Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 24


__ADS_3

💞 Happy reading 💞


Pagi, semuanya terlihat sibuk seperti biasa, para maid berlalu lalang menyiapkan hidangan di atas meja, sebelum sesi sarapan bersama di mulai, Kiran ikut membantu bi Sukma, selaku asisten rumah tangga terlama yang sudah ada di keluarga Najendra, beliau sangat baik dan selalu menuntun Kiran ketika ia banyak belajar untuk beradaptasi di sini.


Kiran dan beberapa maid lain sangat akrab mereka berbincang hangat sambil bersenda gurau di tengah kegiatan menata peralatan makan, pembawaan Kiran yang supel dan menyenangkan membuat para maid itu tak sungkan dan enjoy berinteraksi dengan nya. Bagi mereka kehadiran Kiran bagai angin segar yang membawa banyak berkah dan keceriaan.


Tak beberapa lama kemudian, Helen dan Renata datang, menantu dan ibu mertua itu bagai sepaket yang selalu bersama, terlebih untuk Helen dari banyaknya menantu yang ia miliki, dirinya cenderung lebih akrab dan nyaman bersama Renata, menantu pertamanya. Kedua wanita itu datang dan tersenyum kepada Kiran.


"Menantuku sangat rajin," puji Renata pada istri putranya itu. Kiran tersipu sambil tersenyum malu sebagai respon pujian ibu mertuanya, Helen pun mengatakan yang sama, memuji betapa beruntungnya Shaka memiliki isteri yang bukan hanya cantik tapi juga rajin dan pembawaan nya yang menyenangkan seperti Kiran.


Keluarga Najendra begitu baik menerimanya, itulah yang di pikirkan Kiran membuat nya bahagia dan tak hentinya mengucap syukur. Ia kemudian menarik kursi untuk membantu Oma dan ibu mertuanya duduk.


Shaka datang tak lama setelahnya, pria itu tampil gagah berwibawa dengan setelan jas parlente abu-abu gelap, dan rambutnya yang di semir rapi, jangan lupakan wajahnya yang bagai mahakarya paling indah, begitu memesona.


"Selamat pagi semuanya." Shaka sangat senang melihat bagaimana ketiga wanita kesayangannya saling terlihat akrab dan menyayangi.


"Lihatlah, cucuku juga sangat tampan hari ini," ujar Helen tak lupa selalu memuji Shaka, pria itu tertawa.


"Nenek bisa saja."


Shaka menoleh pada Kiran, gadis itu sontak membuang wajah tak ingin melihat nya membuat mengernyit heran. Renata dan Helen juga melihat respon tak biasa Kiran ikut terkejut.


"Apa dia marah dengan ku?" batin Shaka bertanya- tanya. Ia hendak menghampiri namun Kiran justru berbalik memunggungi.


"Oma, bunda aku ijin ke dapur dulu," ujar Kiran dengan tersenyum sekilas, hal itu semakin memperkuat dugaan mereka tentang apa yang telah terjadi pada pasutri itu.


"Kalian bertengkar ya?" selidik Helen bertanya pada Shaka begitu Kiran pergi.


Shaka yang semula melamun berfikir keras, menggeleng merespon pertanyaan sang nenek. "Tidak oma, eum maaf aku ijin permisi dulu."


"Eh-- mau kemana?" Helen geleng-geleng kepala melihat Shaka yang tiba-tiba sudah melenggang pergi.


"Sepertinya mereka ada masalah."tebak Renata membuka suara.


"Biasa itu, ujian dalam rumah tangga, semoga saja bukan masalah besar." sahut Helen lalu di angguki oleh ibu Shaka.


...--------Oo--------...


"Kirana, tunggu ... " Shaka berjalan cepat menyusul langkah sang istri menuju kabin dapur. Namun yang di panggil justru semakin mempercepat langkahnya seolah sedang menghindar.

__ADS_1


Tap! tap! ketukan langkah mereka seakan beradu di lantai dapur, hingga akhirnya Shaka pun dapat mengejar langkah Kiran dan menarik lengannya cepat agar mereka berhadap.


"Lepaskan tuan!" Kiran meringis nyeri, menyadari cengkraman tangannya terlalu kuat Shaka pun melepaskan nya dan kini kedua tangan kekarnya berpindah menangkup wajah mungil Kiran.


"Pardon me? kenapa, katakan padaku? apa kau marah?"


Hembusan nafas pria itu terasa hangat menerpa Kiran, begitu matanya mendongak, ia langsung tertuju pada kedua mata kelam Shaka yang terlihat frustasi.


"Kenapa kau mengindari ku,hah?" Shaka bertanya dengan nada lembut, tak ingin kejadian sebelumnya terulang, Kiran merasa takut dengannya.


"Tidak apa-apa, aku tidak mengindari mu sama sekali."


"Lantas kenapa kau malah membuang muka saat aku menatap mu dan kau saja terus berjalan ketika jelas- jelas aku sedang memanggil mu. Apa itu namanya jika bukan mengindariku? please Kirana aku bukan dukun yang harus menebak perasaan seseorang."


"Kalau begitu tuan tidak perlu repot-repot harus menebak perasaan ku kan?" Kiran segera saja menarik melepas tangan Shaka di wajahnya, entah kenapa terlalu banyak gejolak di hatinya, Kiran hanya ingin memerlukan waktu untuk berfikir.


"Tidak! bukan seperti itu yang ku maksud," Shaka masih berusaha untuk berbicara pelan penuh pengertian,namun saat melihat wajah Kiran yang mengkeruh terlihat kekecewaan, Shaka tak bisa menahannya lagi, ia mendorong pelan tubuh Kiran hingga terpojok di dinding dapur, dan segera mencivm istrinya itu dengan sedikit kasar, Kiran yang terkejut berusaha untuk memberontak namun tak berarti apa-apa, Shaka justru semakin memperdalam civman mereka.


"Eumm, tuan ... hhha, b-berhenti ... " nafas Kiran memuburu, Shaka melepas tautan bibir mereka sejenak membiarkan Kiran mengambil nafas lalu ia kembali memagggut lembut bibir mungil itu dengan penuh gairrah yang tertahan. Kiran di buat tak berdaya selain mengikuti ritme permainan Shaka.


"Apa mau nakall lagi, huh?" ujar Shaka baru melepas paggutan pannas mereka, bibir ranum Kiran sudah terlihat sangat memerah dan bengkak karena ulahnya.


"Itu karena istri kecil ku ini mulai berani bermain-main dengan ku," ucap Shaka dengan entengnya. "Ini masih hukuman ringan, bagaimana dengan hukuman barat nya," bisik Shaka menekan tangannya di pinggang ramping Kiran.


"T- tuan, Aaah ... bagaimana jika ada yang datang?"


"Tidak akan ada yang berani datang ketika aku di sini," bisik Shaka lagi.


"Tuan berhenti bercanda nya!"


"Hahaha baiklah." Shaka lantas tertawa mendengar nada kesal istrinya.


"Sekarang katakan, kenapa kau mencoba menghindar dari ku?"


"Aku hanya ingin memerlukan waktu sendiri dulu, tuan."


"Jadi kau tidak marah dengan ku?"


"Tentu saja tidak." jawab Kiran cepat. "Lagipula aku tidak berhak untuk marah, bagaimanapun juga aku sadar diri kamu yang telah membeli ku dari juragan Bahar dan telah menyelamatkan ku darinya."

__ADS_1


"Ssst! jangan katakan itu!" Shaka menggeleng sambil menempelkan telunjuknya. "Aku tak suka dengan kata ' membeli' darimu itu."


"Tapi bukankah seperti itu kenyatannya?"


"Itu tidak benar sama sekali, dulu aku memang pernah mengatakan hal serupa, tapi kini semuanya telah berubah. Kau bukanlah benda yang di perjual- belikan, tolong jangan katakan seperti itu lagi."


Shaka lantas membawa Kiran ke dalam rengkuhannya, gadis itu sedikit terkesiap namun akhirnya ia mengalungkan tangannya di pinggang sang suami, Kiran merasa sangat nyaman ketika dalam dekapan dada pria itu.


"Perasaan ku pada semakin besar tuan, bagaimana cara untuk aku bisa mengungkapkannya padamu?"


"Maafkan aku Kirana, mungkin saat ini aku masih belum mencintai mu, karna saat ini aku sedang berusaha untuk melupakan seseorang dari masa lalu ku."


Keduanya saling berpelukan dengan tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing-masing.


...****************...


"Aku pergi dulu ya, bun, Oma, kak Fiona." Shaka berpamitan pada setiap orang yang menghantar kepergiannya di depan pintu.


"Hati- hati di jalan," ucap serempak ketiga wanita itu, Shaka mengangguk dengan tersenyum ia menenteng tas kerjanya, setelah berucap pamit pada setiap orang Shaka hendak berbalik pergi namun seketika itu juga pria itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi, Ka?" tanya ibunya.


"Aku melupakan sesuatu." Shaka berjalan kembali dan mendekat ke arah wanita yang sejak tadi diam berdiri di pinggir.


Cup!


Kiran membulat kan mata terkejut saat Shaka mencondongkan tubuh, untuk mengecup keningnya.


"Aku berangkat dulu, sayang."


Helen dan Renata tersenyum- senyum melihat bagaimana perkembangan hubungan keduanya, terlebih Shaka yang kini mulai membuka diri untuk istrinya.


"Tunggu aku pulang, nanti aku mengajak mu untuk berbelanja, oke?" Shaka mengedipkan mata.


Kiran mengerjap- ngerjap. Satu tingkat lebih maju sikap Shaka yang sweet ini membuat ia tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum.


Dengan pipi memerah dan bibir menahan senyum, Kiran mengangguk semangat membuat Shaka bisa pergi bekerja dengan hati riang.


To be continued ...

__ADS_1


ShaKiran♡


__ADS_2