Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 63


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Pagi itu, hujan deras turun dengan lebatnya. Jalan-jalan terlihat di genangi air, pejalan kaki berlari tunggang-langgang menghindari hujan orang-orang yang di kejar oleh waktu memilih nekat menembus derasnya hujan untuk sampai ke tempat kerja mereka, sebagiannya lagi lebih memilih berteduh sampai menunggu hujan reda. Para penyewa jasa payung terlihat berjalan mondar-mandir dengan antusias di sekitar para pekerja yang pagi ini akan berangkat ke tempat tujuan mereka, wajah-wajah sumringah itu dengan gencar menawarkan jasa mereka bagi orang-orang yang membutuhkannya.


Di antaranya ada Kirana yang berdiri bersandar pada tiang kokoh teras sebuah ruko tempatnya berteduh,berbekal kenekatan juga rasa sakit di dalam hatinya ia bertekad untuk pergi menjauh dari Shaka dan semua tentang pria itu, ia hanya membawa sebuah tas ransel berukuran sedang berisi beberapa helai pakaiannya, selainnya hanya sisa beberapa nominal uang dari tabungannya setelah lunas membayar hutang piutang bibi dan pamannya juga perawatan Fitri sepupu nya hingga sembuh.


Kirana belum sempat melihat keadaan Fitri, jujur hatinya masih terlalu sakit atas semua kejahatan sang sepupu namun ia sudah membuat selembar surat berisi tentang isi hatinya kepada Fitri yang ia titipkan kepada seorang suster, Kirana hanya berharap setelah siuman Fitri dapat membaca suratnya dan sepupunya itu bisa terketuk pintu hatinya agar tidak lagi berbuat jahat kepada siapapun di kemudian hari.


Sudah hampir dua jam Kirana berdiri di sana sambil menunggu hujan reda, pikirannya justru melanglang buana pada setiap kejadian yang ia lalui bersama Shaka. Perpisahan ini benar-benar menyakitkan tapi semoga ini juga menjadi sebuah jalan untuk kehidupan mereka masing-masing.


Sementara itu di mansion, tanpa sepengetahuan Shaka ternyata anggota keluarga nya telah merencanakan pertunangannya dengan Teresa. Shaka yang baru pulang berencana untuk beristirahat sejenak dalam misi pencarian sang istri, begitu syok ketika melihat ibu, kakak dan neneknya sudah terlihat rapi dengan pakaian formal dan ruang aula di sulap sedemikian rupa menjadi tempat sakral upacara pertunangan yang sama sekali tidak ia ketahui.


Ingin menyatakan protes namun para tamu undangan sudah terlihat datang menemui auditorium, parahnya sang ibu lah yang mengundang para kolega penting perusahaannya untuk datang. Fiona yang terlihat paling sumringah di dalam acara ini, sementara neneknya di atas kursi roda hanya bisa bergeming namun bisa Shaka liat ketidaksetujuan di raut wajah yang sudah renta itu.


"Bunda! apa-apaan ini?!"


"Ssst! tidak ada waktu membantah nak, masuk ke dalam kamar mu dan para pelayan akan mempersiapkan mu."


"Tapi--" Shaka sudah sangat geram, tidak menyangka tindakan keluarganya akan sejauh ini. Apalagi dari kejauhan ia bisa melihat senyum licik bermakna ejekan yang di tujukan oleh Arkan untuk dirinya juga Matilda yang licik itu, Shaka berjanji akan memberi perhitungan pada mereka semua.


"Tidak ada tapi-tapi an." Renata menggeleng tegas, matanya menyapu pandangan pada sekelilingnya lalu kembali menatap sang putra dengan serius. "Lihatlah di sini banyak tamu kehormatan yang hadir, kau tidak mau kan kita jadi tontonan?!"


Dengan kekecewaan juga amarah akhirnya Shaka pun hanya bisa diam ia berlalu dari sana dengan perasaan kesal, saat hendak menaiki tangga ia melewati Teresa begitu saja ketika mereka berpapasan sementara wanita itu hendak akan menyapanya dengan senyum sumringah.


Teresa tampil cantik dengan gaun biru langit senada dengan make up nya yang lumayan tebal, high heels sepanjang 6 cm itu menghiasi jenjangnya membuatnya terlihat begitu sempurna di mata para hadirin yang memandangnya saat ini, namun ketika ia melihat Shaka yang nampak tak senang dengan pertunangan ini membuat semangat Teresa yang semula menggebu-gebu langsung terhempas begitu saja di dasar samudera.


"Tante, ada apa dengan Shaka? apa dia tidak senang dengan pertunangan ini?" tanya Teresa kepada Renata dengan raut sedih.


Tak ingin melihat sang calon menantu bersedih, Teresa dengan cepat menggeleng. "Tidak sayang, bukan seperti itu. Shaka hanya sedikit kesal karena kita tidak memberitahukan kepada nya dulu sebelumnya, kau kan yang bilang akan membuat pertunangan ini sebagai kejutan untuk nya?"


Teresa ingat, ia memang yang berencana membuat pertunangan ini sebuah kejutan untuk Shaka, awalnya ia tak ingin terlalu terburu-buru namun setelah pertemuannya dengan Kirana, dan kata-kata wanita itu yang seperti ancaman untuk nya membuat Teresa bersikeras meminta kepada Matilda untuk segera mendekatkannya dengan Shaka dan melakukan pertunangan secepatnya. Rencana mereka harus segera terealisasi kan sebelum Kirana kembali pada kehidupan Shaka.


"Benarkah seperti itu Tante? jadi Shaka bukannya tidak setuju dengan pertunangan ini?"


Renata menggeleng, tersenyum menenangkan. "Tentu saja tidak nak, sebelumnya kami juga sudah mempertimbangkan dan mencocokan kalian berdua. Kebetulan kalian memang sudah sangat cocok dan untuk apa lagi menunda-nunda kan? lebih cepat lebih baik."


"Terimakasih tante,kamu sangat baik kepada ku," ujar Teresa hiperbola seraya memeluk Renata dengan eratnya.


"Hahaha kamu memang lucu Teresa. Berterima kasih lah kepada Matilda juga, kalau bukan atas sarannya acara pertunangan ini tidak akan terjadi."


Teresa berbalik menghadap Matilda. "Terimakasih bibi Matilda," ucapnya namun dengan tatapan mata dan seringai bibir tak biasa yang penuh dengan intrik kepada Matilda kemudian mereka saling melirik, seolah penuh dengan rencana busuk.


Olivia terlihat mondar-mandir di dapur, berkali-kali ia menelpon Kirana, namun tak kunjung di balas. Tidak akan ia biarkan pertunangan ini sampai terjadi ia harus memberitahukan kepada Kirana secepatnya.

__ADS_1


Semakin gelisah, akhirnya Olivia berinisiatif untuk menelpon Aslan, sayangnya yang mengangkat telepon bukan pria itu namun asistennya, yang mengatakan jika Aslan saat ini sedang sangat sibuk menghadiri sebuah rapat penting dan tidak dapat di ganggu.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?" keluh Olivia dalam hatinya,ia tidak punya kuasa apapun untuk menghentikan ini semua.


Sampai ketika, Olivia yang hendak kembali ke acara tak sengaja berpapasan dengan Shaka dengan beberapa pelayan. Olivia terkejut luar biasa ketika melihat pria itu yang sudah rapi sebagaimana pengantin pria dalam acara pernikahan nya. Wajah pria itu terlihat kusut, jelas Olivia sangat mengetahui betapa tertekannya Shaka harus menjalani semua ini.


"Shaka, kamu tidak mungkin melakukan semua ini kan?!" cecar Olivia begitu mendekat ke arah lelaki itu.


Shaka mengerut dahi dalam. "Apa maksud mu Olivia?"


"Apa maksud ku?!" Olivia hampir tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu. "Shaka kau yang benar saja? apa kau benar-benar tega bertunangan dengan wanita lain sementara kau masih memiliki Kirana? kau benar-benar setega itu menduakan Kirana? mengkhianati cintanya?" Olivia memberondong pertanyaan dengan emosi menggebu-gebu.


Mendengar cercaan Olivia tersebut, Shaka menjadi muak dan berdecih. "Lalu aku harus bagaimana? dia sendiri yang memilih pergi dari ku Olivia? Kirana bahkan tak mau mendengar penjelasan ku sebelum dia memutuskan untuk pergi dari hidupku?!"


Olivia menggeleng dengan bola mata membulat dan mulut menganga tak percaya. "Sadarlah siapa yang memulai semua ini duluan Shaka? jika kau tidak menyakitinya sejak awal Kirana tidak akan pergi jauh dari mu!"


"Ya aku tahu itu, tapi haruskah dia pergi tanpa memberikan ku sekali saja kesempatan untuk menjelaskan semua keadaannya?"


"Shaka ini tidak seperti kau ... " Olivia berujar lirih. "Kalian berdua sama-sama salah paham, harusnya kalian berdua tidak berakhir seperti ini."


"Sudahlah, tidak ada lagi yang perlu di bicarakan." Shaka menepis tangan Olivia lalu berjalan melewatinya dengan amarah yang semakin memuncak.


Olivia terdiam lalu wanita itu berbalik dengan berteriak keras. "Tapi Shaka! istrimu itu sedang--"


Olivia baru ingat jika ia sudah berjanji untuk merahasiakan tentang kehamilan Kirana kepada Shaka ataupun kepada keluarga Rajendra.


"berjanjilah kepada ku, kalian berdua tidak akan memberitahukan tentang kehamilan ku kepada siapapun baik kepada keluarga Rajendra ataupun Shaka sendiri."


Permintaan ketika itu serupa sumpah yang harus di tepati dan rahasia yang harus di simpan rapat-rapat di antara ia dan Aslan ketika itu, Olivia hampir saja keceplosan untuk membocorkan nya kepada Shaka.


"Kenapa kau berhenti? apa yang terjadi kepada Kirana?" tanya Shaka, meskipun ia berusaha untuk tidak perduli namun hatinya selalu tidak bisa untuk mengabaikan apapun yang berkaitan dengan Kirana. Cintanya memang sebesar itu namun Shaka sendiri tidak sadar sampai sekarang.


"Tidak. Tidak ada," jawab Olivia terbata-bata, sadar ia melakukan kesalahan bibirnya mengatup rapat-rapat.


Sadar Olivia telah membuang waktunya Shaka berdecak kesal, terlebih ketika suara dari ruang aula berasal dari MC pembawa acaranya telah memanggil namanya.


"Shaka, kau serius akan melakukan ini?!" sekali lagi Olivia berusaha untuk menahan Shaka, untuk sejenak keduanya saling bersitatap ada sesuatu yang ingin Olivia ceritakan tentang Kirana kepada Shaka namun ia tidak mengatakannya. "Apa kau benar-benar akan mengkhianati cinta kalian berdua?"


"Tidak ada pilihan lain Olivia." tukas Shaka dengan ekspresi datarnya. "Terkadang kita memang harus melakukan pengorbanan dalam hidup ini dan inilah pengorbanan ku. Lagipula mungkin Kirana tidak pernah bahagia bersama ku hingga dia lebih memilih meninggalkan ku."


"Tidak Shaka, kau salah paham!" batin Olivia, menggeleng dengan mata berkaca-kaca, merasa sangat sedih meski hanya bisa menyaksikan kisah tragis mereka. Olivia merasa harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan cinta mereka berdua.


"Maaf Olivia, para tamu sudah menunggu ku. Hargai keputusan ku ... "

__ADS_1


"Tapi ... " pada akhirnya Olivia tidak bisa melakukan apapun lagi, membiarkan Shaka pergi ke dalam acara pertunangan yang tidak seharusnya di peruntukan untuk nya.


Arkan mengintip dari celah tembok, dadanya kembang kempis menahan amarah, rahangnya mengeras dengan kedua tangan terkepal kuat.


Begitu rombongan dan Shaka pergi, juga Olivia yang akhirnya berlalu melewati nya, Arkan yang masih berdiri di sana langsung menarik lengan Olivia membuat perempuan itu terlonjak kaget terlebih ketika dengan kasarnya Arkan menarik rambut Olivia dan mencengkeram nya begitu kuat.


"Aaaw, sakit mas ... lepaskan!" ringis Olivia yang kesakitan.


Bukannya melepaskan nya setelah mendengar rintihan Olivia yang begitu pilu Arkan malah dengan sengaja semakin mempererat cengkraman nya.


"Wanita sunddal! apa yang coba kau rencanakan hah? apa kau berusaha untuk membuat Shaka berubah pikiran, begit?!"


Olivia semakin meringis bukan karena rasa sakit karena jambakan pria itu justru karena kata-kata kasar bernada hinaan yang Arkan lontarkan begitu menyakiti hatinya. Bukan sekali ini saja Arkan begitu marah karena Olivia yang berusaha menyadarkan Shaka namun sebelumnya Arkan juga marah besar ketika mengetahui jika ia membantu Kirana dalam pelariannya di rumah sakit, itu sebabnya ketika Kirana menemui Arya di penjara, Olivia tidak bisa hadir untuk menjemputnya dan di gantikan oleh Aslan, bukan karena Olivia sedang ada urusan mendadak itu hanya alibi yang sebenarnya terjadi ia sedang di siksa oleh Arkan karena ketahuan telah membantu Kirana.


"Wanita tidak tahu diri, jalllang siaalan, berani-beraninya kau pergi tanpa seijin ku dan membantu wanita yang telah mempermalukan suami mu?!" Di saat itu Arkan sungguh marah besar dan mengamuk bukan hanya mengumpat, pria itu juga menyeret Olivia memukulinya menjambak nya bahkan sengaja mengguyurnya dengan air dingin agar memperparah lukanya, meski Olivia sudah memohon Arkan sama sekali tidak perduli pria itu berubah seperti monster massokis yang terlihat kesenangan menyiksa korbannya.


Dengan mengingatnya saja Olivia sudah merasa sangat trauma, entah ibblis apa yang telah merasuki Arkan hingga pria itu berubah mengerikan.


"Awas saja jika kau ketahuan lagi berusaha menggagalkan rencana ku, kali ini bukan hanya kau yang celaka, ayah mu juga akan habis di tangan ku!!"


"Tidak! kau bisa memukuli ku sepuas mu,asal Jangan ayah ku!" wajah Olivia berubah pucat, ia memohon di bawah kaki Arkan tidak akan ia biarkan pria gilla itu sampai menyakiti ayahnya yang sudah tua dan renta.


Arkan tersenyum puas. "Makanya kau harus menuruti semua perintah ku, mengerti boddoh?" hardik pria itu sambil menoyor kening Olivia setelahnya berlalu pergi.


Olivia hanya bisa tergugu dalam tangis, berdoa agar ayahnya baik-baik saja.


...--------Oo--------...


Acara di gelar dengan begitu megahnya, karena ancaman dari Arkan Olivia tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa mengirimkan pesan kepada Kirana dan berharap gadis itu membacanya, agar Kirana berubah pikiran untuk pergi dan bisa mencegah pertunangan ini.


Namun sesuatu yang tak sengaja Olivia lihat dan dengar telah membuatnya sangat syok, ketika ia ijin pergi ke dapur untuk mengambil minum tak sengaja Olivia melihat Matilda dan Teresa yang tengah mengobrol serius, penasaran Olivia mencoba mendekat.


"Ini, teteskan beberapa saja pada minuman Shaka, racun ini akan segera menyebar dan membunuh setiap syaraf otaknya," ujar Matilda sambil tersenyum menunjukkan sebuah botol berukuran kecil kepada Teresa.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Teresa dengan wajah serius.


"Tentu saja, aku membelinya sangat mahal pada seorang bandar, ini pasti akan sangat ampuh untuk mengakhiri hidup Shaka. Kau tahu kan apa rencana mu? jangan sampai membuat semua orang curiga, ini kesempatan emas dan terakhir kita," jelas Matilda sambil menyeringai.


"Baiklah, aku mengerti, akan ku pastikan menyelesaikan tugas ini dengan secepat mungkin." Teresa ikut menyeringai Kejji.


Olivia menarik diri setelah berhasil menguping obrolan tersebut, tubuhnya bersandar lemas dengan bergetar luar biasa, ia sampai menutup agar mereka tidak mendengar jeritan tertahan nya.


"T-tidak mungkin, mereka hendak melenyapkan nyawa Shaka, aku harus memberitahukan ini kepada Kirana!!"

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2