Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 36


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Di mansion saat ini semua mendadak dalam ketegangan yang meningkat, Shaka di nyatakan hilang, setelah berjam-jam Liam menelpon nomor pria itu, melacak terakhir kali ia pergi namun jejak Shaka sama sekali tak di temukan. Para ajudan dan bodyguard setia Rajendra juga sudah di turunkan untuk memencar mencari keberadaan sang tuan muda.


Kirana menangis dalam dekapan sang nenek, tak menyangka semua ini akan terjadi, awalnya semua masih dalam kondisi kondusif mencoba untuk berfikir positif jika Shaka akan kembali namun Renata yang firasatnya semakin tak karuan membuat mereka panik juga.


Akhirnya upacara peringatan hari kemattian almarhum Wisnu prabu Rajendra di tunda, semua khalayak yang hadir terpaksa di bubarkan, di ruang tengah mereka berkumpul dengan kegelisahan yang semakin meningkat. Berharap ke pada Liam dan menunggu hasil atas pelacakannya.


Hingga Liam mendapati sebuah panggilan dari nomor kepolisian membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.


"Kenapa Liam?" tanya Renata tergesa-gesa.


"I- ini nomor polisi." Liam menjawab kaku. ikut terserang panik.


"Tunggu apalagi cepat angkat!" pekik Renata cepat.


Liam mengangguk lalu mengaktifkan ikon hijau di layar, semua orang menahan nafas menunggu kabar apa yang akan mereka dapat kan.


Seperkian detik mereka hanya mematung saat melihat ekspresi Liam yang berubah kaget luar biasa, bahkan pupil mata pria itu melebar saking syoknya kabar yang dia dapatkan.


"B- baiklah, kami akan segera ke sana untuk mengecek nya," ucap Liam kemudian pada aparat kepolisian yang menelponnya setelah mendengar lengkap penjelasan dari polisi itu.


Tut! panggilan lalu terputus, semua orang berduyun-duyun mendekati Liam dengan wajah pias dan keresahan yang sama.


"Apa yang mereka katakan Liam? apa yang polisi itu katakan? cepat bilang pada kami?" desak Renata dengan wajah memucat pasi.


"N- nyoya besar, polisi baru saja memberi laporan bahwa mereka menemukan sebuah bangkai mobil yang sudah hangus di dalam jurang, dan saat di indetifikasi mobil itu di ketahui adalah milik tuan muda."


Duarr! bagai mendengar bom atom, terkejut lah mereka semua, terperangah tak percaya.


"Tapi saat ini polisi belum melakukan tindakan lebih lanjut, saya akan kesana untuk memastikan apakah benar itu mobil tuan muda apa bukan."

__ADS_1


"Jika begitu pergilah Liam, cari tahu detail nya," ucap oma Helen masih terlihat tenang namun kaca-kaca di matanya tak bisa di hindarkan.


"Tenanglah dulu semuanya, kita berdoa semoga para polisi itu keliru, Shaka kita masih baik-baik saja," ucap oma Helen demi memenangkan keadaan yang tengah krisis. Ia tak akan percaya dulu sampai cucunya sendiri ada di depan mata nya saat ini.


Liam mengangguk, lalu gegas pergi bersama para bodyguard yang tersisa.


...---------Oo-------...


langit berwarna oranye kemerahan di kala sore itu, Fiona dengan di jaga ketat oleh para anak buahnya datang menghampiri ke tepi jurang yang curam, di mana mobil terakhir yang di tumpangi Shaka terjatuh dan terbalik, kini mungkin sudah hangus terbakar.


Fiona meringis, tak sampai hati jika mengingat ia ikut andil dalam konspirasi licik pelenyapan adiknya sendiri, yang di ketuai oleh sang bibi dan sepupunya. Tapi terlanjur sakit dan tergiur dengan iming-iming jackpot yang akan dia dapatkan Fiona akhirnya gelap mata, ibllis seakan mengambil alih raganya saat ini hingga ia tega melakukan kejahatan itu pada sang adik kesayangan.


"Maaf Shaka, bukan maksud kakak mu ini ikut dalam rencana untuk menyingkirkan mu, tapi kau yang lebih membela wanita udik itu ketimbang aku kakak kandung mu sendiri membuat ku sakit hati, kau benar-benar berubah semenjak gadis siallan itu datang." Fiona bergumam sambil matanya menerawang menatap tepi jurang yang dalam, tempat peristirahatan terakhir adiknya kini.


"Dan ya, aku juga kecewa kenapa di dalam hak harta warisan ayah kau mengambil alih penuh sementara aku sebagai anak tertua tak mendapatkan nya sama sekali, bukankah itu tak adil Ka? itu sebabnya saat bibi mengajak ku ikut dalam konspirasi ini aku tak pikir panjang lagi untuk menyutujuinya, hahaha maaf kan kakak mu ini, tapi memang sekarang sudah waktunya kau bertemu Tuhan,"


"Tenanglah di alam sana adik ku, kau jangan khawatir jabatan mu perusahaan akan aku gantikan dan tentu semua harta warisan ayah akan berpindah ke tangan ku. Inilah yang ku harapkan sejak dulu."


"Selamat tinggal adik ku, tenanglah di alam baka sana." Fiona kemudian melempar kuntum mawar itu sampai ke dasar jurang, sebagai tanda penghormatan terakhir nya untuk kepergian sang adik tercinta. Lalu ia mulai tersenyum lagi membayangkan semua harta warisan dan jabatan Shaka akan berpindah kepada nya.


"Aku harus cepat pulang sebelum orang-orang curiga." lalu wanita itupun berbalik pergi dari pembatas jalan yang rusak tepat di mana masih terlihat jejak kecelakaan dari mobil yang sengaja sudah di sabotase.


Hingga malam hari Liam baru kembali dari penyidikan polisi, hujan turun lebar kala itu bersama tetesan air hujan Liam datang membawa kabar kesedihan.


"Mobil itu sudah di konfirmasi adalah milik tuan muda, C-Class hitam dengan plat nomor kendaraan yang sama persis."


"T- tidak! tidak mungkin!" Renata berteriak histeris, Fiona datang dengan tampang yang sudah terlatih di buat sedih, ia memapah punggung ibunya yang hampir roboh, syok berat karena mendengar kabar itu.


"Lalu bagaimana Liam?" tanya Fiona dengan air mata buayanya.


Liam menggeleng pelan, matanya juga sudah memerah. "Polisi mengatakan mobil mengalami kecelakaan dan terjatuh ke jurang, kemungkinan sangat kecil penumpang yang ada di dalamnya bisa selamat."

__ADS_1


Kirana begitu terkejut, menutup mulut dengan air mata yang sudah menganak sungai. Saking syoknya ia hampir tidak bisa mengungkapkan bagaimana kesedihannya saat ini.


"Bun ... Shaka telah tiada," lirih pelan Fiona.


"Apa maksudmu!" Renata berteriak kencang, tak terima dengan ucapan yang terlontar dari putrinya. "Adik mu masih hidup, tega sekali kau mengatakan nya telah tiada!"


"Tapi bun, polisi sudah mengatakan kecil kemungkinannya penumpang dalam mobil itu bisa selamat."


"Tidak! aku tidak akan pernah percaya sebelum melihat jasad putraku langsung ke hadapan ku!"


"Liam! bawa aku ke sana, aku ingin melihat mobil yang di bilang polisi itu, mungkin mereka salah! siapa tahu ternyata itu mobil orang lain, putraku masih baik- baik saja!" teriak Renata, Liam menghela nafas sendu kemudian mengangguk.


Mereka kemudian ke kantor polisi, melihat langsung jasad mobil yang sudah sebagai hancur menjadi abu, yang kini sudah di angkut dan di pindahkan.


"Ini, kami menemukan dompet dan ponsel di TKP, kemungkinan ini adalah milik korban."


Liam mengambil barang yang di serahkan polisi, sekali lagi ia melebarkan mata syok, tentu karena ia sangat mengenali barang- barang itu.


"Benar, ini adalah dompet dan ponsel tuan muda."


Kirana semakin menangis histeris, ia pun sangat mengenali barang milik suaminya itu.


Sudah tak sanggup lagi dengan kenyataan yang kini terpampang di depan mata nya, Renata akhirnya jatuh pingsan semua orang panik langsung memapah tubuh nya.


"Kita kembali dulu ke mansion." titah oma Helen kemudian, meskipun ia terlihat yang paling tenang namun dialah yang paling hancur dengan kabar ini.


Sementara itu, jauh di dalam hutan tepi sungai yang airnya mengalir deras, sesosok tubuh terbaring kaku setelah tubuhnya terbawah oleh derasnya aliran sungai hingga terdampar di antara bebatuan besar.


Seorang wanita desa yang hendak mencuci pakaian nya di sungai itu terkejut dengan penemuan sosok pria itu.


"Ada mayat!" teriaknya histeris mengundang para warga lain yang kebetulan lewat di sana.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2