Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 77


__ADS_3

...,💞 Happy reading 💞...


Suasana mulai terasa mencekam saat Shaka dengan tanpa ba-bi-bu mengeluarkan tinjunya kepada Aslan untuk memisahkan pria itu yang sedang memeluk Kirana. Shaka menjadi kalap seperti orang kesetanan, menyentuh Kirana sama saja dengan mencari matti apalagi jika hal itu di lihat oleh kedua mata kepalanya sendiri.


Bugh!


Bugh!


Shaka melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada Aslan, pria itu nampak tak bisa melawan karena serangan Shaka yang tiba-tiba dan begitu cepat seolah seluruh tenaga pria itu tengah di kerahkan untuk memukulinya secara membabi buta.


"Berani-beraninya kau memeluk isteri ku, brengsekk?!" Shaka seolah masih belum puas untuk memberikan perhitungan kepada Aslan meski pria itu sudah terlihat tak berdaya.


Sementara Vania dan Kirana yang semula terperangah karena saking terkejutnya lantas segera menuju ke arah mereka untuk memisahkan Aslan dan Shaka namun kedua wanita itu nampak kepayahan untuk memisahkan dua pria itu sampai akhirnya Liam datang dari arah pintu dan segera melerai keduanya.


"Tuan muda, kenapa anda bisa kelepasan begini?" tanya Liam yang langsung membantu sang tuan berdiri sementara Vania panik lekas berlari ke arah Aslan, ketakutan tercetak jelas di wajahnya ia meringis pedih saat melihat luka-luka di wajah Aslan.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," kata Aslan pelan, seolah mengerti dengan kegelisahan Vania.


Kirana pun sudah berada di samping Shaka, tergugu dalam ketakutan dan kengeriannya karena baru melihat sisi Shaka yang seperti ini.


"Mas ... " Kirana merasa sangat cemas, Shaka paham akan itu menyentuh wajah Kirana dengan tangan besarnya.


"Tak apa, aku hanya ingin memberikan pelajaran padanya karena sudah berani tak sopan kepada mu," ucap Shaka Kirana mengangguk sementara Aslan meringis sinis.


"Pak Arshaka, saya kesini bukan tanpa alasan, melainkan saya ingin memberitahukan jika Kirana adalah adik saya yang selama ini saya cari-cari keberadaan nya."


Perkataan yang di beberkan Aslan sontak saja mampu membuat semua orang yang ada di sana terpaku seketika, Shaka dengan segera melirik ke arah Kirana yang kini hanya diam saja seperti bongkahan es, saking terkejutnya perempuan itu.


"Apa maksud mu? apa kau sedang membuat lelucon saat ini?" sergah Shaka dengan emosi yang menggelegak. "Jika iya, lebih baik kau pergi saja dari sini!"


Aslan menyunggingkan senyum miring. "Sayangnya saya sedang tidak ingin berganda pak Arshaka." lalu tatapan Aslan berubah teduh saat matanya tertuju kepada Kirana.


"Maaf Kirana, mungkin ini terlalu mendadak untuk kau ketahui, tapi kenyataannya adalah kau benar adik perempuan ku yang selama bertahun-tahun hilang tanpa kabar. Chiara mavendra, itulah nama asli mu sebenarnya."


Seperti tersambar petir di siang bolong, Kirana membulatkan matanya, ia menggeleng cepat seolah tak bisa mempercayai semua ini, Aslan mencoba mendekatinya namun dengan tegas Kirana menolak dengan merentangkan tangannya lantas mundur menjauh.

__ADS_1


"Enggak, jangan!" Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya, tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Aslan. "Kau pasti bohong kan pak Aslan? apa karena aku berkata-kata kasar padamu waktu di rumah sakit hingga kau berniat membalas dendam padaku dengan cara seperti ini?!" Kirana mendongak matanya sudah berkaca-kaca.


Aslan dengan cepat menelengkan kepala. "Tidak, yang kau katakan sama sekali tidak benar. Aku justeru menganggap mu sebagai adikku sejak awal kita bertemu."


"Atas dasar apa aku harus mempercayai semua yang kau ucapkan pak Aslan?!" Kirana menatap berang, merasa di permainkan.


Aslan menghela nafas berat, tak ia pedulikan luka-luka di sekujur wajah dan badannya yang berteriak minta di obati. Yang ingin ia lakukan sekarang ini adalah mendapatkan kepercayaan Kirana.


Sementara itu Shaka dan Vania saling bersitatap begitu juga dengan Liam, Shaka melirik ke arahnya mengerti dengan pandangan itu Liam pamit undur diri, sadar jika ini bukanlah ranahnya untuk ikut campur.


Kini Shaka sudah di samping Kirana, tangan kokoh pria itu menyentuh pundak Kirana sendiri lembut. "Tidak ada salahnya memberikannya kesempatan untuk menjelaskan, sayang," ujar Shaka kepada Kirana lalu melirik ke arah Aslan yang masih bergeming di tempatnya terlihat sabar untuk menunggu jawaban Kirana.


Meski masih sangat terkejut untuk memahami semua keadaan ini, namun Shaka bukanlah orang bodoh yang tak mengerti apa-apa, Walaupun belum tahu kebenarannya bagaimana namun Shaka bisa melihat kesungguhan di kedua mata Aslan saat mereka tak sengaja berpandangan. Ia tahu pasti ada sesuatu yang penting dari Aslan untuk di ceritakan kepada Kirana.


...---------Oo-------...


Atas saran Shaka, Kirana pun akhirnya bisa luluh dan memberikan Aslan kesempatan untuk menjelaskan semuanya, maka disinilah sekarang mereka berada, di sebuah ruangan kedap suara karena Aslan meminta hanya berbicara empat mata dengan Kirana.


Namun meski begitu masih ada Shaka yang memantau dari jauh, ia tak akan mudah mempercayai begitu saja ucapan Aslan, siapa tahu pria itu memang hanya membual, Shaka sudah pernah kehilangan Kirana dan kini tidak akan ia biarkan hal itu terulang lagi.


"Ini." Aslan menyodorkan sesuatu kepada Kirana, membuat kening wanita itu berkerut dalam. "Sapu tangan ku?"


Kirana tertegun sekaligus merasa kaget tak menyangka sapu tangannya yang hilang dan selama ini sedang ia cari-cari ternyata berada bersama Aslan. Tatapan Kirana pun mengintimidasi, seolah meminta penjelasan pria itu bagaimana sapu tangan nya bisa ada do tangan Aslan.


"Sapu tangan ini tak sengaja aku temui saat aku mengantar mu ke stasiun saat itu," ujar Aslan lirih, sedikit meringis karena luka-luka di wajahnya yang mulai terasa perih.


Kirana mengingat- ngingat sampai akhirnya ia pun teringat kembali dengan apa yang di katakan Aslan saat pria itu mengantar nya ke stasiun kereta ketika saat itu ia hendak pergi dari kehidupan Shaka.


"Tak pernah ku sangka karena kecerobohan mu yang membuat sapu tangan mu terjatuh adalah petunjuk dari Tuhan, untuk menemukan mu adikku," lirih Aslan tersenyum getir.


"Sapu tangan ini di buat sepasang," kata Aslan. "Lihat, aku juga memiliki nya namun dengan motif bunga sepatu," imbuh pria itu menunjukkan sapu tangan miliknya kepada Kirana.


"Jadi benar, kita adalah kakak beradik?" lirih Kirana bertanya, tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya, ia sampai membekap mulutnya menyadari satu fakta, ternyata selama ini ia bukanlah anak kandung dari kedua tangan orang tuanya.


Aslan mengangguk. "Ya Kirana kau adalah adikku, Chiara mavendra yang selama ini hilang." Pria itu menghela nafas panjang, lalu ia pun mulai menceritakan tentang apa saja yang dirinya ketahui dari ibu Sari- pengurus panti asuhan tempat mereka sempat tinggal bersama dulu, kepada Kirana, tanpa ada yang di tutup-tutupi.

__ADS_1


Kirana mendengarkan penjelasan Aslan dengan runut dan seksama, kini wajahnya yang semua penuh amarah mulai mengendur tergantikan dengan raut wajah sedih juga air mata penuh haru.


"Jadi begitulah akhirnya," ucap Aslan menutup cerita panjangnya. "Aku dan kau saat itu masih sangat kecil Kirana, kita memang selalu di tempa dengan ujian yang sulit namun waktu kehilangan mu aku benar-benar merasa frustrasi hingga muncul keinginan ku untuk mengakhiri hidup agar bisa menemui ibu kita di atas sana." hening sejenak, Aslan terpekur mengingat kembali masa-masa terkelamnya saat itu membawa luka di hatinya kembali menganga.


Kirana sudah menangis sesenggukan, hal itu yang membuat Aslan langsung terkejut. Apa mau di kata? mau tak percaya pun Kirana tak bisa, semua yang di jelaskan Aslan begitu relate dengan apa yang di ingat nya sejak kecil namun begitu samar-samar. Pantas ayah dan ibunya kadang seperti menutup-nutupi sesuatu darinya, ternyata selama ini karena mereka bukanlah orang tua aslinya.


"Jadi bagaimana Kirana? apa kau masih tidak percaya dengan kejujuran ku?" tanya Aslan, berharap Kirana bisa menerima semua fakta yang sudah di tunjukkan ini.


Namun Kirana tetap menggeleng. "Maafkan aku, ini semua terlalu mendadak untukku, tolong beri aku waktu untuk mencerna semua ini."


Aslan membuang nafas kasar, tak ingin memaksa Kirana saat ini. "Baiklah, jika itu keputusan mu tapi, jika kau sudah bisa menerima kenyataan ini,Ki harap kau mau kembali sebagai adikku, aku sudah mencari- cari keberadaan mu sejak dulu, dan kakak tidak ingin kehilanganmu lagi Chiara--" Aslan tercekat di tempatnya, ia menelan Saliva yang terasa begitu berat lantas tangannya terangkat untuk mengusap pucuk kepala Kirana.


"Maaf Chiara, maafkan kakak karna begitu terlambat menemukan mu. Semoga kau masih mau menerima ku sebagai kakak mu?"


Shaka yang memperhatikan sejak tadi merasa geram saat tangan Aslan dengan berani menyentuh rambut Kirana membuat Shaka merasa mendidih, ia hendak menghampiri keduanya sudah tak peduli dengan kata-kata Aslan sebelumnya bisa jadi pria itu memang membual saja.


Namun belum sempat Shaka beranjak seseorang menahan tangannya.


"Jangan pak Shaka!"


Itu suara Vania, perempuan itu tahu-tahu sudah ada di belakangnya membuat Shaka membalikkan badan menatapnya.


"Jangan sekarang, biarkan mereka bicara dulu pak Shaka," pinta Vania.


"Kenapa aku harus menuruti permintaan mu? bisa saja Aslan hanya berbohong kan?" sungut Shaka yang sudah naik pitam.


Vania menggeleng ia tak ingin terjadi kesalahpahaman lagi di antara Shaka dan Aslan. Sudah cukup kengerian yang ia lihat tadi saat Shaka dengan begitu membabi buta menghajar Aslan.


"Ini, lihatlah." Vania menyodorkan sebuah foto close up kepada Shaka membuat alis pria itu menyatu.


"Ini foto masa kecil Aslan dan adiknya Chiara, jika kau perhatikan dengan seksama apa anda tidak menyadari kemiripan antara Kirana dan Chiara?"


Perkataan Vania sontak membuat Shaka terpekur lama, setelah ia menatap lamat-lamat foto itu dan mengingat jelas bagaimana senyum Kirana juga membandingkannya dengan senyum gadis kecil di foto itu, Shaka memang tak bisa mengelak dan harus mempercayai ucapan Vania.


"Tenang saja pak Shaka, jika kau masih tidak percaya jika Kirana adalah Chiara, Aslan sudah siap kapanpun jika di minta untuk melakukan tes DNA," ujar Vania mampu membuat Shaka terdiam seketika.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2