
...💞 Happy reading 💞...
Berbulan-bulan Shaka di nyatakan hilang, keluarga yang belum terima dengan konfirmasi polisi jika Shaka dan supirnya sudah tewas dalam kecelakaan itu, memutuskan untuk mencari sendiri Shaka hingga jika memang ia sudah tiada, mayat nya harus di ketemukan.
Mansion megah yang selalu berdiri angkuh kini tak ubahnya seperti tempat lautan air mata dan kesedihan. Kondisi Renata semakin memburuk hari demi hari, wanita yang sudah mulai renta itu selalu terserang demam dan hanya bisa terbaring lemah di ranjang, ia begitu terpukul untuk sekedar ke kamar mandi pun harus di bantu oleh para pelayan, kian hari Renata semakin terlihat kurus, ia tak ingin menelan sesuatu sebelum mendapatkan kabar tentang putranya.
Kesedihan yang sama di rasakan yang lain, Helena juga tak kalah terpuruknya sepanjang hari yang di lakukan nya adalah menunggu kabar dari para ajudan yang bertugas mencari tubuh Shaka, entah itu dalam keadaan hidup ataupun matti. Semua nampak suram, memikirkan tentang nasib putra pertama, pewaris tahta Rajendra saat ini.
Sementara itu di kediaman Wijaya, keadaan hampir seratus delapan puluh derajat sangat lah berbeda tengah di rasakan orang-orang dengan ketamakan mereka saat ini. Para manusiawi yang tanpa rasa bersalah sama sekali tengah berkumpul di suatu ruangan, dengan gelas berisi wine di tangan masing-masing, kemudian orang-orang tak kenal rasa perikemanusiaan itu saling tertawa melakukan selebrasi seolah tengah merayakan kemenangan yang begitu besar.
"Ciss! untuk kemattian sang tuan muda yang malang." mereka bersorak lalu saling mendekatkan gelas di tangan setelah itu meminum isinya dengan sekali tegukan, tawa berderai kembali terdengar menggema di ruangan luas itu.
"15 tahun aku menanti hari ini, hahaha akhirnya dendam ku terbalaskan." Arkan bersorak gembira, ia kembali menuang cairan pekat di dalam botol hijau ke gelas nya.
Matilda di tempat duduknya menyeringai. "Tidak sia-sia kita bersabar selama ini, hasilnya sungguh memuaskan. Benar kan, Fiona?" mata wanita bertubuh tambun itu beralih pada perempuan yang berdiri tengah melamun di sampingnya.
Kening Matilda mengkerut lalu sorot matanya berubah dengan seringai kecil di wajah. "Kenapa Fiona? apa kau tengah menyesali tindakan mu yang bergabung bersama kami untuk melenyapkan adik mu sendiri?"
Fiona yang semula hanya menggoyang-goyangkan gelas di tangannya lantas beralih mengulas senyum pada Matilda. "Tidak. Aku sama sekali tidak menyesali tindakan ku bi, hanya saja aku sedang berfikir langkah apa yang pertama di lakukan untuk mengambil alih semua kekayaan milik Arshaka juga jabatannya di perusahaan."
"Hahaha ternyata kau memikirkan itu." Wijaya menyahut. "Soal jabatan Shaka yang nanti akan di gantikan oleh mu kau tak usah cemas, biar paman Arkan yang akan mengurusnya."
"Papa benar. Kakak tak usah khawatir tentang itu." Arkan berseru.
"Lantas dengan harta warisan Wisnu prabu, biar itu menjadi urusan ku." Matilda menyahut kemudian. "Ini mudah, kita bisa memanipulasi surat akta wasiat Wisnu, dan yang kita butuhkan hanya tanda tangan dari ibu dan juga Renata sebagai persetujuan untuk pemindahan hak milik."
__ADS_1
"Tapi bagaimana kita bisa mendapatkan tanda tangan oma dan ibuku?" Fiona bertanya.
Matilda tertawa sebelum menjawab. "Itu perkara gampang, Renata adalah wanita kampung sebelum beruntung karena di persunting ayah mu, sama seperti Kirana dia adalah wanita udik sangat mudah untuk mengelabui nya, sementara untuk nyonya Helen, dia sudah tua dan renta, matanya tidak bisa membaca, kita tinggal suruh saja dia tanda tangan dengan sedikit intrik." lalu Matilda tertawa lagi.
"Yang penting adalah kesepakatan yang sudah kita buat, 50 untuk ku dan 50 untuk ku maka semuanya akan beres."
Fiona tersenyum kecut lantas ia mengangguk. Dalam hati wanita itu menggerutu.
"Aku akan melakukan ini sendiri, setelah pengorbanan besar yang ku lakukan tak rela aku membagi hasil dengan kalian para ibllis serakah."
...---------Oo-------...
Arkan menyeringai lebar, langkahnya mengendap-endap menuju daun pintu yang tertutup rapat. Otak kottor nya tengah merencanakan sesuatu untuk orang di dalam sana. Sesekali pria itu terlihat cegukan karena pengaruh alkohol yang di bawanya.
Sementara itu Kirana di dalam kamar sedang tergugu sambil memeluk bingkai foto Shaka, hatinya begitu sakit merindukan suaminya yang kini tak kunjung mendapat kabar akan keberadaan nya. Kirana yakin Shaka masih hidup sebelum melihat jasad nya secara langsung.
"A- ada apa ini? apa yang kau lakukan?!" Kirana memekik tertahan ketika pria dengan mata teller menatapnya seakan penuh naffsu, Arkan berjalan dengan lunglai mendekatinya.
"Berhenti di sana! jangan mendekat!" teriak Kirana namun sama sekali tak di gubris oleh pria itu.
"Hahaha, kau tidak akan bisa kemana-mana kali ini!"
Kirana baru menyadari jika pria itu dalam keadaan mabuk saat bau alkohol begitu kuat tercium dari mulut nya ketika pria itu berbicara.
Alarm tanda bahaya Kirana berbunyi, seketika gadis itu mengambil apa saja yang bisa melindungi nya, ia mengambil sebuah vas bunga dan berniat untuk kabur keluar dari ruangan.
__ADS_1
Namun Arkan lebih licikk, pria itu bisa memperhitungkan apa yang akan Kirana lakukan hingga saat gadis tersebut hendak lari Arkan segera mencegat nya.
"Mau kemana kau?!" Arkan semakin menyeringai lebar.
Kirana otomatis menjerit. "Argghh! lepaskan aku!" ia berusaha berontak namun sia-sia saja karena tenaganya yang tak sebanding dengan pria mabuk itu.
"Tidak ada yang bisa menyelamatkan mu kali ini, suami mu sudah berada di neraka. Sekarang sebaiknya kita nikkmati waktu bersama tanpa ada gangguan lagi,"
"Kau tahu? aku sangat menginginkan mu Kirana, kau begitu menggoda hassrat ku!" Arkan berbisik dengan nafas pannas nya membuat Kirana merinding.
Gadis itu terlihat sangat ketakutan panik dan tegang bercampur padu,ia memejamkan mata melihat wajah Shaka pertama kali dalam benaknya entah bagaimana Kirana seperti mendapat keberanian lebih, ia lantas kembali membuka mata ketika Arkan hendak mencvmbu nya Kirana segera mengambil tindakan dengan memberi tendangan keras pada area bawah pria itu.
Arkan mengerangg kesakitan, ia menatap tajam pada Kirana. "Wanita siaalan! kesini kau!"
Sebelum pria itu berhasil menjambak rambut nya Kirana mengambil vas bunga yang sempat jatuh lalu di arahkan ke kepala Arkan.
Pranggg! vas bunga hancur tepat mengenai sasaran, Arkan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, raut wajahnya mengkeruh antara menahan sakit dan amarah, darrah segar merembes dari area belakang kepalanya.
Kirana tak membuang waktu lagi, ia segera berlari keluar namun ternyata di kunci oleh pria itu, sementara Arkan dengan kesakitan menahan kepalanya masih berusaha mengejar Kirana hingga membuat gadis itu terpaksa untuk kabur lewat jendela yang terbuka.
"Kau tidak akan bisa kabur brengsekk! akan ku beri kau pelajaran siaaalan!"
Arkan berteriak penuh amarah sementara Kirana berhasil turun dari lantai dua kamarnya dan berjalan tertatih- tatih penuh ketakutan keluar mansion lewat halaman belakang. Ia pasrah pada langkah kakinya akan membawa nya kemana. namun ia berharap dirinya bisa bertemu dengan Shaka setelah ini.
"Aku akan mencari mu. Tunggu aku, tuan."
__ADS_1
To be continued ...