Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 58


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Malam sudah memasuki gulita, pencahayaan di ruko kosong itu semakin redup Aslan dan Olivia hanya bisa mengandalkan cahaya rembulan untuk penglihatan mereka. Hingga tiba- tiba terdengar suara berdentum yang cukup keras membuat keduanya terperanjat.


Dari arah barat, dua orang muncul serupa bayangan yang makin lama semakin jelas menunjukkan jika mereka adalah manusia.


"Kalian?! Dimana Kirana?!" Aslan yang sudah kepalang emosi langsung menyergap dua orang yang ia kira sebagai otak penculikan Kirana.


"Berhenti di situ!" Salah seorang dari keduanya maju dengan badan besar dan tegap memasang wajah horornya menghentikan langkah Aslan.


"Atau wanita itu akan matti di sini?!"


Aslan dan Olivia sontak menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh sang penculik, keduanya membulatkan mata terkejut melihat Kirana di sebuah kursi tak jauh dari mereka, tengah berontak karena kedua kaki dan tangannya yang di pasung.


"Kepparat! Lepaskan dia!" Teriak Aslan penuh emosi.


"Tidak semudah itu, serahkan dulu uang tebusan yang kami pinta dan persyaratan kita sebelumnya tidak boleh ada polisi yang terlibat." Salah satu penculik yang dari suara nya sudah bisa di tebak adalah seorang wanita menginterupsi.


Aslan tak ingin gegabah ia memejamkan mata sambil membuang nafas panjang.


"Ini, uang tebusan yang kalian pinta ada di koper ini."


Mendengar itu sontak saja kedua orang bertopeng tersebut saling menoleh dengan melebarkan mata mereka mengisyaratkan kemenangan.


"Kemarikan!" Penculik wanita segera menyambar koper yang di ulurkan Aslan lalu di ikuti oleh temannya si penculik laki-laki yang berbadan seperti preman.


Saat kedua penculik itu terlena oleh koper berisi uang yang di berikan Aslan, segera Aslan dan Olivia menghampiri Kirana dan membantu nya melepaskan diri.


Kirana yang sudah ketakutan setengah mati segera berdiri menghambur ke pelukan Olivia, bisa Olivia rasakan kulit Kirana yang dingin dan tubuhnya yang bergetar hebat.


"Aku takut sekali Oliv, aku takut .... " Lirih Kirana terbata-bata.


"Tenang kamu aman sekarang," ujar Olivia menenangkan, Aslan melihat pemandangan itu menghela nafas lega ikut terenyuh dengan apa yang dilihatnya. Lalu pria itu membalikkan badannya ke belakang dengan seringkali kejjam nampak terulas di bibirnya.


Tiba-tiba saja tempat yang semula sepi senyap mulai di kerumuni oleh orang banyak, kedua penculik yang masih terlena dengan pundi- pundi rupiah di dalam koper segera tersentak kaget menyadari mereka tengah di kepung.


"Dasar bodoh! Berfikir lah ribuan kali ketika hendak berbuat kejahatan," ujar Aslan dengan seringai nya.


"A-apa?!" Kini giliran kedua penculik itu yang panik mereka spontan mengangkat kedua tangan pertanda menyerah ketika dua moncong pistol tengah mengarah ke kepala mereka.


"Orang bodoh seperti kalian lebih baik jadi pengemis saja dari pada penculik," pungkas Aslan, meremehkan."


"M- mohon jangan apa-apa kan kami!" Kedua penculik yang masih memakai topeng itu bersujud sambil menangkup kedua tangan mereka, memohon.


Tidak ada toleransi bagi Aslan, yang bersalah harus di hukum.

__ADS_1


"Habisi mereka!" Titah pria itu kepada para anak buahnya.


"Tidak! Jangan!" Mendadak saja lengkingan suara Kirana menghentikan pergerakan anak buah Aslan untuk melenyapkan para penculik itu.


Kirana menggadang kerumunan ia menekuk lutut seolah tengah melindungi kedua orang itu.


"Apa- apaan ini Kirana? Kenapa kau melindungi mereka. Para penculik ini harus di lenyapkan."


"Tidak ... " Kirana menggeleng keras. "Ku mohon jangan bunnuh mereka ... " Pintanya dengan begitu memelas.


"Ada apa sebenarnya Kirana?" Tanya Aslan tak mengerti.


"Itu karena ... " Kirana bergeming sejenak lalu mundur ke belakang dan membuka topeng dari salah satu penculik itu.


"Karena dia adalah Fitri .... Sepupu ku dan mas ... Arya."


Olivia melotot saking kagetnya ia bahkan sampai menutup mulut tak percaya.


"Kirana ... Bukankah mereka adalah keluarga mu sendiri."


Raut wajah Kirana berubah menunjukkan kesedihan yang teramat dalam, perlahan ia mengangguk. "Aku pun tak menyangka orang yang selama ini ku anggap baik bisa menikam ku dari belakang."


Arya menunduk rasanya ia sangat malu untuk menatap wajah Kirana saat ini.


Flashback on*


Sampai kedatangan dua orang tidak terduga membuat Kirana merasa sangat kaget.


"Fitri ... Dan m- mas Arya." Kirana merasa sangat heran dengan kedatangan sepupu juga suami sepupunya itu. Apalagi Arya terakhir kali pertemuan mereka cukup membuat Kirana sedih karena harus berpisah dengan nya, bagaimana pun Arya dulu pernah memiliki tempat khusus di hatinya namun kini Kirana sudah benar- benar move on dan melupakan segala rasa di antara mereka.


"Apa kabar Kirana?" Arya tersenyum, berbasa- basi kepadanya.


"Kabar ku baik mas," jawab Kirana di iringi anggukan pelan.


Fitri mencebik kesal ketika suaminya yang mencoba berbasa-basi dengan Kirana karena ia tahu betul masa lalu apa di antara mereka. Karena Fitri lah yang merebut Arya dari Kirana.


"Ada apa kalian tiba-tiba ada di sini?"


"Tidak usah berbasa-basi." Sentak Fitri cepat. "Kami di sini ingin meminta uang!" Tangannya dengan gesit mengarah ke Kirana seolah ia adalah seorang debt kolektor yang tengah menagih hutang.


"Tapi aku sama sekali tak punya uang dan untuk apa kalian meminta uang pada ku?"


"Halah gak usah sok polos, kamu di sini kan hidup enak. Memangnya kau pikir kami tidak tahu diam- diam kau menikah dengan seorang pemimpin perusahaan!"


Kirana semakin mengerut dahi tatapannya mengarah cepat kepada Arya.

__ADS_1


"Maafkan aku Kirana aku terpaksa menceritakan semua yang sudah kau alami bagaimanapun kita masih keluarga kan?" Ujar Arya beralibi.


Namun Kirana merasa kecewa pada pria itu, kemudian ia menegakkan bahu. "Percuma kalian jauh- jauh datang menemui ku,aku tidak bisa memberikan kalian uang!"


"Apa?" Fitri melotot tak terima ia maju menarik kerah baju Kirana. "Hei kau ini sama sekali gak kasihan ya sama keluarga mu sendiri? Ayah ku, paman mu meninggal dengan meninggalkan hutang yang sangat besar dan ibuku, bibi mu sekarang tengah di berada di rumah sakit dan butuh perawatan lebih apa kau sama sekali tak memiliki hati nurani?! Apa kau lupa hutang Budi pada keluarga yang telah membesarkan mu?!"


Mendengarnya Kirana menjadi tersulut keberanian yang datang membuat ia dengan mudah menghempaskan Fitri dari hadapannya.


"Katakan itu jika aku mendapat kan perlakuan yang layak saat bersama kalian!"


"Kemana saja kalian selama ini hah? Bahkan saat aku menghilang kalian sama sekali tak berusaha untuk mencari ku. Dan sekarang kau berada di sini dan berkoar-koar tentang hutang Budi? Uang yang kalian gunakan setelah dengan tega menjual ku sudah lebih dari cukup untuk hutang Budi yang kau bicarakan."


"Bangsaatt! Berani sekali kau melawan ku?!" Fitri meradang dan terjadi lah keributan di antara mereka.


"Arya cepat lakukan?" Teriak Fitri.


Arya bingung sebelumnya Fitri memang sudah membuat plan untuk menculik Kirana dan meminta uang tebusan yang besar kepada suaminya, tapi di satu sisi Arya tak tega ia tak bisa melakukan itu kepada Kirana.


Arya hanya diam di tempat membuat Fitri geram.


"Mas ingat lah hutang besar yang harus segera kita lunaskan di bank atau kita akan kehilangan semuanya termasuk rumah kita!" Teriak Fitri mengingat kan penderitaan mereka selama ini.


Mendengar itu Arya menyadari betapa mereka sangat terhimpit oleh ekonomi saat ini, ia menatap ke arah Kirana yang seolah memohon lewat matanya.


"Maafkan aku Kirana ... " Lirih Arya lalu membekap Kirana dengan sapu tangan yang sudah di campur oleh obat bius.


Flashback off*


Aslan setelah mendengar cerita Kirana merasa semakin geram dengan kedua orang yang tengah bersujud di depannya kini.


"Bagaimana kalian bisa setega itu pada Kirana?" Seru Olivia tak habis fikir. Ia menyadari satu hal, Demi harta orang bisa menjadi gilla bahkan menyerang keluarga mereka sendiri bisa mereka lakukan.


"Apapun itu mereka harus tetap di hukum meski keluarga mu sendiri Kirana." Pungkas Aslan tak ada toleransi.


"Tapi--" Kirana hendak menyela namun sebuah benda tumpul yang menghantam punggungnya dari belakang membuat Kirana ambruk seketika.


"Kirana ... " Aslan segera menghampiri menahan tubuh Kirana yang runtuh ke tanah.


Fitri segera membuang benda tumpul yang ia gunakan untuk menyerang Kirana dari belakang dan berlari meninggalkan Arya sendirian.


"Cepat kejar wanita itu!!" Titah Aslan kepada para anak buahnya.


"Kirana bertahanlah." Aslan segera mengangkat tubuh Kirana dan menggendongnya ala bridal style di ikuti Olivia yang sama terkejutnya dengan kejadian yang begitu cepat itu. Sementara Arya sudah di bekuk dan di amankan oleh anak buah Aslan yang lainnya.


To be continued .....

__ADS_1


jangan lupa like dan komen yang banyak ✨🤗


__ADS_2