
...💞 Happy reading 💞...
Kirana sedang sibuk di bagian dapur, ia memulai aktivitas pertamanya setelah kembali ke mansion dengan berencana membuat berbagai aneka macam masakan. Bi Sukma dan para maid lainnya teramat senang dan menyambut haru kedatangan Kirana kembali.
"Akhirnya non muda kembali, Tuhan memang maha baik non, setelah semua kesakitan yang di alami non muda kini akhirnya berbuah manis," lirih bi Sukma yang mengharu biru, ia adalah saksi mata bagaimana perjuangan Kirana selama ini di mansion dan masalah apapun yang di lalui Kirana,bik Sukma lah yang menjadi tempat curhat Kirana selama ini.
"Terimakasih bik dan juga kalian, berkat dukungan kalian semua aku bisa kuat sampai sekarang," ucap Kirana pula, menatap ke semua barisan para maid yang selama ini sudah menjadi temannya di masa- masa sulit. Kirana tak pernah membeda-bedakan menurutnya semua pada pekerja di sini adalah temannnya, tempatnya berbagi cerita dan suka duka.
"Baiklah, jangan menangis lagi." Kirana menyusut ujung matanya yang berair. "Sekarang ayo kita memasak, aku sudah sangat rindu memasak di dapur ini."
"Baik non muda," ujar bik Sukma dengan semangat 4G lalu di angguki oleh yang lain. Mereka pun saling bahu membahu menyiapkan bahan masakan sambil mengobrol ria bersama Kirana, nona muda mereka yang humble dan supel,tak pernah membeda-bedakan antara majikan atau pembantu membuat mereka merasa nyaman ketika bersama sang nona muda.
Shaka baru saja keluar setelah menyegarkan diri di dalam kamar mandi, pria itu kemudian bersiap-siap di walk in closed miliknya. Kemeja putih lengan panjang yang di padukan dengan tuxedo biru navy menjadi pilihannya kali ini, ia memakai jam tangan lalu menyemprotkan parfum setelahnya keluar telah siap untuk berangkat ke kantor.
Kirana tengah asik meracik bumbu di atas wajan anti lengket, ia sudah memilih beberapa menu sehat untuk sarapan pagi ini dan bekal untuk Shaka nanti.
Sambil tangannya dengan cekatan menaruh potongan sayur dan rempah, bibir Kirana bersenandung kecil di sela aktivitas memasaknya sampai ketika sebuah lengan besar tiba-tiba saja melingkar di pinggang rampingnya dari belakang membuat Kirana terkesiap kaget.
"Sayang .... " suara bariton itu terdengar merdu di telinga Kirana membuat ia sudah bisa menebak siapa pengganggu yang kini berada di belakangnya.
Kirana hanya berdeham singkat, meski kini jantungnya bisa ia katakan sedang tidak baik-baik saja alias tengah berpacu dengan cepat karena sikap lembut Shaka dan sentuhan pria itu.
"Aku merindukan mu ..." ujar Shaka kembali, terdengar seperti bisikan di telinga Kirana, hembusan nafas hangat pria itu membuat buluk kudu Kirana seketika saja berdiri, ada gelenyar aneh yang kini timbul lagi setelah sekian lama tak pernah ia rasakan.
Kirana menggeleng dengan mendengus geli. "Lebay ah. aku masih di sini dan kamu malah merindukan ku?"
Shaka cemberut,. bibirnya berdecak kesal, merasa gemas mengapa istrinya susah sekali untuk di ajak bermanja?
__ADS_1
Namun anehnya itu justru menambah daya pikat tersendiri untuknya, Kirana yang sekarang telah membuatnya bangga, bahkan meski ia tidak bisa mendapatkan satu kesempatan lagi, Shaka yakin Kirana masih akan baik-baik saja tanpa dirinya karena kini wanita itu telah berubah menjadi perempuan yang tangguh dan pemberani.
Shaka menaruh dagu di atas pundak Kirana, saat kedua tangannya semakin ia tekankan melingkar di perut Kirana, Shaka merasakan ada yang aneh, dadanya tiba-tiba saja berdegup kencang seakan-akan ada sesuatu yang muka terhubung ke hatinya.
"Kirana ... " panggil Shaka pelan. Sedangkan Kirana sendiri menggigit bibir dengan menutup mata menyadari kekeliruannya yang membiarkan tangan Shaka di atas perutnya.
Grep! Shaka menarik tubuh Kirana hingga berbalik ke arahnya, wajah nya berubah kaku dengan sorot mata menatap begitu serius.
"Kirana, jawab dengan jujur, apa kau? ... " Shaka gelagapan, ia tidak tahu pasti ini karena dirinya adalah seorang laki-laki namun ia sangat mengenali ciri bagaimana wanita yang tengah berisi atau tidak.
"Apa kau? ... kau?"
Kirana meringis menantikan Shaka menyelesaikan pertanyaannya dengan wajah harap-harap cemas.
"Kau sedang mengandung anak ku?"
Boom! Kirana sudah bisa menebak pertanyaan itu dari mulut Shaka.
"Aku ingin bertanya dulu padamu," ucap Kirana, sengaja mengulur waktu ingin lebih lama menikmati wajah Shaka yang kebingungan menanti jawaban menurutnya itu sangat menggemaskan.
"Jika suatu hari aku mengubah panggilan mu menjadi 'papa' bagaimana?" tanya Kirana dengan mata mengerjap-ngerjap menahan ekspresi ketawanya karena Shaka yang mulai terlihat kesal saat ini.
"Oh ayolah sayang, jangan bercanda di saat situasi seperti ini," gerutu Shaka. "Itu sama sekali tidak lu--" lalu kata-katanya mendadak tertahankan ketika ia mulai menyadari sesuatu. "cu," lanjutnya mengakhiri kalimat tersambungnya tadi lalu air mukanya mendadak cengo lalu kemudian berubah berseri-seri.
"Jika kau mengubah panggilan ku dengan 'papa', itu artinya aku juga akan mengubah panggilan ku padamu dengan sebutan 'mama'!" raut wajah Shaka berubah 180 derajat menjadi lebih bersemangat.
"Itu artinya kita akan memiliki anak?!" tanya Shaka dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Kirana menahan senyum melihat ekspresi bahagia yang di pancarkan sang suami lantas ia pun mengangguk.
Shaka masih melongo, antara sangat gembira dan masih tidak percaya mendengar kabar ini.
"Itu artinya aku akan menjadi seorang ayah?!" tanya Shaka kembali memastikan apa yang ia dengar ini.
"Ya." Kirana mengangguk tak kalah semangat. "Dan aku akan menjadi seorang ibu."
"Dan aku menjadi seorang ayah, bayangkan itu akan menjadi ayah untuk anakku?!" Shaka bahkan sampai menepuk-nepuk pipinya berharap ini bukan lah mimpi, jika pun ini mimpi ia tak akan bangun lagi karena ini terlalu indah, namun saat ia berbalik menatap sang istri, Shaka dengan spontan mencubit pipi Kirana dan wanita itu meringis sambil tertawa Shaka menjadi yakin ini bukanlah mimpi.
"Aku akan menjadi seorang ayah!" Shaka berteriak senang. "Dengar dunia, aku akan menjadi seorang ayah!"
Kirana yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum turut merasakan euforia yang suaminya rasakan saat ini dan begitu bersyukur dengan semua ini.
Grepp! Kirana tersentak kaget ketika Shaka dengan cepat membopong tubuhnya dan memutarnya seolah mereka tengah di pesta dansa.
"Terima kasih sayang, aku benar-benar sangat bahagia!" ujar Shaka lagi dengan suara lantang.
Kirana semakin melebarkan senyumnya, setelah Shaka menurunkannya, ia langsung merasakan kehangatan yang begitu besar ketikan sang suami membawanya ke dalam dekapan hangat.
"Aku sangat beruntung memiliki mu," kata Shaka dengan sungguh-sungguh sambil mengecup ubun-ubun Kirana.
"Terimakasih telah datang ke dalam hidup ku dab kini kebahagian ku bertambah berkali-kali lipat dengan kehadiran anak kita ini," lanjut Shaka sambil telapak tangan besarnya mengusap perut Kirana yang mulai membesar.
Kirana mengangguk menampilkan senyum tulusnya. "Kami pun sangat bahagia, aku dan Shaka junior akan selalu ada untuk mu suami ku."
Shaka tersenyum bahagia, ia pun kemudian menekuk lutut menghadap kan wajahnya ke perut Kirana lalu mengecupnya dengan sayang.
__ADS_1
"Baik-baik di dalam perut ibumu ya nak, papa berjanji akan selalu menjaga kalian berdua," ucap Shaka yang kini mulai di liputi rasa haru. "Kalian adalah harta yang paling berharga bagiku."
To be continued ...