
...💞 Happy reading 💞...
Langit semakin menggelap di luar sana, seolah tengah menemani Shaka dalam keterpurukan nya saat ini. Sepeninggal Aslan setelah mengatakan kabar yang membuat Shaka begitu terpukul, Kirana kini telah pergi meninggalkannya sendiri.
Memang seperti kata pepatah penyesalan selalu datang belakangan, inilah yang tengah Shaka rasakan saat ini, kecerobohan nya dalam mengambil keputusan telah membuatnya berpisah dari istrinya.
Perlahan titik-titik air dari atas langit mulai turun, Shaka berjalan sempoyongan keluar dari rumah sakit tempat seharusnya ia bisa bertemu dengan sang istri dan meminta maaf padanya. Petir mulai menyambar- nyambar dengan kilatnya, angin kencang mulai datang bersamaan dengan guyuran hujan yang semakin lebat orang-orang mulai berlarian mencari tempat untuk berlindung, berbeda dengan Shaka yang terus berjalan tanpa tujuan arah, karena kini rumahnya telah pergi, satu-satunya wanita yang menjadi alasan untuk nya tetap bernafas telah di renggut darinya karena kesalahannya sendiri.
Semua orang menatap heran dengan seorang pria yang terus berjalan tanpa mengindahkan hujan yang mengguyur tubuhnya suara petir yang menggelegar sama sekali tak di hiraukan pria itu.
"Agaknya pria itu sedang patah hati," celetuk salah satu pengunjung rumah sakit yang berbisik-bisik bersama rekan di sampingnya.
Namun ini lebih dari sakit karena patah hati, lebih dari itu seolah setengah jiwanya kini telah pergi dan meninggalkan nya, membuat ia merasa tak lengkap lagi, sekarang ia tak ubahnya seperti gelandangan yang kehilangan arah, tak ada lagi tujuannya hidup tanpa kehadiran Kirana.
Liam hanya bisa mengekori Shaka dari belakang dengan membawakan payung, hatinya ikut terenyuh melihat sang tuan seperti ini, namun ia tak bisa berbuat apapun selain memastikan tuannya tak terluka.
"Nona muda, kau adalah nyawa tuan Shaka, dia tidak bisa hidup tanpa mu. Tolong lah kembali." hanya itu yang bisa Liam gumamkan dalam hati berserta doanya agar kedua pasangan yang sebenarnya tidak bisa hidup satu sama lain ini kembali bersama.
Kirana diam membisu di depan sebuah pembatas kaca yang kini menampilkan wajah seseorang yang terus memelas menatapnya. Kebencian yang terlanjur mengakar dalam hati membuat Kirana rasanya enggan untuk menatap pria di hadapannya itu namun bagaimanapun ia bukanlah Tuhan yang dapat menghakimi seseorang, apapun itu Kirana ingin menyelesaikan semua urusannya sebelum memulai hidup yang baru.
Siang itu setelah mengumpulkan keberanian dan hati yang lapang ia memutuskan untuk menyelesaikan semua urusannya yang sedikit tertunda bersama dua orang yang telah membuatnya harus berakhir di rumah sakit kemarin.
"Kirana, maafkan aku tolong maafkan aku ... " pria itu memohon sambil terus terisak kedua tangan nya ia tangkup kan di atas kepala seperti seorang terpidana mati yang sebentar lagi akan di eksekusi.
"Aku tidak tahu apa yang melatarbelakangi mu melakukan semua kejahatan ini Arya, namun yang jelas kejahatan yang kau lakukan bersama Fitri akan menemui hukumannya."
Arya menggeleng, ia yang sempat menjadi sandaran untuk Kirana ketika wanita itu mendapatkan diskriminasi dari keluarga pamannya kini malah menjadi salah satu orang yang membuat Kirana terluka. Ia sungguh merasa menyesal andai keadaan tidak memaksanya untuk melakukan semua itu kepada Kirana.
"Hutang besar bibi Sri bersama bunganya telah membuat ku dan Fitri tertekan dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan uang agar melunasi semua hutang itu, keadaan yang memaksa mu melakukan semua itu, maafkan aku Kirana, tolong berikan aku dan Fitri maaf dari mu ..." Isak Arya dengan penuh penyesalan.
Kirana terdiam tercenung sebelum akhirnya ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan, mengingat semua kemalangan yang terjadi pada hidupnya membuat Kirana tak bisa untuk menyembunyikan air matanya di depan Arya.
Perlahan wanita itu mengangguk. "Aku memaafkan mu, meski terasa berat tapi aku tidak ingin menjadi seorang pendendam. Biarlah Tuhan sendiri yang membalas perbuatan mu dan Fitri. Bagaimana pun Fitri adalah sepupu ku meski sekarang dia koma di rumah sakit karena kesalahannya sendiri aku tetap menganggap nya sebagai keluarga ku."
Ya, setelah kejadian penculikan hari itu Fitri berusaha kabur mengindari kejaran polisi namun naas ketika ia berada di jalan raya sebuah truk menabraknya karena Fitri yang tak fokus melihat keadaan ketika itu, kemudian perempuan itupun di nyatakan koma karena gegar otak yang di alaminya.
"Dan ya kau tenang saja, untuk hutang piutang almarhumah paman dan bibi juga biaya pengobatan Fitri aku yang akan menanggungnya."
Arya cukup terkejut mendengarnya, pria itu terkesima Kirana bahkan sama sekali tak mengabaikan keluarganya meski merasa telah begitu buruk memperlakukannya.
"Terimakasih Kirana, terimakasih. Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah," ujar Arya dengan penuh rasa syukur. Setidaknya ia tidak akan khawatir tentang kondisi istrinya selama dirinya di penjara ini karna ada Kirana yang akan menjaganya dan juga keluarganya tidak akan di teror lagi oleh para preman sewaan rentenir yang terus meneror mereka setiap hari.
...---------Oo-------...
Setelah berbicara dengan Arya juga mulai perlahan memaafkan orang-orang yang dulu menyakiti nya Kirana merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya itu seperti beban berat yang ada di punggungnya mulai terasa ringan, ia menghela nafas lega setelah keluar dari pintu kantor polisi.
Tak di sangka, Kirana terkejut melihat Aslan di parkiran bersandar di kap mobilnya. Buru-buru wanita itu menghampiri dengan mengerut dahi.
"Pak Aslan, ada di sini?"
"Oh, kau sudah selesai?" bukannya menjawab pertanyaan Kirana, Aslan justeru mengajukan pertanyaan juga.
"Dari mana pak Aslan tahu saya ada di sini?"
Tanpa beban pria itu tersenyum. "Oh dari Olivia, dia yang mengantarkan mu kan? di bilang tidak bisa menjemput mu karena ada urusan mendadak jadi dia meminta ku untuk menggantikan nya menjemput mu."
Kirana manggut-manggut mendengar nya,memang benar ia datang ke kantor polisi ini bersama Olivia, rencananya ia langsung menuju tempat tujuan dengan taksi tak menyangka Olivia malah meminta Aslan untuk menjemput nya."
"Pak Aslan orang sibuk tak seharusnya anda menuruti permintaan Olivia untuk orang tak penting seperti saya."
Mendengar itu Aslan justeru terkekeh. "Apa kebersamaan kita selama dua bulan ini tak cukup membuat ku menjadi sahabat mu?"
Kirana refleks menggeleng tak ingin pria itu tersinggung. "Bukan begitu, hanya saja saya merasa tak enak."
Aslan menggeleng sambil berdecak pelan. "Dengar Kirana, sudah ku bilang kan kau sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, entah kenapa aku merasa ingin selalu melindungimu itu mungkin karena aku seperti melihat adik ku di dalam dirimu." jeda sejenak pria menggidik bahu. "Tidak ada yang tahu, mungkin ini memang rencana Tuhan agar aku dan dirimu menjadi teman."
"Tapi ... " Kirana menyipitkan mata menatap Aslan dengan curiga bagaimana pun ia tak bisa mempercayai seseorang yang terlalu bersikap baik.
Seolah membaca apa yang wanita itu pikirkan Aslan segera memberikan klarifikasi nya. "Tenang Kirana, aku tak punya niat apapun pada mu, aku hanya pure ingin membantu mu. Bagaimana pun Shaka dan aku sebelumnya adalah rekan kerja dan sempat menjadi kawan, setelah ke brengsekk kan nya terlihat aku jadi ingin melindungi mu dari nya. Hanya itu, lagipula aku sangat menghargai wanita karena aku juga mempunyai seorang ibu dan nenek juga adik ku perempuan aku tidak bisa melihat wanita di sakiti atau di permalukan di depan mata ku."
Mendengar uraian yang di lontarkan Aslan juga alasan pria itu barulah Kirana menjadi sedikit percaya karna sekarang ia tak mau menaruh kepercayaan seratus persen kepada siapapun.
Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi, tak ingin selalu diam membisu akhirnya Aslan pun membuka percakapan.
__ADS_1
"Sekarang kemana kau akan pergi Kirana? di mana aku harus mengantar mu?" tanya Aslan karena ia sendiri pun bingung dengan mobil yang hanya memutar-mutar saja karena wanita itu tak kunjung memberikan alamat yang akan dia tuju.
"Tolong antarkan aku ke barbershop." pinta wanita itu.
Aslan cukup terkejut mendengarnya. "Ke barbershop? untuk apa?"
"Tolong antarkan saja." tukas Kirana. Aslan pun tak mendebat lagi, setengah perjalanan mereka pun sampai di tempat barbershop terdekat yang di arahkan oleh google maps.
Sampai di sana Kirana dan Aslan masuk, dinginnya AC langsung menyapa kulit mereka berbeda di luar yang mana matahari tengah terik-teriknya membakar kulit.
Di sana mereka di jamu ramah oleh tukang cukur, Kirana langsung duduk di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan cermin besar di depannya.
"Apa anda ingin smoothing atau perawatan rambut lainnnya?" tanya sang pemilik barbershop dengan ramah.
"Tidak.aku kesini ingin memotong rambut ku," ungkap Kirana hingga Aslan cukup terkejut dengan keputusan wanita itu.
"Mendorong rambut nona? apa anda tidak merasa sayang dengan rambut anda yang hitam panjang ini?" tanya tukang cukur itu agak menyayangkan permintaan customer nya ini.
"Tidak, justeru aku ingin membuang semua lara dan kesedihan dengan memotong pendek rambut ku ini. Tolong lakukan saja," pinta Kirana, tak ingin di tanya lebih jauh.
"Baiklah sesuai permintaan anda," ucap tukang cukur itu, dan memulai memotong rambut Kirana hingga sebatas telinga sesuai request nya wanita itu.
Aslan merasa cukup terkesima setelah Kirana memotong rambutnya, wanita itu tersenyum. Melihat kelegaan di wajah Kirana membuat pria itu turut merasa bahagia.
"Kau jauh lebih fresh dengan rambut pendek itu, Kirana."
"Terimakasih," balas Kirana dengan senyum semakin mengembang.
Langit sudah mulai menggelap sebentar lagi malam akan tiba. Aslan menghentikan mobilnya setelah Kirana meminta untuk berhenti.
"Anda cukup mengantar sampai sini saja."
Aslan tertegun. "Kau akan tinggal di mana Kirana? ini sudah malam."
"Aku sudah memutuskan akan tinggal di mana pak Aslan, tapi aku tidak bisa memberitahukan nya dulu pada siapapun baik kau ataupun Olivia."
"Tapi bagaimana dengan kehamilan mu? tolong jangan lupakan kau juga sedang membawa malaikat kecil di dalam perut mu."
Untuk sejenak mereka saling menatap, lemah dengan tatapan penuh luka Kirana akhirnya hanya bisa menghela nafas. " Tapi tolong biarkan aku mengantar mu, setidaknya 100 meter dari tempat mu tinggal agar aku bisa memastikan kau baik-baik."
Kirana menggeleng sambil tersenyum. "Ini juga sudah dekat. Tolong jangan terus menahan ku pak."
Aslan menyerah tatapan Kirana semakin memohon membuat ia tak bisa lagi membujuknya. "Baiklah, tapi tolong jaga diri mu baik-baik. Dan jika terjadi sesuatu yang buruk jangan ragu untuk langsung menelpon ku ataupun Olivia, kau sudah menyimpan nomor ku kan?"
Kirana mengangguk mengiyakan. "Terimakasih telah membantu ku sebanyak ini, aku sangat berhutang budi padamu."
"Jangan katakan seperti itu, kau adalah teman ku."
Kirana tersenyum lembut membalas perkataan Aslan yang menyejukkan hati nya, ia pun mulai melepaskan sealt beat nya, membenarkan tali tas di pundaknya lalu membuka pintu mobil dan pergi dari sana.
Aslan terus memperhatikan sosok Kirana yang kini mulai berjalan menjauh, ia merasa tak rela juga khawatir namun apapun keputusan Kirana ia akan menghargainya. Setelah Kirana semakin menjauh mengabur bersama para pejalan kaki di jalan raya itu Aslan menghidupkan kembali mesin mobilnya namun ada sesuatu yang tiba-tiba saja mengalihkan atensinya.
Aslan mengerut dahi melihat sebuah sapu tangan putih yang tergeletak di bawah jok sampingnya tempat Kirana duduk sebelum akhirnya pergi, penasaran Aslan pun memungutnya. Ini pasti punya wanita itu yang tak sengaja jatuh dari tas nya tadi ia semakin yakin setelah melihat inisial nama Kirana di sapu tangan itu, hendak mengambalikannya namun Kirana pasti sudah tak bisa di temukan. Akhirnya Aslan memutuskan untuk menyimpan nya dan memberikannya lain waktu.
"Sapu tangan ini pasti penting untuk Kirana." gumam Aslan setelah menghidu aroma harum dari sapu tangan itu pertanda jika pemiliknya pasti sangat menjaga baik sapu tangan tersebut.
...---------Oo-------...
Langit malam terlihat cantik di pusat ibukota, kelap-kelip lampu jalanan juga pameran di alun-alun sedikit menghibur hati Kirana saat ini. Ya Kirana berjalan tanpa tujuan arah, ia berbohong saat mengatakan sudah mendapatkan tempat tinggal kepada Aslan karena sebenarnya pun ia tidak tahu kemana dirinya akan tinggal.
Tabungan peninggalan orang tuanya yang selama ini ia sembunyikan dari keluarga sang paman hanya cukup untuk menebus akta rumah dari sitaan rentenir juga segenap bunganya untuk melunasi semua hutang bibinya dan sisanya lagi untuk biaya pengobatan Fitri kini hanya sisa beberapa saja untuk biaya kehidupannya ke depan.
Rencananya Kirana akan tinggal di rumah pamannya yang sebenarnya adalah rumah peninggalan orang tuanya namun entah hatinya sendiri yang menggerakkan hingga taksi yang ia tumpangi justeru berbelok menuju sebuah perumahan mewah. Kirana tidak mengerti kenapa di ada di sini? apa karena sedikit kerinduan dalam hatinya yang memintanya untuk melihat Shaka yang terakhir kalinya.
Kirana tak berani untuk menemui Shaka, dia tidak akan sanggup hingga dia hanya dapat berdiri membisu tak jauh dari gerbang mansion besar itu yang pemandangan nya menghadap langsung dengan balkon kamar Shaka.
Kirana terus menatap ke arah balkon berharap pria itu keluar agar dia bisa melihatnya untuk yang terakhir kali, namun nihil ia hanya bisa merasakan angin malam yang kini mulai terasa dingin.
Sementara itu Shaka sendiri merasa semakin hancur, mengitari tempat di mana ia selalu menemui Kirana setelah lelah seharian bekerja, Shaka selalu ingat Kirana yang menantinya di depan kamar dengan senyuman hangat. Shaka tak bisa menghentikan air matanya, persettan dengan perkataan jika pria pantang menangis hari ini ia merasa seluruh kehidupannya telah terenggut, kehadiran Kirana seolah masih sangat terasa di kamar ini. Bayangan reka adegan saat Kirana duduk manis di depan meja rias sementara ia akan menggoda wanita itu dengan memeluknya dari belakang lalu mereka tertawa bersama, Shaka tertatih-tatih menuju meja rias berhalusinasi jika Kirana masih ada di sana dan tidak meninggalkan nya. Shaka mulai berfikir jika Kirana hanya menggertak nya saja karena marah dirinya yang mengabaikan sang istri akhir-akhir ini. Namun rupanya Shaka hanya memeluk udara saja ketika tiba-tiba bayangan Kirana yang tersenyum ke arahnya menghilang.
"Kirana!" Shaka berteriak kencang lalu menangis sejadi-jadinya ia mengusap kasar rambutnya, cincin pernikahan mereka masih tersemat di jari manis itu namun kini istrinya telah pergi meninggalkannya sendiri.
"Maafkan aku Kirana! kembali lah ku mohon!"
__ADS_1
Deg! Kirana merasa jantungnya berdegup kencang, untuk sesaat Kirana merasa seperti Shaka memanggilnya namun saat ia melihat kembali ke arah balkon ia tak melihat siapapun. Ah, untuk apa juga pria itu mencarinya, Shaka pasti sudah menemukan penggantinya. wanita yang memeluk nya di pesta kala itu.
Menyadari fakta menyakitkan itu Kirana pun akhirnya memutuskan untuk pergi tepat setelah Shaka akhirnya keluar dari balkon kamarnya. Seolah memang takdir tak ingin mereka bertemu karena sudah cukup penderitaan yang Kirana alami selama ini.
Di luar Shaka bisa melihat langit dengan lebih jelas ia bisa melihat rembulan di atas membentuk bayangan wajah Kirana. "Kirana kembali lah isteri ku, ku mohon maafkan aku ... "
Besoknya Kirana sudah bertekad untuk pergi jauh dari Shaka dan juga apapun yang berkaitan dengan pria itu, ia sadar sudah tak mempunyai tempat atau hak apapun di hati ataupun mansion pria itu.
Pagi itu Kirana sudah berkemas dan pergi meninggalkan penginapan yang ia sewa semalam untuk bertolak ke rumah peninggalan orang tuanya dan memulai hidup baru di sana.
Sampai kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya yang tengah menunggu taksi membuat Kirana terkejut dan heran.
"Akhirnya aku menemukan mu," ucap seorang wanita dengan ketus sambil melipat kedua tangannya dengan congkak.
"Kau? ... " Kirana kehilangan kata-katanya saat berhadapan dengan wanita yang sama yang bersama Shaka di pesta waktu itu kini ada di depannya langsung.
"Kenapa? kau terkejut ya kenapa aku bisa di sini?" Teresa tersenyum merendahkan.
"B- bagaimana bisa kau bisa tahu aku ada di sini?"
"Mudah bagiku menemukan mu, aku hanya tinggal menyewa seorang detektif untuk melacak keberadaan mu. Segala nya mudah untuk seseorang yang mempunyai kuasa seperti ku," ujar Teresa pongah sambil bergaya meniup kuku cantik nya yang selalu ia rawat dengan treatment terbaik.
"Untuk apa kau menemui ku?!" tanya Kirana menjadi geram karena kehadiran wanita itu.
"Tenang saja aku kesini tidak akan berlama-lama karena akupun tidak tahan menghirup udara yang sama wanita kumuh seperti mu."
Sekuat tenaga Kirana berusaha menahan emosi nya meski hatinya sudah sangat panas mendengar kata-kata merendahkan dari perempuan itu.
"Ini, aku ingin menyampaikan amanah Shaka ... "
Kirana menautkan alisnya heran saat wanita itu menyodorkan sebuah koper kecil ke arahnya.
"Amanah mas Shaka?"
"Ya. Shaka sudah tahu kau akan pergi selamanya dari hidupnya dan itu sungguh membuat nya bersyukur. Jadi Shaka memberikan mu uang untuk transportasi mu, terimalah."
Gugur sudah semua perasaan Kirana, hatinya merasa hancur lebur seakan tertusuk sembilu, bukan kehadiran Shaka yang ia harapkan ada di sini justeru pria itu menitipkan uang untuk kepergian nya? parahnya dia menitipkan kepada seorang wanita yang telah menghancurkan hubungan mereka.
"Terima lah, jangan sombong. Kami tahu kau tidak akan punya cukup uang untuk memulai hidup mu yang baru, Shaka sudah sangat baik masih memberikan uang untuk mu dan setelah ini perceraian kalian akan di urus lalu pernikahan aku dan Shaka akan mulus tanpa hambatan," terang Teresa dengan senyum ceria seolah tengah mengejek keterpurukan Kirana kalian ini.
"Tidak. Aku tidak akan menerimanya!" lantang Kirana dengan sorot matanya yang berubah tajam meski tak bisa di hubungi titik-titik air mata itu masih juga jatuh membasahi pipinya.
"What? kau ini benar-benar sombong ya?!" Teresa mencebik Kejji.
"Ini bukan soal sombong nyonya tapi harga diri. Saya tidak perlu belas kasihan darinya saya bisa menghidupi diri sendiri tanpa bantuan dari nya bilang itu pada calon suami mu!"
"Cih, wanita rendah seperti mu masih membicarakan harga diri? kau saja tidak lebih beruntung karena Shaka yang kasian terhadap mu dan menjadikan mu sebagai istrinya jika tidak kau pasti tidak bisa berdiri di hadapan ku saat ini?!"
"Heh, menyedihkan. Pada akhirnya Shaka lebih memilih ku dari pada dirimu, wanita yang tidak jelas asal-usulnya!" imbuh Teresa kemudian.
Bukannya lemah setelah mendengar kata-kata bernada ejekan itu Kirana justeru menjadi lebih berani untuk melawan. Kirana tersenyum miring membuat Teresa tiba-tiba merasa menciut karena wanita itu yang terlihat mengerikan saat ini.
Grepp!
Arrrgh! lengkingan teriakan Teresa terdengar keras saat Kirana menjambak rambut wanita itu.
"Dengar ini nyonya, saya di nikahi setidaknya secara sah dan mendapatkan cinta dari suami saya meskipun sekarang dia sudah terkena pellet oleh mu! jika kau berfikir aku akan menangis dan memohon- mohon karena dia lebih memilih mu di banding aku, kau salah besar! Aku tidak akan melakukannya untuk pria brengsekk sepertinya, di banding kau? yang hanya di jadikan pelampiasan daripada cintanya, lihat lah? siapa yang lebih menyedihkan?! kau atau aku?!"
"Bangsatt! aku tidak akan melupakan penghinaan ini wanita rendahan! aku akan membalas mu?!"
Bukannya takut dengan ancaman itu Kirana justeru tertawa, ia tak ingin terlihat lemah di depan selingkuhan suaminya. "Jika kau merasa terhina itu artinya semua yang ku katakan adalah benar."
Kirana kemudian melepaskan cengkramannya di rambut wanita itu membuat Teresa kembali meringis. "Aku tunggu jika kau ingin membalas ku namun yang pasti meskipun kelak kau memiliki Shaka, kau tidak akan pernah mendapat kan cintanya karena kau tidak lebih dari sekedar bayang-bayang ku."
Teresa semakin geram mendengar kata-kata yang sangat menohok itu, wajahnya memerah dengan tangan terkepal kuat namun karena melihat kengerian di wajah Kirana saat ini, membuatnya merasa gentar hingga berani untuk melawannya dan lebih memilih meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Teresa, Kirana menghela nafas lega, lalu matanya tertuju pada koper kecil berisi uang yang tergeletak begitu saja, lalu hatinya semakin hancur mengingat jika uang itu adalah pemberian dan juga perkataan Teresa. Itu artinya apakah Shaka justeru senang dengan kepergian nya?
Kirana luruh ke lantai dengan isakan kencang, sekuat-kuatnya ia di depan Teresa tadi ia tetap hancur dan lemah menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini.
"Kau tenang saja mas, jika kau berfikir kehadiran ku seperti parasit, maka aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi."
To be continued ....
__ADS_1