
"Aslan tunggu nak, jangan pergi!" lengkingan jeritan Parwita terdengar menyanyat hati, ia meronta-ronta meminta di lepaskan dari jeratan tangan suaminya, lantas berlari sekencang yang ia bisa menuruni tangga untuk menghampiri sang cucu.
Sementara Aslan tak menghiraukan sama sekali teriakan memohon dari sang nenek, bukan ia tak punya hati tapi Aslan tak ingin neneknya juga ikut menjadi korban keegoisan kakeknya. Biarlah ia yang menanggung semua ini sendiri.
"Aslan nak!" Parwita berhasil menggapai lengan Aslan, meminta pria itu berhenti. Mau tak mau Aslan terpaku di tempat, ia menghela nafas berat.
"Apalagi nek? aku tak bisa di sini terus," kata Aslan dengan frustasi, kedua matanya memerah, sudah ada genangan air mata terlihat di sana. Namun Aslan tak ingin terlihat lemah sekarang, akan ia buktikan jika dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Jangan katakan itu, nak. Nenek tidak ingin kau pergi," ujar Parwita menggeleng lemah, air matanya sudah jatuh menderas sedari tadi. Nenek yang mana rela cucu kesayangannya pergi meninggalkannya.
"Tak ada lagi tempat di sini untuk ku, nek," tukas Aslan, meminta pengertian dari wanita yang sudah merawat nya sejak kecil itu.
"Tidak, tidak. Jangan tinggalkan nenek, minta maaf lah dengan kakek mu, ini semua hanya salah paham." Parwita tetap bersikeras, ia tak ingin cucunya pergi dari sini sudah cukup ia kehilangan putranya, sekarang ia tak ingin kehilangan Aslan juga. Cucu yang awalnya ia benci kehadirannya namun sekarang sangat ia sayangi karena kemiripan antara putranya Baskoro dengan Aslan begitu besar, mematahkan asumsi buruknya dulu, jika Aslan bukanlah anak kandung Baskoro.
"Sudahlah, untuk apalagi mempertahankan anak tidak tahu diri seperti dia!" Pangestu menghampiri, ia berdiri dengan congkaknya di undakan tangga, tongkat yang selalu ia bawa mengetuk lantai dengan angkuh seolah tengah mengejek kondisi Aslan saat ini.
Aslan mencengkeram kuat kepalan tangannya, lalu sebelah tangannya terayun untuk melepaskan genggaman Parwita dari lengannya.
"Nenek dengar sendiri apa yang tuan Pangestu mavendra katakan? aku memang tidak pantas berada di sini,karna memang kehadiran ku tak pernah di anggap sama sekali!" sorot matanya tajam menatap ke arah pria tua yang berdiri sepuluh langkah darinya saat ini, dengan cepat Aslan berbalik, Parwita meraung saat bodyguard suaminya menahan dirinya untuk tidak mengejar Aslan kembali.
Hening untuk sejenak Pangestu berbicara untuk terakhir kali, yang mana terdengar begitu menusuk di telinga dan hati Aslan.
"Kau dan ibumu memang sangat mirip, hanya benalu yang mengganggu kemudian pergi dengan tidak tahu diri!"
Mulai saat itulah Aslan berjanji pada dirinya sendiri. Pantang laki-laki menarik ucapannya maka dia akan membuktikan dengan tindakan jika dirinya bisa lebih berkuasa dari pada kakeknya suatu hari nanti. Ia akan membuat orang-orang yang telah menghina ibunya bertekuk lutut dan meminta maaf.
Aslan pun pergi dengan bahu tegap dan kepala mendongak meskipun ia pergi dengan membawa sakit hatinya ia tak ingin meninggalkan rumah ini dengan perasaan malu ataupun takut. Karna baginya jika tindakan yang di lakukan nya benar, pantang untuk menundukkan kepala.
Tepat keluar dari pintu utama kediaman mewah Mavendra, Aslan berpapasan dengan Teguh, sekertaris juga asistennya yang telah menemani nya sejak ia mulai memimpin perusahaan. Teguh nampak tertegun melihat kondisi Aslan, ia yang hendak memberikan laporan, mengurungkan niatnya dan langsung menghampiri sang atasan yang kini ada di hadapannya.
"Pak Aslan,anda ada di sini? tadinya saya hendak menemui bapak di ruang kerja untuk memberikan laporan keuangan bulan ini, ternyata bapak di sini ... "
"Teguh." Aslan memanggil pelan menghentikan Teguh yang terlihat hiperbola berbicara.
"Saya bukan lagi atasan mu, sekarang saya serahkan semua urusan perusahaan padamu," ucap Aslan sukses membuat teguh membeku seketika tercekat sekaligus kaget secara bersamaan.
"Maksud nya pak?" tanya teguh tak mengerti.
Aslan memegang kedua pundak lelaki berkacamata itu. "Kau dengar, aku tidak punya wewenang lagi di Perusahaan, tapi aku yakin padamu jika pak Pangestu mengutus CEO yang baru, kau akan menjadi kaki tangan yang baik untuknya nanti."
"Tapi pak anda mau kemana? perusahaan tidak bisa berjalan tanpa anda?"
"Bisa. Ada ataupun tidak adanya diriku tidak berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan." Aslan seperti mengulang perkataan kakeknya beberapa saat lalu.
"Aku pergi dulu." Aslan tak sanggup melihat wajah kebingungan sekretaris yang sudah ia anggap seperti keluarganya itu, Teguh kebingungan sekaligus sedih namun ia tak bisa mencegah Aslan untuk pergi.
__ADS_1
...--------Oo--------...
Kirana dan Shaka tengah berbahagia saat ini, mereka berbagi tawa juga suka cita setelah mengecek kandungan Kirana ke dokter kandungan beberapa saat lalu, dokter bilang kandungan Kirana sehat dan semakin besar, dokter juga memuji betapa kuatnya Janin Kirana saat ini, setelah begitu banyak tragedi dan emosi Kirana yang selalu berubah-ubah itu sama sekali tak berpengaruh untuk pertumbuhan si cabang bayi. Shaka dan Kirana tentu begitu bersyukur mendengarnya.
"Kira-kira di sedang apa di dalam sana?" cetus Shaka yang saat ini memeluk Kirana dari belakang, kebetulan waktu libur nya yang cukup panjang ini ia ingin menghabiskan nya bersama Kirana dan juga calon anaknya sepanjang waktu, ia ingin menebus waktu yang terbuang dulu saat- saat dirinya harusnya bersama Kirana dan kandungannya.
"Entah, terkadang dia menendang tapi kamu tak sempat mendengar," ucap Kirana yang bersandar di dada bidang sang suami. Ia mengelus perutnya yang kini sudah memasuki usia kandungan 6 bulan , dan bayinya kini semakin aktif saja.
"Benarkah?" Shaka diam lalu menghela nafas. "Maaf aku terlalu sibuk bekerja, dan terkadang lupa untuk memperhatikan kalian berdua." telapak tangan besar Shaka melingkupi tangan mungil Kirana yang tengah mengelus anak mereka di dalam perut. Merasakan kehangatan itu hati Kirana menjadi luluh.
"Tidak apa-apa mas,aku mengerti kesibukan mu juga baby utun, dia pasti bangga memiliki ayah yang begitu hebat," ujar Kirana untuk mendamaikan hati Shaka saat pria itu begitu menyesal terlihat dari kedua matanya. Kirana mendongak lalu sebelah tangannya mengusap rahang Shaka dengan perasaan lembut.
Shaka tersenyum hatinya seketika tenang dengan hanya sentuhan itu. Pria itu kemudian bangkit lalu menekuk lutut nya di hadapan Kirana, tingkahnya itu membuat sang isteri bingung. Namun tak lama Kirana memasang wajah saat melihat Shaka ternyata mencoba untuk berkomunikasi dengan anak mereka.
"Kau dengar itu boy? apakah kau bangga dengan papa? mommy mu bilang kau sangat bangga dengan papa." Shaka lantas tersenyum saat berbisik di dekat perut Kirana yang sudah semakin bulat. Kini setelah melakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis kelamin kandungan Kirana, mereka sudah mengetahui jika anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan itu sangat membuat Shaka bahagia. Sebenarnya ia mensyukuri apapun jenis kelamin calon bayinya, namun kebahagiaan nya berkali kali lipat lebih besar begitu mengetahui anaknya laki-laki karena dengan begitu ia akan mempunyai penerus untuk perusahaan nya yang semakin besar dan Kirana pun akan memiliki satu lagi pelindung untuk terus menjaganya.
"Baik-baik lah di sana hingga kamu keluar nanti ya, jangan menyusahkan mommy mu," pesan Shaka kemudian ia mendongak untuk menatap wajah sang istri yang tersenyum ceria saat ini. Bagaikan telaga yang begitu menyejukkan hati nya.
"Mas, apa aku boleh bertemu dengan kak Aslan?" tiba-tiba Kirana mencetuskan keinginan yang sedari tadi tercokol di benaknya. Entah kenapa ia begitu merindukan kakaknya saat ini.
Shaka berdiri kemudian duduk di samping Kirana. "Tentu saja boleh sayang, dia kakak mu aku kau tak memerlukan ijinku jika ingin menemui nya, tapi apakah pak Aslan memiliki waktu saat ini? mengingat betapa sibuknya dia, apalagi Mavendra group sedang melakukan kerjasama besar- besaran."
Kirana mengesah singkat. "Kamu benar mas, tapi entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan nya."
"Coba honey telepon dulu, tanyakan apakah dia memiliki waktu kosong saat ini? sekalian kita keluar untuk makan." usul Shaka kemudian. Kirana pun mengangguk ia menggapai ponselnya di atas meja samping mereka, namun saat di telpon, nomor Aslan sama sekali tak bisa di hubungi.
"Tidak di angkat." Kirana membuang nafas, berulang kali ia menelpon, tak ada jawaban.
"Mungkin memang pak Aslan sedang sibuk," kata Shaka."
"Apa aku hubungi pak teguh aja ya, sekretaris nya kakak?" Kirana nampak menimang-nimang.
"Nanti saja. Mas khawatir itu akan mengganggunya, mungkin memang dia sedang sangat sibuk saat ini."
Ucapan suaminya benar. Namun entah kenapa Kirana memiliki firasat tak enak tentang Aslan saat ini. Semoga semuanya baik-baik saja."
...****************...
Seperti tak memiliki arah tujuan, Aslan berjalan linglung di atas trotoar jalan besar yang ramai saat ini. Mengingat kembali semua perkataan kakeknya, ia tak menyangka orang nomor satu yang selalu menjadi panutannya sejak dulu bisa begitu buruk memperlakukannya kini apalagi semua itu tersebab hanya karena ia ingin membawa kembali adiknya yang hilang. Sebenarnya kenapa kakek dan neneknya begitu membenci adiknya Chiara dan berusaha begitu keras untuk memisahkan mereka.
Bruk! sekonyong-konyong nya Aslan memundurkan langkah, saat pundaknya menubruk pundak orang lain yang sedang berjalan berlawanan dengannya.
"Goblokk! kalau jalan itu pake mata!" laki-laki yang tak sengaja bertubrukan dengan nya menghardik berang, memberikan kata-kata umpatan tak pantas untuk Aslan, yang menurut nya telah sengaja menabraknya membuat barang yang sedang di pegangnya terjatuh.
Seketika Aslan merasa naik pitam, darrahnya mendidih tak suka dengan perlakuan orang asing yang begitu gampang merendahkan nya di hadapan semua orang. Mengingat lagi cemoohan kakeknya membuat emosinya berkumpul bersama dan berubah menjadi amarah yang tak terkendali.
__ADS_1
Begitu lelaki asing itu membungkuk untuk mengambil barang nya yang terjatuh, tiba-tiba saja Aslan langsung menerjang nya, memukulinya dengan begitu bruttal, menumpahkan semua amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan.
"Bangsattt, berani nya kau merendahkan ku?!" Aslan semakin kalap memukuli pria itu sementara lelaki asing tersebut berteriak meminta ampun membuat semua orang seketika menoleh ke arah mereka dan kini suasana semakin ramai.
Semua orang berkumpul untuk menyaksikan perkelahian itu tak ada yang berniat untuk memisahkan sampai akhirnya ada dua lelaki berbadan besar menembus kerumunan dan melerai Aslan yang terlihat bernaffsu untuk membunnuh laki-laki asing itu saat itu juga.
"Berhenti! pak, sadarkan diri anda?!" kata salah satu pria itu berusaha menenangkan Aslan.
"Siallan! kau pikir akan terbebas setelah ini? aku akan melaporkan mu ke polisi!" ujar pria asing itu yang nampak meringis kesakitan.
Aslan diam, dadanya bergemuruh kuat, namun kedua matanya kosong seolah tak ada kehidupan lagi yang tersisa di sana.
Kemudian Aslan dan pria asing yang di tak sengaja di tabraknya itu di bawa ke kantor polisi untuk kemudian pria yang bernama Dimas melaporkan perbuatan Aslan dan meminta ganti rugi atas wajannya yang babak belur karena di pukuli Aslan.
Tak ada pembelaan, Aslan menerima gugatan terhadap dirinya, ia pun memberikan sejumlah uang yang lumayan besar untuk mengganti rugi atas tindakan cerobohnya. Untungnya ia masih memiliki kartu kredit yang tertinggal di dompetnya atas namanya.
Setelah itu Aslan keluar dari kantor polisi dengan mulut terkunci. Ia merasakan bagaimana menjadi pria nakal, setelah sekian lama hidupnya selalu di atur dan di doktrin oleh kakeknya. Ia seperti menemukan kebebasan yang selama ini ia cari.
Kini ia tahu harus kemana untuk menghilangkan beban yang ada di hatinya.
Di ruangan diskotik itu Aslan menghabiskan waktu nya dengan minuman kerras juga bersama wanita berpakaian ketat yang menjadi pemandu karaoke yang dengan sukarela menjajakan tubuh mereka di depan Aslan.
Ternyata seperti inilah masa muda yang selalu di bicarakan teman-temannya dulu, sesuatu yang sama sekali tak pernah Aslan rasakan.
"Tambah lagi minumannya!" titah Aslan yang sudah mulai teler, bahasanya pun sudah mulai tak jelas dan yang terlibat kini ia semakin kecanduan untuk meminum minuman keras itu.
Berjam-jam Aslan di sana tak terhitung berapa botol yang sudah ia habiskan. Salah satu wanita penghibur datang menghampirinya dengan tidak tahu malu, menggoda nya dengan binnal, Aslan yang risih mendorong wanita itu hingga terjatuh.
Malu karena mendapatkan penolakan, wanita penghibur yang terkenal nomor satu di tempat remang-remang itu, berteriak memanggil para komplotannya yang di dominasi oleh preman-preman berbadan besar.
"Pria ini berusaha menodai ku, dia sama sekali tak mempunyai uang untuk menyewa ku hingga nekat memaksa ku untuk melayanninya."
Laporan palsu yang di katakan wanita cantik namun binnal tersebut berhasil menyulut emosi para preman yang memang menjadi penjaga di tempat diskotik itu. Tanpa aba-aba mereka menyeret Aslan keluar dan memukulinya habis-habisan. Aslan di keroyok hingga tak bisa melakukan perlawanan, kondisinya yang tengah mabuk membuat ia tak menyadari apa yang sedang terjadi.
Aslan di telantarkan begitu saja di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan. Tak lama hujan pun turun membasahi luka-lukanya membuat nya semakin perih. Aslan menangis, di bawah guyuran hujan ia berharap tak ada yang tahu tangis nya ini. Di saat seperti ini ia merindukan sang ibu. Merindukan kasih sayangnya.
Hingga Aslan melihat cahaya bersamaan dengan langkah wanita yang terlihat persis seperti ibunya.
Di bawah guyuran hujan, wanita itu, menghampiri bak Dewi yang memang datang untuknya.
Aslan tak bisa menyadari siapa dia, namun sentuhan itu terasa tak asing untuk nya.
"Aslan bagaimana bisa kamu ada di sini?" Vania menatap khawatir tak di pedulikan nya lagi payung yang dia pegang untuk melindungi nya kini hujan pun mulai membasahi tubuhnya. Vania menepuk-nepuk pipi Aslan mencoba menyadarkan Aslan tapi justeru pria itu menarik lengannya dan memeluknya dengan erat.
Aslan menangis di pundaknya.
__ADS_1
To be continued .....