Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 52


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Kirana terbangun dengan situasi yang tidak mengenakkan, kepalanya berdenyut luar biasa, kedua kakinya terasa kebas dan ingatannya sebelum pingsan seolah lenyap begitu saja.


Wanita dengan dress selutut itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tempat di mana sekarang ia berada, kamar bernuansa car putih, ranjang dengan sprei, bau obat-obatan dan suara-suara melengking dan tangannya yang di suntik jarum infus. Tak salah lagi,ia sekarang berada di rumah sakit.


Masih dalam kebingungannya, tiba-tiba seorang wanita berpakaian suster rapi, datang membawa papan tulis dan pena di tangannya, pegawai kesehatan itu memberi senyum hangat kepada Kirana sebelum akhirnya mengatakan akan memeriksa keadaan wanita tersebut.


"Siapa yang membawa saya ke rumah sakit ini, sus?"


"Oh, seorang pria mbak," jawab suster itu setelah melakukan pemeriksaan terhadap kondisinya.


"Apa suster tau namanya atau suster tahu di mana dia sekarang?" tanya Kirana dengan berapi-api, ingatannya harus kembali, apa yang terjadi padanya sebelum ia bisa sampai di sini. Dan Shaka? di mana suaminya sekarang?


"Kebetulan pria itu sempat mencacat namanya, Tuan Aslan mavendra, sekarang beliau juga sedang menunggu anda siuman." tutur suster tersebut, memberikan informasi yang ia ketahui.


Kedua mata Kirana membelalak. "Pak Aslan yang telah membawa ku? sebenarnya apa yang sudah terjadi?"


Arggh! Kirana mengaduh, merasakan sakit kepala yang kembali menderanya.


"Mbak, anda baik-baik?" suster itu terlihat panik melihat Kirana yang kesakitan, namun justru wanita itu hendak turun dari brankar nya.


"Maaf nyonya, anda mau kemana?" suster itu jelas panik dengan tindakan nekat Kirana.


"Anda masih harus di rawat dulu, nyonya!" serunya lagi mencoba menghalau Kirana yang mencoba pergi dari ruangan nya.


"Saya harus pergi, sus. Saya harus menemui pak Aslan dan meminta penjelasannya!" kekeuh Kirana.


Suster masih mencoba memberi pengertian kepada Kirana agar dia kembali ke tempat semula. Hingga tiba-tiba di tengah perdebatan sengit itu, muncul lah seorang dokter muda yang ternyata menangani perihal kondisi Kirana.


"Nona Kirana, tenang lah anda harus kembali berbaring, kondisi anda belum pulih benar."


"Tidak aku harus pergi, aku baik-baik saja!" Kirana tetap pada pendiriannya, sampai-sampai ia begitu nekat menarik tongkat yang terhubung pada infus tangannya agar bisa leluasa pergi.


"Tapi anda sedang hamil, anda tidak boleh banyak bergerak."


Sontak pernyataan dokter tersebut membuat Kirana mematung seketika.


"Apa, aku hamil?" ujarnya seolah tak percaya dengan apa yang di dengar nya ini.


"Ya, anda sedang hamil nona. Dan pada usia kehamilan ini kondisi anda sangat rentan hingga harus banyak istirahat."

__ADS_1


Karena terlalu kaget, Kirana tak mendengarkan jelas perkataan dokter untuk nya.


"A- aku hamil?" Kirana menutup mulutnya, masih tak percaya, sebelah tangannya mengelus perutnya sendiri yang masih rata.


"M- mas Shaka pasti akan sangat senang mendengar kabar bahagia ini." mata Kirana berkaca-kaca tak sabar untuk berbagai kabar menggembirakan ini. Namun mendadak saja kepalanya kembali berdenyut hebat, seolah semua yang di lihatnya berputar-putar bayangan dokter dan suster di depannya seperti menjadi dua, dan brukk! Kirana ambruk begitu saja membuat paramedis panik dan langsung dengan cepat menangani nya.


...---------Oo-------...


Kirana terbangun kembali, kali ini ia merasa begitu lega, air matanya mengucur deras mengingat ada kehidupan baru yang kini tumbuh di dalam perutnya. Membayangkan bagaimana reaksi Shaka ketika mengetahui kabar ini saja sudah membuat ia sangat bahagia.


"Bagaimana keadaan mu Kirana?"


Suara berat seorang pria membuat Kirana menoleh, sontak tatapannya langsung mengarah kepada Aslan yang terlihat raut cemas di wajahnya.


"Pak Aslan?" Kirana segera bangkit, membuat Aslan terkejut dengan tindakannya.


"Anda harus sedikit berhati-hati nona, sekarang anda sedang mengandung."


"Saya sudah tahu." Jawab lugas Kirana. "Tolong pertemukan saya dengan suami saya."


"Nona apa anda tidak ingat kejadian sebelum anda tiba di rumah sakit?"


Kirana menggeleng polos, ia sama sekali tak bisa mengingat kejadian itu karena rasa nyeri berdenyut yang begitu hebat yang menghantam kepalanya membuat ia seolah lupa dengan hal itu.


Aslan menatap dengan sorot prihatin lalu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kirana.


"Suami anda, tuan Arshaka mengalami kecelakaan."


Duarr! seperti sebuah bongkahan batu besar yang di jatuhkan tepat padanya membuat Kirana hancur saat itu juga.


Kirana menggeleng kencang sambil mengusap air matanya yang terus mengalir deras, begitu mendapat kabar wanita itu langsung meminta Aslan untuk mengantar nya ke rumah sakit tempat Shaka di rawat.


Ruang VVIP tempat Shaka di rawat kini terlihat sudah di datangi anggota keluarga. Menurut penjelasan Aslan selama perjalanan menuju rumah sakit, Shaka mengalami kecelakaan tunggal akibat supir yang mengantuk hingga tak konsentrasi, akibatnya membuat mobil yang membawa Shaka tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.


"Tuan Shaka dan supirnya selamat, mereka hanya mengalami luka-luka, namun tetap itu keadaan yang serius, mungkin sekarang pak Shaka sudah selesai di tangani dokter."


Mendengar penjelasan Aslan, Kirana bisa sedikit menghela nafas lega. Namun tetap saja kekhawatiran itu tidak akan hilang sebelum ia melihat langsung keadaan Shaka.


"Untuk apa kau kesini?"


Deg!" seperti ribuan jarum yang menghantam jantungnya secara bersamaan, Kirana merasakan sakit lebih dari rasa sakit di kepalanya sebelumnya begitu ia masuk ke dalam ruangan sudah mendapatkan penolakan dari mulut ibu mertuanya sendiri.

__ADS_1


"Sudah puas kau memberi kesiaalan untuk putra ku?!" Renata terlihat sangat tak suka dengan kedatangan wanita sebagai menantunya itu, bukannya menyambut dengan sebuah pelukan Renata malah melayangkan tatapan bengis pada Kirana.


"Bunda, kenapa sikapmu tiba-tiba seperti ini?"


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, kau sama sekali tak pantas!" Renata mencebik.


Fiona berdiri di samping sang ibu diam-diam menyeringai puas. Tak apalah jika rencana nya kali ini juga gagal untuk melenyapkan Shaka namun ia merasa berhasil setelah berjaya mencuci otak seluruh anggota keluarga untuk membenci Kirana.


"Ingatlah Bun, apa yang ku katakan sebelumnya, wanita itulah penyebab dari segala malapetaka yang menimpa Shaka, lihatlah dia bahkan datang dengan seorang pria di saat Shaka membutuhkan nya, benar-benar tak tahu malu!" bisik Fiona di telinga ibunya guna memanas-manasi keadaan.


Renata yang sudah terlanjur hanyut dengan segala omongan Fiona, mengangguk setuju dengan ungkapan putrinya itu. Ia kembali berfikir ulang tentang asal usul Kirana yang sama sekali tak ia pertanyakan selama ini.


"Dasar wanita pembawa siaaal! pergi kau dari hidup putra ku. Karena mu dia selalu mendapatkan musibah, harusnya aku menyadari dari dulu kau lah racun yang sebenarnya masuk ke dalam keluarga kami!" hardik Renata dengan kejamnya.


Kirana menggeleng tak percaya. Di mana sosok ibu yang selalu ia lihat dalam diri Renata? sosok mengagumi dan selalu lembut terhadap nya seolah sudah sirna begitu saja di gantikan dengan kemarahan dan kebencian yang sama sekali tidak Kirana pahami dari mana asalnya.


"Di mana mas Shaka, aku ingin bicara dengan nya? ini semua salah paham!"


"Jangan kau mencari puteraku lagi!"


Kirana tak mendengarkan ocehan mertuanya, ia sibuk mengedarkan pandangannya mencari sosok sang suami.


"Ada apa ini ribut-ribut?"


Hingga suara bariton yang amat Kirana kenali terdengar membuat Kirana menoleh dengan cepat ke arah sumber suara.


Di sana Shaka berdiri dengan tatapan dingin, sekujur wajahnya penuh luka, kepalanya harus di lingkari perban karena luka di sana cukup serius. sebelah tangannya patah hingga ia harus menggunakan arm sling. Kondisi Shaka benar-benar memperhatikan namun pria itu masih bisa menunjukkan kegagahannya.


"Arshaka!" Renata langsung menghampiri dan melihat keadaan sang putra, tatapannya menyiratkan kekhawatiran untuk putranya itu.


"Kamu baik-baik saja nak? bagaimana kondisi mu?"


"Syukurlah, pak Shaka hanya mengalami luka-luka ringan, hingga dengan cepat kami bisa menanganinya." tutur dokter yang menangani Shaka.


"Syukurlah." Renata dan Fiona mengucap syukur.


Kirana tersenyum dengan embun yang sudah membanjiri matanya, ia hendak menghampiri Shaka namun dengan cepat pria itu berbalik.


"Ayo bun, kita lekas pulang. Aku ingin istirahat."


Kirana membeku di tempatnya, rasanya ia seperti tak punya tempat untuk berpijak saat dengan jelas suaminya sendiri mengabaikan nya.

__ADS_1


Rasanya begitu sakit, hatinya seperti tertusuk sembilu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ia pingsan?


To be continued ....


__ADS_2