
...💞 Happy reading 💞...
Cakrawala tampak menggelap hari ini, segelap sorot mata Sari saat menceritakan apa yang sebenarnya lima belas tahun yang lalu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan ancaman pak Pangestu yang selama ini menekannya untuk membungkam mulut. Sari pun merasa tidak berdaya dan hari ini cukup sudah keluarga Mavendra menutup segala bangkai mereka.
"Lima belas tahun yang lalu, pak Pangestu dan buk Parwita datang ke panti asuhan ini Aslan," ucap Sari membuka cerita yang akan panjang ini.
Flashback on*
Sari merasa sangat senang dengan kehadiran Aslan juga Chiara di panti asuhan yang ia urus ini, anak-anak yang sebelumnya ia asuh pun menyambut baik kedatangan Aslan dan Chiara menjadi bagian keluarga besar mereka.
"Anak-anak, selalu kompak dan saling membantu ya, bunda tidak mau di antara kalian ada yang ribut. Ingat, kalian di sini semua adalah anak-anak bunda, tidak ada yang bunda beda-beda kan, oke?"
Anak-anak yang Sari adopsi dan ia sayangi seperti darah yang nya sendiri, mengangguk serempak. "Baik bunda!" seru mereka serempak dan kompak membuat Sari melengkungkan bibirnya merasa bangga dan terharu.
Awalnya semua berjalan lancar sesuai dengan harapan Sari selama ini, namun tiba-tiba saja Badau datang di kehidupan mereka yang tenang ketika hari itu sebuah mobil mewah bertandang ke panti asuhan mereka. Sari berfikir itu adalah mobil seorang donatur malaikat di dalam tubuh manusia utusan Tuhan untuk membantunya meringankan biaya kehidupan anak-anak panti, tapi ternyata Sari salah besar bukan donatur berhati malaikat yang ia harapkan namun justru malaikat maut yang menjadi momok menakutkan untuknya.
Plakk! Sari tersungkur ke tanah setelah mendapatkan gamparan yang begitu keras di rahangnya yang di lakukan oleh seorang laki-laki berusia matang yang berdiri angkuh di depannya saat ini.
"Berani-beraninya kau menyembunyikan cukup di tempat kumuh seperti ini?!" Pangestu mavendra menatap tajam bersama istrinya Parwita mavendra yang saat ini menatap benci ke arah Sari, seringai muncul di wajah yang terlihat anggun itu saat melihat Sari yang kesakitan akibat gamparan keras dari suaminya.
"Sekarang katakan di mana cucuku, Aslan?!" Pangestu menghardik berang, menekan wanita ringkih itu agar mengatakan yang sejujur- jujurnya.
"Apa anda hanya akan mencari Aslan saja, pak Pangestu?" Sari menatap nyalak, ia yang semula takut kini memiliki keberanian yang besar untuk melindungi anak-anak sahabatnya yang sudah ia anggap seperti keponakannya.
Sari bukannya tidak tahu bagaimana menderitanya Rasti-- sahabatnya selama menjadi menantu keluarga Mavendra, keluarga kolongmerat terpandang yang ternyata memiliki pemahaman patriarki yang begitu menyeramkan. Bisa di lihat oleh Sari sendiri bagaimana sahabat nya itu terkekang di keluarga suaminya yang selalu menuntut nya untuk menjadi istri penurut dan diam meski suaminya telah berselingkuh oleh wanita lain.
Tidak! tidak akan pernah Sari biarkan Aslan dan Chiara jatuh di tangan orang yang salah apalagi pak Pangestu yang sudah menjadi rahasia umum bagaimana kerasnya sikap lelaki itu dan egoisnya dia, juga Parwita yang sifatnya sebelas dua belas dengan suaminya.
Pangestu berdecih mendengar pernyataan Sari. "Untuk apa anak yang satunya jika dia tidak berguna. Yang ku butuhkan adalah Aslan,cucu pertama ku, anak laki-laki yang akan menjadi penerus ku," ujar pria itu dengan congkaknya.
"Kenapa? bukankah keluarga kalian meragukan jika Aslan adalah anak kandung Baskoro, hingga menghasut nya untuk membenci Rasti dan menuduh yang tidak-tidak padanya."
Kini giliran Parwita yang angkat bicara. "Awalnya kami memang meragukan jika Aslan bukan darah daging Baskoro namun setelah kami melakukan tes DNA,kami yakin seratus persen jika Aslan adalah penerus Baskoro untuk keluarga kami."
Sari berdecih. "Baru dengan seperti itu kalian percaya? di mana kalian saat Rasti harus menanggung tuduhan kejjji kalian hingga akhirnya ia harus berpisah dengan suaminya?"
"Cuih, peresettan!" Pangestu membuang ludah sengaja meremehkan. "Kami bahkan tidak peduli dan justru senang karena kini wanita itu telah tiada! karena dia adalah pembawa siaaal untuk Baskoro dan keluarga Mavendra!" ucapnya bersungut-sungut bahkan Pangestu tak sudi memanggil Rasti dengan nama perempuan itu.
"Biaddab kalian!" Rasti membentak berang, tak ia pedulikan lagi jika dua orang di hadapannya ini berumur lebih tua daripada dirinya, Rasti dengan penuh amarah mendorong kedua orang tersebut untuk menuju ke pintu.
"Lebih baik kalian pergi saja, ingat ini sampai kapan pun aku tidak pernah menyerahkan Aslan ataupun Chiara ke tangan kalian berdua!" ujarnya berang sambil memberikan jari telunjuknya ke arah Pangestu dan Parwita.
__ADS_1
Namun justeru yang Sari dapatkan adalah seringai kejji yang tersirat di wajah Pangestu. "Boddoh kamu. Apa kau tidak tahu dengan siapa kau mencari masalah? saya Pangestu mavendra bisa membuat hidup mu hancur dengan hanya satu jentikkan jari."
Mendadak firasat Sari menjadi tak enak. Dan benar saja raut wajahnya yang semula menunjukkan keberanian dengan cepat berubah panik saat berduyun-duyun para pria dengan seragam hitam dan kacamata gelap datang merengsek masuk ke dalam panti asuhan nya.
Mereka semua membentuk lingkaran ada juga yang berdiri dengan senjata api yang menghunus ke arahnya membuat Sari lemas seketika. Kini setiap sudut ruangan juga luar halaman di penuhi oleh para lelaki misterius dengan senjata di masing-masing di tangan mereka, Sari tidak bisa menghitung dengan pasti namun bisa ia lihat jumlah mereka begitu banyak.
Panti asuhan nya telah di kepung!
"Apa yang coba anda lakukan, tuan Pangestu mavendra?!" teriak Sari, emosi, khawatir kini menjadi satu dalam benaknya.
Sementara Pangestu masih bisa bersikap tenang. "Mereka semua adalah anak buah saya," ucapnya memberi tahu. "Mereka di latih dengan keras juga telah di ajarkan untuk mematuhi perintah saya dan tidak akan segan-segan kepada siapa pun termasuk ..... anak kecil." Pangestu menyeringai membuat Sari merasa ada yang tak beres.
"Bunda tolong! tolong kami?!"
Sari menoleh, wajahnya berubah pias saat melihat semua anak-anak asuhnya tengah di giring ke arahnya di kawal oleh banyaknya pria misterius yang kini menodong kan senjata api ke arah mereka.
"Bajjingan!" umpat Sari, menatap Pangestu dengan amarah berkali-kali lipat. "Lepaskan mereka tuan Pangestu! mereka masih anak-anak polos, apa yang coba lakukan pada mereka?!'
"Aku hanya ingin memberikan pengertian padamu, andai kau menurut aku tidak akan sampai melakukan ini," ucap Pangestu lantas duduk di sofa hijau yang ada di ruang tamu yang tak terlalu luas itu.
"Lihat itu,anak buah ku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan salah satu di antara mereka," ujar Pangestu seolah tak pernah main-main dengan segala ucapan dan tindakannya.
Sari berusaha memberontak sekuat yang ia bisa namun tenaganya yang biasa saja bahkan sangat kecil di bandingkan para pria berbadan besar itu membuatnya justru terasa sia-sia.
Pangestu tersenyum miring sambil mengangkat salah satu kaki ke atas kaki lainnya sementara tingkat yang selalu ia bawa di letakkan nya di samping kursi, kini pria itu terlihat seolah seperti penguasa yang kejjam.
"Saya peringatkan sekali lagi, akan ku berikan kau satu kesempatan. Mulai besok pagi, bawa Chiara pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Aslan, dan sampai siang nanti saat saya datang kembali untuk menjemput Aslan tapi anak perempuan itu masih ada di sampingnya maka kau akan menerima akibatnya," tukas Pangestu seakan tak main-main dengan ancamannya. "Bukan hanya kau saja, tapi juga panti asuhan ini dan anak-anak di dalamnya akan menerima konsekuensi jika kau tidak menuruti perintah ini."
Mata Sari melotot tajam, ia mengepalkan kedua tangannya geram,namun tidak ada bisa yang ia lakukan, ia tak berdaya tak memiliki kuasa apapun untuk melawan ancaman Pangestu yang terkenal berdarah dingin.
Keesokan harinya, Sari menangis tersedu sedan memikirkan nasib Aslan dan Chiara, tentu ia sama sekali tak akan rela Aslan ataupun Chiara berpisah satu sama lain, ia ingin melakukan apa saja asal kedua anak malang tanpa dosa itu tak sampai harus menanggung kekejaman kakek yang ingin memisahkan mereka. Namun sampai detik ini keadaan di luar sangat lah tak aman,ia tahu meski diam-diam Pangestu mengirimkan anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar panti asuhan membuatnya sama sekali tak bisa berkutik ataupun mencoba kabur dari sini sementara ada puluhan nyawa anak-anak yang kini tengah terancam keamanan nya, Sari merasa sangat frustasi dan tak berdaya.
Sari tak sengaja melihat Aslan dan Chiara di luar jendela, bocah laki-laki itu tengah menuntun adiknya untuk bermain di sebuah taman yang di khususkan untuk anak-anak bermain.
Sekilas di otaknya terbersit sebuah rencana. Ia baru ingat beberapa Minggu kemarin sepasang suami-istri datang kemari berniat untuk mengadopsi seorang anak dari panti ini.
Sari tak punya pilihan lain, ia sama sekali tak ingin Chiara ataupun Aslan tersakiti meski harus memisahkan mereka setidaknya keduanya akan aman meski harus berjauhan.
Sari melihat Chiara sendiri di taman, anak perempuan polos itu bilang sedang menunggu kakaknya sambil bermain. Sari terenyuh sempat goyah dengan rencananya namun akhirnya ia tak punya pilihan lain lalu mengajak Chiara pergi dari sana membiarkan Aslan yang kelimpungan mencari Chiara yang mendadak hilang.
Sementara Sari akhirnya menitipkan Chiara pada sepasang suami-istri yang ingin mengadopsi anak dari panti asuhan nya.
__ADS_1
"Tolong jaga dia, dia sebatang kara sayangi anak ini dan lindungi dia," pinta Sari pada sepasang suami-istri itu sambil mengusap pipi Chiara dengan air mata yang mengalir deras sementara Chiara hanya menatap polos karena kebingungan.
"Pasti. Mulai sekarang anak ini adalah anak kami."
Flashback off*
Awan yang semula kelabu kini sudah mulai menjatuhkan titik-titik air hujan yang semakin deras. Sari menatap ke luar jendela bersamaan dengan rintik-rintik hujan yang mulai turun begitupula air matanya yang kini semakin deras. Rasa sesak seolah memaksa nya untuk mengingat kembali masa-masa kelam itu.
Aslan memandang linglung seolah tak percaya. "Jadi semua ini adalah ulah kakek? beliau dalang di balik perpisahan ku dengan Chiara, adikku?"
Sari berbalik menatap Aslan dengan perasaan bersalah. "Ini memang pedih tapi itulah kenyataannya. Kakek dan nenek mu tidak sebaik yang kau kira, mereka hanya ingin membawa mu dan sama sekali tak perduli dengan Chiara. Mereka berfikir Chiara adalah alasan Baskoro tiada karena saat kecelakaan Baskoro bersama istri barunya itu Chiara di ajak serta dan hanya Chiara yang selamat dalam kecelakaan parah itu."
Terlalu banyak kejutan sampai Aslan tak bisa mencerna semua ini dengan baik, ia sama sekali tak pernah menyangka orang tersayang nya lah yang ternyata penyebab di balik semua ini.
"Sekarang di mana Chiara, bunda? katakan padaku di mana rumah orang tua angkatnya dan bagaimana keadaan adikku itu?" Aslan memberondong pertanyaan, berharap ia bisa menemukan adiknya secepatnya.
Namun Sari hanya bisa menggeleng sendu. "Maafkan bunda nak, setelah Chiara di bawah pergi oleh kedua orang tua angkatnya, mereka memang masih mengirim kabar namun beberapa bulan setelah itu tak ada kabar lagi tentang mereka, yang bunda dapatkan justeru kabar jika keluarga mereka telah pindah ke luar kota, membawa Chiara ikut serta."
Lutut Aslan terasa lemas setelah mendengar nya, wajahnya pias merasa tak ada harapan lagi setelah itu.
"Maafkan bunda nak, maafkan kecerobohan ku karna telah mengambil tindakan itu tapi bunda sama sekali tak berdaya saat itu nak, hanya itu satu-satunya cara agar kalian bisa tetap hidup."
Aslan menggeleng lemah, ia merasa sangat terpuruk setelah semua perjuangan nya selama ini ternyata semua nya sia-sia saja, kemungkinan untuk bertemu Chiara semakin kecil bahkan tak ada sama sekali, ia tidak tahu di luar sana adiknya masih hidup atau tidak.
"Tapi bunda masih menyimpan ini," seru Sari mengambil sebuah kotak kayu lantas membukanya, dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sebuah sapu tangan, Aslan mengerutkan dahi.
"Sebelum kalian berpisah bunda telah menyiapkan sapu tangan sepasang untuk kalian, berharap jika takdir berkata lain, kalian bisa bertemu lagi lewat sapu tangan ini." Sari tersenyum getir mengingat memori menyakitkan itu.
"Sapu tangan ini bunda buat sepasang satu untuk mu dan satu untuk Chiara, bunda merajut nya sendiri dengan penuh perasaan bersalah saat itu berharap kalian bisa memaafkan bunda jika bisa bertemu kembali."
Aslan mendengarkan penjelasan Sari namun otaknya kini tengah menerka-nerka karena merasa pernah melihat sapu tangan seperti ini, sama persis. Tapi di mana?
"Bunda membuat sapu tangan Chiara dengan gambar bunga anggrek sementara kau dengan gambar bunga sepatu. Sebelum Chiara pergi bunda sudah menitipkan sapu tangan kepada orang tua angkatnya berharap Chiara selalu menyimpan nya namun kepada mu bunda tidak pernah bisa memberikannya karena orang suruhan pak Pangestu yang selalu mengawasi gerak-gerik bunda meski sekarang kau sudah berada di tangannya."
Kemudian Sari memberikan sapu tangan itu kepada pemiliknya yang selama ini selalu ia sembunyikan. "Sekarang bunda berikan sapu tangan ini kepada mu. Mungkin bunda sangat lah terlambat namun bunda percaya keajaiban Tuhan itu ada."
Perkataan terakhir Sari membuat Aslan mengangkat wajah, menatap wanita itu.
Aslan mengenggam erat sapu tangan bermotif bunga sepatu yang kini berada di tangannya. Bisakah ia menemukan Chiara dengan petunjuk sapu tangan ini?
To be continued ...
__ADS_1