Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | 68 ( Spesial Aslan)


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Aslan terpekur menatap lantai, benaknya kini tengah melanglang buana teringat kembali akan kebersamaannya dengan adiknya ketika mereka masih kecil dulu. Masih sangat jelas di ingatan memori Aslan hari di mana orang tuanya bertengkar hebat ketika itu hingga ia harus berpisah dengan adik tersayangnya.


Flashback on*


"Kamu tuh ya taunya cuma ngeluh- ngeluh aja, gak tau gimana capeknya aku di kantor hah? suami pulang bukannya di sambut, disediakan apa kek ini cuma marah-marah aja taunya!"


"Mas, aku bukannya gak ngertiin kamu, tapi pikir lah perasaan anak-anak! kamu udah janji kan sama mereka buat keluar rayain ultah Aslan? di mana tanggung jawab kamu!"


"Iya aku tahu, tapi ngertiin juga aku lagi capek! kantor lagi banyak kerjaan hari ini. Kan bisa di cancel besok?!"


Dua orang dewasa yang saat ini tengah beradu mulut dengan teriakan,cacian dan barang-barang yang di lempar, terlihat sangat mengerikan di lihat oleh dua bocah yang saat ini tengah melihat pertengkaran itu.


Aslan dan Chiara kecil hanya bisa bersembunyi, mendengar keributan orang tua mereka, kedua malaikat kecil yang tak tahu apa-apa perkara masalah orang dewasa harus di paksa mengerti oleh keadaan. Aslan kecil tahu semua ini bersumber karena nya hingga akhirnya ibu dan ayah mereka bertengkar,lagi.


"Kakak, mama dan papa ribut lagi ya?" tanya Chiara si kecil, yang polos. Matanya yang jernih mengerjap- ngerjap takut, mendengar suara kedua orang dewasa yang tengah beradu argument itu begitu keras hingga menggema di seluruh penjuru ruangan kamar mereka.


Aslan yang sangat tahu ketakutan adiknya, merengkuh tubuh mungil Chiara membekapnya erat-erat. Meski ia sendiri juga merasakan takut mendengar suara keributan serta berbagai suara benda yang jatuh begitu keras, bagaimana tidak, seorang bocah berusia 9 tahun dengan adiknya yang berusia 4 tahun harus di paksa melihat dan mendengar pertengkaran kedua orang tua di depan mata mereka. Dan kali ini sepertinya pertengkaran itu benar-benar besar hingga membuat ibu mereka kini menangis.


"Alah,kamu alasan aja sibuk di kantor, sebenarnya kamu lagi jalan-jalan sama selingkuhan berkedok sekretaris mu itu kan?!"


"Rasti!!"


Plakk!


Aslan melotot menahan nafas, saat ia melihat ibunya yang di tampar begitu keras oleh sang ayah hingga membuat perempuan itu tersungkur di lantai.


"Jaga ucapan kamu ya?!" Baskoro melotot garang, tak senang dengan tuduhan istrinya.


"Jaga ucapan? harusnya kamu yang bisa jaga perilaku kamu itu. Kamu pikir aku gak tau dua bulan ini kamu sering pulang telat karena sibuk sama selingkuhan kamu itu?!"


Rasti bangkit dengan matanya yang memerah berkaca-kaca ia menarik kerah baju Baskoro, suaminya sendiri yang selama ini selalu ia hormati.


"Aku sabar selama ini demi anak-anak. Apa kamu gak bisa ngertiin aku, aku di rumah capek jagain anak-anak mu, tapi di luar sana kamu malah enak-enakan selingkuh,di mana hati kamu hah?!" berang Rasti yang sudah lelah menyembunyikan semua tekanan yang ia rasakan selama ini.


"Diam kamu!!" Baskoro mendorong tubuh Rasti, kepalang malu karena perselingkuhannya sudah di ketahui oleh sang istri ia malah melayangkan tuduhan balik kepada perempuan yang sudah melahirkan kedua anaknya itu.


"Kau pikir apa aku juga selama ini gak tau tentang pengkhianatan mu dengan Rudi, yang katanya hanya teman bagimu itu hah?!"


Rasti menggeleng- geleng kan kepalanya. "Fitnah kamu mas!"


"Alah diam kamu, memang selama ini benar kata ibuku, kamu ini bukan perempuan baik-baik!"


Rasti menggeleng semakin tak percaya, ternyata selama ini Parwita, ibu mertuanya lah yang menjadi provokator di rumah tangga mereka. Pantas saja akhir-akhir ini sikap suaminya berubah drastis, bukan hanya tentang perselingkuhan pria itu namun hasutan ibunya pun turut andil dalam pertengkaran mereka selama ini.


"Rasti Setiawan, mulai hari ini detik ini saya mentalak kamu, kamu bukan istri saya lagi.


Silahkan pergi dari sini!"


Rasti membeku, bukan hanya ia saja yang kaget namun Aslan yang melihat pertengkaran keduanya pun ikut kaget dengan apa yang di ucapkan ayahnya. Meski ia baru berusia sembilan tahun,ia tahu apa itu talak atau perceraian,itu artinya kedua orang tuanya sudah resmi berpisah. Setidaknya itulah yang bocah itu ketahui melihat dari bagaimana lingkungan dan teman-temannya yang bercerita tentang kedua orang tua mereka yang berpisah.


"Papa jangan!" Aslan nekat keluar dari persembunyian demi melindungi sang bunda, namun saat ia menunjukkan diri Aslan sudah melihat ibunya yang menangis tergugu dan ayahnya yang berdiri bersama seorang perempuan cantik. Aslan tahu jelas wanita yang selalu bersama ayahnya akhir-akhir ini. Gara-gara perempuan itu ayahnya jadi lupa hari ini hari ulang tahunnya.


Aslan tak takut apapun, bocah itu maju merentangkan tangannya menjadikan dirinya tameng untuk melindungi ibunya.


"Ayah, jangan sakiti bunda lagi!"


"Diam kamu! masih kecil sudah berani melawan ya? persis seperti bundamu!" Baskoro yang kalap karena amarah ikut menyeret putranya yang masih kecil itu, ia menarik Aslan keluar Rasti yang panik langsung bangkit mengejar sang putra.


"Ikut saya!"


Aslan hanya diam dengan amarah yang diam-diam tersulut berkobar di dadanya. Baskoro dengan teganya menyeret lengan kecil Aslan lalu mendorong tubuh putranya sendiri itu keluar.


"Mas, stop! jangan sakiti Aslan juga, dia masih kecil, dia gak tau apa-apa?" Rasti semakin terisak, memeluk tubuh Aslan.


"Alah diam, aku udah muak sekarang! kalian berdua angkat kaki dari sini!"

__ADS_1


Rasti membulatkan matanya tak percaya. "Mas teganya kamu?"


"Kamu lebih memilih selingkuhan kamu ini daripada isteri dan anakmu sendiri?!" ujar Rasti seraya menunjuk wanita di samping suaminya yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga mereka.


"Diam! pergi kau dari sini! bawa anakmu juga, aku gak yakin anak itu adalah darah daging ku!"


"Mas ... " Rasti semakin kaget mendengar penuturan suaminya. "Tega kamu ya mas bisa-bisanya kamu bicara begitu di depan Aslan?"


Sebenarnya hasutan apa saja yang di berikan ibu mertuanya kepada sang suami hingga menjadi seperti ini, Rasti benar-benar tidak menyangka nya.


Aslan yang masih berada di pelukan ibunya mengangkat wajah menatap ayahnya dengan sorot benci.


"Papa jahat! aku benci papa!"


"Diam kamu! pergi angkat kaki sekarang juga?!" hardik Baskoro mengusir dengan teganya, hingga tiba-tiba Chiara kecil keluar berlari dengan menjerit kencang.


"Bunda, kak Aslan!" bocah perempuan hendak menghampiri keduanya namun Baskoro dengan cepat menahan.


"Tidak Chiara! kamu tetap di sini bersama papa!"


Chiara memberontak menangis sekencang-kencangnya. "Gak mau! aku maunya sama bunda dan kak Aslan!"


"Chiara!"


"Kak Aslan!"


Aslan tertegun, jiwanya seperti tertarik kembali setelah mengingat ketika ia dan adiknya berpisah karena keadaan yang memaksa waktu itu.


Kala itu ia sangat membenci ayahnya, Aslan dan sang ibu akhirnya pergi meninggalkan rumah mereka membawa trauma yang membekas bagi Aslan kecil karena pertengkaran orang tuanya.


Ayahnya resmi menikah dengan sekretaris yang menjadi selingkuhan nya. Namun hukum karma itu ada, kebahagiaan mereka ternyata hanya sementara ketika kala itu ayahnya dan isteri barunya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Hingga akhirnya Aslan, sang bunda dan Chiara kembali di pertemukan. Setelah kematian tragis ayahnya dan selingkuhannya, mereka berkumpul kembali menjadi sebuah keluarga kecil yang harmonis, suka duka mereka jalani bersama. Rasti meminta pengertian kepada kedua anaknya agar jangan sampai menemui keluarga pihak Baskoro, ayah mereka karena Rasti sudah sangat tahu bagaimana tabiat mereka terutama Parwita yang bisa saja menyesatkan putra dan putrinya juga ke jalan yang salah meski sebenarnya ia salah menjauhkan cucu dengan kakek nenek mereka. Namun Rasti tak ingin kedua anaknya di beri pengaruh buruk hingga terpaksa melakukan itu. Rasti membawa kedua anaknya untuk pergi ke kota kelahirannya dan memulai hidup baru bertiga.


Namun sepertinya Tuhan masih ingin menguji mereka, tiga bulan mereka membangun kembali keluarga kecil yang hampir runtuh, Aslan dan Chiara harus kembali berduka dengan kematian Rasti yang tiba-tiba karena penyakit kanker rahim yang ternyata diam-diam bersarang di tubuh wanita itu.


Aslan dan Chiara resmi menyandang gelar sebagai yatim piatu. Mereka berdua harus menelan kenyataan yang menyedihkan di usia mereka yang masih sangat kecil.


Namun ternyata tak lama untuk mereka tetap bersama. Kala itu Aslan kecolongan ketika ia harus bekerja seusai sekolah untuk mengisi perut mereka, ia mengajak Chiara bermain di sebuah taman berniat meninggalkan adiknya sebentar sementara ia menukarkan barang rongsokan yang sudah ia kumpulkan ke pengepul demi beberapa rupiah untuk makan hari ini.


Naas ketika ia kembali Chiara sudah tak ada di tempatnya. Aslan berteriak, berlari mencari sang adik di sekitar taman, ia juga sudah meminta bantuan para warga untuk menemukan adiknya namun nihil.


Aslan menangis sekejar mungkin, merasa gagal menjaga sang adik. Para warga menatap simpati padanya sampai akhirnya sebuah mobil mewah datang menghampiri mereka.


Parwita dan suaminya yang ternyata datang. Mereka berniat untuk menjemput Aslan.


"Maaf bapak-bapak ibu-ibu,dia adalah cucu kami. adiknya sebenarnya sudah meninggal lama namun cucu kami ini tidak bisa menerima kenyataan hingga terus tantrum mengira jika adiknya itu hilang." itu lah yang di jelaskan Parwita pada para warga.


Aslan mendengar itu mengamuk tak terima "Gak! Chiara masih hidup, apa yang nenek katakan?!"


Parwita tersenyum segan, ia meminta maaf kepada para warga yang ada di sana dan segera menarik Aslan menjauh.


"Ayo sayang kita pergi." ajak Parwita, meminta Pangestu, suaminya untuk menarik Aslan dari sana.


"Gak mau! aku mau cari Ciara!"


***


Aslan mengusap sudut mata, mengingat kembali memori menyakitkan itu membawa luka tersendiri di hatinya yang kembali menganga.


Sampai kini meski lima belas tahun sudah berlalu ia masih percaya jika adiknya masih hidup namun entah di mana, hingga kepercayaan itu membawa ia bertemu dengan Kirana yang mengingatkannya kembali tentang Chiara, adiknya.


...--------Oo--------...


Aslan berjalan gontai keluar dari kamar perawatan, suster datang menatap khawatir kepadanya.


"Maaf pak, anda masih belum sembuh kenapa keluar kamar?"

__ADS_1


"Saya mau mencari udara segar sus, saya pengap di kamar terus."


"Tapi pak--"


"Biar saya yang jaga, sus." tiba-tiba suara seorang wanita menyahut dari belakang, Aslan dan suster itu sontak menoleh ke asal sumber suara.


Vania berdiri di sana, dengan mata yang kentara sembab namun gadis itu masih bisa tetap tersenyum, ia pun menghampiri Aslan dan suster itu.


"Gak apa-apa sus, pasien sepertinya memang membutuhkan udara segar demi kesembuhan luka-luka nya juga, saya akan menemani, jika sampai terjadi sesuatu saya bisa dengan cepat memanggil paramedis."


Suster itupun mengangguk hanya bisa mengiyakan. "Baiklah jika begitu."


***


Aslan dan Vania berjalan di sekitar taman dekat rumah sakit, malam kali ini begitu indah karena sinar rembulan yang menyorot teduh di tambah indahnya kemperlip bintang di langit sana seakan menemani perjalanan mereka.


"Kenapa kau datang?" tanya Aslan to the point, Vania mendapati raut tak suka di wajah tampan itu.


"Salah jika aku ingin menjenguk mu?" tanya Vania balik.


"Tidak. Tapi sebaiknya jangan karena kita tidak memiliki hubungan apapun."


Kata-kata menohok Aslan membuat Vania terdiam seketika. Hal itupun membuat Aslan ikut menghentikan langkahnya.


"Kau menangis?" tebak Aslan.


"Tidak." jawab Vania cepat.


"Tapi kata-kata ku menyakiti mu, kan?"


Vania membisu, matanya menatap kosong.


"Kau tidak perlu sekeras ini berjuang Vania. Dunia kita sudah berbeda, sebaiknya kau fokus pada kehidupan mu daripada terus sibuk dengan ku."


Teringat kembali tentang perkataan neneknya Aslan pun berujar lagi. "Dan apa yang kau katakan tentang aku dan Kirana kepada nenek itu sangat keterlaluan Vania, gara-gara kau semuanya jadi salah paham."


"Maafkan aku," kata Vania pelan. "Aku memang salah tapi kau juga salah dengan perlakuan mu kepada Kirana."


"Aku hanya menganggap nya sebagai adik Vania, kau tahu itukan?"


"Ya, aku tahu kau memang sudah menceritakan semuanya tentang bagaimana Kirana yang mengingatkan mu dengan adikmu Chiara." Vania menoleh menatap pria itu dengan suara meninggi.


"Tapi, kedekatan mu dengan Kirana itu bisa kecurigaan orang-orang, aku hanya tak ingin kebaikan mu itu malah menjadi Boomerang untuk mu sendiri."


Kini giliran Aslan yang terdiam. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri."


Pria itu berbalik pergi setelah mengatakan itu berharap Vania agar mengerti dan berhenti untuk ikut campur dalam masalahnya. Namun gadis itu justru berlari mengejarnya.


"Aslan tunggu!"


Grepp! Vania berhasil menarik lengan kekar Aslan hingga mereka kembali berhadapan.


Di samping pohon besar, di bawah sinarnya rembulan, Vania menarik tubuh Aslan hingga mendekat, hal yang tak pernah Aslan duga sebelumnya dari perempuan itu.


Tep! kedua tangan Vania menarik masing-masing pipi Aslan memaksa kedua mata pria itu untuk menatapnya.


"Dengar Aslan Mavendra, kau tidak bisa menghentikan seorang Vania Prameswari untuk berhenti mengejar mu. Aku akan tetap di sini sebagai nafas mu."


Aslan mengerjap-ngerjap dengan mata melebar tertegun dengan keberanian yang di miliki Vania saat ini.


"Maaf atas sikapku yang berlebihan atas sikap baikmu dengan Kirana, aku tahu kau hanya menganggap nya sebagai adik mu," kata Vania lagi lalu melepaskan tangannya di pipi Aslan, ada krtidakrelaan di hati Aslan saat Vania melakukan itu. Sebenarnya mereka memang saling mencintai namun keadaan memaksa untuk mereka menahan perasaan itu.


"Dengar mulai sekarang mulai detik ini aku akan tetap berada di samping mu,aku akan membantu mu untuk mencari adik mu yang hilang. Kemudian Vania mengambil tangan Aslan melingkupi tangan yang lebih besar itu dengan kedua tangan mungilnya.


"Aku tahu kamu sangat merindukannya ... "


Tersebab Vania hafal kebiasaan Aslan yang akan selalu berjalan-jalan di taman ketika mengingat tentang adiknya.

__ADS_1


Bisakah mereka menemukan Chiara yang hilang?


To be continued ...


__ADS_2