
...💞 Happy reading 💞...
Pagi datang dengan awan mendung menyelimuti. Kirana terbangun dari tempat yang kini ia tempati, kamar pelayan. Betapa mirisnya nasib yang kini harus ia jalani, menjadi pelayan di rumah suaminya sendiri.
Kirana membasuh wajah di wastafel kamar mandi yang berada di bagian belakang dekat dapur, tak jauh dari kamar yang kini di tinggalinya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca besar, penampilan sederhana dengan baju biasa yang di berikan Liam untuknya. Ini bukan soal penampilan namun status nya yang saat ini sudah berubah.
"Tak apa Kirana, sejak kecil kamu sudah pernah merasakan seperti ini kan? bahkan kamu tak punya kamar sendiri saat di rumah paman dan di sini pun sama saja. Kamu akan terbiasa," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Detik berikutnya, Kirana tak kuasa membendung air mata, ia tersedu sedan sambil mengelus lembut perutnya, merasakan perih yang teramat dari seonggok daging yang di namakan 'hati' teringat jika kini ia tak hanya sendirian, namun ada kehidupan lain yang sedang tumbuh dalam rahimnya.
"Kamu pasti kuat sayang, itu harus. Mamah percaya kita bisa melewati ini semua bersama-sama," gumamnya seolah perkataannya benar-benar di dengar oleh janinnya itu.
Setelah urusannya di kamar selesai, Kirana keluar di dapur sudah banyak para pelayan yang menyambut nya dengan kesibukan mereka. Menyadari kedatangan nya, para pelayan itu kontan menunduk.
"Tak perlu memberi hormat kepada ku. Sekarang aku sama seperti kalian, aku juga seorang maid yang akan bekerja di sini, panggil aku sesuai pekerjaan ku."
"Tapi nyonya--"
"Tidak!" Kirana memotong seorang maid yang hendak menyela, menggelengkan kepala lalu tersenyum, meski matanya terlihat sembab.
"Jangan menggunakan panggilan itu lagi, jika bisa kalian bisa memanggil ku dengan nama saja, aku tak pantas lagi untuk panggilan itu, ku mohon ... "
Para pelayan yang hadir dan menatapnya seolah ikut iba dengan apa yang menimpa Kirana. Meski begitu mereka kompak mengangguk.
Kirana pun memulai aktivitas nya sebagai mana profesinya saat ini.
Di ruangannya, Shaka melihat semua kegiatan yang saat ini Kirana lakukan, terlihat wanita itu menyapu lantai, mengelap meja makan dan membereskan peralatan dapur, pemandangan yang tak sanggup Shaka lihat berlama-lama, terlebih ketika wanita itu beberapa kali terlihat menyeka keringat nya dengan punggung tangan membuat Shaka merasa ikut tercabik-cabik hatinya.
"Maafkan aku ... aku berjanji ini tidak akan lama, sayang. Setelah aku berhasil menangkap para penjahat itu hingga ke akar-akarnya, kita akan hidup bahagia bersama." gumam Shaka, seraya menyeka ujung matanya yang tak bisa ia cegah, mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Sarapan bersama, kini para anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, seperti dugaan Shaka, keluarga Wijaya turut hadir, ada Matilda dan Olivia juga Arkan yang tiba-tiba datang dan mengumumkan akan tinggal di sini selama beberapa minggu.
"Sebentar lagi ulang tahun perusahaan, kami akan sangat senang jika perayaan nya di lakukan di mansion ini," ujar Matilda bermanis- manis, dengan tujuan dan maksud yang terselubung.
"Tentu ibu akan sangat setuju, adik ipar," sahut Renata dengan senyum sumringahnya, Helen di kursi rodanya mengangguk dengan tersenyum tipis. Penyakit stroke yang di deritanya dan baru di ketahui batu-baru membuat Helen terlihat tak berdaya dan hanya bisa mengerjakan aktivitas nya dengan bantuan kursi roda.
Renata tersenyum lembut pada ibu mertuanya. "oma harus segera sehat, agar kita bisa berkumpul dengan lengkap lagi," ujarnya dengan air mata mengambang. Belakangan ini Renata jadi sering menangis dengan kondisi Helen yang semakin parah dengan penyakitnya. Terlebih setelah kepergian sang suami, Renata memang lebih dekat bersama sang ibu mertua dan almarhum suaminya sudah berpesan agar ia selalu menjaga dan merawat ibu mertuanya itu.
Kirana membatu di tempatnya berdiri, dengan semangkuk berada di tangannya ia ragu untuk membawa dan meletakkan nya di meja makan.
"Kirana, kok kamu diam saja di sini." bik Sukma menyentuh lembut pundaknya. Wanita berusia setengah abad itu memang lebih dekat dengan Kirana selama ini hingga hubungan mereka sudah selayaknya sahabat.
"Aku .... merasa tak harus kesana bik," lirih Kirana. "aku merasa ibu mertua tidak akan suka melihat ku di sana."
Bik Sukma menghela nafas pelan lalu tersenyum. "Tidak ada yang perlu di cemaskan nak. Bibi memang tidak tahu detail apa sebenarnya terjadi di antara kalian, namun mendengar ceritamu,bibi yakin keraguan itu bisa kamu atasi. Ketakutan bukan untuk di hindari tapi di lawan."
Kirana merasa sedikit lega mendengar nasihat dari wanita yang ia anggap sudah seperti keluarganya. Wanita itu pun mengangguk lalu melangkah dengan pasti ke arah meja makan.
"Ekhem, begini kakak ipar. Nanti untuk perayaan ulang tahun perusahaan, Arkan sudah mengundang seluruh para kolega Rajendra group, terutama tuan Gery, yang sudah lama menjalin kerjasama dengan perusahaan kita, beliau bahkan rela datang jauh-jauh dari Kanada bersama putrinya untuk menghadiri pesta perayaan nanti."
Renata manggut-manggut mendengar penuturan Matilda. "Itu bagus, beliau pasti orang yang bertanggung jawab hingga rela datang jauh-jauh demi memenuhi undangan."
"Itu benar." Matilda tersenyum berseri dan penuh makna, terlebih ketika melihat Kirana yang berdiri tak jauh dari tempat Shaka duduk.
Sementara itu Kirana menaruh mangkuk sup di tengah meja bersama hidangan lain, saat ia hendak pergi, Fiona memanggilnya.
"Kau tetap di sini selama kita makan," ujar wanita itu. Shaka tertegun ia yang semula menunduk menatap kakaknya.
Kirana tersenyum getir. " Baiklah." ia berbalik, hendak berdiri tak jauh dari meja makan, namun tangan kekar Shaka tiba-tiba saja menahannya.
__ADS_1
Kirana tertegun, lalu matanya beradu pandang dengan Shaka yang saat ini wajahnya terlihat datar.
"Ambilkan aku air minum."
"A- apa?" Kirana merasa gugup, padahal sebelumnya tak pernah seperti ini, namun mengingat sudah ada jarak yang membentang jauh di antara mereka, Kirana merasa tatapan Shaka memang wajar melihatnya seperti ini.
"Apa kau tak dengar. Aku bilang ambilkan aku air minum!"
Suara Shaka yang sedikit meninggi membuat semua orang refleks melihat ke arah mereka berdua.
"Kenapa Shaka? apa pelayan itu membuat masalah padamu?" sahut Renata,ia memang sudah tahu tentang status Kirana yang menjadi pelayan saat ini dan Renata berfikir memang sudah sewajarnya Kirana mendapatkan itu.
"Tidak, dia hanya tidak mendengar ku saja, bun."
"Apa kau tidak dengar? ambilkan tuan mu minum," sahut Fiona, mengompori.
"Baik. Akan segera ku ambil kan!" ucap Kirana, dengan menatap nyalang seolah menantang melalui tatapan mereka, Shaka melepaskan cengkraman tangannya, dan memerintahkan Kirana untuk pergi, tujuannya agar Kirana tak mendengar lebih jauh apa yang sedang di bicarakan di sini.
"Ekhem, bibi tadi sampai mana ceritamu coba lanjutkan?" ujar Fiona memancing.
"Oh ya, ini tentang putri tuan Gery, Teresa. Kakak ipar, ku rasa Teresa akan sangat cocok jika berpasangan dengan Shaka."
Deg!
Kirana yang hendak melanjutkan langkah mendadak mematung mendengar itu.
"Bagaimana jika kita adakan perjodohan untuk mereka berdua?" ujar Matilda dengan seringai liciknya.
Shaka menekan kepalan tangannya, menahan geram.
__ADS_1
To be continued ...