Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 27 | Jebakan


__ADS_3

💞 Happy reading 💞


Cuaca cukup terik hari ini, meski demikian langkah kaki seorang garis bergaun merah jambu terlihat begitu terburu-buru di bawah sang Surya yang menyinari bumi dengan sengatnya yang panas.


Kiran mempererat genggaman pada tali tas selempang yang di kenakannya lalu tangan kiri nya fokus melambai pada sebuah taksi yang otomatis berhenti di tempat ia berdiri.


Dengan raut wajah was-was ia melirik ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi tersebut.


"Jalan pak," titah Kiran kemudian pada sang supir taksi.


"Kita mau kemana neng?" tanya supir taksi tersebut sambil melirik Kiran yang terlihat cemas si spion mobil.


"Jalan aja dulu pak, nanti saya kasih alamatnya," jawab Kiran dengan hati berdebar keras.


"Oh, baik kalau begitu." sang supir taksi mengangguk patuh lalu mobil pun berjalan meninggalkan area.


Tanpa Kiran sadari, bahwa ada seseorang yang tengah mengintili jejak langkah nya sejak tadi. Robby, orang suruhan dari Shaka berjalan ke luar dari persembunyiannya lantas ia langsung berlari ke arah mobil yang sudah terparkir untuk menyusul ke mana istri dari tuannya itu pergi.


Di jalan raya, mobil yang di kendarai Robby terus mengikuti dengan sembunyi- sembunyi taksi yang kini membawa Kiran ke suatu tempat.


Sembari menghisap rokok, pria berpenampilan urakan seperti preman pasar itu terus mengekori ke arah mana taksi berwarna biru itu berjalan, naasnya tiba-tiba saja terjadi sebuah kemacetan di pembatas antara tikungan karna ada pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas.


Akibatnya Robby kehilangan jejak taksi yang ditumpangi Kiran ke arah mana, lelaki itu berdecak kesal. "Siaaal!"


Di lain sisi, Kiran yang sudah memberitahukan tempat tujuannya, lima belas menit kemudian taksi yang di tumpangi berhenti tepat di kawasan yang ia tuju.


"Berhenti di sini gak apa-apa neng?"


"Iya gak apa-apa, pak kebetulan saya mau ke dalam mall di sana." tunjuk Kiran pada bangunan pencakar langit di hadapan mereka.


"Oh oke neng, kalau begitu bapak tunggu di sini saja ya." supir taksi yang sudah berumur senja itu berucap yang membuat Kiran bisa sedikit menghela nafas lega karena bertemu orang sepengertian itu.

__ADS_1


"Baiklah pak, terimakasih."


Kiran pun membuka pintu mobil dan turun dengan hati- hati tak lupa ia celingak-celinguk sebentar, karena baru kali ini ia berpergian seorang diri apalagi di tempat seramai ini Kiran jadi gugup dan sedikit khawatir.


"Hufft, gak apa-apa Kirana, tenang kan dirimu," gumam Kiran bermonolog untuk merilekskan perasaan cemasnya. Ia pun melangkah pasti menuju ke tempat di mana seseorang pasti sudah menunggunya.


...---------Oo-------...


Di tempat yang sama seperti terakhir mereka bertemu, Arya sudah menunggu kehadiran Kiran di meja dan kursi yang memang di sediakan. Pria itu terlihat tak sabar sesekali ia melirik ke arah jam tangannya, lantas mengusap wajah kasar.


"Sudah dua jam aku berada di sini, apa Kiran melanggar janjinya?" monolog lelaki berkaus biru itu merasa kekecewaan di dalam hatinya.


Tapi tak lama kemudian saat mata Arya tak sengaja melirik, ia melihat kehadiran Kiran. Gadis yang sejak tadi di nantikan nya itu terlihat sama cemasnya seperti dirinya.


Pada akhirnya Arya bisa bernafas dengan lega lalu ia melambaikan tangan tinggi-tinggi agar Kiran bisa menemukan dirinya.


"Akhirnya kamu datang."Arya tersenyum lebar tepat setelah Kiran datang menghampiri.


"Mmm ... baiklah bagaimana jika kita bicara di tempat yang nyaman." usul Arya kemudian.


"Di mana?" tanya Kiran sambil membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Tepat seratus meter dari sini ada sebuah cafe, kita bicara di sana saja bagaimana?" tawar Arya.


"Baiklah, terserah kakak." sahut Kiran, lalu keduanya pun berjalan beriringan ke tempat yang Arya maksud kan.


****


Tiba di cafe, keduanya duduk di seberang meja yang letaknya tepat berhadapan dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan jalan di luar.


Seorang waiters datang membawa pesanan minuman mereka, setelahnya keheningan yang menyelimuti saat Arya mencoba memikirkan kata yang tepat untuk memulai pembicaraan sementara Kiran hanya mengaduk- aduk minumannya karena sekarang pikirannya tengah melanglang buana antara memikirkan bibi dan paman nya dan Shaka, bagaimana jika suaminya itu tahu yang sedang bersama seorang pria? seketika dirinya merasa bersalah karena sudah berbohong.

__ADS_1


"Kiran, paman dan bibi mu ... "


Tepat saat Arya memulai percakapan, di saat itulah Kiran mulai terfokus tentang tujuannya berada di sini.


"Paman dan bibi kenapa kak? ada apa dengan mereka?"


Arya membuang nafas dengan susah payah, menahan getar suara nya agar bisa terdengar normal setelahnya Arya pun mulai menceritakan tentang apa yang sudah terjadi setelah Kiran pergi, tentang pernikahan nya dengan Fitri dan juga kedatangan rombongan orang-orang misterius yang di pimpin oleh seorang pria berpenampilan arogan yang memporak-porandakan semua hingga hancur.


"Sekarang, bibi mu menjadi gilla Kiran, paman mu sendiri terkena serangan jantung akibat kedatangan pria misterius yang mengaku sebagai suami itu, sementara Fitri ... dia di nyatakan hamil namun tak lama keguguran karna masalah yang terjadi." pungkas Arya mengakhiri ceritanya.


Sampai cerita selesai, Kiran hanya mampu melongo seakan tak percaya, otaknya mendadak blank karena banyaknya informasi yang kini berjubel di otaknya, terlebih tentang pria yang mengaku sebagai suami nya? maksud nya Shaka?! lelaki itu dalang di balik semua yang terjadi ini!


"T- tidak mungkin ... i-ini tidak mungkin." Kiran menggeleng pelan berusaha mengelak semuanya, tidak mungkin Shaka yang melakukan nya. Jika benar ia, betapa menyeramkan nya pria itu. Apa saja yang tersembunyi dari Shaka selama ini? sifat ibblis nya yang tak pernah Kiran sangka akan semenakutkan itu.


"I- itu tak mungkin tuan ... "


"Ada apa Kirana, jadi memang benar pria yang tiba-tiba muncul di acara pernikahan ku dan merusak semuanya adalah suami mu? iya?!"


"Kirana! katakanlah!" sentak Arya mendesak karena sejak tadi gadis di depannya hanya diam saja.


"A- aku tidak bisa menerima semua ini."


Raut wajah Arya tiba-tiba berubah memerah padam. "Jika kau memang tidak percaya, kamu bisa melihatnya langsung Kirana! sekarang juga ayo kita ke rumah paman dan bibi mu!" sergahnya cepat lalu menarik lengan Kiran agar mau berdiri dari tempatnya duduk.


Kiran yang masih di landa syok hanya bisa pasrah saat Arya menarik tangan nya untuk mengikuti langkah pria itu, mereka keluar dari cafe kemudian berjalan ke arah barat di mana mobil Arya terparkir.


Tanpa mereka ketahui, ada sebuah kamera yang sejak tadi di bidik kan oleh seseorang yang duduk tak jauh dari keduanya. Dua wanita itu terus memotret Kiran dan Arya yang tengah berjalan hingga masuk ke dalam mobil.


"Ini akan menjadi berita yang sensasional, Shaka harus mengetahui kebusukkan istrinya!" ujar wanita yang memegang kamera ponsel lalu di tanggapi oleh wanita di sampingnya lantas mereka menyeringai lebar.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2