
...💞 Happy reading 💞...
Angin berhembus kencang menembus tirai- tirai kaca jendela, tepat di sana Kirana duduk mengenaskan, ia berusaha menelan kasar saliva dengan lidah mendadak kelu, menatap nanar pria di hadapannya yang kini menodongkan moncong pistol tepat di keningnya.
"Kau tahu, pertama aku tidak suka kebohongan dan yang kedua aku sangat benci yang namanya penghianatan dan kau melakukan keduanya, haruskah aku membunvhmu di sini hah?!" Shaka berteriak keras,tak tahu lagi harus bagaimana mengekpresikan rasa sakit dan kecewanya.
"Jika kamu memang tidak percaya padaku ... " Kirana tersendat-sendat saat berucap. "Maka lakukanlah apa yang kamu inginkan, agar kau merasa puas ... " dengan tangan nya sendiri Kirana mendekat kan pistol yang di pegang Shaka ke arah kepalanya.
"Lakukan lah, jika membunvh ku bisa menghilangkan amarah mu, aku rela ... lagipula karena mu aku hidup kan?" Kirana tersenyum getir matanya berkaca-kaca lekas ia mengusap air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Melihatnya Shaka tak sampai tega namun rasa kecewa dan amarahnya yang mendominasi membuat akal sehatnya seolah beku, ia hendak menarik pelatuk pistol jika saja Liam yang gegas menerobos masuk dengan menendang pintu hingga terbuka tak ada yang bisa menghentikannya untuk melenyapkan nyawa Kirana saat itu juga.
"Tuan muda, sadarlah!" Liam memekik kencang, ia segera berlari lalu menghadang Shaka untuk melakukan tindakan nya. Para anggota keluarga lain segera menghampiri begitu Liam membuka kan pintu.
"Lepaskan aku! lepas!" Shaka membentak, berusaha berontak saat Liam mencoba mengunci pergerakannya.
"Tuan muda, anda sedang dalam kondisi mabuk, saya mohon jangan melakukan tindakan yang nantinya akan anda sesali!" pinta Liam dengan intonasi keras.
Oma Helen dan bunda Renata gegas menghampiri ke arah Kirana lalu membantunya untuk berdiri. Mereka menatap sendu penuh prihatin saat melihat luka di kening gadis itu.
"Arggghh brengsekk! bawa pergi wanita itu, aku tak ingin melihatnya!" jerit kesakitan yang ada di dalam hati Shaka.
"Usir dia, cepat!" teriaknya lagi, membanting apa saja yang ada di hadapannya sehingga membuat Liam kewalahan untuk menenangkan emosi sang tuan muda.
"Ayo nak kita keluar dari sini," titah Oma Helen segera menarik lengan Kirana.
Kirana memandang sedih ke arah Shaka, ia terpaksa harus mengikuti langkah Helen yang menariknya, lantas mengusap air matanya yang terus deras terjun seperti air sungai.
...---------Oo-------...
Helen dan Renata membawa Kirana duduk di kursi lalu memberikan nya air agar membuatnya tenang.
"Luka di kening mu harus di rawat nak," ucap bunda Renata, Kirana sampai tak engeh hingga akhirnya baru menyadari saat mengusap darah yang telah kering di luka keningnya.
"Aku tak apa bunda, ini akan sembuh dengan sendirinya, tapi mas Shaka ... dia terlihat mengamuk aku khawatir."
Renata menghela nafas berat lantas mengusap punggung Kirana. "Kamu tak usah khawatir, sejak dulu Shaka memang tak bisa mengendalikan emosi nya namun ada Liam yang akan selalu berada di sisinya dan mengingatkannya."
__ADS_1
Wajah Kirana redup penuh kesedihan, oma Helen menenangkan nya membawa gadis itu ke dalam pelukan, lalu setelah di rasa lebih tenang Kirana mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Di saat itu pecahlah tangis nya tanpa tertahankan, Helen dan Renata dengan penuh pengertian berada di samping Kirana mendengar semua detail akar dari masalah yang terjadi ini.
"Jika tujuan kamu bertemu dengan pria bernama Arya itu memang untuk keluarga mu, kenapa kamu berbohong kepada Shaka, nak?" tanya Helen dengan baik-baik setelah meringkas semua cerita Kirana.
"Karena aku tidak punya pilihan lain oma, aku takut jika mas Shaka tidak akan mengijinkan ku jika aku mengatakan tujuan yang sebenarnya." terang Kirana.
Helen geleng-geleng kepala. "Kamu tahu tindakan yang kamu lakukan itu justru menjadi boomerang untuk dirimu sendiri. Sejak dulu Shaka memang paling anti dengan kebohongan, penghianatan dan sebagainya, seharusnya sebagai isteri kamu tahu tabiat suami mu," tutur Helen agak sedikit kecewa juga dengan sikap sang menantu juga kasihan terhadapnya.
"Yang di katakan oma benar sekali Kirana," sahut Renata. "Jadikan lah ini sebuah pelajaran untuk mu dan meminta maaf lah dengan tulus kepada suami mu."
Kirana menatap sendu ibu mertua nya, lalu mengangguk.
***
Liam keluar dari kamar Shaka, begitu pintu di tutup di hadapannya langsung tiba Robby, salah satu anak buah setia yang Shaka miliki.
"Di mana tuan muda, Liam?"
"Ada apa kau mencarinya?" tanya Liam dengan ekspresi mencurigai. "Apa ada hal penting?"
"Perintah apa?"
"Beberapa saat lalu tuan muda memerintahkan ku untuk membuntuti ke mana istrinya pergi, dan aku hendak mengabarkan info yang ku dapat namun ponselnya sama sekali tak bisa di hubungi."
Liam mengerutkan alis kaget, otaknya bekerja keras berusaha menyambung benang kusut masalah yang terjadi saat ini.
"Kau di perintahkan untuk membuntuti nona muda dan baru akan melaporkan nya? jadi kau sama sekali belum memberi laporan mu tentang ke mana saja nona muda seharian ini?"
"Ya, aku baru saja datang, memangnya ada apa? sepertinya telah terjadi sesuatu?" tanya Robby penasaran.
Ekspresi Liam berubah kaget seperti melihat hantu membuat Robby semakin di landa rasa kepo.
"Memangnya apa yang terjadi, Liam?"
Pria itu geleng-geleng kepala. "Jika bukan kau lalu siapa yang memberitahukan pada tuan muda?" mereka melongo berfikir keras.
__ADS_1
Sementara itu, di kamar mewah Fiona, wanita itu tertawa terbahak-bahak bersama Olivia seakan penuh kemenangan. Niat awal mereka berdua ke pusat perbelanjaan untuk refreshing guna memikirkan cara untuk menyingkirkan Kirana justeru malah berbuah manis.
"Tidak sia-sia kita mengunjungi mall itu, orang yang ingin kita singkirkan malah datang sendiri dengan masalah nya," ucap Fiona dengan bertepuk tangan.
"Kak Fiona benar, kita tidak harus capek-capek memikirkan rencana untuk menghempaskan Kirana saat wanita itu sendiri datang membawa masalah nya."
Mereka berdua lah yang menemukan Kirana pertama kali bersama seorang pria di cafe tak jauh dari mall yang hendak mereka kunjungi, tak menyia-nyiakan kesempatan Fiona langsung merekam Kirana dengan pria asing itu juga mengambil banyak foto-foto keduanya hingga masuk ke dalam mobil pria asing itu, lantas menunjukkan nya pada Shaka dengan memberi sedikit tambahan kata-kata yang menyudutkan Kirana agar Shaka membenci istrinya itu.
"Sekarang kita nikmati drama yang terjadi ini, haha aku sangat menyukainya." Fiona tertawa penuh kemenangan.
Liam berjalan terburu-buru setelah menemukan benang masalah dari semua yang terjadi ini, di anak tangga ia bertemu dengan Kirana bersama wajah sembabnya.
Kebetulan, gumam Liam lalu pria itu segera menghampiri wanita yang hendak menuju ke arah yang sama.
"Young lady!" Liam datang dengan ngos-ngosan.
"Asisten Liam," seru Kirana terkejut dengan kehadiran pria itu.
"Saya ingin bertanya, dengan siapa anda pergi hingga membuat tuan muda sangat marah?" tanya Liam setelah beberapa saat mengambil nafas.
Kirana bergeming sejenak lalu berucap pelan. "Dengan ka Arya ... "
"Arya?" alis Liam mengernyit.
"Iya dia teman ku saat di kampung Liam, dan sekarang dia adalah ipar ku, kami sengaja bertemu karena ingin membicarakan soal keluarga ku Liam yang katanya berantakan karna ... "
"Astaga, jadi nona muda sudah mengetahui nya." batin Liam yang tak menduga.
"Young lady, apa anda mengira hancur nya keluarga anda itu tersebab karna tuan muda?"
"B- bagaimana kamu tahu, Liam." mata Kirana membulat kaget.
"Sudah ku duga ... " lirih Liam berucap.
"Sebenarnya ada apa Liam? apa yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Kirana dengan tidak sabar nya.
"Nona muda sekarang kita harus menemui pria yang bernama Arya itu dan menyelesaikan semua permasalahan ini!"
__ADS_1
To be continued ....