
💞 Happy reading 💞
Kiran kaget luar biasa begitu menoleh mendapati siapa yang ada di hadapannya kini.
"K- kak Arya, kamu ... " jantung gadis itu seolah berhenti untuk seperkian detik, lalu selanjutnya Kiran menutup mulut demi menahan pekikannya agar tidak terdengar.
"Iya ini aku Kirana, apa kabar?" pria itu tersenyum manis meski begitu nampak kedua matanya yang menatap sayu seakan sedang menahan beban yang berat.
"Kak Arya kenapa bisa ada di sini?" ujar Kiran selanjutnya, kini agak lebih tenang.
"Tak penting bagaimana aku bisa ada di sini, yang terpenting akhirnya aku bisa melihat mu lagi Kiran, please tolong ikut aku sebentar." setelahnya Arya menarik tangan Kiran tanpa permisi, gadis itu terlihat sedikit panik hendak menahan diri tapi akhirnya mau tak mau ia mengikuti langkah pria yang menariknya menuju ke tempat yang sedikit lenggang.
"Ada apa kak? kenapa tiba-tiba menarik ku kesini?" Kiran berada dalam situasi tak menyenangkan saat ini, ia takut ketika Shaka kembali dan tidak menemukannya, apa yang akan terjadi pada pria itu?
"Aku ingin memberitahukan mu sesuatu yang sangat penting Kiran." suara Arya tersendat-sendat saat mengucapkan itu, sekali lagi matanya menatap pedih, seakan sedang mengalami kemalangan yang begitu memilukan.
"P- paman dan bibi mu Kiran ... mereka ... "
"Ada apa kak? kenapa dengan paman dan bibi? Kiran tersentak panik, tanpa sadar ia mengenggam tangan Arya dengan erat.
Pria itu menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Mereka hancur, segalanya telah hancur." Arya menggeleng pelan dengan air mata yang sudah tak bisa ia tahan, Kiran ingin mendengarkan lebih lanjut apa yang akan pria itu katakan tapi mendadak saja benda pipi di dalam paper bag nya bergetar, pertanda ada seseorang menelpon, Kiran pun lekas mengangkat nya.
"Halo ... "
"Kau di mana?" suara Shaka terdengar cemas di sebrang sana. "Aku panik ketika kembali tak menemukan mu, kau di mana sekarang?"
Dengan melirik sesekali ke arah Arya lalu kembali fokus pada teleponnya, Kiran pun menjawab. "M- maafkan aku tuan, aku akan kembali secepatnya."
"Baiklah, jika kau takut, aku menyusul mu, katakan saja posisi mu di mana sekarang."
"T- tidak usah!" jawab Kiran cepat, ia menjadi was-was, takut jika sampai Shaka kesini dan menjadi salah paham karena Arya.
"Aku sedang berada di toilet, secepatnya akan kembali, tuan menunggu saja dulu."
"Oh baiklah jika begitu." akhirnya Shaka bisa di ajak kompromi, setelah itu Kiran pun menutup teleponnya.
"Kenapa? apakah dia majikan mu? sekarang kau bekerja di mana?" sergah Arya memberondong pertanyaan pada Kiran.
__ADS_1
"Bukan, dia suami ku." jawab wanita itu, selanjutnya membuat Arya syok mendengar nya.
"Apa! jadi benar selama ini kamu sudah menikah, Kiran? dengan siapa?" raut wajah Arya mendadak redup, nampak ketidakrelaan nya.
"Aku tidak bisa menjelaskan nya sekarang, situasinya sangat rumit ka," ujar Kiran dengan nada sedih.
"Lalu bagaimana dengan paman dan bibi mu? semua nya sudah hancur ran, apa kau tidak mengkhawatirkan mereka?"
"Tentu saja aku mengkhawatirkan mereka, tapi kita tidak bisa bicarakan sekarang!"
"Baiklah begini saja, lusa nanti tolong temui aku di sini, di tempat yang sama, ku mohon Kiran ini sangat penting." tegas Arya kemudian.
Kiran nampak bergeming, ia tengah berfikir keras lalu ia menatap wajah Arya yang memelas seolah memohon, lantas akhirnya gadis itu pun mengangguk.
"Ku mohon jangan kecewakan aku. Aku menceritakan segala yang terjadi semenjak kepergian mu." pesan Arya sebelum akhirnya mereka pun berpisah, ia harap bisa bertemu lagi dengan Kirana sesuai janji mereka.
...--------Oo--------...
Shaka yang tengah menggeser layar ponsel dengan tenang, akhirnya bisa bernafas lega saat mendapati Kiran yang berjalan cepat menghampiri nya.
"Kenapa lama sekali?" tanya pria itu menegakkan badan dari tembok sebagai sandarannya.
"Oh begitukah," Shaka manggut-manggut mengerti. "baiklah sekarang apa lagi yang ingin kau beli."
"Tuan, lebih baik kita kembali saja." pungkas Kiran, tak ingin Shaka sampai bertemu dengan Arya di mall ini.
"Kenapa? kau tidak ingin membeli yang lain?" Shaka merasa aneh dengan sikap sang istri yang tiba-tiba berubah seperti tidak mood.
"Enggak tuan, ini saja sudah sangat cukup untuk ku," ujar Kiran, mendadak hatinya di liputi rasa cemas memikirkan bagaimana keadaan keluarga paman dan bibinya saat ini.
"Oke, jika itu keinginan mu. Kita kembali ke mansion." pungkas Shaka akhirnya memberi keputusan.
Kiran tersenyum pada padanya. "Terimakasih tuan."
Namun tetap saja Shaka bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dari sang istri semenjak dia kembali. Tapi apa?
Pada akhirnya mereka pun kembali pulang ke mansion, hari mulai beranjak sore, langit nampak cantik menampilkan senja yang begitu memanjakan mata, pemandangan yang biasa Shaka lihat dari mobil, saat Kiran melongok kan kepala dari kaca yang di turunkan untuk melihat pemandangan di luar lalu gadis itu akan tersenyum riang melihat para pejalan kaki atau lampu-lampu taman yang indah seperti itu adalah sebuah keajaiban.
Tapi kali ini berbeda, yang Shaka perhatikan justeru adalah ekspresi Kiran yang selalu murung, saat di tanya gadis itu hanya menggeleng lalu mengatakan jika ia baik-baik saja malah semakin membuat Shaka di liputi kecemasan.
__ADS_1
Sampai di mansion, keluarga menyambut hangat lebih tepatnya hanya oma dan bunda saja, selebihnya nampak acuh tak acuh saat Shaka dan Kiran datang. Mereka tertawa bersama dan mengobrol banyak hal.
Hari- hari berjalan seperti biasanya, namun Shaka masih di landa penasaran dengan sikap sang istri yang selalu berubah-ubah, ia sudah mencari tahu namun tak ada yang aneh yang terjadi saat di mall kemarin. Lalu apa yang menganggu pikiran istrinya saat ini.
Hingga hari itu, Kiran datang ke ruangan kerjanya sambil memberikan secangkir teh seperti yang selalu Shaka pinta. Namun kali ini sedikit berbeda karena kali ini wanita itu meminta sesuatu padanya.
"Tuan aku ijin ingin keluar sebentar."
Shaka yang sedang fokus pada layar monitor di hadapan nya, berpindah menatap wajah cantik itu.
"Kemana? apa perlu aku temani?"
"T- tidak usah." gadis itu menolak cepat.
Shaka mengernyit. "Tak seperti biasanya, aneh?" batinnya penuh tanda tanya.
"Baiklah kalau begitu biar aku panggil kan Liam agar menyiapkan mobil untuk mu."
"Aku naik taksi saja tuan." lagi, Kiran menyergah kilat, seolah sudah bisa menebak apa yang akan di katakan nya.
"Yakin gak apa-apa?"
"Iya tuan, aku hanya ingin mampir ke supermarket sebentar untuk membeli beberapa barang, tuan tidak marah kan?"
Tawa kecil keluar dari mulut Shaka. "Tentu saja, kenapa aku harus marah."
Kiran tersenyum pahit.
"Maaf tuan, hanya untuk kali ini saja."
"Baiklah, aku mengijinkan mu, tapi ingat harus hati-hati oke?"
Kiran pun mengangguk. "terimakasih, kalau begitu aku pergi." gadis itupun berlalu sambil membawa nampan di dekapan nya.
Shaka menatap punggung Kiran yang menjauh, lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di seberang sana.
"Ikuti kemana istri ku pergi, tapi ingat untuk menyamar, jangan sampai dia tahu jika sedang di awasi!" titah Shaka pada salah satu ajudannya di telfon.
To be continued ....
__ADS_1