
Shaka bersama Kirana dan Aslan yang di temani oleh asisten kepercayaannya segera meluncur ke rumah sakit untuk melakukan prosedur tes DNA. Sesampainya di sana asisten seorang dokter kenamaan yang juga adalah kenalan Shaka menuntun mereka untuk masuk ke dalam lab mengikuti langkah-langkah yang harus di ambil untuk melakukan prosedur yang penting ini.
"Kirana,kau baik-baik saja?" seru Shaka bertanya ketika melihat istrinya yang terlihat pucat pasih di sampingnya.
"Aku deg-degan mas," jawab Kirana jujur tak ingin membohongi suaminya itu meski dia bisa, namun nampak jelas raut gugupnya yang menunjukkan kegelisahannya saat ini. Bisa di katakan Kirana jarang menginjakkan rumah sakit sejak ia kecil, pun jika keadaan memaksa ia akan berada di sini bukan untuk tujuan tes DNA seperti yang saat ini tengah ia lakukan.
"Sayang, kau tenang saja. Pemimpin rumah sakit ini sekaligus dokter yang akan menangani adalah teman relasi ku, jadi tidak mungkin ada kecurangan atau manipulasi dalam tes DNA ini," kata Shaka penuh pengertian kepada istrinya seraya matanya melirik ke arah Aslan ketika ia mengucapkan kata 'kecurangan' dan 'manipulasi'.
Aslan yang merasa tengah di sindir pun menyahut di tempatnya duduk yang berjarak lima meter dari pasangan Shaka dan Kirana.
"Kau tenang saja pak Shaka, aku tidak sepicik itu untuk melakukan kecurangan atau hal yang merugikan dalam tes DNA ini, jika pun Kirana masih belum mempercayai ku tapi aku akan selalu menganggap nya sebagai adikku."
Mendengar hal itu Shaka tersenyum seolah mengejek di mata Aslan sementara Kirana membeku seperti menggigil karena seolah-olah ia berada di tengah-tengah kubu singa dan harimau yang siap menerkam satu sama lain.
Waktu terus berjalan, hingga menjelang sore dokter dan para ahli keluar dari lab setelah mengambil sampel darah dari Aslan dan Kirana juga mengambil langkah-langkah prosedur yang di butuhkan.
"Kami segera akan memberitahukan hasilnya setelah berhasil melakukan pencocokan, mohon kalian menunggu dulu minimal satu Minggu baru bisa kembali untuk mengambilnya hasilnya setelah kami hubungi," tutur sang dokter memberitahukan yang membuat Shaka, Kirana dan Aslan pun mengangguk mengiyakan.
Di pelataran rumah sakit Aslan pamit undur diri setelah melakukan prosedur tes DNA ia di beritahukan asistennya jika ada jadwal meeting yang tak bisa ia tunda, Kirana dan Shaka mengangguk melepas kepergian Aslan setelah mendengar alasannya yang begitu mendadak.
"Hati-hati ... pak Aslan," ujar Kirana begitu lirih karena ia hendak mengucapkan kata 'kakak' namun segera di urungkan nya, entah kenapa begitu tiba-tiba saja ia ingin sekali memanggil Aslan dengan sebutan itu seolah dari dasar hatinya ia sudah mulai mempercayai dengan apa yang di beberkan Aslan tentang hubungan persaudaraan mereka. Namun lagi-lagi Kirana masih belum siap sebelum hasil yang benar-benar nyata sudah di keluarkan.
Seolah memiliki ikatan batin, Aslan bisa mengerti akan kebimbangan yang di alami Kirana tersebut, "Tidak apa-apa seminggu lagi adikku setelah hasil tes DNA nya keluar kau bisa memanggilku dengan sebutan 'kakak' tanpa ada beban apapun di hatimu."
Perkataan Aslan tersebut seperti siraman air di hati Kirana yang kini tengah kering tandus yang membuat nya mengangguk dan tersenyum lega.
Sementara itu Shaka mengajak Aslan bersalaman dengan formal lantas menekuk bibirnya tipis kepada pria itu. "Hati-hati dan semoga meeting mu lancar. Satu lagi, maaf untuk kata-kata ku yang tadi."
Aslan mengerti, ia pun mengangguk kan kepalanya. "Tidak apa-apa kau pantas mengatakan itu untuk berhati-hati, di dunia ini kita memang tak bisa mempercayai seseorang seratus persen. Tapi ku harap setelah hasilnya keluar nanti, aku bisa mendengar dari mulut mu panggilan 'kakak ipar' untuk ku meski hanya sekali," seloroh Aslan di akhir kalimatnya berhasil membuat keduanya tertawa.
"Baiklah. Aku tak sabar menunggunya," kata Shaka, membalas dengan jenaka.
...--------Oo--------...
Tiba di mansion mereka, Kirana langsung menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu arah pandangannya gamang menatap ke lantai sambil mengusap perutnya yang mulai membesar, Kirana mengingat-ingat perjalanan hidupnya yang dulu terasa pilu hingga berakhir bahagia seperti sekarang meski harus menghadapi serangkaian rintangan juga cobaan hidup yang menyakitkan tapi Kirana bersyukur kepada sang pemilik kehidupan karena sekarang ia bisa bersatu kembali dengan suaminya dan menanti buah hati yang masih ada di perutnya saat ini.
__ADS_1
Shaka keluar dari kamar lalu menuruni undakan tangga, menghampiri sang isteri, melihat Kirana yang terus merenung pria itu sengaja mengagetkan dengan merangkul leher jenjang wanita itu dari belakang, yang langsung membuat Kirana terkesiap kaget namun detik kemudian perempuan itu tersenyum sambil kedua tangannya mengusap lengan sang suami yang kokoh.
"Melamun terus,hm?" Shaka berujar dengan suara serak nya yang terdengar begitu dekat di daun telinga Kirana membuatnya hampir terlena karena suara Shaka yang begitu sekksi.
"Tidak mas, hanya mengingat masa lalu saja," jawab Kirana sambil menggeleng pelan, kemudian di rasakan nya rangkulan Shaka di leher nya terlepas setelah menengok ternyata Shaka sudah berjalan memutari sofa lalu duduk di sampingnya dengan wajah cemberut.
"Kenapa? apa kau sedang mengingat Arya, mantan mu itu?" Shaka mengajukan pertanyaan yang membuat Kirana terperangah untuk beberapa saat.
"Kamu kenapa mas? kok malah menjurus ke situ?" heran Kirana dengan raut menahan geli pasalnya bibir pria itu yang mengerucut berbanding terbalik dengan sikap garang yang selalu dia tunjukkan.
"Harusnya kan aku yang bertanya kenapa? kau bilang sedang mengingat masa lalu berarti kau sedang memikirkan mantanmu yang membusuk di penjara itu kan?"
Kirana tertawa sekencang-kencangnya. "Astaga mas, kamu kenapa sih? aku mengingat masa lalu tentang kehidupan ku, kamu jauh banget sampai mencurigai ku seperti itu."
Shaka dengan kaos putih yang mencetak jelas badan atletis serta berotot nya itu memalingkan wajahnya dengan melipat lengan di depan dada sangat tidak kontraks dengan badan kekar dan wajah sangarnya membuat Kirana yang melihat itu tanpa sadar tertawa lagi.
"Mas kamu kenapa sih? aku yang hamil kok kamu yang sensitif banget?" tanya Kirana mendekati pria itu bergelayut manja di pundaknya.
"Aku juga tidak tahu Kirana, akhir-akhir ini sikap mu terkadang suka berubah-ubah. Kata Liam, perempuan yang sedang mengingat masa lalu nya berarti juga sedang mengingat mantan kekasihnya."
Kirana kembali tertawa. "Astaga, Liam ada-ada saja. Kata-katanya sungguh meracuni otak suami ku yang polos ini." batin Kirana.
"Tapi sepertinya aku memang sedang merindukan kak Arya," ucap Kirana seolah memancing dan berhasil hal itu sukses membuat Shaka segera mendekat dengan memasang tampang jengkel.
"Kau serius? aku tidak percaya ini Kirana? kamu sungguh-sungguh dengan ucapan mu di depan suami mu sendiri? kau beneran sedang merindukan si brengsekk itu yang sudah menjebakmu?!" Shaka memberondong pertanyaan yang membuatnya menaik-turunkan dadanya menahan sesak juga kesal.
"Kenapa tidak," ucap Kirana seraya menggidikkan bahu nya. "Selama aku mengalami kesusahan dulu sebelum bertemu dengan mu kak Arya adalah orang yang paling berjasa waktu itu dia selalu membantu ku dan tak pernah bersikap kasar seperti yang kau lakukan saat cinta belum hadir di antara kita, meski sekarang dia telah berubah aku tidak bisa begitu saja melupakan jasa baiknya,"
"Lalu saat aku tengah kesusahan dan di jebak oleh Fitri dan kak Arya, suami ku sendiri malah tidak tahu dan sibuk bersama wanita lain justru pak Aslan juga Olivia yang membantu ku pria yang tidak begitu ku kenal justru orang paling baik yang selalu ada saat suami ku sendiri membenci ku tanpa alasan."
Kata-kata yang di ucapkan Kirana begitu menohok, seperti Godam yang memukul telak relung hati Shaka saat ini. Meskipun Kirana mengatakannya dengan raut bercanda hanya untuk memanasi pria itu namun untuk Shaka semua kata-kata Kirana memang benar adanya.
"Maafkan aku Kirana, aku memang suami yang buruk, aku bahkan tidak ada di saat-saat kamu dalam bahaya, betapa tidak berguna nya aku sebagai suami mu. Harusnya aku tidak pantas untuk mendapatkan maaf mu." Shaka menunduk lesu, hal yang membuat Kirana langsung merubah air muka dan merasa bersalah.
"Mas, kau terluka dengan perkataan ku? bukan maksud ku untuk membuat mu merasa seperti itu." Kirana lantas mendekat, melingkarkan tangannya di lengan kokoh lelaki itu.
__ADS_1
"Mas kamu marah? aku sudah memaafkan mu maaf jika aku terkesan masih mengungkit kesalahan mu," ucap Kirana lagi berharap Shaka mau menatap matanya.
Shaka tersenyum lembut, ia kemudian duduk menyamping dengan kedua tangannya yang berada di kedua pundak Kirana.
"Untuk apa aku marah? harusnya kamu yang marah padaku. Tidak apa-apa meskipun kau mengungkit kesalahan ku seumur hidup, aku akan menerimanya, anggap lah itu penebusan dosa ku kepadamu."
"Mas, aku hanya bercanda," lirih Kirana merasa tak enak dengan keadaan yang ia buat ini, melihat raut wajah Shaka ia bisa menemukan kesungguhan juga penyesalan di lubuk hati pria itu.
"Tapi aku sedang tidak bercanda honey," ujar Shaka. "Kemari." pria itu meminta sang isteri mendekat untuk kemudian mengecup kening Kirana dengan begitu lembut, agak lama bibir pria itu menempel di kulit kening sang wanita, Shaka seolah tengah meresapi setiap detik momen saat ini.
Setelah kecupan di kening terputus, Shaka segera mendominasi hubungan inttim mereka, pria itu mengecup seluruh permukaan wajah Kirana tanpa terkecuali dengan terus mendengungkan kata-kata cinta yang membuat Kirana terlena.
Setelah itu Shaka memeluk Kirana dengan sangat erat. "Kau memang wanita yang baik. Jika orang mengatakan kau yang beruntung menjadi istri ku itu salah besar, justeru aku yang beruntung bisa menjadi suami mu. Meski aku bukan suami yang Sempurna, tapi ku mohon ijinkan aku untuk menyempurnakan hubungan kita, beri aku kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan mu kembali dan memulai keluarga kecil kita yang harmonis."
Shaka melepas pelukannya lalu menatap lekat wajah Kirana. tangan besarnya menyingkap helaian rambut yang menutupi kening Kirana membuat wanita itu memejam dengan sentuhan lembut dari sang suami.
"Kamu bersedia kan?"
"Tentu saja mas. Cinta kita yang telah membuatnya hadir," kata Kirana lalu mengambil tangan Shaka untuk di dekatnya ke perut nya yang mulai membesar. "mana mungkin aku meninggalkan mu di saat dia sudah mulai hadir."
Shaka tersenyum. "Anak kita pasti akan menjadi tangguh seperti mu. Aku sangat beruntung memiliki mu Kirana, terimakasih telah memberi warna dalam hidup ku yang kelabu."
Keduanya saling melempar senyum dengan mata berkaca-kaca, Kirana kemudian merangkul leher Shaka memeluk nya kembali, lalu beberapa saat mereka pun tertawa setelah haru biru yang baru saja mereka lewati.
"Untuk yang tadi mas jangan marah lagi ya, aku sama sekali tidak sedang memikirkan Arya, sedikit pun tak pernah. Aku hanya sedang memikirkan memori masa-masa aku belum mengenal dirimu hingga sekarang."
"Astaga, jadi kau berbohong tadi?" tanya Shaka yang kini moodnya sudah balik kembali.
Kirana mengangguk tanpa rasa bersalah. "Iya, abisnya liat mas merajuk gitu lucu banget, bikin gemes jadi aku jailin sedikit."
"Oh udah berani rupanya ya, di ajarin sama siapa hm?" tanya Shaka mengangguk-anggukkan kepalanya, tingkah laku nya seolah siap untuk menerkam Kirana membuat wanita itu segera berdiri setelah dengan puas melempar bantal ke arah suaminya itu.
Shaka berlari mengejar Kirana yang berusaha kabur, sementara Kirana sendiri semakin tertawa lebar dengan satu bantal lagi di tangannya untuk mengindari serangan Shaka, jadilah keduanya seperti tom and Jerry yang sedang berkejar-kejaran.
Sementara itu diam-diam Shaka tersenyum tipis, sukur lah dengan ini Kirana bisa melupakan segala keresahannya tentang hasil tes DNA nya nanti, saat melihat Kirana yang merenung ia tahu sang istri tengah memikirkan banyak masalah, itu sebabnya ia pura-pura merajuknya tadi demi untuk menghibur Kirana yang sedih.
__ADS_1
Shaka berharap ia selalu bisa menjaga senyum dan tawa sang istri untuk waktu yang lama. Sampai kapan pun selama cinta mereka masih tumbuh abadi di hati.
To be continued ....