
Jo duduk di sebelah Juna yang sedang membaca dokumen dari ponselnya. Dia lalu mengamati Marsha yang sibuk memilih baju di sebuah outlet barang branded. Sudah tiga jam lebih, nona muda itu mondar mandar memilih pakaian, padahal di tangannya saja sudah ada 5 kantong belanjaan.
“Wanita,, wanita,, memang sukanya habisin duit dan waktu.” Protes Jo.
Juna tidak menanggapi sekretarisnya itu. Ini karena ulah Jo sendiri, dan Juna tidak akan membebaskan Jo dari tugas menjaga Marsha.
“Oh iya, Saya menemukan ini Pak,, ketika mencari bapak kemarin. Ada di meja vip.” Jo teringat ponsel yang diberikan salah satu pelayan yang membersihkan meja vip tempat di mana Juna duduk.
Juna membolak-balik ponsel itu. Ponselnya tidak bagus, bukan keluaran terbaru. Dia menekan tombol on.. dan ternyata ponselnya bisa menyala.
Wallpaper ponsel itu membuat Juna hampir melemparnya. Di ponsel terpampang Foto wanita dengan rambut bergelombang dan tangannya membentuk simbol love. Juna ingat persis siapa wanita itu. Wanita yang membuat celananya sobek, Tiffany.
“Ini bukan punya saya Jo. Lagian mana mungkin saya pakai ponsel jelek begini.”
“Ya udah sini, saya balikin.”
“Bentar Jo.” Juna manahan tangan Jo yang sudah siap mengambil ponselnya. Juna yang sebenarnya jarang kepo dengan sekitarnya, tapi kali ini dia penasaran dengan sosok Tiffany. Apalagi ponsel Tiffany itu tidak menggunakan kode kunci atau face id.
“Bapak kok main buka-buka pesan orang sih..ga sopan pak.” Omel Jo.
“Kalau ga di buka, kamu mau balikin ke siapa? Kalau seperti ini kan jelas. Ini ponsel milik pegawai EO kemarin."
“Oh iya ya.. betul juga,, emang ga sia-sia punya bos cerdas.” Puji Jo.
__ADS_1
Juna hanya menggelengkan kepala. Dia memasukan ponsel Tiffany ke saku nya.
“Urusan saya belum selesai sama dia. Biar saya yang kembalikan.”
Jo hanya mengangguk senang. Dia sudah banyak pekerjaan, jadi akan merepotkan kalau harus mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
“Sayang.. aku udah selesai..” Marsha berdiri di depan Juna. Dia menyerahkan semua belanjaan nya pada Jo, lalu menggandeng Juna untuk pergi. Hari ini Ken tidak ikut karena Juna mengajak Jo. Akan sangat merepotkan kalau membawa 2 pengawal sekaligus.
'Nasib,,nasib jadi kuli.’ Batin Jo yang kerepotan membawa semua belanjaan Marsha.
“Tumben banget si kamu Jun,, pakai kaos. Ga bermerk pula.” Tanya Marsha yang baru sadar kalau Juna menggunakan pakaian informal.
“Sponsor.” Jawab Juna asal.
***
Juna memarkirkan mobil Rolls royce ghost nya di dekat taman. Dia mengeluarkan ponsel milik Tiffany. Setelah berpikir cukup lama, Juna memutuskan untuk mengirim pesan pada kontak dengan nama Aeris alias pacar Reno. Kontak itu adalah kontak yang paling sering dihubungi oleh Tiff.
‘Saya menemukan ponsel Tiffany, kalau Tiffany mau ambil, saya tunggu di taman sekarang. Kalau 30 menit dia tidak ambil, saya akan buang ponselnya ke sungai.’
Done. Juna lalu berpindah ke menu galeri. Dia penasaran dengan wanita ceroboh itu. Galeri Tiffany begitu rapi. Dia mengelompokan gambar per album. Ada album wedding yang isinya adalah acara2 milik klien, album family isinya adik-adik Tiff yang masih remaja, album idol isinya foto2 Lee min ho, album friends isinya teman2 kerja Tiff dan album me. Juna membuka album me dan dia tersenyum seketika melihat sekumpulan foto2 Selfie Tiffany. Wanita itu mengingatkan dia pada artis korea IU, mungil, ada tahi lalat di pipi, hanya yang ini kurang terawat saja. Tiffany juga lumayan fashionable, bajunya sopan tapi selalu macth.
‘Kenapa dia pilihiin kaos seperti ini.’ Batin Juna kesal.
__ADS_1
‘Tuk tuk.’ Juna tersadar saat ada yang mengetuk kaca mobilnya dengan keras.
Dia segera keluar untuk mengecek kondisi mobilnya karena yang digunakan untuk mengetuk kaca mobilnya itu sejenis kunci. Setelah memastikan tidak ada luka gores di mobil mewahnya, Juna sekarang menatap wanita yang tanpa dosa berdiri di depannya sambil bercak pinggang.
“Cepat juga datangnya, nona Tiffany.”
“Cepat sini ponselnya, aku sibuk.” Tiff mengulurkan tangannya dengan tidak sabar.
Juna tersenyum penuh arti. Raut wajah kaku nya berubah menjadi sangat ramah. Dia lalu menarik tangan Tiff, sehingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Tiff terdiam untuk beberapa detik karena dia terkejut, tapi begitu Tangan Juna menguncinya, dia ingin berontak.
"Kita bertemu lagi..” Juna sedikit menahan Tiff yang mulai berontak. Dengan tubuh kekarnya, Tenaga Tiff tidak ada apa-apanya.
“Dasar aneh. Cepet lepasin atau aku lapor polisi.” Ancam Tiff.
Juna melepaskan pelukannya. Dia memberikan ponsel di tangannya kepada Tiff yang masih sibuk mengatur nafasnya. Tanpa bicara lagi, Juna melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam mobil. Tingkah aneh Juna itu membuat Tiffany bergidik ngeri. Tiff segera berlari dari taman sebelum Juna melakukan hal aneh lain. Yang penting sekarang ponselnya sudah kembali.
Sedangkan Juna tidak langsung pergi. Dia memandangi Tiff yang berlari ketakuan. Setelah Tiffany tidak terlihat lagi, Juna mengeluarkan ponselnya.
"Selamat malam Pak James, besok saya ingin mentransfer uang sejumlah 1M ke rekening atas nama Tiffany Marshelia."
'Done' Juna menatap spion mobilnya. Meskipun gelap, Juna dapat melihat mobil hitam di ujung taman. Mobil itu sering terlihat juga di sekitar kantornya.
"Kita lihat siapa yang lebih pintar." ucapnya sambil tersenyum sinis.
__ADS_1