
...💞 Happy reading 💞...
Jantung Kirana berdegup sangat kencang saat ini, rasanya seperti ketika ia baru saja menyadari perasaannya kepada seorang pria untuk pertama kalinya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam, baik Shaka maupun Kirana mencoba untuk saling menyelami hati masing-masing melalui tatapan mata.
Angin berhembus lembut saat Shaka mengikis jarak di antara mereka, kemudian pria itu menunduk berusaha untuk mendekat lebih intens kepada sang wanita. Tangan kokohnya lantas dengan gerakan begitu lembut mencoba mengangkat dagu Kirana yang sejak tadi hanya berani menunduk, seolah tak berani menatapnya.
"Aku tahu terlalu banyak kesalahan ku padamu Kirana ... " hembusan nafas Shaka terasa begitu hangat menerpa wajah cantik Kirana, menyalurkan kedamaian ke dalam hatinya.
"Tapi mengerti lah apapun yang coba ku lakukan itu semua untuk dirimu, maafkan aku jika rencana ku menyakiti mu. Tapi demi Tuhan Kirana, tidak ada wanita lain di hatiku selain dirimu ... "
Hening sejenak, Kirana mencoba untuk meresapi setiap kata-kata indah yang di ucapkan dari bibir pria itu. Sementara Shaka sendiri mengira jika ia tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan maaf dari sang isteri hingga kemudian dia berujar kembali.
"Jika kau tidak percaya, aku bisa matti di sini untuk mu--"
Kirana terkesiap mendengarnya, ia langsung mendongak dengan mata terbuka lebar, sementara telapak tangannya dengan cepat membungkam mulut Shaka.
Kirana menggeleng kan kepalanya. "Jangan bicara seperti itu!" ucapnya dengan raut wajah cemas dan penuh ketakutan. Seolah yang Shaka katakan adalah sebuah kutukan dan harus di hindari.
"Jadi apakah kau memaafkan ku?" tanya Shaka kembali memastikan.
"Bisakah kau menjelaskannya lagi kepada ku alasan terkuat mu hingga aku percaya?" tanya balik Kirana seolah memberi tantangan untuk pria itu.
"Dua bulan bukan waktu yang sebentar saat seorang wanita harus mati-matian memendam deritanya ketika suaminya sendiri berubah sikap kepadanya," urai Kirana lagi seolah memberikan alasan terkuat nya.
"Baiklah. Ini bukan apa-apa,bahkan aku bisa menjelaskannya berulang kali jika perlu sepanjang hidup ku akan ku abdikan untuk mu ... " ujar Shaka terdengar seperti gombalan membuat Kirana mati-matian menahan senyum.
Kemudian Shaka menjelaskan kembali kepada Kirana apa alasan dan tujuannya menjauhi Kirana untuk rencana yang ia buat demi membongkar kejahatan Teresa dan Matilda.
"Aku hanya ingin kau tidak terlibat dan terluka, karena jika sampai kau kenapa-kenapa itu akan menjadi kelemahan terbesar bagiku dan aku tidak akan bisa mengungkapkan kejahatan bibi Matilda." pungkas Shaka setelah panjang lebar menjelaskan semuanya kepada Kirana.
"Tapi kenapa kau sampai harus menyakiti ku?" tanya Kirana sudah mulai menatap nanar, hanyut dalam suasana.
Shaka mengembuskan napas pelan. "Maaf itu di luar kendali ku. Jika aku menyadari jika rencana ini akan menyakiti mu aku akan membatalkan semuanya. Tapi jika begitu selamanya kejahatan Matilda tidak akan terbongkar,dan aku takut jika mereka berbalik mengincar mu ataupun orang-orang tersayang ku," tutur Shaka kemudian.
Kirana tiba-tiba saja terisak hebat membuat Shaka melotot kaget. "Kenapa sayang? jika kau belum dapat memaafkan ku tidak masalah. Ku mohon jangan menangis,itu akan membuat ku sangat sakit." Shaka dengan gentle mengusap air mata Kirana dengan jempolnya.
"Tidak. Ini adalah air mata kebahagiaan." jawab Kirana membuat raut wajah Shaka berubah lega.
"Jadi kau memaafkan ku?"
Kirana menatap Shaka dengan begitu intens lalu ia mengangguk perlahan. Senang melihat reaksi sang isteri, Shaka tak tahan untuk membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Ia rengkuh Kirana dengan begitu lembut, Shaka sampai tak bisa menyembunyikan air matanya juga, bagaimana ia begitu merasa bahagia dan bersyukur karena semuanya berakhir dengan damai.
"Terimakasih. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu lagi." lirih Shaka, mengecup ubun-ubun kepala Kirana berulang kali merasa seperti telah di berkati dengan anugerah yang begitu besar.
__ADS_1
Sore itu, pelangi datang setelah hujan dan badai yang menerpa, seolah seperti kehidupan kedua insani yang kini akhirnya bersatu kembali setelah melewati badai kehidupan rumah tangga mereka.
Shaka tersenyum lembut, ekspresi yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun selain kepada Kirana. Ia menoleh lalu mengambil tangan wanita di sampingnya untuk kemudian si genggam erat, Kirana pun ikut tersenyum manis dengan pipi memerah yang terlihat begitu menggemaskan di mata Shaka. Mereka kemudian berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan di bawah pelangi yang terlukis indah di atas langit. Dengan dada berdebar-debar di penuhi rasa cinta yang semoga bisa tetap kekal abadi sampai rambut mereka memutih.
...---------Oo-------...
Parwita, nenek dari Aslan bergegas menuju rumah sakit begitu mendengar kabar tentang sang cucu yang terluka parah. Ia tak henti-hentinya merapal doa dengan air mata mengalir deras untuk kesembuhan sang cucu tercinta.
Sampai kini hingga malam tiba, dokter mengabarkan jika kondisi Aslan sudah lebih membaik membuat Parwita bisa bernafas lega dan berucap syukur pada sang pemberi kehidupan.
Parwita segera masuk ke dalam ruang inap Aslan setelah mendapatkan ijin dari dokter jika pasien sudah bisa di kunjungi.
"Aslan, cucu ku!!" Parwita langsung menangis lega sambil memeluk Aslan yang terbaring di atas brankar. Di temani juga oleh Olivia dan Renata yang kebetulan juga sedang melihat keadaannya.
"Awww, nek ... sakit." Aslan mengadu karena sang nenek yang begitu erat memeluk nya membuat lukanya jadi terasa sakit.
"Astaga apa yang sakit? maafkan nenek, nenek terlalu mencemaskan mu ... " sahut Parwita yang langsung melepaskan rengkuhannya, wanita berusia 70-an itu langsung mengecek kondisi tubuh Aslan dengan seksama dan betapa hancur hatinya melihat begitu banyak luka-luka di tubuh sang cucu tercinta.
Sampai akhirnya Parwita melihat Renata dan Olivia,sorot tatapan nya dengan cepat berubah sengit, kemudian wanita yang rambutnya mulai sepenuhnya memutih itu bergegas menghampiri Renata, semua terkejut ketika Parwita tiba-tiba saja mendorong tubuh Renata hingga hampir tersungkur jika saja Olivia tidak menahannya dari belakang.
"Hei apa-apa an ini kenapa anda mendorong saya?" geram Renata yang protes.
"Katakan itu pada dirimu sendiri. Aku sudah mendapatkan kabar dari bawahan ku,jika Aslan sampai begini itu karena masalah keluarga mu!" teriak Parwita dengan emosi yang menggelegak.
Keributan pun tak bisa di elakkan karena kedua wanita itu sama-sama tidak terima dengan pendapat masing-masing sampai akhirnya Shaka dan Kirana tiba, berniat untuk menjenguk keadaan Aslan juga. Melihat siapa yang datang Parwita langsung mengalihkan pandangan pada Kirana, insting nya berkata kuat jika wanita yang ia lihat itu adalah penyebab kenapa sang cucu bisa berubah, meski ia belum pernah melihat Kirana sebelumnya.
Di rasuki oleh emosi yang menggebu-gebu, Parwita berbalik menghampiri Kirana, mengarah kan tatapan penuh permusuhan pada wanita itu membuat Kirana memasang wajah heran.
Parwita karena kekesalan nya langsung menyerang Kirana tanpa mau mendengarkan penjelasan wanita itu membuat semua orang terkejut ketika Parwita menarik rambut wanita itu.
"Dasar kau wanita penggoda! apa yang sebenarnya kau kasih hingga Aslan sampai segininya berkorban untuk mu hah? apa kau telah memberikan pelet untuk cucu ku hah?!" umpatt Parwita dengan begitu geram pada Kirana, mengira karena wanita itulah hubungan cucunya dengan Vania menjadi renggang.
Semua orang berusaha untuk memisahkan Parwita dari Kirana tak terkecuali Aslan yang langsung turun dari brankar nya untuk memisahkan sang nenek yang jelas-jelas telah salah paham.
"Nenek, lepaskan! Kirana sama sekali tidak salah!"
Mendengar pembelaan dari Aslan membuat Parwita langsung melepaskan jambakan nya, dengan melotot tajam dan nafas yang memburu karena emosi Parwita berbalik menatap sang cucu.
"Kau masih saja membela nya hah? setelah dia membuat mu terluka parah seperti ini kau masih saja bilang dia tidak bersalah."
"Nek!" Aslan terpaksa meninggikan suaranya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya kepada wanita kesayangannya itu. Namun kali ini neneknya benar-benar sudah kelewatan.
"Aku terluka karena kecerobohan ku sendiri nek, tidak ada hubungannya dengan Kirana sama sekali."
__ADS_1
Parwita menggeleng dengan ekspresi kecewa. "Benar kata Vania, tidak peduli apapun yang kami katakan, kau tetap akan membela gadis itu. Kau sangat berubah semenjak mengenalnya bahkan kepada nenek mu sendiri kau lebih memihak nya. Nenek benar-benar tidak percaya ini Aslan. Nenek kecewa padamu!"
Parwita segera mengambil tas nya, kecewa dengan sikap sang cucu ia lantas pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi tak peduli jika sebelumnya ia begitu khawatir dengan kondisi Aslan.
...--------Oo-------- ...
Aslan berdecak dengan sikap neneknya yang menurutnya kekanak-kanakan, ia merasa sangat tak enak dengan keluar Rajendra saat ini.
"Tante Renata, Kirana, Shaka, tolong maafkan sikap nenek ku. Beliau telah salah mengira semua kejadian yang menimpaku ini karena Kirana. Sejak dulu nenekku sedang dalam emosi yang terkadang tidak stabil, mohon maafkan semua kekacauan ini."
Shaka menggeleng pelan,i ia mencoba berdamai meski kejadian tadi membuatnya kesal apalagi Kirana yang menjadi korban karena kejadian ini.
"Tidak apa-apa tapi ku sarankan agar anda cepat memberitahukan semuanya kepada nenek anda,atau takutnya ada kesalahpahaman yang lebih besar di antara kalian," ujar Shaka memberikan usulan. Aslan pun mengangguk menyutujuinya.
"Ck, saya memaafkan meski tadi nenek mu benar-benar sudah keterlaluan," ujar Renata sambil mencebik masih kesal dengan kejadian tadi.
"Jika bukan karena kau juga berjasa dalam masalah yang terjadi di mansion, aku tidak akan baik-baik seperti ini pada mu, nak Aslan." imbuh Renata lagi.
"Dan juga wajar saja nenek mu kesal, sikap mu yang terlalu baik kepada Kirana bisa sangat mencurigakan dan kalian terlihat begitu dekat, apalagi Kirana adalah wanita yang telah bersuami. Sebaiknya kau segera jelaskan kelas nenek mu agar nama Rajendra juga tidak ikut tercoreng karena masalah ini," pungkas Renata kembali. Tak bisa di pungkiri meski setelah semua yang terjadi ia masih menyimpan sedikit kekesalan untuk Kirana meski jelas-jelas Kirana tidak bersalah dalam masalah ini, namun sepertinya sisa-sisa hasutan Matilda dan Fiona masih ada di dalam hatinya.
"Ayo Olivia bantu tanya untuk membaringkan Oma di kamarnya," ajak Renata kemudian kepada Olivia tanpa memikirkan perasaan Kirana yang sedih karena ucapannya itu.
Tak lama kemudian Shaka pun ijin pamit sebentar untuk membantu sang ibu, kini tinggallah Aslan dan Kirana.
"Maafkan aku Kirana, maaf untuk kejadian tadi," ucap Aslan sekali lagi merasa belum mendapatkan permintaan maaf Kirana.
Kirana mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca. "Benar apa yang di katakan mereka, pak Aslan tolong sebaiknya anda jelaskan dengan alasan kuat kenapa anda begitu baik kepada saya padahal kita tidak begitu dekat sama sekali."
Aslan membuka mulut hendak mengucapkan alasannya lagi namun ia terbata-bata karena Kirana ternyata mengira hal yang sama meski ia sudah berulang kali menjelaskan alasannya.
"Apakah tidak boleh berbuat baik kepada orang lain Kirana?" tanya Aslan, merasa belum mendapatkan kepercayaan dari wanita itu padahal ia mengira mereka adalah teman.
"Tapi sikap mu ini menimbulkan kecurigaan orang-orang terhadap kita pak Aslan?!" terang Kirana, apalagi ia sempat melihat raut wajah Shaka yang tak mengenakkan, pastinya Shaka juga jadi berfikir hal yang sama setelah mendengar penuturan Renata.
"Apa kau menyukai ku pak Aslan?" tanya Kirana to the point tak ingin kesalahpahaman ini semakin melebar.
"Apa?" Aslan terkejut dengan pertanyaan itu. "Apa kau juga percaya dengan tuduhan nenek ku?"
"Orang asing yang terlalu baik terkadang ada maunya pak Aslan. Sekarang lihat kan hubungan mu dan nenek mu menjadi renggang karena aku. Jika alasan mu baik selama ini karena kau menyimpan perasaan padaku, sebaiknya jangan pak Aslan. Karena aku tidak akan mungkin membalasnya!" ujar Kirana dengan penekanan lalu pergi meninggalkan Aslan yang masih melongo tak percaya.
"Padahal itu karena aku melihat mu seperti Chiara, adikku Kirana ... " batin Aslan menyayangkan sikap Kirana.
To be continued .....
__ADS_1