
...💞 Happy reading 💞...
Pagi tiba, semesta masih di selimuti kabut tipis dengan hawa dingin yang menyergap, suasana yang nyaman membuat beberapa orang enggan untuk bangkit dari kasur dan memilih masih bergelung di selimut mereka,namun beberapa ada sebagian orang yang sudah bersiap dan rapi menyambut pagi ini dengan semangat memulai aktivitas mereka.
Kirana sendiri sepagi ini sudah tampil rapi di depan kaca. Hari ini Kirana resmi mendapatkan kembali gelarnya sebagai mrs. Arshaka Ian Rajendra. Ketulusan dan permintaan maaf pria itu serta perjuangannya membuat Kirana luluh, dan bersedia menata kembali kehidupan rumah tangga mereka.
Mungkin bagi sebagian orang berfikir Kirana bodoh karena memaafkan Shaka semudah itu namun Kirana tak peduli dengan pandangan mereka, bagi Kirana sendiri ia memiliki alasan yang kuat untuk bersedia memaafkan Shaka setelah perjuangan lelaki itu dalam menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, dan meminta maaf secara tulus Kirana sudah bisa merasakan kesungguhan Shaka dalam mencintainya. Dan satu lagi, kehadiran buah hati mereka semakin menambah alasan yang kuat mengapa ia bisa memaafkan Shaka dan memulai hubungan kembali mereka, ia berfikir Tuhan saja maha pemaaf dan pengampun. Bagaimana ia yang hanya manusia biasa ini? itu sebabnya Kirana mampu menguatkan hatinya dan memberikan Shaka kembali satu kesempatan.
Dan di sinilah Kirana berada, mansion Rajendra, tempat yang awalnya ingin ia tinggalkan kini ia datangi kembali berstatus sebagai nyonya muda tuan Rajendra. Tak yang berubah kecuali satu hal, keluarga besar sudah tak lengkap seperti dulu.
Kekacauan yang sempat terjadi memang telah mengubah banyak hal, namun bagi Kirana hanya satu hal, berkurangnya anggota keluarga namun setidaknya ia bisa lega karena dengan begitu Praha yang selama ini selalu melingkupi keluarga Rajendra telah tiada.
Wijaya di larikan ke rumah sakit di Singapura untuk di tangani perawatan nya, itulah yang ia ketahui dari Shaka yang telah bercerita panjang lebar padanya tadi malam.
Wijaya sekarat oleh ulahnya sendiri, ia mengalami kecelakaan saat sedang beradu argument dengan Matilda istrinya, karena masalah kekuasaan dan hak waris Arkan yang Matilda inginkan Shaka tiada dan Arkan menjadi pewaris tunggal.
Sebenarnya Wijaya pun menginginkan hal yang sama, itu sebabnya ia berencana menyabotase kendaraan Shaka untuk menjebak keponakannya itu dan mengakhiri hidup keponakannya sendiri. Namun naas baginya, kendaraan ia dan kendaraan Shaka tertukar saat mereka menghadiri meeting bersama. Entah bagaimana terjadi, Wijaya menaiki mobil yang harusnya di naiki Shaka yang sudah di sabotase oleh orang suruhannya.
Di tengah perjalanan Wijaya berdebat dengan Matilda hingga terjadilah kecelakaan itu, ketika ia sedang beradu mulut di telpon, Wijaya tidak melihat ada sebuah minibus yang melintas di depannya, Wijaya yang panik tidak bisa menghentikan laju kendaraannya karena sudah di sabotase sebelumnya hingga mobilnya meleset dan mengenai kendaraan lain, sampai akhirnya kedua mobil itu rusak parah namun kendaraan Wijaya yang paling rusak parah. Wijaya di bawa ke rumah sakit dengan luka yang sangat serius.
Sebenarnya Shaka bisa saja menuntut Wijaya dan membalasnya karena hal itu, namun Shaka tak bisa karna masih menganggap Wijaya sebagai pamannya, itu sebabnya ia menyelamatkan Wijaya dan mau merawatnya.
Sedangkan Matilda sendiri sekarang sedang di sidang bersama Teresa untuk semua kejahatan- kejahatan mereka, yang Kirana dengar kedua wanita itu di masukkan ke sel tahanan yang sama, ia tak tahu apa mereka sudah tobat atau tidak untuk semua dosa-dosa mereka atau justeru kebalikannya mereka malah semakin menjadi-jadi.
Arkan sendiri telah mendapatkan karmanya, tangannya yang terluka parah karena tembakan dari Shaka, harus di amputasi sampai ke siku, sekarang pria itu cacat, Shaka mengirimnya ke tempat rehabilitasi karena masih menganggapnya sebagai sepupu. Arkan sendiri masih memiliki koneksi yang kuat hingga ia tak di jebloskan ke penjara, salah satunya adalah Arkan yang kini mulai bersikap seperti orang gilla, pria itu akan selalu mengamuk setiap mendengar nama Shaka atau apapun yang berhubungan dengan nya. Kirana hanya bisa menggeleng mengetahui kabar Arkan saat ini, dari yang ia ketahui saat Shaka bercerita, sebenarnya dulu Arkan dan Shaka adalah saudara yang akrab keduanya sudah seperti sahabat kental namun karena pola asuh Matilda ketika Arkan remaja membuat emosi pria itu berubah, Matilda benar-benar telah mengajarkan sikap yang buruk kepada putranya hingga membuat Arkan seperti sekarang ini.
Tinggallah Fiona,kakak dari Shaka yang ternyata dengan teganya bersekutu bersama Matilda untuk berencana menghabisi Shaka, adiknya sendiri. Rasa amarah dan iri hati yang sudah tertanam sejak lama karena Fiona merasa di perlakukan berbeda dengan Shaka oleh kedua orang tua mereka membuat Fiona dengan nekat menghancurkan hubungan tali persaudaraan mereka, ketamakan juga haus kekuasaan membuat Fiona menghalalkan segala cara mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk harus menyakiti keluarganya sendiri.
Dalam kekacauan kemarin, Fiona berhasil kabur.ia memiliki kedudukan yang kuat dan koneksi hingga membuatnya bisa lolos dengan mudah waktu itu, namun Shaka tak akan menerima begitu saja, ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan agar kakaknya itu juga mendapatkan hukuman untuk semua kejahatan yang dia lakukan. Meski sampai saat ini Shaka masih tak percaya kakaknya sendiri begitu tega menikamnya dari belakang, namun tak toleransi meski di dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama, kejahatan Fiona harus mendapatkan balasannya segera.
...--------Oo--------...
Hingga hari ini yang tersisa dalam mansion hanya Shaka dan Kirana. Renata lebih memilih merawat Oma Helen di vila keluarga Rajendra di temani oleh Olivia, beliau masih enggan untuk kembali ke mansion setelah tragedi yang terjadi membuatnya masih di lingkupi rasa trauma terlebih ia masih sangat syok karena di dalam keluarganya sendiri yang melakukan pemberontakan itu, apalagi bukan sehari dua hari namun berpuluh-puluh tahun mereka hidup berdampingan namun teganya keluarga Wijaya mengkhianati mereka, terlebih Matilda yang Renata sudah anggap seperti adiknya sendiri karena mereka begitu dekat selama ini.
Kirana berjalan santai di lorong jalan menuju dapur, saat ini ia hendak membuat masakan untuk pertama kalinya setelah kembali ke mansion ini.
__ADS_1
Ketika tengah berjalan sambil melihat pemandangan di luar jendela tiba-tiba saja tubuh Kirana serasa melayang karena ada yang menarik tangannya dari belakang.
Kirana sontak melotot terkejut, tubuhnya mendadak sudah di rapatkan di pojok tembok, ketika ia membuka mata saat sebelumnya tertutup karena terkejut, Kirana refleks menghela nafas lega karena Shaka yang ada di depannya saat ini, namun ia juga jadi semakin kaget ketika menyadari telapak tangan Shaka yang menutup mulut nya.
"Mas? kau?kamu membuat ku hampir terkena serangan jantung!" desis Kirana setelah Shaka membuka bekapan mulutnya.
"Benarkah?" Shaka justru mengangkat sebelah alisnya, ujung bibirnya melengkung membentuk sebuah seringai.
"Gak lucu mas, lepas!" desis Kirana lagi,namun Shaka justeru semakin merapatkan kedua tangannya yang mengunci pergerakan Kirana.
"Mas? kamu maunya apa sih?" Kirana melotot geram, merasa gemas dengan tingkah suaminya ini.
"Kissing morning," jawab Shaka lugas dan tepat sasaran.
Namun sepertinya Kirana bukanlah wanita yang malu-malu dan akan langsung salah tingkah karena godaannya, seperti dulu. Ia bisa merasakan perubahan Kirana yang lebih dewasa dan tangguh, Shaka senang dengan hal itu namun di satu sisi ia rindu dengan sang isteri yang lembut dan penurut, Shaka sepenuhnya juga tahu perubahan itu juga bersumber karena nya.
"Astaga, itu yang kau inginkan? kekanakan sekali mas, kau bukan anak kecil lagi kan?" Kirana berdecak, kata yang meluncur darinya sukses membuat Shaka terdiam hingga akhirnya ia bisa lepas dari cengkeraman pria itu.
Kirana hendak melanjutkan kembali langkahnya, namun Shaka dengan cepat berhasil memeluknya dari belakang.
"Jika kau tidak bernafaskan kau tidak akan bisa memeluk ku seerat ini?" balas Kirana memutar bola matanya.
"Apa Kiran ku telah berubah?"
Pertanyaan Shaka berhasil membuat Kirana terdiam.
"Dia tidak seperti dulu yang selalu pemalu saat aku mengungkapkan kata-kata cinta padanya." lanjut pria itu.
"Mas, setiap orang pasti akan berubah," ucap Kirana lalu berbalik menghadap Shaka. "begitupun dengan aku ataupun dirimu sendiri, kita bisa berubah setiap saat entah karena lingkungan atau sikap orang ke kita."
"Apa itu artinya kau sudah tidak cinta lagi padaku?" tanya Shaka dengan raut polos, Kirana seperti melihat seekor anak bebek yang takut kehilangan induknya membuatnya tertawa.
"Jangan berfikir kejauhan mas. Aku masih sangat mencintai mu."
"Baiklah, kalau begitu satu kecupan tidak masalah kan?" Shaka menarik pinggul Kirana,mengikis jarak di antara mereka, kemudian ia mengecup pipi sang istri dengan begitu dalam dan perhatian. Kirana dengan tingkah Manja pria itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," kata Shaka seraya mengecup seluruh inci wajah Kirana.
"Demi penguasa langit dan bumi, aku sungguh-sungguh mencintai mu," ungkapnya lagi sebelum akhirnya tatapan pria itu jatuh ke bibir Kirana yang ranum, Shaka segera saja meraupnya dengan semangat. Menciptakan rasa manis yang di rindukan keduanya.
"Apa kau puas?"
"Belum, sepertinya aku ingin lebih."
Kirana mengerling. "Dasar messum!" desis nya menepuk lengan sang suami.
Shaka tertawa. "Aku serius sayangku, sepertinya kita membutuhkan tempat yang nyaman untuk mereguk madu."
Mengerti akan kode sang suami, Kirana yang semula tersenyum malu-malu mendadak memasang wajah panik ketika tersadar jika di dalam kandungannya ada sebuah janin yang sedang tumbuh.
"Tunggu mas!" sentak Kirana ketika Shaka sudah bersiap hendak menggendongnya ala bridal style.
"Kenapa?" tanya Aslan mengerutkan dahi.
"Aku gak bisa," ucap Kirana mengangkat wajah menatap pria itu, sebenarnya ingin sekali ia katakan jika sekarang ia tengah mengandung anak lelaki itu namun sepertinya ia memiliki rencana lain, Kirana ingin kabar kehamilannya ini surprise untuk ulang tahun Shaka nanti yang ingat akan tiba dua hari lagi.
"Kenapa gak bisa? kamu belum memaafkan ku sepenuhnya?" tanya Shaka dengan raut kecewa.
"Bukan begitu, ini karena sepertinya ... "
"Karna?" Shaka mengulang perkataan Kirana, tak sabar mendengarkan alasan istri kecilnya itu.
"Karena ... aku ingin memasak!" Kirana tertawa ia berhasil mengelabui Shaka dan berlari menghindar dari pria itu, sebelumnya Kirana berpaling memasang wajah mengejek yang lucu membuat Shaka tadinya ingin marah mengurungkan niatnya justeru malah terkekeh gemas.
"Kau membuat ku gilla, Kirana." Shaka menggelengkan kepala.
"Tunggu sayang!" teriak pria itu lalu berlari kecil hendak menyusul sang istri.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca kisah Shaka dan Kirana hingga sejauh ini, nantikan selalu kelanjutannya ya✨
__ADS_1