Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 74


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Sebab hidup terlalu singkat, sayangi orang-orang terdekat mu karena kita tidak tahu kapan mereka akan di panggil oleh yang maha kuasa.


Shaka dan Kirana memutuskan untuk berziarah esok harinya ketika Shaka memiliki waktu senggang di antara jam kerjanya yang padat. Keduanya kompak memakai baju serba hitam, Shaka dengan kacamata gelap bertengger di hidung nya, setidaknya itu bisa menutupi kedua matanya yang kini sudah Semerah darah, Kirana hanya tidak tahu setelah obrolan mereka kemarin, Shaka menangis tersedu-sedu mengingat tentang ayahnya membuat pria itu di rundung rasa penyesalan yang sangat besar, Shaka terisak dalam kegelapan malam dan kini seperti kata Kirana, ia ingin memperbaiki apa yang bisa ia perbaiki, tindakan yang seharusnya ia lakukan sejak dulu namun Shaka baru memiliki keberanian saat ini.


Kirana menoleh, perempuan itu memakai dress panjang dengan kerudung yang berwarna senada, wajah Kirana juga sudah sangat sembab, matanya melirik ke arah Shaka yang kini hanya bergeming saja. Ia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan pria itu namun yang jelas Kirana sangat tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang kita sayang apalagi orang tua yang semasa hidupnya belum sempat kita bahagiakan.


"Mas ... " Kirana menyentuh punggung tangan Shaka yang sontak membuat laki-laki itu langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu gak apa-apa?" Kirana merasa khawatir, setengah jam sudah mereka di sini namun Shaka masih belum mengatakan apapun. "Jika kamu belum siap,aku bisa mengerti itu."


Shaka gegas menggeleng,sebelah tangannya ia letakkan di atas tangan Kirana yang lebih kecil darinya. "Aku baik-baik saja, tolong tetap di sini."


Kirana tersenyum. "Apa kalian membutuhkan waktu bicara berdua? biar aku menepi dulu ... " ujarnya dengan senyum yang begitu tulus.


Seperti disirami air di tengah gurun, Shaka yang semula merasa tegang mulai sedikit rileks karena Kirana yang menenangkan nya, namun pria itu menelengkan kepala, isyarat meminta Kirana untuk tidak kemana-mana.


Namun sekali lagi Kirana memberikan pengertiannya kepada suaminya itu. "Tidak apa-apa mas, terkadang adakalanya kita membutuhkan waktu luang hanya berdua saja untuk membicarakan sesuatu, ingatlah satu hal ini, meski ayah telah tiada namun beliau masih tetap hidup di sini," ucap Kirana sambil sebelah telapak tangannya ia taruh di dada kiri Shaka.


"Dia akan selalu mendengarkan apapun yang kau katakan," lanjutnya kemudian dengan lengkungan bibir yang semakin lebar.


Shaka mengerti pada akhirnya ia tersenyum mengangguk. Kirana pun berdiri menepi sejenak untuk memberi ruang bagi Shaka untuk bisa mencurahkan segala isi hatinya kepada almarhum ayahnya.


Setelah kepergian Kirana, kini hanya Shaka yang duduk di samping pusara ayahnya, setelah sebelumnya ia dan Kirana sudah membersihkan makam dan menaburi bunga baru tak lupa mengirimkan doa paling tulus untuk ketenangan almarhum di atas sana.


Shaka berdeham singkat, demi mengusir rasa sesak yang kini menggumpal di dadanya membuat kerongkongannya terasa tersumbat hingga kata-kata yang akan ia ucapkan terasa begitu menyakitkan untuk di ucapkan. Namun bagaimanapun Shaka tidak boleh lari lagi.


"Halo pah ... ini Shaka," ujar pria itu dengan sedikit terbata-bata membayangkan seolah ayahnya ada di depannya saat ini dan mereka sedang mengobrol bersama.


"Maaf, aku baru bisa menjenguk papa. Maaf pah, aku memang pengecut, belasan tahun aku selalu menghindar karena terlalu malu berdiri di depan mu. Tapi sekarang aku ada di sini pah, putra mu ada di hadapan mu sekarang ... "


"Pah, tolong maafkan segala kesalahan Shaka. Meskipun aku tahu kesalahan ku tidak dapat termaafkan, tapi aku mohon maafkan aku." Shaka menggigit bibir kuat-kuat menahan agar isakan nya tak sampai pecah namun air matanya sudah deras membasahi pipi.


"Maafkan aku karena belum becus menjadi putra mu, maafkan aku yang selalu membangkang dan melawan padamu, maafkan aku yang belum bisa menjadi penerus mu ... maaf."


Shaka mengenggam kuat batu nisan sang ayah, dia menunduk dengan mengusap sudut matanya. "Hanya itu yang bisa ku katakan pah. Papa bilang lelaki itu pantang untuk menangis. Namun aku tidak menyetujui nya pah, ada seorang gadis yang datang dalam kehidupan ku dan mengajarkan apa itu kehidupan, dia memberikan ku cinta juga semangat hidup. Dia mengatakan untuk tidak apa-apa seorang pria menangis karena pria juga mahluk hidup yang memiliki perasaan."


Kirana berdiri di samping pohon besar dekat pemakaman, wanita itu ikut meneteskan air mata, dengan gegas ia mengusapkan menggunakan jari telunjuk. Kirana kemudian melangkah dengan perlahan menuju Shaka yang saat ini ia yakinkan sedang tergugu dalam tangis di samping makam ayahnya.


"Mas ... " Kirana menepuk pundak sang suami, pelan. Shaka menoleh, seulas senyum tulus terbit di wajah tampan itu.


Shaka mengambil tangan Kirana di pundaknya, melingkupinya dengan tangannya yang lebih besar lantas mengusapnya dengan sayang.


"Pah, dia adalah Kirana, istriku," kata Shaka dengan suara serak seolah sedang memperkenalkan Kirana yang statusnya adalah istrinya di depan makam sang ayah.


"Dia lah bintang di dalam hidup ku pah, karenanya aku memiliki tujuan hidup sekarang."


Kirana di selimuti rasa haru, dadanya ikut merasa sesak, "mas ... "


Shaka menghela nafas sejenak, memandang ke atas di mana hamparan langit biru terlihat indah. "Pah, jika ada waktu aku akan kesini lagi bersama putra kecil kami," ujarnya dengan mengusap perut Kirana. "cucumu," imbuhnya kemudian.

__ADS_1


...--------Oo--------...


"Apa kamu merasa lega sekarang?" tanya Kirana pada Shaka di dalam mobil yang kini melaju meninggalkan pemakaman, setelah hampir dua jam mengobrol di makam sang ayah dan mencurahkan segala isi hatinya yang selama ini hanya bisa ia pendam, Shaka merasa dadanya terasa ringan, tak pernah ia merasa selega ini.


"Tapi ... sepertinya masih ada sedikit kejanggalan dalam hatiku, sayang," ucap Shaka kepada Kirana.


"Apa itu?" tanya Kirana dengan penuh pengertian nya.


"Aku ingin meminta maaf kepada setiap orang yang pernah ataupun tidak ku sengaja sakiti," kata Shaka menoleh pada perempuan cantik di sampingnya saat ini.


Matanya menatap lekat membuat Kirana yang di tatap mendadak salah tingkah.


"Di mulai dari dirimu," ujar Shaka lagi dengan air muka yang berubah keruh kedua mata pria itu berubah kelam, cahaya redup yang ada hanya tatapan penyesalan yang kini memenuhi kedua matanya.


Kirana nampak gugup, Shaka menarik kedua tangan wanita itu menekannya perlahan dalam rengkuhan.


"Kirana ... maafkan aku. Mungkin maaf saja tidak cukup untuk mu, aku terlalu brengsekk sepatutnya wanita baik dan lembut seperti mu tidak sepatutnya ada di samping ku. Tapi ... aku mencintaimu Kirana, sangat. Sangat mencintai mu."


Kirana terkejut, ia bisa melihat penyesalan dan permohonan maaf Shaka di kedua matanya yang menatap sendu dan tulus.


"Apa kau mau memaafkan ku?" tanya Shaka dengan suara lembutnya.


Kirana tersenyum. "Jika aku tidak memaafkan mu mana mungkin saat ini aku ada di samping mu."


Raut wajah Shaka mengendur lalu bibir pria itu tersenyum lebar ia kemudian membawa Kirana dalam dekapannya mengusap pucuk kepala wanita itu.


"Terimakasih, aku pasti akan selalu membahagiakan mu."


"Sekarang, bisakah kamu menemani ku untuk meminta maaf dengan yang lain?"


Kirana menengadah, menatap wajah Shaka lalu menganggukkan kepalanya.


***


Shaka dan Kirana kembali ke mansion, yang pertama Shaka temui adalah ibunya dan juga Omanya yang saat ini ada di taman belakang sedang menikmati keindahan senja sore hari.


"Bunda ... " Shaka memanggil pelan membuat wanita bersanggul rapi itu sontak menoleh, Renata sedang meminum teh sambil berbincang dengan Helen, meski hanya Renata yang berbicara karena Helen yang terserang stroke tidak bisa menggerakkan bibirnya untuk di gerakan dan hanya mendengarkan menantunya itu berbicara.


"Ada apa nak?" tanya Renata dengan raut bingung. wajah Shaka yang sudah berubah kelam dan sendu seketika saja langsung menekuk lututnya dan menaruh kepalanya di atas pangkuan sang bunda.


"Maafkan aku Bun ... maafkan putra mu ini yang telah menyakiti mu selama ini."


Renata sontak melongo, hanya bisa terperangah namun hanya beberapa saat sebelum akhirnya Renata mengusap kepala Shaka.


"Kenapa tiba-tiba saja kamu seperti ini?" Renata terkekeh untuk sekedar mencairkan suasana namun tak bisa di bohongi matanya kini sudah di penuhi selaput bening.


Shaka mendongak mata pria itu sudah memerah menatap nanar. "Aku ingin meminta maaf kepada setiap orang yang kau sakiti bunda, aku ingin menata hidup baru dengan hati yang lapang."


Renata mengerti, wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu tersenyum. "Bunda sudah memaafkan mu nak, jauh lama sekali sebelum ini. Sekda ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak nya."


Shaka mengesah pelan merasa dadanya kini berangsur-angsur ringan, seperti bongkahan batu besar yang selama ini menghimpit dadanya di angkat pelan-pelan. Shaka mengambil tangan sang ibu yang mulai keriput dan mengusapnya perlahan.

__ADS_1


"Aku memang belum bisa menjadi anak yang berbakti Bun, tapi aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu membahagiakan mu."


Renata tersenyum sendu. "Seorang ibu, melihat anak-anaknya tersenyum saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar untuknya. Selama ini kamu sudah melalui banyak cobaan yang berat nak, bunda, berdoa semoga bahagia selalu menyertai mu."


Shaka menganggukkan kepalanya, ia kemudian berdiri mengusap sudut netranya lalu pria itu melangkah kepada sang nenek yang kini hanya bisa duduk terbaring lemah di kursi rodanya. Shaka masih ingat kapan sang nenek harus memakai alat bantu ini untuk menopang kehidupannya. Ia merasa sangat bersalah untuk keadaan wanita tersayangnya itu saat ini.


"Oma maafkan Shaka ... " lirih pria itu dengan menahan sesak, di pangkuan sang nenek Shaka akhirnya tak bisa menahan air matanya, ia menumpahkan segala lara nya di tempat ternyamannya sejak kecil dulu.


Renata mengusap pipi yang basah dengan air mata saat melihat pemandangan itu, ia memaklumi memang daripada dirinya yang notebene adalah ibunya Shaka memang lebih dekat dengan neneknya, Renata tak merasa iri sama sekali tapi justru menyesal jika saja dulu ia lebih mengerti dan dekat dengan putra- putrinya daripada foya-foya dengan para ibu-ibu sosialita, pasti kini anak-anaknya akan lebih terbuka padanya. Renata menyesali waktu-waktu yang seharusnya ia habiskan untuk Fiona dan Shaka justeru terbuang untuk hal yang sia-sia dari semuanya ia merasa dirinya lah yang patut untuk di salahkan akibat dari perpecahan dalam persaudaraan antara Fiona dan Shaka.


Helen tersenyum mengusap lembut rambut Shaka dengan perasaan penuh kasih dan sayang. "Oma sudah memaafkan mu nak ... " Kata Helen dengan terbata-bata dan suara yang kurang jelas karena bibirnya yang susah di gerakan akibat stroke yang di deritanya.


Shaka menatap wajah Helen, menggeleng pelan. "Oma tidak usah mengatakan apa-apa cukup doakan Shaka dalam hati Oma," kata pria itu saat melihat Omanya yang kepayahan untuk mengeluarkan kata-kata.


Helen mengulum senyum, kerlap- kerlip terlihat di kedua matanya yang mulai renta, kepalanya mengangguk pelan. Shaka tersenyum memeluk neneknya sekali lagi dengan sayang.


Renata melihat Kirana di samping Shaka yang sedari tadi hanya berdiri dengan menghapus air matanya, Renata kemudian menjulurkan tangannya mengayunkan nya pelan isyarat agar Kirana mendekat ke arahnya. Melihat itu Kirana terkesiap,ia menunjuk ke dirinya sendiri karena takut salah mengira arti dari tatapan dan ayunan tangan Renata,namun ibu mertuanya itu mengangguk tatapannya lembut tak seperti sebelumnya yang selalu menatap Kirana dengan bengis, seakan tak suka.


Mau tak mau Kirana pun mendekati wanita yang tengah duduk di kursi ukiran emas itu. Gugup, tentu saja sudah di rasakan Kirana saat ini, sekujur tubuhnya terasa panas dingin, ia dengan segan duduk menekuk lutut di hadapan ibu mertuanya itu.


"Kenapa malah duduk seperti itu?" tanya Renata terselip nada tak suka karna apa yang di lakukan Kirana saat ini.


Perempuan yang semula menunduk wajah itu menengadah. "Eh, kenapa bun-- maksud ku nyonya?" Kirana mendadak refleks.


Renata terkesiap, "Apa kau setakut itu hingga memanggil ku dengan sebutan nyonya?"


"Eh bukan begitu." sergah Kirana cepat. "Hanya saja saya takut ibu merasa tersinggung dengan ucapan saya."


Renata memandang sendu, mendadak hatinya terasa seperti di sayat oleh tajamnya pisau penyesalan. "Kemarilah, duduk di samping ku, bagaimana pun kau adalah menantu ku."


Mendengar kata-kata itu dari mulut Renata, Kirana awalnya tertegun karena kaget, sedetik kemudian kedua bola matanya sudah di penuhi oleh genangan air mata, karena itu artinya Renata sudah menerimanya kembali sebagai menantu nya dan itu membuat Kirana sangat senang.


Kirana mengangguk, menuruti kata ibu mertuanya ia pun bangkit lantas duduk di samping wanita berusia setengah baya itu.


Hening sejenak melanda mereka, lantas beberapa detik setelahnya Renata mendekat mengambil tangan Kirana lalu mengenggam nya dengan tatapan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kepada putrinya.


"Kirana ... mau kah kamu memaafkan ku untuk semua kesalahanku selama ini padamu?" ucap Renata dengan tulus. "Maafkan aku karena sempat membenci mu bahkan menuduh mu, aku yang sudah terkena hasutan Matilda saat itu tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dengan begitu teganya aku menuduh mu yang tidak-tidak bahkan menyakiti hatimu, tolong maafkan aku Kirana, berikan lah aku hukuman apapun jika itu bisa membuat mu lega."


Kata terakhir Renata membuat Kirana sontak menggeleng cepat. "Tidak ibu, jangan katakan seperti itu." jeda sejenak Kirana mengesah singkat. "Aku sudah memaafkan mu ibu, aku tak pernah berfikir kau salah dalam situasi ini. Aku mengerti kasih sayang ibu untuk mas Shaka, jika aku jadi ibu mungkin akupun akan berfikir hal yang sama. Ibu mana yang tak sedih melihat putranya dalam bahaya kan?" Kirana kemudian tersenyum. "Tidak ini bukan salah mu. Aku mengerti situasi yang kau alami."


Renata terdiam beberapa saat, terpanah. "Pantas saja Shaka cinta mati kepada mu, kau memang malaikat yang turun dari surga nak," ujar Renata begitu jujur. "Selama ini aku telah keliru, kau lah pendamping terbaik untuk putraku, Shaka."


Kirana merasa tersipu untuk semua pujian itu, lantas Renata mengusap rambut panjang Kirana dengan sayang. "Jangan panggil aku ibu, panggil lah aku dengan panggilan yang selalu kau gunakan, bunda." Renata mengulas senyum begitu tulus lalu memeluk Kirana dengan perasaan lega dan sayang.


Kirana membalas pelukan dengan begitu erat, ia memejamkan mata merasa begitu lega dan bersyukur semuanya berakhir dengan damai dan ia bisa menemukan kembali sosok seperti ibu kandungnya di ibu mertuanya kini.


Shaka melihat pemandangan di hadapannya saat ini dengan senyum dan perasaan lega yang membuncah, melihat kini kedua wanita tersayangnya kini sudah berbaikan dan berdamai adalah pemandangan yang sangat indah lebih dari apapun.


Shaka dan Kirana berharap ini adalah awal permulaan yang baik untuk mereka kedepannya.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2