Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP Bab 75 | Mencari Chiara 02


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Di kediaman mewah Mavendra saat ini. Malam mulai merangkak naik, ribuan bintang bersinar terang di atas langit, Aslan menatap gamang di jendela kamarnya, di sebelah tangannya ia mengenggam erat sapu tangan dengan gambar bunga sepatu yang di berikan Sri, pengurus panti asuhan yang sempat menjadi tempat tinggal Aslan bersama Chiara, adiknya. Kini satu-satunya Aslan untuk mencari keberadaan Chiara yang hilang adalah sapu tangan ini, namun Aslan tidak tahu harus memulai nya dari mana.


Dari arah pintu kamarnya yang terbuka, seorang pelayan datang dengan menunduk hormat. "Maaf tuan muda menganggu, anda sedang di tunggu di ruangan tuan besar saat ini," tutur pelayan itu memberitahu.


Kening Aslan mengkerut seketika. "Kakek? untuk apa beliau mencari ku? tidak biasanya."


Lelaki itu kemudian membalikkan badannya. "Baiklah, bilang pada kakek untuk menunggu sebentar, aku akan bersiap."


Pelayan yang masih setia menunduk itu mengangguk patuh kemudian melenggang pergi setelah membungkuk memberi penghormatan. Aslan pun juga segera berlalu ke walk in closed untuk membersihkan diri karna sebelumnya ia baru menyelesaikan meeting penting di kantor hingga ia baru balik ke mansion malamnya. Aslan menaruh sapu tangan berwarna putih yang sudah bercampur warna kekuningan karena termakan usia, di atas meja. Membiarkan nya di sana.


Aslan berjalan ringan menuju ruangan kerja kakeknya, dulu Aslan paling takut jika sudah berada di sini, karena di ruang kerja inilah Aslan di tekankan untuk menjadi pewaris perusahaan hingga ia harus mati-matian belajar agar selalu mendapatkan nilai tertinggi sejak kecil yang di ajari dan di awasi langsung oleh sang kakek yang mana menurut Aslan kakeknya saat itu sangatlah galak .Kakek Aslan adalah seorang yang disiplin dan keras, beliau menitipkan cita-cita tinggi agar suatu hari cucunya bisa menggantikan dirinya untuk menjalankan perusahaan bisnis keluarga mereka, tak tanggung-tanggung Pangestu sudah merencanakan masa depan Aslan dengan sangat baik dan apik bahkan sejak cucunya itu masih harus mengenal huruf, tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Pangestu soal pendidikan ataupun pergaulan Aslan, Pangestu akan memastikan Aslan menjadi perwujudan tentang impian besarnya selama ini.


"Kakek memanggil ku?" tanya Aslan yang sudah berdiri di hadapan sang Pangestu saat ini yang sedang duduk di kursi kebesarannya, jarak mereka di sekat oleh meja besar berbahan kayu jati berkualitas tinggi, dengan ukiran-ukiran unik yang mana di atasnya terdapat sebuah papan nama bertuliskan 'Presdir utama'.


"Duduk kamu Aslan," titah kakeknya dengan suara dingin, Aslan mengangguk ia pun mendudukkan dirinya di kursi kosong berhadapan dengan sang kakek.


Brakk! tiba-tiba saja Pangestu mengeluarkan berkas-berkas yang membuat Aslan tersentak di tempatnya.


"Apa maksud mu ini hah?!" bentak Pangestu yang mendadak naik pitam. "Untuk apalagi kamu ke panti asuhan itu? untuk apa lagi kamu mencari perempuan itu hah?!" wajah Pangestu semakin memerah padam karena amarah, urat-urat di lehernya sampai terlihat jelas saking tingginya suara yang ia keluarkan.


"Jadi kakek memantau ku?" tanya Aslan dengan tenang. Jika dulu saat kecil ia sangat takut saat kakeknya marah apalagi jika sudah menyangkut tentang nilai-nilai sekolah nya padahal saat itu Aslan sudah berusaha sangat keras, namun tidak sekarang, Aslan sudah besar ia tak perlu lagi kekangan dari kakeknya, menurutnya hidupnya ia jalani sendiri tanpa campur tangan sang kakek lagi.


"Bagaimana kakek tidak tahu? kau lupa? mata-mata kakek banyak dan mereka akan selalu mengawasi mu."


"Oh begitu? apa segitu takutnya kakek hingga mengintili semua aktivitas ku, segitu terancamnya kah kakek jika aku bertemu dengan adikku lagi?!"


"Aslan?!" Pangestu berteriak berang, ia semakin naik pitam matanya yang di tutupi oleh kacamata tebal semakin melotot geram.


"Jangan sampai kau keluar dari batasan mu!" tukas Pangestu, memperingati.

__ADS_1


"Aku atau kakek yang keluar batasan?!" Aslan berdiri dengan raut wajah dingin. "Cukup kek cukup! selama ini aku sudah cukup sabar berada di bawah kekangan mu, aku sudah menuruti semua yang kakek inginkan. Kini biarkan Aslan menentukan hidup Aslan sendiri, salah satu nya dengan mencari keberadaan Chiara dan kakek tidak boleh menghalangi itu!"


"Begitu kamu?" Pangestu menatap sengit. "Apa ini balasan yang kamu berikan atas semua jasa kakek dan nenek mu selama ini untuk mu?!"


"Ingat, jika bukan karena kami kau tidak akan ada apa-apanya selama ini," ujar Pangestu lagi membuat Aslan langsung tertohok di tempatnya.


"Jadi apa selama ini kalian tidak tulus padaku?" lirih Aslan, tercekat. Tak menduga kakeknya akan bicara seperti itu, orang yang selama ini selalu menjadi panutannya.


Pangestu justeru tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Aslan, Aslan kau masih saja naif seperti ibumu," ucapnya dengan nada meremehkan. "Mana ada orang tulus di dunia ini. "Masing-masing dari mereka hanya mementingkan diri sendiri, kau harusnya sudah menyadari dari dulu apa tujuan ku mengambil mu dari panti asuhan itu untuk kemudian di urus."


Aslan menelan ludah dengan kasar, merasa tulangnya saat ini sedang di copoti satu persatu karena perkataan laki-laki tua di depannya ini begitu menyentaknya dari yang terdalam.


"Jika bukan karena kau adalah putra Baskoro dan calon ahli waris ku satu-satunya aku tidak akan sudi memungut mu kembali!"


Pangestu kemudian berjalan mendekati Aslan yang membeku di tempatnya berdiri, lalu menepuk pundak pria itu beberapa kali. "Jadi lebih baik kau diam, tidak usah bertingkah, biarkan semuanya berjalan sesuai rencana ku untuk mu," ucap Pangestu memberikan Aslan kembali tertohok.


...--------Oo--------...


"Siapa sih? malam-malam begini mencet bel kaya orang kesurupan!" gerutu Vania sebal, namun kakinya tetap melangkah menuju pintu depan, takut-takut jika yang sedang menanti nya di luar adalah tukang paket atau emang orang penting yang hendak menemuinya.


"Awas aja kalo sempe orang iseng?!" gusar Vania, sudah mengambil ancang-ancang waspada, namun sepertinya itu tidak mungkin mengingat hanya orang tuanya dan orang-orang terdekatnya yang tahu unit apartemen nya.


"Aslan?" Vania membeo, ia cengo demi melihat siapa di depannya saat ini.


Vania kemudian mengamati, pria itu berdiri di depan pintunya dengan raut wajah lelah, lantas tanpa ba-bi-bu lagi Aslan maju merengsek ke dalam membuat Vania langsung di landa keterkejutan luar biasa.


"Aslan,kamu kenapa?" tanya Vania yang mulai khawatir, pria itu terlihat kurang sehat.


"Van ... boleh gue di sini satu malam?" Aslan terlihat frustasi, lelah menjadi satu. "Gue janji gak akan ngapa-ngapain," ujarnya lagi saat melihat wajah terkejut Vania.


"Boleh? gue gak tau harus kemana lagi, cuma lo yang bisa ngertiin gue," imbuh Aslan setelah nya.

__ADS_1


Sunyi melingkupi keduanya untuk beberapa saat, baik Vania maupun Aslan hanya saling diam selang beberapa detik Vania membulatkan matanya kaget saat tahu- tahu tubuh Aslan sudah roboh dan akan terjatuh jika saja Vania tidak cepat menahannya.


Tak ada pilihan lain, Vania memapah tubuh Aslan hingga pria itu terbaring di atas sofa panjang ruang tamunya. Vania mengesah panjang, nafasnya ngos-ngosan karena bobot Aslan yang begitu berat membuatnya kewalahan.


Vania lantas duduk di samping sofa, mengamati wajah pria itu. Bukan sekali dua kali Aslan seperti ini, pria itu akan selalu tahu Vania sedang berada di apartemennya dan akan selalu datang kesini jika ada masalah. Vania mengerti Aslan tidak memiliki siapapun lagi untuk mengerti keadaan nya, adapun kakek dan neneknya terkadang Vania bingung kenapa tidak ada yang mengerti tentang perasaan Aslan di keluarganya.


Vania lalu membiarkan Aslan beristirahat, biarlah malam ini ia mengijinkan pria itu tidur di sini mungkin benar, tidak ada tempat untuk Aslan bahkan di rumahnya sendiri. Vania lalu membawa selimut dan bantal untuk Aslan, setelah memastikan pria itu tidak kedinginan, Vania mengecupnya singkat kening pria itu.


"Selamat malam," gumam Vania, yang masih bisa di dengar oleh Aslan saat ini, Vania pun meninggalkan Aslan membiarkannya istirahat sementara Aslan membuka mata dengan selaput bening di kedua matanya yang memerah. Aslan cepat-cepat mengusap netranya dan memejamkan mata. Hari ini ia benar-benar butuh istirahat.


Tak terasa pagi pun datang. Hari ini akhir pekan membuat Vania bisa bangun lebih siang, segera setelah rapi perempuan itu meninggalkan kamarnya dan memeriksa keadaan Aslan yang tidur di sofa ruang tamunya.


Benar dugaannya, Aslan masih terlelap, Vania menghela nafas namun senyum tipis terukir di bibirnya, ia mendekati Aslan melihat pria itu yang terlihat sangat nyaman membuat Vania tidak tega untuk membangunkan nya, ia pun memutuskan untuk membangunkan pria itu nanti.


Namin saat perempuan itu hendak meninggalkan Aslan, fokus matanya justru teralihkan pada sebuah sapu tangan yang tergeletak begitu saja di atas lantai, Vania berdecak lantas mengambil sapu tangan yang sangat ia kenali itu.


"Ini pasti punya Aslan, dia membawa nya kesini, untung saja tak hilang," gumam Vania seraya melirik Aslan yang masih menutup mata, Vania tentu masih sangat ingat betapa berharganya sapu tangan ini untuk Aslan.


"Eh tapi?" Vania mengkerut kan dahinya, dalam-dalam. Ada yang aneh dengan sapu tangan ini? ini bukan punya Aslan!


Mata Vania kemudian terbuka lebar-lebar, ia jadi teringat perkataan ibu Sari beberapa hari lalu.


"Bunda membuat sapu tangan ini sepasang untuk mu dan Chiara. Bunda membuat kan sapu tangan Chiara dengan motif bunga anggrek dan kau dengan motif bunga sepatu."


Masih terngiang ucapan ibu Sari-- pengurus panti asuhan waktu itu untuk Aslan. Seketika saja mata Vania membuat dua kali lipat lebih lebar.


"Ini! sapu tangan ini bermotif bunga anggrek?!" Vania dengan cepat menutup mulut, kaget luar biasa. Bagaimana kebetulan ini bisa terjadi?


Vania kemudian membalikkan sapu tangan itu yang membuatnya hanya bisa terperangah di tempat yaitu nama yang tertentu di sudut sapu tangan itu.


"Kirana?!"

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2