Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP Bab 76 | Mencari Chiara ( end)


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Aslan baru saja membuka mata, saat ia rasa kepalanya berdenyut sakit, ini pasti karena ia terlalu menahan agar air matanya tidak sampai keluar, tadi malam. Serapuh- rapuhnya ia, Aslan masih memegang prinsip jika pria pantang untuk menangis!


Aslan terduduk di atas sofa, saking terlalu fokus dengan sakit kepala yang di rasakan nya, pria itu sampai lupa jika ia menginap di apartemen Vania saat ini. Laki-laki itu sedikit menyesal tidak seharusnya ia membuat perempuan seperti Vania repot apalagi hingga harus menginap saat Vania sendiri masih tinggal seorang diri di apartemen. Lain kali Aslan tidak akan melakukan kecerobohan itu lagi.


Semuanya nampak sunyi, Aslan mengedarkan pandangannya lalu terhenti saat atensinya melihat Vania yang kini berdiri membelakanginya membuat pria itu mengernyit heran.


"Van,ada apa?" tanya Aslan namun Vania masih saja tetap bergeming di tempat nya membuat Aslan yang keheranan pun langsung berdiri dan menghampiri gadis itu.


"Van?" Aslan memanggil dengan suara rendah khawatir karena Vania yang diam saja tanpa mau merespon nya, tepat ketika Aslan menepuk bahu gadis itu agar mau menatap ke arahnya di saat itu juga Aslan tertegun mendapati Vania yang sedang tergugu dengan kristal bening yang mengalir di sudut matanya.


"Van,ada apa?" Aslan terlihat langsung ketar-ketir, kekhawatiran langsung menguasai dirinya saat ini, sejak dulu Aslan memang paling tidak tahan saat Vania mulai nangis baik itu karena nya ataupun karena hal ini, Aslan paling tak suka melihat adanya air mata di netra bening saat ini.


"A- aslan ... I- ini." dengan suara gemetar dan tangannya yang nampak kepayahan Vania memberikan sesuatu ke arah Aslan, sebuah sapu tangan.


Mulanya Aslan terkejut namun sedetik kemudian ia tersadar dan mengambil sapu tangan itu dengan santainya. "Oh ini sapu tanganku yang dari bunda Sari, kenapa bisa ada padamu?"


Sejurus kemudian Aslan baru teringat tadi malam sebelum kesini Aslan ribut besar dengan kakeknya Pangestu, hingga membuat pria itu lebih memilih meninggalkan mansion untuk menenangkan diri hingga akhirnya Aslan dengan emosi dan tergesa-gesa mengambil kunci mobil juga sapu tangan di atas meja.


Pria itu lantas berdecak, bagaimana mungkin ia lupa dengan sapu tangan yang tak pernah lupa ia bawa kemana pun ia pergi. "Oh astaga maafkan, aku ceroboh hingga pasti menjatuhkan nya tadi malam kan? dan kau menemukan nya, terimakasih. Tapi apa yang membuat mu menangis hingga seperti ini?" tanya Aslan seperti orang kebingungan.


Vania tak menjawab, ia bergeming sejenak sambil menatap nanar. "Apa kau tidak mau melihat gambar dan tulisan di sapu tangan itu?"


Aslan menautkan kedua alisnya. "Untuk apa? ini sapu tangan ku yang di berikan bunda Sari dengan motif bunga sepatu--" ucapan Aslan mendadak terhenti saat ia mengecek sapu tangan itu lebar-lebar seperti apa yang di pinta Vania.


Aslan lalu tercekat. Ia terlalu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.


"Bunga anggrek?" Aslan membeo, masih mencerna semua ini, lantas kemudian ia mengingat perkataan bunda Sari yang memberikan Chiara sapu tangan yang sama dengannya namun dengan motif gambar bunga anggrek.

__ADS_1


Aslan semakin tersentak, dengan segera ia menatap ke arah Vania, seolah tak percaya. "Vania? ini?!"


Vania mengangguk seolah sudah bisa menebak apa yang di pikirkan pria itu. "Iyah Aslan. Memang benar apa yang di katakan oleh bunda Sari, keajaiban Tuhan itu ada."


Aslan terperangah masih tak percaya, lantas beberapa detik setelahnya Aslan bereaksi hiperbola, pria itu tak bisa menyembunyikan raut bahagia nya.


"Vania, ini punya Chiara? ini sapu tangan milik Chiara?!"


Vania mengangguk lagi. "Benar Aslan. Cobalah kau lihat nama yang tertera di sapu tangan itu ... " pinta Vania berharap Aslan tak semakin terkejut setelah ini.


Aslan menuruti perkataan Vania, ia membolak-balik kan sapu tangan itu, sampai di titik yang mana ia menemukan sebuah nama di ujung kain sapu tangan itu membuat Aslan benar-benar kehilangan kata-kata nya saat itu juga.


"Kirana? .... "


"Yah, Aslan. Kirana adalah adikmu," kata Vania sambil mengangguk menunjukkan wajah terharunya.


Aslan membeo panjang, terlalu banyak kejutan hingga ia tak bisa mencernanya satu-satu.


Kemana Aslan selama ini? ternyata benar, bukan hanya karena wajah dan sifat Kirana yang selalu mengingatkan Aslan tentang Chiara, tapi selama ini Chiara adiknya ada di dekatnya.


Aslan tak bisa berkata-kata apa-apa lagi saking terkejutnya. Yang pasti ia sangat bersyukur Tuhan akhirnya menjawab semua doa-doa nya, adiknya telah di temukan, dan ternyata dia ada sampingnya selama ini, perempuan yang ingin selalu ia lindungi, perempuan yang ia bantu, Lentera Kirana, adalah adiknya yang selama ini hilang.


"Aslan, kau mau kemana?!" tanya Vania begitu melihat Aslan dengan tergesa-gesa hendak pergi.


"Aku ingin menemui Kirana sekarang juga, Van," ucap Aslan dengan perasaan menggebu-gebu, akhirnya rindunya terhadap sang adik menemukan tujuannya kini.


"Kalau begitu aku ikut," sahut Vania yang juga antusias, Aslan mengangguk cepat yang langsung di respon sama oleh Vania, keduanya pun pergi untuk menemui Kirana.


...--------Oo--------...

__ADS_1


"Mas, apa kamu lihat sapu tangan ku gak?" tanya Kirana, pagi ini perempuan itu sudah terlihat uring-uringan dan kelabakan sendiri di kamar membuat Shaka yang sedang bercermin membetulkan posisi dasinya sontak menoleh ke arah sang istri.


"Gak liat sayang, memangnya kenapa?" tanya Shaka lantas mendekati Kirana yang terlihat semakin frustasi karena benda yang di cari-cari nya sejak tadi tak kunjung ketemu.


Mengamati Kirana yang sepertinya tak mendengar ucapan nya membuat Shaka menepuk halus pundak wanita itu. "Sayang?" panggil Shaka pelan, Kirana pun menoleh dengan wajah gusar dan juga lelah.


"Eh,iya mas." Kirana menghela nafas panjang, ia terduduk di bibir kasur Shaka memapahnya dengan hati-hati mengingat kandungan Kirana yang sudah semakin terlihat.


"Sapu tangan itu berarti banget buat aku mas, tanpa itu aku seperti tak hidup," ujar Kirana membeberkan isi hatinya yang ia rasakan saat ini.


"Kenapa begitu?" tanya Shaka duduk di samping sang istri.


Kirana menghela nafas lagi sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. " karena sapu tangan itu adalah pemberian dari orang tua ku yang paling berharga, mereka memberikannya di ulang tahun ku dan menitipkan pesan agar aku menjaganya dengan baik."


Lantas kemudian wajah Kirana nampak murung. "Sekarang sapu tangan itu gak ada, dan aku baru ingat sekarang. Aku merasa buruk karna tidak bisa menjaga pemberian orang tua ku."


"Hei, jangan bicara seperti itu sayang," ujar Shaka lalu menekan lembut kedua pundak Kirana. "Coba di cari lagi, pasti masih ada di sekitar ini."


Kirana mengangguk lesu. "Iya mas."


"Kirana!"


Keduanya kompak terkejut menoleh berbarengan saat lengkingan suara dari luar memanggil Kirana.


Shaka dan Kirana saling tatap, mereka pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Begitu sampai di lantai bawah, Kirana kontan terkesiap saat tiba-tiba sudah ada yang menerjang tubuhnya, memeluknya dengan erat.


"Akhirnya kakak menemukan mu, Chiara ..."


Kirana tak mengerti, Aslan memanggil nya dengan nama Chiara?

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2