
...💞 Happy reading 💞...
"Mattilah kau Fiona, Shaka benar-benar telah kembali, dan kejahatan mu akan segera berakhir." Matilda tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan yang di alami Fiona saat ini.
Wanita bergaun merah menyala dengan warna bibir serupa itu mengerangg frustasi.
"Arggghh brengsekk!" dia mengacak-acak rambutnya, melampiaskan kemarahan juga kecemasan yang kini telah membelenggu kewarasannya.
Matilda dan Arkan jelas senang melihat pemandangan itu. Mereka tersenyum sinis sambil saling memandang dengan seringai puas.
Sampai tiba-tiba saja Fiona tertawa, dia berdiri dari kursi duduknya berjalan melewati meja dan menunjuk jemarinya ke arah Matilda dan Arkan.
"Hahaha bukankah jika rencana ini terbongkar, kalian juga akan ikut terseret? kalian pikir hanya aku yang akan menerima hukumannya ... terutama kau Arkan!"
"Apa?" Arkan terperenyak kaget. "Apa maksud perkataan mu ka?"
"Kau pikir aku tidak tahu, rencana kottor mu terhadap Kirana? kamu diam-diam menyelusup ke kamarnya dan berusaha untuk memper*kosa nya?!"
"A- apa? bagaimana dia bisa tahu?" batin Arkan dengan melotot terkejut.
"Hei, diam kau!" Matilda menyergap, giliran ia yang menunjuk jemarinya ke arah Fiona. "Jangan asal tuduh kau jallang!"
Fiona tertegun dengan perkataan terakhir bibinya, ia tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut keluarganya sendiri. Ah, tapi ia ingat sekarang, karena harta keluarga pun bisa menjadi musuh, betapa mirisnya itu.
"Kau baru saja mengataiku 'jallang'?" Fiona terkekeh seolah merendahkan.
"Yang penting saat ini, aku sudah mengetahui semuanya, aku tidak akan ke neraka sendiri, kalian akan menemani ku ... "
Di kamar yang kini sudah di tempati lagi oleh pemiliknya, mentari menyorot membuat dua insani yang kini tengah terlelap merasa terganggu. Shaka bangun lebih dulu, matanya mengerjap- ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk, bibinya kontan mengukir senyum saat di pelukannya saat ini terlihat Kirana masih terlelap dengan mendengkur halus.
"Dengan hanya melihatnya saja, aku merasa energi ku sudah terpenuhi." Shaka terkekeh sendiri, sedikit menggelikan untuknya, dulu ia yang selalu kesepian merasa tak memiliki tujuan hidup dan keras hatinya, kini semua itu sudah sirna karena kehadiran seorang gadis sederhana yang menaklukkan hatinya.
"I love you," ujar Shaka dengan suara serak basah khas orang baru bangun tidur, ia lantas mendekat kan ke wajah Kirana, mengecup kening sang istri lalu beralih pada kedua pipinya dan berakhir mendusel- dusel ujung hidung Kirana, hingga membuat wanita itu terbangun karena merasa terganggu.
"Mas ... " panggil Kirana dengan suara lirih.
"Kau sudah bangun?"
"Kamu mengagetkan ku." Kirana cemberut.
Shaka tersenyum gemas, menjawil pipi istrinya yang chubby.
"Aw, sakit tahu!" Kirana bangkit saat Shaka menghindar setelah menghadiahkan nya sebuah cubitan.
__ADS_1
"Mas, mau lari kemana kamu? tunggu pembalasan ku!"
Kirana mengejar langkah Shaka dengan membawa bantal di tangannya, mereka seperti tom and Jerry yang saling mengejar dan menghindar, Shaka terbahak-bahak hingga akhirnya ia membiarkan sang istri untuk menang.
"Hahaha, oke maafkan aku," ujar Shaka berhenti sambil mengatur nafasnya yang memburu.
Kirana cemberut. "Huh, gak lucu tau!"
Shaka terkekeh gemas. "Iya sayang maafkan aku."
Kirana malah berbalik memunggungi, kedua tangannya terlipat di depan dada, sambil menahan senyum.
Frustasi karna Kirana tak luluh juga, Shaka menghela nafas panjang, otaknya bekerja keras memikirkan sesuatu hingga sebuah ide pun muncul, Shaka kemudian menekuk sebelah kakinya, dengan menarik ujung telinganya sendiri persis seperti seorang murid yang tengah di hukum oleh gurunya.
"Sayang, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."
Kirana masih bergeming namun ekor matanya melirik ke arah Shaka, bibirnya berkedut menahan senyum, hingga akhirnya Kirana luluh dengan wajah memelas pria itu.
Lalu ia berbalik dengan senyum lebar, Shaka berdiri menghela nafas lega. "Kamu memaafkan ku kan?"
Kirana mengangguk pelan. " bagaimana mungkin aku tidak memaafkan suami ku yang menggemaskan ini."
Shaka tersenyum sumringah, lalu ia membawa isterinya ke dalam dekapan hingga kaki Kirana tak menyentuh tanah.
"Mas, aku bisa jatuh!" Kirana tertawa lepas dalam dekapan Shaka.
Shaka menarik pinggang Kirana, lalu menarik tengkuk wanita itu mempertemukan bibir mereka berdua, Kirana mengalungkan lengannya di leher Shaka mengikuti ritme permainan suaminya itu.
"Bisakah kita mengulang aktifitas yang semalam?"
Kirana bergidik. "Mas ... tadi malam apakah tidak cukup untuk mu."
"Tidak." Shaka menggeleng. "Sampai ada Arshaka junior di dalam sini."
Kirana mengulum senyum lantas mengangguk, mendapat kode yang sama tak perlu menunggu waktu lagi Shaka mengangkat sang istri kedalam gendongannya membawa nya ke atas kasur mereka dan bersiap kembali membuat Arshaka dan Kirana junior.
...---------Oo-------...
"Ini tuan Aslan mavendra, beliau adalah calon klien investor untuk proyek kita kali ini."
Shaka menatap pria di depannya dengan cermat, seperti seekor singa Shaka memiliki pengamatan yang sangat baik, ia akan tahu bagaimana seseorang yang akan bekerja sama dengannya itu memiliki kualitas untuk berada di sekitarnya.
"Salam kenal, pak Aslan ... " Shaka mengulurkan tangannya lebih dulu.
__ADS_1
Pria berwajah tampan dengan etnis Turki itu menjabat tangan Shaka dengan senyum hangat.
"Salam kenal pak Arshaka,"
"Saya telah mendengar banyak tentang anda dari para rekan sejawat dan klien saya, itulah sebab saya berani mengajukan diri untuk bekerja sama dengan anda."
"Anda terlalu banyak memuji tuan Aslan, silahkan."
Shaka menarik kursi mempersilahkan Aslan untuk duduk, mereka kemudian berbincang dengan serius untuk proyek yang akan mereka kerjakan bersama.
"Ide anda bagus dan cemerlang, saya menyukainya." puji Shaka, ia telah mengira sebelumnya Aslan tidak bisa di remehkan.
"Terimakasih." Aslan tersenyum kembali, tipe manusia penyayang dan bisa mengayomi.
"Ngomong-ngomong saya berharap proyek ini bisa berjalan baik hingga menuju kesuksesan, karena saya juga mendedikasikan ini untuk adik saya."
"Oh adik anda?" Shaka mencoba sedikit mengobrol untuk mengenal lebih dalam orang di depannya ini.
"Ya, sedikit saya cerita tuan Shaka, ini adalah ranah pribadi tapi entah kenapa saya ingin menceritakan nya dengan anda.
"Ceritakan saja, saya akan mendengarkan," ucap Shaka.
"Adik saya Chiara mavendra, hilang di taman ketika saya menemaninya untuk bermain, waktu itu saya sangat terpukul hingga menyalahkan diri sendiri akibat kelalaian saya." Aslan menggeleng pelan mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan nya.
"Berbagai upaya telah di lakukan tapi hingga kini adik saya tidak pernah di temukan, meski semua orang mengatakan adik saya telah tiada, tapi saya percaya dia masih hidup sampai saat ini."
Shaka membuang nafas singkat, turut prihatin. "Itu adalah kisah yang menyedihkan. Jika anda sendiri masih menyakini adik anda masih hidup, maka insting anda sebagai kakak sangatlah kuat."
Aslan mengangguk. " dia pasti masih hidup entah berada di belahan dunia lain saat ini."
Hening sejenak, Shaka jadi teringat dengan informasi yang ia dapatkan tentang Kirana jauh ketika awal-awal ia masih mencari informasi tentang wanita itu. Fakta jika Kirana bukanlah anak kandung dari ibu dan ayahnya,dan dia hanya di manfaatkan paman dan bibinya untuk kepentingan pribadi, jika Kirana tahu tentang itu entah bagaimana terpukulnya sang istri.
Tapi tidak mungkin ada keterkaitan tentang adik Aslan yang menghilang dan isterinya. Shaka menggeleng dengan pemikiran konyol nya itu.
"Terimakasih pak Shaka telah mendengarkan cerita saya, padahal kita baru kenal tapi sudah sangat akrab seperti teman lama."
Shaka mengulum senyum mendengar ucapan Aslan.
"Tak perlu sungkan pak Aslan, kita adalah tim dan tentu bisa juga menjadi teman."
Aslan mengangguk dan tersenyum, keduanya pun berdiri dan saling berjabat tangan.
"Senang bekerja sama dengan anda, pak Arshaka."
__ADS_1
"Saya juga merasa terhormat untuk nya." balas Shaka.
To be continued ....