
Tiba saatnya setelah menunggu sekian purnama yang menurut Aslan sangatlah lama, kini tepat sudah satu Minggu waktu yang di janjikan staf rumah sakit akhirnya saat ini mereka sudah bisa mendapatkan surat pemberitahuan dari tes DNA yang di lakukan.
Aslan tiba bersama Vania, gadis itu kekeuh untuk menemani Aslan meski pria itu tak ingin. Vania tahu walaupun di mulut Aslan mengatakan tidak namun lelaki itu pasti membutuhkan support syestem saat ini.
Sementara itu di kubu Kirana, ia datang bersama Shaka sang suami juga pengacara mereka, yang siap sedia di belakang jika sesuatu sampai terjadi atau memang Aslan hanya membual saja mereka bisa langsung mengusut tuntas kasus ini ke ranah hukum atas dasar informasi palsu.
Di ruangan khusus kedap suara yang keamanannya sudah terjamin oleh orang suruhan Shaka, keempat orang kini yaitu Shaka dan Kirana duduk berdampingan di pinggir dan di hadapan mereka, Aslan dan Vania duduk berdampingan sementara di tengah bagian samping ada pengacara Shaka yang menjadi saksi mata dan dokter yang akan memberitahukan informasi tes DNA berada di tengah depan mereka saat ini.
Suasana mulai terasa mencekam, lebih tepatnya hanya ketegangan yang saat ini menyelimuti seluruh orang yang ada di ruangan yang dominan bernuansa cat putih itu, dokter yang sudah berumur dengan rambut memutih namun masih memiliki raut wajah yang berwibawa tak termakan usia, name tag di saku nya menjelaskan jika ia sudah begitu berpengalaman dan profesional, di tangan keriput nya ia memegang sebuah surat yang akan menjadi penentu terkuaknya bukti atas pengakuan Aslan dan perkataan lelaki itu.
Sementara dokter dengan nama Sameer Khan kini menurunkan kacamata yang di pakainya, pria berusia senja itu berdeham sejenak cukup keras terdengar di keheningan sepi ruangan ini, tanpa ada suara apapun karena wajah-wajah yang terlihat tegang saat ini sangat jelas menanti kata-kata apa yang akan di uraikan sang dokter dari dalam surat keterangan.
"Jadi bagaimana dokter?" suara Shaka terdengar menyahut, melihat sang dokter yang masih berdiam sejak tadi membuat pria dengan jas putih kebesaran dokter itu menoleh kepadanya.
"Bedasarkan tes DNA yang sudah di lakukan, antara mrs. Kirana Rajendra dengan Mr. Aslan Mavendra, 99,9 % memiliki kecocokan darah, yang artinya mereka berdua memang memiliki ikatan persaudaraan adik dan kakak."
Terdiam lah mereka semua setelah mendengarkan dengan seksama juga khidmat setiap perkataan yang di sampaikan dokter Sameer. Seperkian detik setelahnya bagai menerima doorprize yang tak terkira nilainya, begitu ekspresi Aslan sesudah keterangan hasil tes DNA di jelaskan. Tak bisa di gambarkan bagaimana bersukur dan bahagia nya ia saat ini, sampai-sampai ia menoleh kepada Vania dan memeluk gadis itu dengan sangat erat membuat Vania yang semula ikut merasa senang terkesiap lalu setelah nya membalas pelukan Aslan dengan hangat.
Begitu pula dengan Kirana, keterkejutan luar biasa nampak terlihat jelas di raut wajahnya saat ini, matanya membulat dengan sempurna, antara percaya dan tak percaya namun penjelasan sang dokter begitu terperinci tadi dan Shaka pun sudah memastikan jika tak ada kecurangan dalam hasil tes DNA ini karena tes yang di lakukan begitu ketat bahkan tim yang melakukannya pun adalah atas rekomendasi Shaka sendiri jadi Aslan sama sekali tak memiliki celah untuk menyabotase hasil yang ada.
Kirana tetap bergeming dengan mulut terkatup rapat hingga pertemuan rahasia itu akhirnya selesai juga dokter Sameer yang sudah pamit undur diri juga pengacara Shaka Bangura sudah kembali ke kantor nya namun Kirana masih tak mengucapkan satu patah kata pun untuk menanggapi kejadian saat ini.
Hal itu membuat Shaka khawatir, ia takut Kirana tak bisa menerima fakta ini apalagi semua yang terjadi begitu mendadak dan secara tiba-tiba, ia khawatir itu bisa mempengaruhi Kirana apalagi kini sang istri sedang mengandung dan Shaka jelas mengetahui jika wanita yang sedang mengandung memang cenderung lebih sensitif.
"Kirana, are you okay?" tanya Vania, keempatnya akhirnya memutuskan untuk berunding tentang masalah ini di sebuah restoran VVIP yang jelas aman untuk membicarakan masalah ini, apalagi melihat Kirana yang seperti ini juga membuat Aslan di kurung rasa kekhawatiran yang besar.
Shaka mengamati istrinya dari samping, tepukan lembut pria itu berhasil membuat Kirana tersadar dari lamunannya semenjak mereka tiba di sini.
__ADS_1
"Sayang, katakanlah sesuatu. Sejak di rumah sakit tadi kau belum menanggapi apapun tentang hasil tes DNA, sekarang semua keputusan ada di tangan mu, tuan Aslan pun menyerahkan nya kepada mu begitu, benarkan?" Shaka sengaja melirik mata ke arah Aslan lelaki itu mengangguk pelan.
"Itu benar, Kirana ... " satu helaan nafas terdengar begitu panjang dari nya menunjukkan betapa begitu parahnya Aslan dengan keadaan saat ini. Ia tidak tahu apakah Kirana akan menganggapnya kakak atau tidak, tapi yang pasti Kirana akan selalu menjadi adik tersayangnya.
"Maafkan kakak, Chiara." Aslan sengaja memanggil nama asli Kirana saat ini. "Andai saja saat itu kakak tidak ceroboh, andai saja saat itu kakak bisa lebih kuat dan pintar untuk bisa melindungi mu dari orang-orang jahat yang memisahkan kita, andai saja--" Aslan diam dengan dada bergemuruh hebat, mendadak ia tercekat. Rasanya untuk melanjutkan kata-katanya saja ia tak mampu.
Vania yang duduk di samping nya, mengulurkan tangannya dari belakang menyentuh pundaknya seolah sedang memberikan Aslan dukungan dan kekuatan.
Lantas sekonyong-konyong nya, Kirana berdiri dari tempatnya duduk, semua mata kini memandang nya, hanya Aslan saja yang kini terus menunduk nampak gurat kesedihan tercetak jelas di wajahnya yang terpekur dengan matanya yang hanya bisa menatap lantai.
Aslan nampak rapuh, meski di luar ia selalu terlihat tegas dan disiplin apalagi jika sudah berada di kantor sebagai pimpinan namun Vania tahu pria itu nampak terpuruk dari dalam. Kepedihan yang selama ini selalu dia pendam dengan segudang masalah juga tekanan dari kakek neneknya, Aslan pastilah sangat senang begitu mengetahui jika adiknya yang selama ini dia cari masih hidup, setidaknya ia masih memiliki alasan untuk terus bertahan, namun jika Kirana tak mempercayai dan tak memperdulikan hubungan persaudaraan mereka, tidak bisa Vania bayangkan betapa itu akan sangat menghancurkan Aslan. Pria itu pasti akan sangat terpuruk atau mungkin lebih parahnya Aslan tak bisa lagi mempunyai tujuan hidup karena alasannya bertahan hanyalah tentang adiknya.
Perlahan Kirana semakin mendekat, lalu setengah berjongkok ia menghampiri Aslan yang masih duduk di kursinya, lalu Kirana memeluk Aslan, tindakan tiba-tiba yang membuat Aslan seketika membeku bagai patung. Shaka dan Vania yang melihat itupun sama terkejutnya atas tindakan yang Kirana ambil.
"Kakak ... " Kirana berseru hampir terdengar seperti bisikan di telinga Aslan.
Hanya satu kata itu namun berhasil membuat pertahanan Aslan runtuh seketika itu juga. Persettan Aslan tak memperdulikan jika saat ini mereka ada di tempat terbuka dan ia menangis.
"Chiara ... adikku." Aslan tergugu dalam tangis, tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur pada sang maha kuasa betapa ia sangat berterima kasih pada sang pemilik alam karena telah membuka mata hati Kirana dan kini adiknya telah kembali ke pelukannya.
"Kakak, aku rindu." lirih Kirana, suasana yang sudah mengharu biru tak bisa jika ia tak menangis juga. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa seperti batu besar yang selalu menghimpit dadanya kini sudah terangkat.
Aslan mengangguk dalam dekapan. "Ya adikku, kakak juga merindukan mu. Sangat merindukan mu."
...--------Oo--------...
Vania dan Shaka yang melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati merasa ikut bahagia dan bersyukur bisa menyaksikan pertemuan kakak beradik yang sudah berpisah selama belasan tahun membuat mereka ikut larut dalam keharuan ini.
__ADS_1
"Jadi akhirnya kamu menganggap ku sebagai kakak mu?" seru Aslan bertanya setelah melepaskan pelukan, setengah jam mereka mengurai rindu selama ini karena perpisahan yang begitu menyakitkan kini semuanya sudah kembali normal Kirana duduk kembali ke tempat nya, wanita itu masih sibuk mengusap pipi yang terus basah saat Aslan bertanya.
"Sebenarnya sebelum hasil tes DNA nya keluar aku lebih dulu pergi ke rumah peninggalan kedua orang tua ku dan itu juga tanpa sepengetahuan mu mas," kata Kirana menoleh kepada Shaka.
"Di sana akhirnya aku menemukan fakta-fakta yang sangat mencengangkan tentang identitas asli ku selama ini." jeda sejenak Kirana mengambil nafas sampai akhirnya ia melanjutkan kembali ucapannya.
"Sebenarnya ibu dan ayah angkat ku sudah menitipkan sebuah wasiat sebelum ajal menjemput mereka. Namun entah bagaimana itu tak sampai kepada ku, dan rupanya bibi dan paman ku yang memang sengaja menutupinya karena tahu jika sampai terbongkarnya aku bukan anak kandung orang tua ku maka harta warisan atas nama ku tidak akan turun."
Penuturan Kirana begitu nyess terdengar mengundang rasa prihatin juga amarah yang mendengarnya, Aslan mengepalkan tangan merasa sangat geram entah kemalangan apa saja yang sudah dialami Kirana selama ini dan ia sama sekali tak tahu, seketika Aslan merasa sangat bersalah karena tak ada di saat adiknya dalam masalah.
"Ibu dan ayahku membuat surat wasiat yang memberitahukan jika aku bukan anak kandung mereka, dan asal usul tentang ku juga ada di sana di mana aku di adopsi, tentang ibu panti yang berjasa saat merawat ku di panti asuhan nya dan lainnya di jelaskan dengan detail di sana,"
"Dan juga mereka mengatakan jika sapu tangan yang sudah ada menemani ku sejak kecil ini memang sengaja di buatkan oleh ibu panti ku serupa dengan milik kakak kandung ku berharap jika Tuhan masih mengijinkan kami bertemu kami bisa menjadikan sapu tangan ini sebagai petunjuk." tutur Kirana setelah nya, matanya kemudian menatap teduh ke arah Aslan.
"Kamu benar-benar kakak kandung ku kak, setelah melihat surat wasiat itu sebenarnya aku ingin sekali segera bertemu dengan mu dan menghambur ke pelukan mu. Namun aku sadar dengan nasihat suami ku, jika kita tidak boleh memutuskan atau melakukan tindakan secara tergesa-gesa jika tidak mau mendapatkan kekecewaan." Mata Kirana melirik ke arah Shaka kemudian menatap kembali ke depan.
"Itu sebabnya aku menunggu hingga tes DNA nya keluar agar tidak ada lagi keraguan dalam diriku dan benar Tuhan memang tidak pernah salah memberikan petunjuk untuk hambanya, dan sekarang aku bisa bertemu lagi dengan mu kak dan kita bisa menjadi keluarga utuh adalah anugerah yang paling ku syukuri dalam hidup ini." Kirana tak bisa menahan tangisnya, hatinya yang lembut begitu rapuh saat ini. Membayangkan jika ternyata ia memiliki seorang kakak laki-laki pasti Kirana akan sangat terlindungi saat kecil dulu ia akan merasa aman dari semua siksaan yang di alaminya karena ada sang kakak di sampingnya.
"Jika saja takdir tidak begitu kejjam kepada kita Chiara." Aslan mengusap ujung matanya yang memerah lalu tangannya meraih tangan untuk di genggam.
"Apapun yang sudah terlewati pasti memiliki hikmah di balik nya, meski terlambat namun setidaknya kita bisa bersatu kembali. Aku berjanji adikku, kita tidak akan pernah berpisah lagi," ucap Aslan dengan kesungguhan dalam dirinya, Kirana pun mengangguk ia tersenyum manis meski kaca-kaca masih terlihat di kedua matanya ia begitu terharu.
"Sekarang ada kakak di samping ku. Aku memiliki dua pria hebat yang akan selalu melindungi ku," ucap Kirana menatap Aslan dan Shaka secara bergantian lalu senyum manisnya semakin lebar.
Aslan tersenyum menunjukkan deretan giginya, lalu mengusap puncak kepala adik perempuannya itu dengan sayang begitu pun dengan Shaka yang mengecup singkat rambut Kirana dengan perasaan cinta dan sayang yang begitu besar.
Mereka berdua pasti akan selalu menjaga Kirana.
__ADS_1
Sementara itu Vania tersenyum haru, bisa melihat Aslan yang selepas dan sebahagia ini adalah kebahagiaan terbesar untuknya juga. Vania harap Aslan selalu bisa seperti ini, selamanya.
To be continued ....