Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PGPH 14 | Apa kau cemburu?


__ADS_3

Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻


"Kenapa raut wajah mu seperti itu, Fiona?" tanya Helen dengan di selingi teguran.


Wanita berbalut gaun merah itu sontak mengubah cepat ekspresinya. "Oh tidak kok oma, aku hanya sedikit kaget saja tadi," elak Fiona meski sebenarnya dalam hati merasakan dongkol, beranggapan jika gadis di depannya ini sama sekali tak cocok untuk bersanding dengan adiknya.


"Jadi kamu istrinya Shaka ... kamu terlihat cantik," ujar Fiona kemudian, memuji meski sebenarnya hanya sebuah formalitas belaka.


"Aku adalah kakak perempuan Shaka, kau bisa memanggilku kakak ipar."


"B- baik, kakak ipar ... " Kiran yang masih gugup agak tergagap saat mengucapkan kata-katanya, meski begitu ia berusaha untuk menyunggingkan senyum tulusnya meski terlihat bahasa tubuh dari kakak Shaka itu, seperti tak menyukainya dirinya.


"Baiklah, karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, kita nikmati pesta malam ini!" seru lantang Fiona pada semua orang yang hadir, ia bagai happy virus yang membuat semua orang nyaman dekat dengan nya.


Semua khalayak nampak menikmati pesta, suara musik yang mengalun membuat pinggul mereka bergoyang dengan masing-masing gelas di tangan yang berisi anggur membuat pesta semakin semarak.


Terkecuali saat ini, Kiran semakin memundurkan dirinya ke pojok ruangan, ia merasa tersisihkan terlebih saat Shaka lebih memilih menjauh untuk mengobrol dengan rekan bisnisnya, sebenarnya tak masalah untuk Kiran, toh ia juga tidak punya hak apa-apa atas pria itu, Kiran sadar diri.


Namun yang membuat gadis itu merasa murung adalah, saat mendapati Shaka yang begitu perhatian dan akrab dengan para wanita, mereka terlihat senang mengobrol dan bersenda gurau tak ayal para wanita itu tak sungkan untuk saling kontak fisik dengan Shaka. Harusnya tak seperti ini, Kiran tidak berhak untuk cemburu.


Tapi kenapa, ada rasa nyes di dalam sini, hatinya merasa seperti tertusuk sembilu. Terlebih ketika ia melihat Fiona dan Olivia yang nampak berkumpul menikmati pesta bersama Shaka, sementara ia di sini semakin terlupakan. Sendiri dan sepi.


"Tidak Kirana ... kamu tidak berhak merasa kan perasaan tidak adil seperti ini. Kamu harus nya sudah cukup berterima kasih karna tuan Shaka mau menampung mu di rumahnya, kamu harus tahu diri."


Monolog Kiran pada dirinya sendiri, selalu mengingatkan atas statusnya yang sebenarnya. Tapi kenapa semakin mengelak perasaan tak enak ini semakin terasa menyakitkan?


"Hai, boleh kenalan, gadis cantik?" seorang pria tiba-tiba saja mendekati Kiran yang semula melamun hingga menoleh ke arahnya, tahu-tahu pria itu sudah mengulurkan tangannya pada Kiran.


"Maaf pak, saya--"


Belum sempat Kiran melanjutkan ucapannya pria berjas biru itu sudah nyerocos duluan entah kemana arah pembicaraannya.


"Oh tadi aku baru saja sampai, Kebetulan aku telat karena mobil ku yang sempat mogok di tengah jalan. Begitu aku di sini, mataku sudah tertuju pada mu gadis manis yang terlihat sendirian di tengah pesta yang ramai."


"Maaf tuan, bisakah bicaranya pelan- pelan?" pinta Kiran karena pria itu yang bicara begitu cepat, membuat beberapa orang mulai menengok ke arah mereka, termasuk Shaka yang diam-diam menyadari dan melirik ke arah Kiran dengan pria asing di dekat gadis itu.


"Oh ya apa kalian ingat? dulu ketika kalian masih remaja, kalian suka sekali memalak kakak untuk hangout bersama, hahaha." Fiona begitu antusias bercerita tentang masa- masa indah yang telah berlalu antara Shaka dan Olivia, meski sudah tahu kedua orang itu sudah memiliki pasangan masing-masing tapi entah kenapa Fiona ingin mereka tetap bersama.


"Andai waktu bisa di putar ya, hahaha," tukas Fiona lagi pada keduanya, sementara Shaka tak fokus mendengarkan isi cerita, lain Olivia yang tersenyum hambar, ia sangat peka kemana arah pembicaraan Fiona bermuara, meski dia mengatakan jika hanya ingin bernostalgia tapi Olivia percaya jika Fiona masih mengharapkan dirinya dan Shaka bersama kembali.


"Oh ya, udah lama banget kita gak ngobrol santai kaya gini kan? hahaha, oh ya Shaka ... " saat Fiona menengok ke samping, ia mengerutkan kening menyadari jika sang adik ternyata tak mendengarkan nya.


"Helo? ... Ka! Shaka!" Fiona sampai berulang kali memanggil hingga menepuk pundak pria itu barulah Shaka menoleh ke arahnya.


"Hah! ya?!"


"Kamu kenapa sih kaya orang gak konsen gitu? daritadi kakak cerita loh, kamu gak dengar?"


"Oh dengar hanya saja ... aku ... " ucapan Shaka terputus tersebab arah matanya yang terus tertuju pada Kiran.


"Aaaa, jadi kamu lagi liatin istri mu? udah sih gak usah terlalu di liatin gitu, toh istrimu tidak akan kemana- mana," ucap Fiona dengan entengnya.

__ADS_1


"Lagian kamu menikahi wanita yang belum jelas begitu, bibit bebet bobot nya apa gak takut Ka? kata oma, kalian menikah secara mendadak bahkan keluarga kita saja belum tahu asal usul istri mu itu yang sebenarnya, kamu gak takut jika sebenarnya wanita itu menipu mu?"


"Kak! cukup!" tegas Shaka berucap.


"Yang sedang kau bicarakan itu adalah istri ku, pendamping ku, tolong hargai dia."


Fiona terdiam dengan raut wajah tegak. "Seriusan kamu sampai bentak kakak kaya gini hanya karena wanita yang baru beberapa hari jadi istri mu?"


'Kakak harusnya tahu apa maksud ku," pungkas Shaka, lalu tiba-tiba seruan heboh terdengar membuat atensi mereka mengarah ke arahnya sumber suara, rupanya Kiran yang tengah berbicara dengan pria asing yang mengajaknya berkenalan, kini tak sengaja gaunnya tertimpa oleh minuman dari gelas seorang tamu lain yang tak sengaja menubruk nya.


Setengah badan depannya basah kuyup, pria yang hendak mengajak Kiran berkenalan pun ikut kaget.


"Astaga, gaun mu basah, biar aku bantu bersihkan ... " pria itu mengambil tisu hendak mendekati Kiran untuk membantu nya namun sebuah tangan kekar seketika menghadang nya.


"Jauhkan tangan mu dari istri ku." pria itu berkata dingin dengan raut wajahnya yang datar.


"What? istri?!" pria itu kaget bukan main, semua pasang mata memandang mereka saat ini.


"Ya dia adalah istri ku dan sebaiknya kau jaga sikap mu!"


"Oh begitukah? maaf aku tak tahu." pria itu langsung melipir jauh, tak berani untuk bertindak lebih lanjut.


"Gaun mu harus di keringkan--"


"Tidak usah, tuan." Kiran memundurkan langkah saat Shaka hendak mendekat.


"Saya bisa melakukannya sendiri, terimakasih ... " kemudian dengan langkah terburu-buru Kiran pergi dengan menundukkan kepalanya, Shaka yang kaget segera mengejar.


"Kirana tunggu! ada dengan mu? aku hanya ingin membantu!" Shaka melangkah cepat menyusul ayunan kaki gadis di depannya kini, ia berteriak memanggil Kiran namun sepertinya gadis itu tak mendengar kan atau memang sengaja untuk menghindari nya?


"Kirana!"


Grep! Shaka berhasil menarik lengan Kiran hingga akhirnya gadis itu mau menghadap ke arah nya.


"Ada apa dengan mu? kenapa sikap mu jadi seperti ini hah?!" Shaka setengah membentak karena terlanjur kesal.


"Aku tak suka di abaikan seperti ini, kau tahu?!"


"Lalu bagaimana dengan ku tuan?" Kiran mengangkat wajah dengan menyeruakan protesnya, Shaka tertegun saat berhadapan dengan mata penuh luka gadis itu.


"Aku harus apa di pesta ini tuan? sementara tuan mengabaikan ku?"


"Jadi kau? ... "


"Maaf tuan, aku memang sensitif dan lebay, katakanlah begitu. Tapi aku sungguh bingung harus apa di pesta sebesar itu sementara anda tengah sibuk bersama yang lain, mengobrol dengan kak Fiona dan ... Olivia." Kiran agak ragu untuk menyebut nama di akhir kalimat nya.


Shaka baru menyadari jika memang di pesta ia terlalu sibuk menyambut para tamu hingga melupakan kehadiran Kirana, tapi satu hal yang membuatnya tertarik ...


"Kirana ... apa kau cemburu?"


"Hah?" Kiran membeo mendengar pertanyaan itu dengan otomatis pipinya memanas seketika.

__ADS_1


"Katakanlah jika memang kau cemburu ... " lanjut Shaka dengan gaya di buat tengil, melangkah semakin dekat hingga kini tubuh mungil Kiran tenggelam di antara tubuh nya, membentur tembok.


"B- bukan seperti itu tuan ... " Kiran menjadi salah tingkah untuk menjawab.


Shaka tersenyum semrik, tiba-tiba saja wajahnya sudah mendekat ke ceruk leher Kiran, menenggelamkannya di sana, membuat Kiran tersentak.


"Aku tak suka kebohongan, jujur saja jika memang kau cemburu saat aku terlalu sibuk mengobrol dengan Olivia."


Entah apa yang kini di pikirkan Kiran, mendadak saja otaknya seperti membeku terlebih ketika Shaka mulai semakin intens meraba ke sekitar area sennsitif nya, membuat ia semakin susah untuk bicara.


"T- tuan, apa yang anda lakukan?"


"Aku suka sisi lain dari diri mu ini, maaf jika telah membuat mu merasa di abaikan, aku terlalu fokus pada pembicaraan pekerjaan dengan tamu penting," ucap Shaka menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Lain kali katakanlah apa yang kau suka dan tidak suka ... "


"T- tuan?"


Saat wajah mereka berhadapan, di mata kedua nya sudah nampak kabut gairrah yang sejak tadi di tahan.


Lekas saja Shaka langsung menarik pinggang ramping Kiran, dan mempertemukan bibbir mereka, begitu penuh hassrat Shaka mengajak Kiran saling mengecap, merasakan manis nan segar di antara pertemuan bibir mereka kembali.


Beberapa menit berjalan, Kiran terpaksa harus mendorong Shaka saat di rasa ia membutuhkan pasokan oksigen.


Tak ingin menunggu, begitu Kiran sudah meraup oksigen, Shaka kembali mencivm sang istri dengan begitu pannas nya.


"Aku suka panggilan 'tuan' dari mu," ucap Shaka dengan senyum semrik mengusap bibir Kiran yang membengkak karena ulahnya.


Shaka sudah bermain di kedua gundukan kembar milik Kiran, meremmasnya lembut membuat suara lengguhan akhirnya keluar dari mulut gadis itu.


"Arggghh kau membuat ku gilla!" geram Shaka langsung mengangkat tubuh mungil Kiran dalam gendongannya.


"T- tunggu tuan, pestanya bagaimana?" tanya Kiran dengan panik saat Shaka dengan buru-buru melangkah membawanya menuju kamar mereka.


"Persettan dengan pesta nya, yang ku inginkan adalah diri mu," ucap Shaka.


Begitu mereka sampai di kamar, Shaka dengan tergesa menurunkan tubuh Kiran dan kembali meraup bibir ranum yang sudah menjadi candu nya itu.


Perlahan Kiran mampu mengimbangi permainan pannas sang suami, meski begitu ia tahu stamina Shaka yang tinggi belum tentu bisa ia tahan.


"Aku akan lebih lembut kali ini," ujar Shaka di tengah hendak pergeluttan rannjang mereka, pria itu mengusap rambut Kiran, menyusuri setiap lekuk tubuh polos gadis itu, mengecupnya tanpa meninggalkan setitik pun area sennsitif sang istri.


"Jangan di tahan," halau Shaka ketika Kiran menutup mulut nya dengan tangan.


"Aku ingin mendengar suara mu yang sekksi."


"Tuan ... "


"Ya?" suara Shaka sudah berubah serak dengan puncak pertahanan nya yang sudah di ubun-ubun.


"Kirana, oma mengatakan ingin segera memiliki seorang pewaris keluarga Najendra, jadi kau harus memberikan nya untuk mereka." bisik Shaka lalu mulai melakukan aksinya, membuat mereka berdua melayang di atas awan.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2