
...💞 Happy reading 💞...
Di rumah besar keluarga Mavendra saat ini. Aslan baru saja pulang setelah mengantar balik Vania ke rumahnya, mengingat kembali perkataan Vania entah kenapa membuat semangat Aslan kembali menggebu-gebu untuk menemukan adiknya yang hilang.
"Ada aku di sini, aku akan menemanimu Aslan, bagaimana pun keadaannya kita akan cari adikmu sama-sama. Kamu jangan merasa sendiri ya."
Tanpa sadar Aslan melengkungkan bibirnya, ia mendengus geli jika mengingat bagaimana Vania yang begitu perhatian padanya padahal dia selalu menolak gadis itu dalam hidupnya namun ternyata Aslan sama sekali tak bisa, Vania selalu memenuhi hari-harinya, harapannya terletak pada gadis itu. Tanpa sadar Aslan sendiri yang mengikat perempuan itu dalam hidupnya.
Parwita tak sengaja melewati Aslan saat terlihat lelaki itu berdiri membelakanginya, Parwita segera menghampiri sang cucu melihat tingkah Aslan yang menutup wajahnya membuat Parwita menepuk pelan pundak cucunya tersebut.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Aslan?!" tanya Parwita dengan dahi mengernyit heran, tidak biasanya Aslan seperti selama ia mengenal sang cucu dan merawatnya Parwita baru melihat Aslan yang seperti ini.
"Oh nenek ... gak kok, Aslan kenapa-kenapa," kilah Aslan segera menetralkan rona wajahnya tak ingin sang nenek berfikir yang tidak-tidak.
Parwita menahan senyum, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aslan, Aslan. Nenek mengenal kamu bukan sehari dua hari tapi belasan tahun dari kecil kamu nenek yang urus, mana mungkin nenek tidak tahu apa yang kamu rasakan saat ini.
Aslan melotot terkejut. "Emangnya nenek tau?"
Parwita malah menggidikkan bahu. "Hanya menebak saja, kamu seperti orang yang sedang di mabuk cinta, Aslan."
Aslan mendadak kicep. Sial, kenapa neneknya bisa menebak begitu tepat?
Parwita tertawa. "Tuh kan, muka mu aja gak bisa boong." ia menunjuk wajah Aslan yang memerah membuat pria itu tertawa.
"Nenek bisa saja." Aslan merangkul pundak neneknya dari belakang, pria itu memang memiliki sifat yang penyayang dan tak segan untuk menunjukkan kepada orang-orang yang ia sayang.
"Dasar, cucu nenek yang selalu manja ini udh besar," kata Parwita mengusap rahang Aslan.
"Ya sudah kamu mandi gih, bik Iyem sudah menyiapkan air panas, setelah itu kita makan sama-sama bareng kakek," ujar sang nenek membuat Aslan mengangguk dengan semangat.
...---------Oo-------...
Di mansion Rajendra, pagi hari.
Shaka terbangun lebih dulu, tidak ada yang lebih di syukuri nya saat ia membuka matanya yang pertama di lihatnya adalah Kirana yang terlelap dalam dekapannya. Shaka tidak tahu harus mengucap syukur berapa kali karena kehadiran Kirana yang kini membuat hidupnya sangat berarti. Jika dulu ia tak lagi memiliki hidup, merasa hari-harinya suram tak berwarna kini tidak lagi setelah kehadiran wanita itu, Kirana telah memberinya warna-warna baru yang membuat hidupnya seperti pelangi yang indah.
Mentari pagi menyorot terang menembus gorden- gorden putih kamar ini, membuat Kirana yang masih hanyut dalam mimpi terpaksa menggeliat karena terganggu dengan sinar sang Bagaskara pagi ini yang menganggu matanya. Shaka menyadari itu segera mengangkat setengah badannya untuk menghalau sinar matahari itu tidak sampai mengenai Kirana.
"Selamat pagi isteri ku," kata Shaka dengan senyum manisnya, sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun kecuali pada wanitanya saat ini.
"Mas?" Kirana membuka mata selebar-lebarnya, lalu ia segera menarik selimut sampai menutupi matanya, tindakannya itu sontak membuat Shaka tertawa.
"Kenapa kamu ngerasa kaya takut gitu, sayang?" tanya pria itu dengan masih tawa jenaka nya yang terdengar renyah dan serak.
"I- i- itu ... " entah bagaimana Kirana merasa sangat gugup hingga membuat nya tak bisa merangkai kata-kata dengan benar, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang yang di pukul keras-keras.
"Itu apa, hm?" sahut Shaka bertanya seraya menopang kepalanya dengan menggunakan sebelah tangan yang di tekuk, wajahnya sengaja ia condong kan ke arah Kirana membuat wanita itu lagi-lagi mengangkat selimut hingga menutup wajahnya.
__ADS_1
"Aku malu,kamu gak pake baju," ucap Kirana dengan sangat jujur dan begitu polosnya.
Sedetik
Dua detik.
Shaka terperangah hingga akhirnya tawa lelaki itu pecah mengudara di langit-langit kamar. Kirana menurunkan bedcover sampai ke batas bawah matanya melihat Shaka yang tertawa terbahak-bahak membuat Kirana mengerucut kesal padanya.
"Astaga jadi hanya karena itu?" tawa Shaka mereda namun kembali menggelar hanya sebentar detik berikutnya Shaka menatap Kirana dengan jarak dekat dan sangat intens membuat wanita itu sontak menahan nafasnya tak siap dengan tatapan mata Shaka yang begitu teduh padanya.
"Apa kau malu, hm?" di tanyai seperti itu sontak membuat Kirana mengangguk, hal itu kembali membuat Shaka terkekeh geli.
"Dengar apa yang membuat mu malu? bahkan kau sudah sering melihat tubuh ku yang polos tanpa sehelai benang pun kan?" tanya Shaka menggoda dan berhasil, sukses membuat sang isteri gelagapan lantas memasang wajah kesal yang di mata Shaka justru terlihat menggemaskan.
"Ih, mas kamu apaan sih? gak lucu!" Kirana mencebik sewot.
Shaka tersenyum. "Aku gak lagi bercanda honey." lelaki itu merundukkan pandangannya ke arah bibir mungil Kirana yang ranum lantas mengecupnya sekilas.
"Andai saja tidak ada dia di dalam sini, aku pasti sudah menghabisi mu di atas kasur saat ini," ujar Shaka seraya menunjuk ke arah perut Kirana, membuat wanita itu melorot gemas.
"Mas?!" Kirana melongos, Shaka tertawa.
"Yang itu baru bercanda, sayang." pria itu memasang wajah lelucon namun Kirana sama sekali tak berminat dengan candaan pria itu justru memasang wajah sebal.
"Gak lucu! heran sama kamu kenapa malah berubah jadi iseng gini?"
"Kamu gak suka ya?" tanya Shaka mendadak air mukanya berubah muram membuat Kirana yang melihatnya memasang wajah bersalah.
Shaka menghela nafas. "Maaf ya, aku cuma ingin membayar waktu kebersamaan kita yang terbuang. Kamu tau kan gimana awal pertemuan kita yang gak di sengaja sampai akhirnya kamu jadi istri ku,"
"Aku udah banyak nyakitin kamu, aku sadar itu, di beri kesempatan oleh kamu untuk memperbaiki hubungan kita adalah anugerah terbesar yang tidak akan pernah aku sia-siakan, aku cuma ingin kau bahagia dan tidak merasa takut lagi jika bersama ku."
Kirana terdiam. Tak menyangka dengan kata-kata Shaka yang begitu manis di terdengar di telinga nya, hal yang tidak pernah Kirana duga sebelumnya dari seorang Shaka Ian Rajendra yang dulu di kenalnya sebagai pria kejam yang tak berperasaan namun justru kini Shaka tengah menatapnya dengan begitu teduh di lihat dari matanya jelas-jelas pria itu tidak berbohong sama sekali dengan apa yang di ucapkan terpancar rasa ingin melindungi sang isteri dan membahagiakan nya dan Kirana melihat jelas cinta di mata pria itu.
"Kamu segitu cintanya sama aku?" tanya Kirana dengan hati berdentam- dentam pasalnya pandangan lembut Shaka tak pernah terlepas sedetik pun dari wajahnya. Seketika ia merasa menjadi wanita yang sangat beruntung bisa di cintai oleh pria dengan begitu besar.
"Kamu masih nanya?" Shaka mengambil tangan Kirana lantas menyelimutinya dengan tangannya yang lebih besar terasa hangat dan lembut saat Kirana merasakan pria itu yang merengkuh tangannya, Shaka bermain-main dengan jemari Kirana mengusap kuku sang wanita seolah itu adalah mainan untuknya.
"Aku ini brengsekk Kirana, aku sangat menyadari itu. Sejak masa sekolah dulu, aku adalah seorang pemuda begajulan hidup ku tak jelas mau di bawa kemana hingga akhirnya papa memaksa ku ke luar negeri untuk mengenyam pendidikan yang lebih serius meski aku tak mau, lalu beberapa tahun kemudian aku pulang dengan membawa nama harum keluarga namun itu sama sekali tak bisa menghilangkan sifat ku yang pembangkang hingga papa kewalahan menghadapi ku yang tak bisa di atur." hening sejenak, Shaka menjeda ucapannya mengingat kembali tentang ayahnya membuat rindunya terhadap sang ayah yang menjadi panutannya itu kembali hadir.
Shaka mengusap sudut matanya sekilas dengan cepat-cepat agar Kirana tak mengetahuinya namun telat Kirana sudah melihat air mata di balik diamnya Shaka, pria itu mungkin bisa menyembunyikannya dari orang lain, tapi tidak darinya.
"Lalu aku berpacaran dengan Olivia, aku merasa seperti menemukan tujuan hidup, aku mulai berubah dan serius dalam tujuan ku mengemban tanggung jawab perusahaan sebagai penerus papa, tapi takdir seakan mempermainkan ku, waktu itu aku mabuk berat karena tenggelam dalam nikmat nya duniawi bersama teman-teman yang ku anggap seperti keluarga kedua namun ternyata mereka musuh dalam hidup yang hanya memanfaatkan ku, waktu itu aku masih sangat ingat ketika mobil yang ku kendarai mengebut dengan sangat ugal-ugalan di tengah jalan hingga akibatnya belasan nyawa orang yang tak bersalah lenyap sekejap karena diriku ... "
Kirana menahan nafas saat mendengar nya merasa kengerian jika membayangkan kecelakaan berantai itu benar-benar terlihat di depan matanya. Jadi itukah sebabnya Shaka di jebloskan ke bui, jadi itu alasannya Arkan menyebut Shaka dengan panggilan 'mantan narapidana'. Seketika hati Kirana mencelos tak menyangka di balik sikap kejjam pria itu justru terdapat masa lalu yang begitu kelam.
"Aku di nyatakan bersalah, di kantor polisi papa sama sekali tak membela ku, beliau sangat kecewa dengan kelakuan ku, aku tahu itu dan seketika aku sangat menyesal tak mendengarkan nasihat nya untuk menjauhi teman-teman ku yang hanya ingin memanfaatkan ku saja."
__ADS_1
Shaka membuang nafas kasar ke udara. Baru kali ini ia menceritakan masa lalu nya yang kelam selain hanya kepada Liam, asisten kepercayaannya.
"Akhirnya aku di penjara namun bukan hanya itu seolah takdir ingin lebih lama mempermainkan ku, satu bulan aku berada di dalam jeruji besi aku mendapatkan kabar jika Olivia selingkuh, dia berkhianat di belakang ku bersama Arkan, di saat aku benar-benar berada di fase terburuk dan membutuhkan nya di samping ku, tak sampai di situ lima bulan aku di dalam jeruji besi yang dingin aku mendapatkan kabar buruk kembali kali ini benar-benar membuat ku sangat terpukul dan menyesal sampai detik ini. Papa meninggal karena kanker paru-paru yang di deritanya, saat itu adalah masa-masa terpedih dalam hidup ku karena aku bahkan belum sempat meminta maaf kepadanya atas kesalahan ku selama ini, atas sikap ku yang keterlaluan yang selalu membangkang dan tak pernah menurutinya, aku selalu mengecewakan nya dan belum membanggakan beliau selama aku menjadi anaknya."
Hening sejenak, atmosfer seakan membawa kesedihan yang jelas terlihat dari bagaimana Shaka memandang, pria itu terpekur dengan mata menyorot luka. Mungkin Shaka tak menangis namun Kirana yang menangis saat ini.
Shaka terkejut segera mengusap air mata sang isteri. "Kenapa kau menangis?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu tidak menangis?"
Shaka tertegun mendengar perkataan Kirana sedetik kemudian pria itu terkekeh getir. "Pria pantang untuk menangis, Kirana."
"Kata siapa? pria juga makhluk hidup yang memiliki hati juga perasaan, mereka juga bisa menangis," kata Kirana sama sekali tak setuju dengan pendapat Shaka.
"Kamu merindukan ayah mu kan?" tanya Kirana, begitu tepat dengan apa yang Shaka ceritakan saat ini.
"Menangis lah mas, jika itu bisa meringankan sedikit kesedihan di dalam hati mu, tidak ada yang salah dengan pria yang mengeluarkan air mata." Kirana tersenyum menatap nanar, tangannya terjulur mengusap hangat wajah Shaka.
"Ada aku di sini, aku akan menjadi pendengar untuk mu, curahkan semuanya padaku apa yang kamu rasakan, mas."
Shaka bergeming, kedua matanya sudah berkaca-kaca lalu detik itu juga ia segera bangun dan menarik tubuh Kirana, memeluknya erat-erat.
Shaka mengerat kan rangkulannya di bahu Kirana, wajahnya ia tenggelam kan di ceruk leher sang isteri. Mencurahkan segala lara nya, seperti apa yang di katakan wanita itu.
"Aku sangat merindukan nya, Kirana. Sangat."
Kirana bisa merasakan bahu Shaka yang terguncang karena tangis, pasti berat untuk pria itu memendam semuanya sendirian. Sesak menghimpit dada Kirana, ia mengusap bahu kekar Shaka guna menyalurkan kekuatan untuk suami nya itu.
"Apa kamu ingin menemuinya mas? berkunjung ke makam ayah mu?"
Mendengar pertanyaan Kirana tersebut Shaka melepaskan pelukan dan menatap mata sang istri, dengan mata dan hidung yang memerah Shaka menggeleng. "Tidak. Aku belum siap, Kirana. Sudah banyak kesalahan ku pada beliau, aku merasa tak pantas untuk menemui nya." Selama ini setelah kematian ayahnya Shaka hanya sekali datang ke pemakaman yaitu saat ayahnya di bawa ke peristirahatan terakhirnya setelah itu Shaka merasa seperti pecundang yang tak pernah lagi mengunjungi pusara sang ayah, seperti katanya tadi, ia merasa sangat malu dan tak pantas untuk melihat makam sang ayah.
Kirana mengulas senyum memberi pengertian pada lelakinya itu. "Tidak ada yang salah untuk mengunjungi makam ayah mu mas, meski kamu melakukan banyak kesalahan sekalipun kau tetaplah anaknya, bahkan beliau mungkin sedih di atas sana karena anaknya tak mengunjungi untuk memberikan doa padanya."
"Jika kau mau pergi, aku akan menemanimu mas." imbuh Kirana kemudian. "Kamu mungkin tak bisa mengulang apa yang sudah terjadi, tapi kamu masih bisa untuk memperbaiki nya," ujar Kirana sambil mengusap air mata Shaka. "Perbaiki apa yang masih bisa kamu perbaiki, salah satu nya minta maaf kepada papa meski beliau telah tiada namun maaf dan doa mu yang tulus pasti akan sampai kepadanya."
Shaka menatap Kirana lama, seolah tengah mencerna setiap perkataan sang istri, lantas ia mengambil sebelah tangan Kirana untuk di bawanya ke dada kirinya.
"Aku memang brengsekk, Na. Tapi aku sangat beruntung memiliki mu," ucap Shaka terdengar sangat tulus kepada Kirana.
"Tolong, temani aku untuk meminta maaf kepada papa, kamu mau?" Shaka menatap Kirana begitu dalam seolah seluruh pusat dunianya ada pada gadis itu seorang. Shaka kembali memilki tujuan hidup karena Kirana.
Kirana mengangguk lengkungan senyum tulus terbit di bibirnya.
"Tentu saja."
Detik itu juga Shaka terpana,ia percaya Kirana adalah wanita yang selama ini telah ia cari-cari kini gadis itu adalah miliknya berada di sampingnya adalah anugerah terbesar dan terindah di hidup Shaka.
__ADS_1
To be continued ....
See you bab selanjutnya, nantikan selalu ya✨