
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻
Sampai pagi menjelang, Kirana terbangun di samping Shaka yang masih terlelap, tubuhnya yang polos langsung ia tutupi dengan bed cover, sementara pria itu terdengar mendengkur halus, Kiran tak tahan untuk tidak tersenyum, teringat kata-kata indah yang selalu Shaka bisikkan di tengah permainan pannas mereka tadi malam, sungguh membuat ia gembira.
Namun di satu sisi lain Kirana juga merasa tidak pantas untuk semua ini. Wanita itu menggelengkan kepalanya, merasa pemikiran nya semakin jauh melanglang buana, Kirana putuskan untuk turun dari kasur lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah habis membersihkan dan merilekskan tubuh nya, Kiran keluar dengan hanya di balut handuk putih yang membungkus tubuhnya, rambut coklat panjang nya di biarkan terurai setelah keramas, ia menutup pintu kamar mandi menoleh sesaat menyadari kalau Shaka sudah tidak ada di tempat tidur.
"Kemana dia pergi?" gumam Kiran bertanya-tanya, menyisir ke sekitar ruangan tak menemukan pria itu. Tidak mungkin kan Shaka menghilang begitu saja?
Sampai tiba-tiba, Kiran terkejut saat merasakan dari belakang badan kekar seseorang memeluknya, lengan kekar nan berotot itu melingkar menahan pergerakan Kiran.
"Tuan? ... "
"Kenapa? kau terkejut?" Shaka mengerling jail saat gadis itu menengok ke belakang, menatapnya.
"Tentu saja aku kaget, aku kira tuan kemana ... " Kirana menggeleng lucu membuat Shaka tak tahan untuk mencubit pipinya.
Shaka dengan membuat ekspresi lucu tertawa lalu pria itu meletakkan dagunya di pundak sang wanita. "Tentu saja aku tak akan kemana-mana, aku tetap di sini ... bersama mu."
Sontak perkataan Shaka membuat pipi Kirana memerah secara alamiah, perasaan yang belum pernah di rasakan sebelumnya seakan membuncah dalam hatinya. Ah, pantas kah ia merasakan semua ini?
"Tuan ... jika seperti ini terus, saya bisa salah sangka mengira kebaikan anda," kata Kirana yang hanya berani ia ucapkan dalam hatinya. Jujur di lubuk hati nya yang paling dalam ia ingin merasa seperti ini terus, ia berharap waktu bisa berhenti agar mereka berdua bisa menghabiskan saat-saat indah ini lebih lama namun akhirnya Kirana sadar diri, siapa lah ia dan siapa Shaka, mereka bagaikan langit dan bumi, tak pernah bisa untuk bersatu. Shaka yang tampan, dan kaya raya pasti di gerubungi oleh banyak wanita dan Kirana merasa insecure membayangkan gadis-gadis cantik dan juga sebanding yang kini tengah mengantri untuk mendapatkan Shaka, sementara dia? apalah artinya gadis biasa yang memiliki nasib biasa saja.
"Wangi mu sangat harum," bisik Shaka di telinga wanita itu, membuat Kirana tersentak dari lamunannya. "Bisakah kita melanjutkan lagi aktivitas yang semalam?"
Kiran tertegun, segera saja ia berbalik dengan menggeleng seperti anak rusa ketakutan. Shaka di buat tertawa karena nya, wajah mengisyaratkan penuh belas kasihan ini entah kenapa justru malah semakin menghipnotis nya.
"Baiklah, aku hanya bercanda."
__ADS_1
Kiran menghela nafas lega saat mendengar nya.
"Tapi aku butuh asupan untuk pagi ini!" selepas mengatakan itu, Shaka lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di sekitar wajah Kiran, hingga gadis itu telat untuk merespon.
"Tuan ... "
"Diamlah! aku sedang mencharge baterai semangat ku saat ini," ucap Shaka di sela serangan kecupan nya di setiap inci wajah cantik Kiran tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.
Kiran merasa geli hingga tanpa sadar menangkup wajah Shaka dengan tangannya, sontak pria itu berhenti dan menatap nya, Kiran yang mengira jika perbuatannya lancang langsung menarik tangannya namun Shaka menahan, sampai di bibir ia menahan tengkuk sang istri dan mencivmnya dengan lembut namun begitu pannas, hingga beberapa menit berlalu saat Kiran membutuhkan pasokan oksigen, Shaka menarik diri lalu mengusap bibir ranum itu perlahan.
"Kau semakin membuat ku candu, sebenarnya sihir apa yang kau gunakan Kirana ... " batin Shaka dengan tatapan begitu dalam membuat sang istri salah tingkah.
"Baiklah jika begitu aku akan menyiapkan keperluan tuan." Kiran berlalu dengan menahan senyum sementara Shaka sudah kentara cengengesan dengan mengusap lehernya karena ikut salting.
...---------Oo-------...
Di meja makan pagi ini, semua anggota keluarga sudah berkumpul, Helen bertanya-tanya tentang kehadiran Olivia ikut serta, sementara Arkan dan kedua orang tua nya sudah memberitahukan akan pulang ke mansion mereka.
"Eh ... ya oma?"
"Padahal Matilda dan Wijaya juga Arkan sudah mengatakan jika mereka kembali ke mansion, kenapa kamu ada di sini?"
"Oh itu oma, mas Arkan bilang dia ada dinas bisnis ke luar kota, sementara ibu dan ayah mas Arkan bilang mereka akan langsung terbang ke bali untuk pertemuan bisnis, oleh sebab itu mas Arkan meminta ku untuk tetap di sini sementara waktu."
"Tapi kamu bisa saja ikut dengan Arkan kan? bagaimana pun kamu istrinya harus turut menemani seperti apa yang ibu mertua mu lakukan untuk ayah mertua mu," ucap Helen.
"Uhm, Oma tahu kan bagaimana mas Arkan? jika tentang bisnis ia tak pernah minta di temani, sementara jika aku pulang ke mansion aku akan merasa kesepian,"ujar Olivia membela diri.
"Sudahlah oma." Fiona yang baru duduk dan mendengar percakapan mereka ikut menimpali. "Toh Olivia tetap menantu keluarga ini, kenapa oma memusingkan jika ia ada di sini."
__ADS_1
"Bukan begitu, kau tahu kan pernikahan Arkan dan Olivia masih seumur jagung, belum ada setahun harusnya mereka banyak-banyak menghabiskan waktu bersama, perjalanan bisnis sambil bulan madu kan bukan masalah. Jika mereka tetap seperti ini terus, berpisah dan mencar, bagaimana oma akan mendapatkan seorang cicit?"
"Oma." Fiona menegur halus, saat melihat Olivia yang menunduk sedih karena ucapan Helen.
"Oma sadar jika perkataan oma itu begitu pedas?"
Helen geleng-geleng kepala, terkadang ia merasa tak di hormati dalam keluarga nya sendiri, lihatlah bagaimana cucu pertama nya ini menegurnya. "Hanya bilang seperti itu saja kau sudah membentak oma sampai begitu ... "
"Astaga, bukan begitu oma." Fiona menghela nafas kasar. "Hanya mengingatkan ini kan meja makan, tidak seharusnya oma mengatakan itu."
"Ya baiklah, Oma juga hanya sekedar mengingatkan Arkan dan Olivia saja, mereka harus sering menghabiskan waktu bersama agar oma bisa segera mendapatkan cicit untuk penerus keluarga ini."
Jujur Helen memang agak sedikit tak suka dengan Olivia, mengingat bagaimana penghianatan Olivia saat Shaka di penjara, tapi ia juga tak bisa membencinya karena kini gadis itu adalah isteri dari cucu nya, Arkan.
"Ada apa ini? kalian sedang membicarakan apa?"
"Shaka ..." wajah Helen langsung sumringah begitu Shaka dan Kiran datang.
"Selamat pagi semuanya ... "
"Pagi." mereka menyambut hangat sapaan Shaka.
"Tak biasanya kamu ceria begini?" tanya Fiona dengan raut wajah heran.
"Aku hanya ingin terlihat lebih ramah saja kak," ucap Shaka.
"Ya, kau pasti sudah muak dengan orang di luar sana yang menilai mu keras dan dingin."
Mereka tertawa dengan kelakar Fiona kecuali Oliva saat ini yang memberenggut melihatnya.
__ADS_1
"Cih, saat si Kirana datang mendadak semua berubah. benar-benar pilih kasih." batinnya penuh keiri dengkian.
To be continued ...