
💞 Happy reading 💞
Malam datang, rembulan di atas langit bersinar terang bersama ribuan bintang. Di kamar, sesuai perintah Shaka, para maid kini tengah menyiapkan Kiran dengan gaun dan make up tipis yang membuat wajah Kiran nampak segar.
"Bagus,saya suka kerja kalian." Shaka memindai penampilan sang istri, sesuai keinginan nya.
"Baiklah, kalian boleh pergi!"
Para maid yang terdiri dari empat wanita usia muda itu mengangguk mendengar titah sang majikan, setelah membungkuk hormat mereka pun melenggang pergi.
Shaka mendekati Kiran, pria dengan pakaian kasual yang nampak kharismatik itu menatap wanita di hadapannya dengan dalam, tangan kekar nya kemudian menyibak sedikit poni sang gadis yang menutupi matanya.
"Siap untuk menonton film bersama ku?"
Kiran agak tersedak mendengar pertanyaan nya. Kenapa kesannya seperti sedang ajang kontestan? siap gak siap, ya Kiran harus siap!
"Aku senang karena tuan mengajak ku keluar untuk menonton film."
Shaka otomatis menyunggingkan senyumnya. "Jawaban yang bagus, i like it."
"Oke, jika kau sudah siap, let's go!" Shaka mengenggam erat tangan Kiran dan menariknya lembut agar mereka berjalan sejajar.
Kiran tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya, ia sangat gugup, heran juga senang, setelah hampir satu bulan perubahan sikap Shaka benar-benar signifikan, Kiran tak ingin terlalu percaya diri jika Shaka berubah baik padanya, bukan berarti pria itu mencintai nya bukan? selama ini tak ada ungkapan sayang yang keluar dari mulut Shaka tapi tindakan dan bahasa tubuhnya telah menunjukkan itu semua tanpa harus di ucapkan lewat lisan.
Kiran menengadah menatap Shaka, untuk pertama kalinya setelah setiap kali mereka bersitatap Kiran selalu menunduk, kini ia bisa melihat lebih jelas setiap pahatan wajah tampan pria itu.
"Dia begitu indah tapi seakan jauh tak tergapai." batin Kiran mendeskripsikan bagaimana Shaka di matanya.
Kau harus tau diri Kirana, bagaimana mungkin wanita seperti mu bisa di cintai oleh tuan muda Arshaka, dia hanya bersikap baik pada mu karena kasihan bukan karena alasan lain.
Kiran kembali menunduk, ia hafal betul tempat nya yang sebenarnya. Jangan terbawa perasaan, bisa tinggal di sini saja ia sudah beruntung, jangan bermimpi bisa di cintai oleh pria se perfect Shaka.
...--------Oo--------...
__ADS_1
Saat menuruni undakan tangga menuju lantai bawah, Shaka dan Kiran berpapasan dengan Fiona yang terlihat sedang terburu-buru menuju ke atas namun berhenti juga begitu melihat kedua orang di depannya.
"Oh, Shaka dan ... Kiran." Fiona terlihat agak terpaksa ketika menyebut nama adik iparnya itu.
"Ka, kamu terlihat rapi mau kemana?" tanya Fiona tanpa mau repot- repot mempedulikan Kiran lagi.
"Aku mau keluar bersama istriku." jawab Shaka to the point.
"Oh, kemana?" tanya Fiona lagi agak sedikit kepo, tak biasanya Shaka seperti ini menurutnya. Bukankah Shaka masih sangat mencintai Olivia dan belum bisa move on dengan nya? fikir Fiona.
"Kami mau menonton fim, tumben kakak banyak bertanya."
"Ah, hahaha tidak aku hanya penasaran saja, soalnya kalian jarang terlihat bersama ataupun keluar semenjak aku tiba di sini."
"Itu sebabnya aku telah memutuskan untuk menghabiskan banyak waktu bersama dengan isteri ku."
Fiona manggut-manggut paham namun fokusnya tiba-tiba teralihkan ketika tak sengaja ia melihat kalung yang di kenakan Kiran.
"Bukan kah itu kalung peninggalan keluarga Rajendra? kenapa bisa wanita itu memakainya?"
Jelas karena ia teringat tiga tahun lalu saat hari pernikahan Fiona sangat menginginkan kalung itu dari sang nenek untuk hadiahnya, namun oma nya itu kekeuh tak memberikan nya dengan alasan jika kalung itu adalah peninggalan leluhur yang harus di jaga. Tapi lihatlah sekarang? kenapa bisa ada pada wanita rendahan itu?
Grrr! Fiona sebisa mungkin menetralkan air mukanya yang menahan jengkel. ia merasa sangat kesal terlihat dengan kini ia yang begitu erat mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat jelas.
"Baiklah jika begitu, semoga acara nonton kalian menyenangkan ya," ujar Fiona kemudian masih memaksakan untuk senyum meski rasanya kini ia ingin mengamuk.
"Oke, terimakasih ka, kalau begitu kami pergi." pungkas Shaka lalu.
Fiona mengangguk lalu melambai pada kedua orang itu sambil mengucapkan kata perpisahan setelah di rasa Shaka dan Kiran sudah semakin menjauh dan tak terlihat barulah saat itu juga kekesalan Fiona meledak-ledak.
"Arggghh! brengsekk! kenapa bisa kalung leluhur yang sangat ku idam-idamkan itu bisa di pakai oleh wanita murahan itu!" ia menghardik berang.
"Ini tidak bisa di biarkan! aku harus bicara pada bunda dan oma!" kemudian dengan langkah mencak-mencak Fiona berbalik menuju ruang tengah di mana ibu dan neneknya sering menghabiskan waktu.
__ADS_1
...--------Oo--------...
"Selamat malam,tuan muda dan young lady." Liam menyapa hangat begitu Shaka dan Kiran datang berdampingan menuju mobil yang sudah di persiapkan.
"Selamat malam eum-- tuan?" Kiran ingin menyapa balik asisten setia Shaka tersebut namun ia lupa atau lebih tepatnya tak tahu nama pria itu.
"Liam," sahut laki-laki berkemeja biru itu memperkenalkan diri.
"Ah, baiklah tuan Liam."Kirana tersenyum ramah.
Ekhem! tiba-tiba deheman yang sengaja di tekankan terdengar keras.
"Kau tidak perlu sampai memanggilnya tuan segala panggilan itu hanya khusus untuk ku. Kau bisa memanggil nya sektretaris Liam saja."
"Oh begitu kah? baiklah, selamat malam sektretaris Liam," ucap Kiran mengulang salam nya kemudian.
"Good!" sahut Shaka sambil manggut-manggut.
"Astaga tuan muda seperti itu saja anda cemburu, jangan bilang anda ini posesif," ujar Liam blak-blakan sambil cekikikan geli. Liam sampai menutup mulutnya menahan diri agar tidak tertawa lebar di hadapan Shaka saat ini.
"Tutup mulut mu!" sentak Shaka begitu mendengarnya, wajahnya yang selalu terlihat garang itu berubah panik juga memerah kentara salah tingkah.
"Cukup bicara ngawur! jalankan saja tugas mu." peringat Shaka lalu, ia mengusap belakang lehernya, melihat itu Liam sudah bisa menebak jika tuannya sedang mengalami salting tingkat kuadrat.
Lalu Kiran, gadis itu hanya bertingkah polos ia menatap Shaka lalu Liam secara bergantian lantas mengerjap-ngerjap seperti anak kecil yang tak paham dengan obrolan orang dewasa.
"Baiklah, sebelum anda berubah menjadi Hulk saya harus menyerah dulu atau tidak saya bisa berakhir di palung mariana," ucap Liam namun masih tetap menahan kekehannya.
"Tuan- tuan gengsi anda ini terlalu tebal. Setebal dompet anda." gumam Liam dalam hatinya.
Sementara Shaka, membatin dengan mengumpat pada asisten yang setia sejak kecil nya itu.
"Brengsekk kau Liam! telah membuat ku malu, awas saja, ku potong gaji mu untuk bulan ini hingga 90%.
__ADS_1
To be continued ...