berusaha mencelakai mu!" ujar Kirana berusaha meyakinkan Shaka, untuk sesaat kedua mata mereka saling bersitatap, ada rindu yang berusaha mereka jelaskan dari tatapan masing-masing.


Namun kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Shaka sangatlah di luar ekspektasi Kirana.


"Aku mempercayai mu Teresa," ucap pria itu sambil menatap ke arah Teresa. "Dan kau!" ia kemudian menunjuk ke arah Kirana.


"Aku tahu kau hanya merasa cemburu dengan Teresa hingga dengan kejji melontarkan tuduhan itu kan?"


"Apa? tidak mas." Kirana menggeleng keras. "Harusnya kau lebih percaya padaku, kenapa kau malah memihak nya, ada apa dengan mu mas?!"


"Sudahlah! kau sendiri yang lebih memilih untuk pergi menjauh dari ku kan? jadi sebaiknya kau pergi dari sini!"


Shaka kemudian menarik lengan Kirana, semua orang menyaksikan itu kubu dari Matilda tersenyum senang saat Shaka secara terang-terangan mengusir istrinya itu, sementara Renata meminta para bodyguard untuk mengamankan para tamu karna ini adalah urusan keluarga hingga kini tersisa anggota keluarga dan beberapa orang saja di ruang aula.


"Tidak! aku tidak mau pergi!" Kirana menolak mentah-mentah Shaka yang mengusirnya.


"Kirana,tak seharusnya kau berada di sini! tolong biarkan aku saja yang menyelesaikan ini sendiri!" kata-kata yang berusaha Shaka ucapkan dari tatapan matanya.


Namun tidak bisa, karena sesuatu yang Kirana khawatir kan mulai terjadi, Shaka mengaduh dengan memegang dadanya.


Kubu Matilda melotot senang. "Racunnya Mulai bereaksi!" gumam Matilda. Teresa pun merasakan antuasias yang sama, akhirnya dendamnya akan terbalas kan.


Sepuluh tahun yang lalu, ayah dan adik perempuannya tewas karena sebuah tabrak lari yang mana Shaka adalah pelakunya, pria itu mengendarai mobil nya dengan ugal-ugalan hingga menyebabkan sebuah kecelakaan berantai, yang membuatnya kini menyandang status mantan narapidana.


Dari situ juga Teresa kehilangan keluarganya, ibunya ikut menyusul karena tak kuat menanggung kesedihan akibat kehilangan ayah dan adik perempuannya. Sementara pelaku penyebab dirinya sebatang kara justeru hanya di beri hukuman ringan saja.


Sampai akhirnya Teresa berniat untuk membalas dendam, ia bertemu dengan Matilda yang mengajaknya untuk bekerja sama, mereka membuat identitas palsu untuk dirinya memiliki ayah seorang kolongmerat terpandang yang sebenarnya semua nya adalah kebohongan belaka agar dirinya bisa lebih dekat dengan Shaka dan membalas dendam nya selama ini.


Dan inilah akhirnya, Teresa akhirnya dapat melihat Shaka yang kesakitan persis dirinya sepuluh tahun yang lalu karena kehilangan keluarganya akibat ulah pria itu.


"Rasakan karma mu Shaka! rasakan!"


Situasi mulai tak kondusif saat Shaka yang terus-menerus mengaduh kesakitan, Renata berjongkok memapah tubuh sang putra yang mulai tumbang, ia terisak kencang sambil mengguncangkan tubuh Shaka yang mulai tak sadarkan diri.


"Cepat panggilkan dokter! cepat!" teriak Renata sambil terisak.


Kirana tak kalah panik dan sedih, ia terus menangis sambil memanggil nama Shaka yang kini mulai tak sadarkan diri.


"Bangun mas, ku mohon jangan tinggalkan aku!"


Aslan dan Olivia merasa sangat sedih, usaha mereka tak berhasil untuk menyelamatkan nyawa Shaka. Sementara Liam sedang mengamankan keadaan di luar seraya memanggil dokter agar nyawa Shaka bisa terselamatkan.


"Cepat siapapun panggil kan dokter?!" teriak Renata lagi dengan putus asa.


"Sudah terlambat, anak mu sudah tidak bisa di selamatkan!" tiba-tiba seorang wanita berseru, dia maju mendekat ke arah tubuh Shaka yang mulai terbujur kaku.


"Matilda ... " Renata terperangah tak percaya, ada apa ini sebenarnya? batinnya bertanya-tanya.


"Ya, kakak ipar. Aku hanya menyarankan lebih baik kau adakan saja acara kremasi untuk jasad putera mu!"


Renata cengo untuk sesaat berusaha untuk mencerna semua kejadian ini. "Apa semua ini adalah rencana mu?!" tanyanya sungguh tak bisa percaya.


"Ya, bukan hanya aku tapi juga mereka--" ucap Matilda ke udara, lalu Arkan, Teresa dan Fiona juga ikut maju.


Semakin terkejutnya Renata dan semuanya. "Fiona-- kau juga-- " saking syok nya Renata hampir lupa cara bernafas.


"Ada apa dengan kalian semua?!" teriaknya begitu frustasi.


"Sudahlah Bun, kehilangan satu anak tidak akan membuat anak mu yang lain pergi."


"Apa maksud mu bicara seperti itu? dia adik mu! adik mu sedang sekkarat, di mana hatimu?!"


"Adik?" Fiona terkekeh. "Siapa yang bunda bicarakan?"


Renata menggeleng tak percaya.


"Sejak dulu aku bahkan tak pernah menganggap nya adik, sejak kalian di keluarga ini lebih memprioritaskan nya di banding aku?!" akhirnya Fiona bisa mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.


"Fiona apa maksud nya, kenapa kau jadi seperti ini?!"


"Aku iri Bun,aku iri dengan semua pencapaian Shaka, dia memiliki semuanya yang ingin ku miliki. Padahal aku anak pertama di keluarga ini tapi kenapa semua hak-hak istimewa hanya Shaka yang mendapatkan nya, apa karna aku hanya seorang perempuan, dan Shaka laki-laki?!"

__ADS_1


Sementara itu pria yang masih terbaring dengan terbujur kaku, tak ada yang menyadari jika ia mendengar semua perkataan Fiona dengan tangan terkepal. Merasa sangat di khianati selama ini.


To be continued ...


__ADS_2