
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻
Kirana sudah menghabiskan sarapannya, lalu meminum obat yang diberikan dokter. Shaka memerintahkan pelayan untuk membawa kembali mangkuk dan gelas yang sudah kosong.
"Bagaimana sekarang kondisi mu?'
"S- sudah lebih membaik tuan," jawab Kirana sambil menunduk. Jujur hati dan pikirannya sedang tidak sejalan saat ini, pikirannya berkecamuk dengan perubahan Shaka yang tiba-tiba saja namun hatinya justeru merasa senang dengan perhatian yang di berikan oleh pria itu.
Shaka bergeming sejenak, atmosfer di sekitar mendadak dingin membuat Kirana seolah menggigil. Terlebih ketika Shaka membuka mulutnya untuk bicara lagi.
"Tidak bisakah kau saat sedang berbicara dengan ku, tatap mata ku?" Tanya Shaka sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap gadis di depannya kini dengan raut datar namun dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Hah?" Kiran melongo untuk sesaat, ia mengangkat wajah tapi hanya sekilas karena benar-benar ia tak berani bersitatap dengan Shaka pemilik mata elang yang selalu menatapnya begitu intens.
"Haruskah ku ulangi perkataan ku?" Shaka berujar dingin. Jujur ia tak suka melihat Kirana yang hanya menunduk saat harus bicara dengan ya, ia merasa seperti di abaikan oleh gadis itu. Dan Shaka sama sekali tak suka itu.
Grep! tiba-tiba saja tangan besar milik Shaka sudah menarik dagu Kiran untuk menghadap ke arahnya. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu, kini giliran Shaka tak berkutik. Ia baru menyadari, mata indah itu, hidung mungilnya, bibir ranum yang kini menjadi candu untuk nya, segala nya di wajah gadis itu terlihat sempurna.
"Kenapa dia begitu cantik?" batin Shaka bergumam.
"T- tuan?" Kirana bercicit pelan. "Ada apa?" Kirana merasakan ketakutan lagi saat ini merasakan sendiri bagaimana kasarnya Shaka menarik tangannya setelah sebelumnya pria itu memberikan perhatian untuk nya. Hati Kirana mencelos begitu saja, merasa setelah di terbangkan begitu tinggi ke atas awan lalu tiba-tiba di hempaskan ke bawah jurang yang dalam.
"Shiitt!" Shaka memalingkan wajahnya, melepas cengkraman nya di dagu Kirana. Mendadak ia merasa sangat lemah dengan tatapan nanar yang di tunjukkan gadis itu.
"Ada apa dengan mu Shaka?" bingungnya pada dirinya sendiri.
"Beristirahat, aku pergi dulu." pria itu kemudian bangkit dari kursi, hendak berbalik namun tangan kecil gadis di belakangnya, menahan.
"Tuan ada apa? apa ada sesuatu?" tanya Kirana lagi yang penasaran, kenapa tiba-tiba sikap pria itu berubah dingin, Kirana sama sekali tak mengerti dengan sikapnya.
"Kau tahu kenapa?" Shaka berbalik menatap Kirana. "Karena kau begitu menggoda ku, gadis penebus hutang."
Deg! perasaan Kiran mendadak aneh, bergejolak dan campur aduk atas apa yang di ucapkan Shaka padanya, ada kesedihan ketika pria itu menyematkan panggilan 'gadis penebus hutang' padanya. Padahal harusnya ia tak perlu sakit hati karena memang begitu kenyataannya. Tapi kenapa rasanya seperti tertusuk sembilu?
__ADS_1
"M- maafkan saya jika tuan merasa begitu ... " Kiran menunduk, ia melepaskan genggaman nya di ujung baju Shaka.
Mendengar permintaan maaf terlontar, Shaka justru semakin merasa emosi.
"Kenapa gadis ini tak mengerti akan kata-kata ku?" batin Shaka bermonolog.
"Apa kau tersinggung dengan ucapan ku?"
Mendengar pertanyaan itu, Kiran buru-buru menggeleng. "T- tidak tuan."
Grep! Kiran terperanjat ketika tahu-tahu kedua tangan kekar Shaka Sur berada di atas pundaknya.
"Bukan ... bukan jawaban seperti itu yang ingin ku dengar." mata pria itu menatap tajam.
Kiran mendadak menciut. "L- lalu a- apa yang tuan inginkan."
"Lentera Kirana ... dengar kan aku. Cobalah untuk mempertegas pertahanan diri mu. Kau terlalu lemah hingga mudah di manfaatkan, sifat seperti itu ... aku sangat membencinya," teringat Shaka tentang cerita neneknya, tentang kisah hidup Kiran, yang tega di jual oleh bibi dan pamannya sendiri. Membuat amarah dalam dirinya laksana bara api. Ia kesal juga merasa empati secara bersamaan untuk gadis itu.
"Kini semua orang sudah tahu, kau adalah nyonya ian Rajendrara, orang-orang mengenal mu sebagai isteri ku. Dan aku tidak ingin memiliki istri yang lemah ... kau mengerti?"
"Apa kau paham?!" Shaka menggertak ketika tak mendapat respon apapun dari gadis itu.
"P- paham,tuan!" seketika itu juga Kirana menjawab patuh.
Kedua mata mereka masih bersitatap, sampai akhirnya Shaka melepaskan kedua tangannya dari bahu Kiran, beralih jemari nya perlahan menyentuh bibir ranum Kiran, mata Shaka semakin dalam menatap.
"Siaaal! dengan hanya seperti ini saja, sudah bisa membuat pusaka ku meneggang, sihir macam apa yang di gunakannya hingga membuat ku bisa begini?" batin Shaka dengan masih mengusap bibir merah alami Kiran dengan jempolnya.
"Rasanya aku ingin memakannya saat ini juga." batin Shaka tengah berperang dengan pikirannya.
"Tidak Arshaka! dia masih sakit, tahan hassrat ku dulu." pikirnya lagi penuh pertimbangan, sementara kedua matanya dengan mata indah sang gadis masih bersitatap dalam, seolah mereka sedang mengungkapkan perasaan masing-masing.
Cih! Shaka berdecih sambil melengos membuang wajahnya ke arah samping lalu ia kembali berdiri tegak, menenggelamkan telapak tangan di saku celananya.
__ADS_1
"Istirahat lah dan pulihkan tenaga mu." titah nya kemudian.
"Baik!" Kiran menjawab cepat dan tegas.
Nampak seringai sekilas muncul di bibir Shaka, itulah jawaban yang ia inginkan.
...--------Oo--------...
"Ini dia tuan muda. Rumah tempat tinggal nyonya muda, bersama dengan keluarga paman dan bibinya."
Mobil hitam yang di kendarai Liam berhenti tepat sepuluh meter dari pagar rumah bercat hijau dengan pohon besar di sampingnya.
"Kau sudah mendapat semua informasi nya?"
"Sudah tuan muda dan sangat lengkap." jawab Liam.
"Sebenarnya ini rumah asli keluarga nona Kiran. paman dan bibinya mulai menempati rumah ini ketika orang tua nona Kiran meninggal dunia karena sebuah kecelakaan saat nona masih berusia sepuluh tahun. Kemudian nona Kiran juga paman dan bibinya beserta anak mereka yang bernama Fitri menempati rumah ini bersama. Namun ketidakadilan kerap kali terjadi pada nona Kiran, paman dan bibinya tak benar-benar tulus merawat nya, mereka hanya ingin harta warisan yang di tinggalkan oleh orang tua nona Kiran."
Shaka yang mendengar penjelasan itu, menggertakkan rahangnya, tangannya mengepal erat penuh amarah.
"Mereka melakukan ini pada istri ku selama bertahun-tahun? maka ... mereka harus mengalami penderitaan yang sama selamanya ... "
"Tuan muda, apa rencana anda selanjutnya?"
"Kau tahu Liam ... yang ku inginkan adalah pembalasan. Buat keluarga mereka sengsara."
Kini Liam mulai sedikit merinding. Tak pernah ia rasakan Shaka yang semarah ini.
"Sepertinya tuan muda, sudah mulai peduli pada nona Kiran." batin Liam menduga.
"Kalau begitu, siap laksanakan, tuan!" sahut Liam, selanjutnya kehancuran untuk keluarga paman dan bibi Kiran yang biaddab.
To be continued ...
__ADS_1