
"Kok sebentar Jun?" tanya Jo yang sejak tadi menunggu di mobil bersama sopir Juna.
Juna masih diam saja. Dia malah memejamkan matanya tanpa mempedulikan Jo.
'Mulai lagi mode jahatnya.' batin Jo. Juna pasti sedang banyak pikiran sekarang. Jadi Jo memilih tidak mengganggu Juna.
"Kita ke mana tuan?" kini giliran Sopir di sebelah Jo yang bertanya pada Juna.
"Ke kantor." jawab Jo cepat.
"Tapi Pak Juna tidak mau istirahat?"
"Dia istirahat di sana."
Sopir Juna mengangguk dan mengikuti arahan Jo. Jo sudah lama bekerja dengan Juna, jadi dia tau apa yang Juna inginkan. Juna memang suka sekali di kantor. Dia bahkan punya ruangan tidur di sana sehingga jarang pulang ke rumah.
"Maaf tuan, seperti nya anda harus segera menikah atau memiliki keluarga."ucap sopir yang melihat Juna dari kaca spion tengah.
Jo memukul tangan sopir Juna yang sok ikut campur. Dia seperti membangunkan macan tidur.
Tapi sopir Juna cuek saja, karena dia merasa kasihan pada Juna
Juna membuka mata, dan menatap wajahnya sendiri yang kusut dan pakaiannya yang entah sudah tidak beraturan.
Keluarga? Juna sangat ingat bagaimana ayahnya mendidiknya. Dia tidak punya teman selain Sam, Reno dan Ericka. Itu membuat Juna trauma untuk memiliki sebuah keluarga.
"Anda dan nona Marsha juga pasangan serasi." Lagi-lagi Ucapan sopir Juna membuat Jo meradang. Orang ini sungguh tidak mengerti situasi.
"Apa kamu mau menikah sama orang yang ga kamu cintai?" Tanya Juna balik.
"Tapi anda sudah lama bersama dengan nona Marsha. Anda tidak boleh egois."
Kali ini Jo terdiam. Dia setuju dengan ucapan sopir Juna. Semua orang tau persis, Juna tidak menyukai Marsha. Dia harus mengakhiri ini meskipun Marsha tidak akan mau.
__ADS_1
Jo menyalakan music supaya Juna lebih rileks dan percakapan ini tidak perlu dilanjutkan.
Coba tanyakan lagi pada hatimu
Apakah sebaiknya kita putus atau terus
Kita sedang mempertahankan hubungan
Atau hanya sekedar menunda perpisahan..
Terdengar lagu Judika putus atau terus melantun merdu dalam mobil.
"Jo, matikan. Jangan sampai aku lempar kamu keluar."
Sopir Juna hanya tertawa melihat Jo yang serba salah. Untung saja tidak lama mereka sampai di kantor Juna. Jo bisa bernafas lega. Dia langsung naik ke ruangan untuk menyiapkan tempat Juna.
"Tuan ini milik nona tadi?" Kata Pak Sopir ketika membuka pintu mobil untuk Juna.
Juna mengambil paspor Tiff yang tertinggal.
***
Marsha segera menuju kantor Juna ketika sudah kembali mendarat di Indonesia.
Dia sudah punya banyak sekali pertanyaan karena Juna pergi begitu saja. Di tambah lagi Juna memberinya pesan singkat jika Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Marsha.
Kantor Juna masih sepi, tapi Marsha tau kalau Juna ada di dalam. Dengan mudah Marsha bisa masuk ke dalam karena dia tau pin ruangan Juna.
Begitu masuk, Marsha di hadapkan dengan Juna yang sedang duduk sambil menopang dagunya.
"Juna" Teriak Marsha. "Cepat jelaskan." Todong Marsha.
"Mars..Aku akan bilang ke mom kamu kalau kita ga bisa lanjut lagi."
__ADS_1
Marsha membulatkan matanya. Dia baru meminta penjelasan sedangkan Juna justru menambah masalah baru.
"Ga bisa. Kamu tau sendiri mom sakit."
"Dia bisa jalan-jalan ke Jepang berarti dia sehat Mars."
"Jun.. Jadi siapa wanita itu? Megan atau Tiffany?" teriak Marsha meradang. Marsha semakin bingung karena Ken melaporkan, jika Juna pulang ke Indonesia bersama dengan Tiffany.
Juna berdiri. Dia berjalan mendekati Marsha dan memepetnya sampai ke tembok. Marsha yang melihat tingkah Juna yang tiba-tiba tentu saja terkejut. Dia mencoba melengos ketika wajah Juna hanya berjarak 5 centi dari wajahnya.
"Coba apa yang kamu rasain." Juna memegang tangan Marsha lalu menaruhnya di dada bidang Juna.
Marsha bingung dengan tindakan Juna. Dia mencoba meraba untuk melihat apakah ada yang aneh.
"Kamu sakit Jun?" Tanya nya karena tidak tau akan bicara apa.
"Itu dia masalahnya." Juna menjauh.
Marsha akhirnya bisa bernafas lega. Dia masih tidak mengerti apa yang Juna katakan.
"Aku tidak merasakan apapun dan itu tidak baik."
Marsha duduk di bangku sebelahnya, sedangkan Juna membelakangi Marsha menatap ke arah luar jendela seperti yang sering dia lakukan.
"Apakah kamu tidak ingin mencari pria yang benar-benar mencintai mu? Pacaran denganku hanya membuang waktu."
"Juna.. aku cuma mau sama kamu." Marsha menarik lengan Juna, untuk menghadapnya.
"Mars, aku sudah pikirkan ini dan jawabannya akan tetap sama."
"Nona Marsha, kita keluar sekarang sebelum Pak Juna mengamuk." Saran Jo. Sejak tadi Jo berada dalam ruangan dan melihat pasangan itu sedang berdebat.
Marsha terdiam cukup lama dan akhirnya harus Rela pergi karena Ken juga sudah menariknya.
__ADS_1
"Oke, kalau ada apa-apa sama Mom, aku tidak akan memaafkan kamu." Ucapnya sebelum pergi.
Juna menatap mantan kekasihnya itu sampai keluar dari ruangan. Dia lega sudah mengatakan itu pada Marsha. Sekarang Juna hanya perlu mengurus Mom Marsha dan memilih kata-kata yang tepat supaya dia bisa bebas dari keluarga Lee.