Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Pasangan baru


__ADS_3

"Ehem."


Suara Jo membuat Tiffany dan Juna menengok. Juna segera melepaskan Tiffany, dan Tiffany juga sedikit menjauh dari Juna.


"Nyamuk datang..." Jo senyum-senyum sendiri melihat Juna salah tingkah karena mereka lagi-lagi tertangkap basah sedang berpelukan. Jo meletakan 2 paperbag berisi baju di meja.


"Taraaa.." Teriak Jo nyaring sambil menunjukan baju yang di bawanya. 2 kaos couple bewarna pink. Jo juga tidak lupa membeli celana jeans untuk mereka berdua.


"Aku tidak akan beli lagi, karena semua toko sudah tutup." ucap Jo lagi sebelum Juna memprotes nya.


"Cepat kembalikan mobilnya. Kerja mu tidak becus." Juna mengadahkan tangan nya dengan tidak sabar. Dia sangat kesal karena Jo membelikan dia baju bewarna pink.


"Sudah lah Jun.. yang penting kan pakai baju." sela Tiffany yang kasihan pada Jo.


"Terima kasih nona Tiffany.. dan selamat yaa.. anda harus sabar menghadapi manusia es ini." bisik Jo pada Tiffany.


"Aku dengar Jo." Omel Juna. Dia seperti nya bertindak terlalu longgar pada Jo, karena makin ke sini Jo makin berani saja padanya.


"Kamu juga jangan bela dia. Pacar mu itu aku, bukan Jo." Juna beralih untuk mengomel pada Tiffany. "Sekarang ganti baju mu dulu."


Tiffany berjalan ke salah satu kamar yang ada di sana. Dia sudah lelah dan ingin segera pulang. Kejadian malam ini sangat menguras tenaga dan emosinya. Tapi Tiff senang karena dia bersama Juna.


***


"Makasi Pak Juna atas mobilnya dan semoga anda langgeng bersama dengan Tiffany." Jo memeluk Juna dari samping. Bagaimana tidak senang, karena yang Juna berikan adalah mobil sport yang dia inginkan sejak lama.


Juna segera memukul tangan Jo supaya melepaskannya. "Coba telepon Sam, Jo. Tanya siapa yang sudah berani menculik Tiffany."

__ADS_1


Jo segera mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Samuel. "Halo Dok, Pak Juna tanya apa anda sudah dapat informasi tentang Penculik Tiffany?" "Apa, Reno Tan?" tanya Jo tidak percaya.


Juna merebut ponsel dari tangan Jo.


“Kenapa Reno suruh orang culik Tiff? Apa dia gila?” Omel Juna.


Suara Juna terdengar begitu keras sampai Tiff mendengarnya. Orang-orang tadi memang menakutkan, tapi mereka tidak menyentuh Tiffany. Jadi orang itu suruhan Reno? Tiff buru-buru menyelesaikan mandi nya. Dia menggunakan kaos yang kedodoran di badannya. Tiff tidak peduli lagi dengan penampilannya, karena dia harus memastikan apa yang dia dengar.


Begitu keluar, Tiff tidak menemukan Juna maupun Jo.


“Jun..” panggil Tiff. Dia mencari di sekitar, tapi Juna tidak ada. Jo juga tidak kelihatan. Tiff mulai panik..dia pergi ke ruangan lain.


“Juna...” panggil Tiff lagi. Pintu kamar mandi terbuka. Juna sudah berganti pakaian yang sama dengan Tiffany.


Begitu melihat Juna, Tiff memeluk Juna.


“Hey, aku ga akan hilang seperti teman mu.” Sindir Juna.


Tiff mendongak ke atas menatap Juna sambil terus memeluknya. Harus di akui, tubuh Juna begitu pas untuk di peluk hingga Tiff enggan melepasnya.


“Di mana Aeris?” Tanya Juna dengan tatapan tajam. Juna sudah mendengar keadaan Reno dan cukup memprihatinkan. Dan alasan Reno menculik Tiffany adalah karena pria itu mencari keberadaan Aeris. Jadi Juna memutuskan untuk membantu Reno menemukan Aeris.


“Tidak akan aku sebutkan..”


“Come on girl.. ini menyangkut hidup Reno.”


“Kamu lebih pilih Reno daripada aku?” Tiff tampak sedih. Dia segera melepaskan Juna.

__ADS_1


“Oke2 lupakan. Kita pulang sekarang?”


Tiff mengangguk. Dia berhasil untuk menyembunyikan Aeris. Ya, Tiffany sudah berjanji untuk tidak mengatakan keberadaannya pada Reno, sekalipun Juna memaksanya.


***


Juna sudah sampai di depan rumah Tiffany. Dia menengok ke bangku samping. Tiffany sudah tertidur.


Gadis itu pasti kelelahan setelah menangis selama hampir satu jam lebih.


"Tiff.." panggil Juna lembut.


"Hmm.." Tiff menjawab tapi tanpa membuka matanya.


"Kita sudah sampai."


"Ya, kakak pindah ya.." ucap Tiffany sudah berada di alam mimpi sekarang. Dia mengira sedang berada di kamar adiknya. Kebiasaan Tiff memang menemani adiknya pada malam hari, lalu dia akan pindah ke kamarnya sendiri ketika adiknya yang paling kecil itu sudah tertidur.


'Cup' Dia mengecup pipi Juna, lalu dia keluar dari mobil.


Juna terkejut dan sempat tidak sadar untuk beberapa detik. Ketika dia sadar, Tiffany sudah berjalan sambil tertidur menuju ke rumahnya.


'Yah, jantungan lagi.' Juna memegangi jantungnya yang sudah berdetak tidak karuan.


'Baru seperti ini saja sudah deg-deg an.. apalagi..' Juna tidak berani meneruskan kata-katanya karena itu akan membuat dirinya menjadi makin tidak karuan.


Setelah melihat Tiffany sudah masuk ke dalam rumah, Juna segera menjalankan mobilnya dengan hati yang gembira.

__ADS_1


__ADS_2