Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 17 | menggoda


__ADS_3

💞 Happy reading 💞


Siang itu di kediaman mansion Najendra. Helen dan Renata mengajak Kirana untuk menikmati teh bersama di taman halaman luas tempat biasa mereka menghabiskan waktu senggang.


"Bagaimana? pemandangan nya cantik bukan?" seru Helen mengajak Kirana mengobrol guna untuk mengenal lebih jauh sang menantu, juga Renata yang sebisa mungkin membuat Kirana nyaman agar cepat akrab dan tak merasa canggung lagi.


Kiran mengangguk merespon ucapan nenek dari Shaka itu. "I- iya oma, pemandangan di sini sangat sejuk dan indah."


Renata menatap lembut penuh perhatian pada menantunya itu, ia mengusap punggung Kiran dengan sayang. "Seperti ini lah yang kami harapkan,kamu jangan merasa segan ataupun canggung lagi, kamu sudah bunda anggap seperti anak sendiri."


Kiran menganggukkan kepalanya dengan kaca di mata penuh keharuan.


"Selama ini aku tak pernah tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu, terimakasih telah menganggap ku seperti anak sendiri, bunda."


Helen dan Renata sontak saling berpandangan terkejut karena ungkapan hati Kiran.


"Maaf jika bunda lancang bertanya, tapi sejak kapan kamu di tinggal orang tua mu?"


"Bahkan sejak aku baru di lahirkan bunda, ibuku meninggal karena berjuang melahirkan ku dan ayah ikut menyusul ibu karena serangan jantung begitu mendapat kabar ibu telah tiada."


Bertambah syok lah Helen dan Renata mendengar penjelasan singkat tentang orang tua Kiran yang meninggal tragis.


"Kamu kuat hingga bertahan di titik ini, nak," ujar Renata menyemangati istri putranya tersebut begitupun dengan Helen yang memeluk Kiran penuh kasih sayang menyalurkan kehangatan untuk gadis malang itu.


"Baiklah, kita sudahi mengingat yang sedih-sedih ya. Oh, benar oma lupa ingin memberikan sesuatu padamu."


"Ah ya benar," Renata menyahut ucapan ibu mertuanya.


Tak lama kemudian, Helen dengan senyum penuh arti mengambil sebuah kotak berwarna emas, menatap ke arah Renata lalu menantunya itu mengangguk.


"Kamu tahu Kirana, ini adalah sesuatu yang langkah karena oma dan bunda mu telah membuat keputusan ini dengan sangat masak."


"Sebenarnya apa itu oma?" tanya Kiran yang sedikit penasaran dengan kotak emas yang di tunjukkan oma Helen.


"Ini adalah sebuah kalung," jawab Helen dengan wajah penuh antusias. "Kau tahu Kirana, kalung ini sangat spesial karena ini adalah kalung leluhur yang sudah di wariskan sejak dinasti keluarga Najendra di bangun, kalung ini lebih berharga dari emas juga permata manapun,"


"Dan sekarang kalung ini akan di wariskan juga pada mu."


"A- apa? tapi sepertinya aku tak pantas oma."


"Kenapa bicara begitu?" tanya Renata.


"Bunda, kalian tahu aku berasal bukan dari status keluarga kaya, hidup ku juga biasa- biasa saja, aku bukan orang spesial itu yang pantas menerima kalung berharga turun temurun ini."

__ADS_1


"Kata siapa kau tak pantas?" seseorang tiba-tiba menyahut ucapan Kiran, membuat ketiga wanita itu menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


"Shaka kau di sini?" Helen berseru terkejut.


"T- tuan ... " Kiran spontan menunduk begitu Shaka menghampiri padanya.


Shaka memandang Kiran dengan raut sukar di baca, kedua tangannya terlipat di depan dada.


"Oma,bunda bisa berikan kalung itu padaku?"


"Ah ya."Helen juga Renata mengangguk bersama memberikan kotak emas berisi kalung mewah pada Shaka.


"Jangan bilang dirimu tak pantas, karena kau pantas mendapatkannya," ujar Shaka, pria itu menekuk lutut di hadapan Kiran yang tengah duduk sambil menunduk, melihat Shaka yang melakukan itu sontak Kiran mengangkat kepala.


"Tuan ... anda tidak perlu sampai melakukan itu."


"Aku ingin melakukannya untuk istri ku apa salahnya?"


Helen juga Renata yang mendengar jadi mesem- mesem di tempat.


Kiran bergerak canggung saat Shaka mengambil kalung itu lalu memakaikannya di leher Kiran, spontan ia mengambil rambut panjang nya untuk di sampirkannya ke samping.


"Cantik," ungkap Shaka setelah memasang kalung tersebut dan melihat dengan lebih teliti Kiran dengan penampilan baru bersama kalung berlian.


"Lihatlah suami mu sendiri memuji, jadi kamu tidak perlu merasa tak pantas sayang," seru Helen mengusap bahu Kiran.


"Ya sudah, kalian mengobrol lah lebih banyak, kami akan pergi."


"T- tapi--" Kiran hendak menahan kepergian nenek dan ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa sayang, mumpung Shaka di sini, kalian perlu banyak waktu untuk bersama ya, dan segera lah berikan cicit untuk oma," ujar Helen setengah menggoda.


Tak lama setelah kepergian oma dan bundanya Shaka menegakkan tubuhnya kembali lalu duduk di samping kursi Kiran yang kosong.


"Kau dengar apa kata oma?"


"Dengar, tuan."jawab Kiran cepat.


"Dan kau mengerti?" tanya Shaka lagi.


"Mengerti." sahut Kiran sambil mengangguk.


"Coba jelaskan jika kau mengerti?"

__ADS_1


"Eh?" Kiran mengangkat wajah dengan tegak. Agak syok dengan pertanyaan itu.


"Mmm ... Oma meminta kita lebih banyak waktu untuk bersama."


"Lalu?" pertanyaan Shaka menggantung dengan kedua alisnya yang terangkat, kentara ia seperti sedang menggoda istri nya itu, melihat wajah Kiran yang menegang seperti seorang peserta yang sedang di beri kuis mendadak, justeru di mata Shaka malah terlihat imut.


"Lalu ... " Kiran seperti habisan kata-kata untuk menjawab, karna terlalu grogi ia lupa dengan ucapan sang nenek barusan.


"Lalu apa?"


"A- aku tidak tahu tuan, maafkan aku, sungguh maafkan aku."


"Hei- hei sudah." Shaka segera menghentikan Kiran yang terus menunduk mengucap maaf.


"Aku hanya ingin menggoda mu, kenapa kau sepanik itu?"


Kiran hampir saja menangis, pengalamannya yang terus mendapat kekerasan dan pembullyan sejak dulu membuat ia mudah untuk merasa takut dan was-was dengan hanya tidak bisa menjawab pertanyaan sekecil itu. masa kecil yang kelam membuat karakter Kiran terbentuk menjadi wanita yang mudah di pojok kan. Dan Shaka bisa membaca itu semua dari kedua matanya yang mengisyaratkan ketakutan.


"Sudah lah, maaf jika membuat mu takut."


Kiran sedikit terkejut dengan Shaka yang mengucapkan maaf, ini baru pertama kalinya ia mendengar kalimat tersebut dari mulut pria dingin itu.


"Tidak tuan, harusnya aku yang minta maaf. Aku terlalu lemah hingga hal seperti ini saja aku merasa takut."


"Bukan salah mu hingga kau seperti ini, tapi salahkan para bajjingan yang mengaku sebagai keluarga mu itu, yang membentuk karakter mu seperti ini."


Shaka merangkul bahu Kiran memberikannya kenyamanan. Terasa gadis itu bergetar hebat dalam pelukannya. Sedalam itu lukanya, sedalam itukah rasa traumanya?


Shaka menggertak kan gigi, merasa amarah yang membumbung tinggi untuk keluarga paman dan bibi Kiran yang telah membuat istrinya seperti ini.


"Aku berjanji, akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk mereka." batin Shaka dengan menggebu-gebu.


"Apa kau sudah baikan?"


Kiran mengangguk perlahan, Shaka merelai pelukannya, dengan jempolnya ia mengusap ujung mata Kiran yang berair.


"Apa kau mau menonton film?"


"Hah?" Kiran yang masih mengatur sesak, terkejut dengan ajakan Shaka yang tiba-tiba.


"Baiklah sudah di putuskan, nanti malam kau harus bersiap- siap, kita akan menonton film!" tegas Shaka tanpa mendengar jawaban Kiran terlebih dahulu.


Memang tuan muda satu ini terkadang suka seenaknya.

__ADS_1


Haha untung ganteng!


To be continued ...


__ADS_2